Yang Tidak Diajarkan di Harvard

Yang Tidak Diajarkan di Harvard

Do not educate your children to be rich. Educate them to be happy, so when they grow up they’ll know the value of things, not just the price – Unknown

Galaunya seorang Profesor di Harvard

Seorang profesor, pengajar, dan penulis terkenal dari universitas Harvard, yang memiliki 3 gelar sekaligus, ternyata bisa terserang galau.

Bedanya karena dia penulis, jika galau dan butek, semua bisa dituangkan jadi karya tulisan. Erich Segal, nama si profesor itu, membuat sebuah buku tentang krisis paruh baya seseorang lulusan Harvard bernama Andrew Eliot. Judulnya The Class (Kelas ’58).

Bertahun-tahun setelah lulus dari Harvard, Eliot ketiban berkah harus bantu-bantu mengurus acara “reuni” dengan teman-temannya. Dia mulai dihinggapi rasa minder berat karena semua kawan sekongkolannya sudah jadi orang sukses dan terkenal.

Privilege

Saya kemarin membaca diskusi di medsos yang awalnya tentang motivasi kesuksesan. Tapi tokoh yang diambil bukan orang biasa, melainkan anak orang kaya.

Lalu bergulirlah bahasan tentang privilege anak-anak yang beruntung dan terlahir kaya. Kenapa kita tidak usah heran mereka mampu sekolah di ivy league. Biaya sekolahnya saja dari kecil sudah puluhan juta. Hanya orang kaya banget yang bisa.

Akhirnya banyak yang mendapatkan sebuah solusi, bercita-cita bisa kaya banget, supaya anaknya kelak bisa dapat privilege.

Artinya….. untuk mencapai itu bisa jadi suami istri harus bekerja dua kali lipat dari sekarang.

Ketika kita terlalu mengejar sesuatu, niscaya akan ada hal yang dikorbankan. Bila di sebuah keluarga kedua orang tua bekerja keras, biasanya perhatian dan hubungan dengan anak-anak lebih loose atau ada substitusi untuk itu. Eh. Kecuali memang sudah kaya tujuh turunan ya. Atau cuma salah satu pasangan yang bekerja mati-matian.

Anak menjadi terbiasa tidak didampingi oleh orang tua, namun mereka tetap mencontoh cara kedua orang tua bekerja keras. Bahkan tidak sedikit yang berkesimpulan, oh, itu caranya to be happy, bekerja keras, mendapat kedudukan tinggi, dan uang banyak.

Karena keluarga dan orang-orang di sekitarnya, adalah kenangan kita yang pertama di dunia ini tentang arti bahagia.

Petani dan Penjajah

Seorang yang sukses dan dekat dengan saya pernah bercerita, waktu kecil dia pernah makan dengan perasaan paling bahagia. Yaitu saat dia menyantap nasi, sayur lodeh, dan tempe garit di tepi sawah. Bersama seorang bapak petani pengurus sawah.

Hidangan sederhana itu dibawakan oleh istri pak petani. Bersama-sama mereka makan di dangau sambil menikmati angin sepoi-sepoi, bunyi jangkrik, dan udara yang segar.

Suami istri itu mungkin hidup kekurangan tapi baginya, makanan mereka adalah makanan paling enak yang dirasakan oleh seorang anak-anak.  Makanan yang disajikan dengan tulus, di tengah alam, bersama aura kebahagiaan yang tanpa beban. Detik-detik dimana semua kebutuhan sudah terpenuhi, tidak ingin lebih.

Itu adalah perasaan yang sulit dipahami oleh mereka yang selalu merasa ada saja kekurangan.

Beratus-ratus tahun lalu, bangsa asing datang setelah mengarungi samudra, terkagum-kagum dengan kekayaan negeri kita. Sekaligus terheran-heran dengan perilaku penduduk setempat.

Walaupun dijanjikan imbalan yang amat besar, para penduduk asli jangan diharapkan untuk bekerja lebih. Mereka paling banter bercocok tanam secukupnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Membuat para calon penjajah itu sangat gemas, mencari pekerja rajin yang mau kerja keras dan ingin lebih.

Hukum alam kemudian bekerja, siapa yang gigih makin kaya. Dan sekali lagi, atas sesuatu yang telah dikorbankan. Manusia dan alam mulai dieksploitasi habis-habisan. Local genius, filosofi kebahagiaan dan hidup berdampingan dengan alam-milik penduduk asli- pelan-pelan terlupakan.

Diajarkan untuk selalu mengejar apa yang kita anggap hidup sempurna. Supaya bahagia, supaya kehadiran kita yang fana bisa dikenang. Tapi seringkali malah lupa, bahwa bahagia itu justru didapat dari belajar menerima kekurangan diri apa adanya. Termasuk hal-hal yang secukupnya saja ada untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Yang Tidak Diajarkan di Harvard

Kembali kepada buku Erich Segal…

Eliot, seiring berjalannya waktu mulai mengenal kembali kawan-kawan lamanya. Dia akhirnya memahami, di balik karir gemilang, mereka semua sedang berjuang keras menghadapi berbagai masalah hidup. Tertekan oleh beban yang mereka bawa sebagai lulusan ivy league.

Puncak dari semua, salah satu kawan mereka bunuh diri. Padahal kalau orang lihat, kawan itu sudah punya segalanya, kedudukan, pendidikan, dan prestasi. Ternyata semakin tinggi kedudukan semakin besar tekanan.

Salah seorang dari kawan justru iri pada Eliot. Bagaimana dia punya anak-anak yang baik, tulus bekerja sosial, ramah, dan disukai oleh semua orang.

Kalimat terakhir yang ditulis di buku The Class ini, mungkin sekaligus menjawab kegalauan Segal juga. Satu kesimpulan pahit Eliot tentang mengapa kawan Harvardnya memilih untuk mati.

Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya menjadi bahagia.

Itulah yang tidak mereka ajarkan kepada kami di Harvard.