Until We Meet Again

Until We Meet Again

Pertemanan harus diakui terkadang ada yang memiliki masa tenggang.

Jadi adalah hal biasa bila sebuah persahabatan tiba-tiba terulur memanjang (istilahku) dan semua orang terkesan menjauh.

Waktu berganti. Kita berganti komunitas berganti teman.

Selalu begitu.

Pernah kejadian, saat semua sudah berkeluarga, sahabat dan kawan lamaku iseng berusaha menemukan satu sama lain. Kemudian satu persatu di-invite di grup. Ngobrol ramai nostalgia, deh. Kenceng banget….

……di awal doang.πŸ˜‚πŸ˜‚

Setelah itu pelan-pelan pembicaraan frekwensinya berkurang dan berkurang. Awkward. Akhirnya sepi. Lalu satu persatu mulai left karena mereka butuh jatah grup dan grup yang sepi mereka pilih tinggalkan.

Yang seperti itu biasa. Tidak harus dalam sebuah grup online. Di pertemuan riil pun bisa saja kejadian.

Ya. Karena tenggang waktu yang terlalu lama, banyak hal yang luput diceritakan, menimbulkan gap besar, sehingga kita mulai banyak kehabisan bahan obrolan.

Manusia pun cenderung berubah, kita seringkali nyaris tidak bisa mengenali mereka yang telah lama tak bersua, baik wajah maupun perilaku.

In the present day, semua orang sudah punya kesibukan serta komunitas sendiri-sendiri yang biasanya jauh lebih “nyambung” dengan kondisi mereka “yang sekarang”. Selain itu kita juga sudah banyak belajar dari pengalaman-pengalaman lawas.

And who knows? Kita sendiri sebetulnya sudah menjadi bagian dari masa lalu orang lain, tanpa disadari.

Ya. Di grup nostalgia atau dengan kawan lama kita mau membicarakan apa lagi? Jaman masih mabal waktu SMU? Bisa jadi bahan hinaan kalau sampai dibaca orang lain 🀣

Intinya, people come and people go.

Dan kadang kita cuma berpapasan. Di saat itu, tidak berarti kita harus memegang tangannya kenceng-kenceng. Bagus kalau bisa, kalau nggak, ya, just let them go. Mereka sudah punya tempat sendiri-sendiri. Cukup nikmati dan hargai masa-masa singkat yang mungkin jarang terulang lagi.

Saat sebuah perpisahan terjadi, lepaskan genggaman dan lambaikan tangan dengan penuh dignity.

We have to learn to let go. Tanpa pretense atau prasangka macam-macam.

Hehe. Ngapain juga ya. Kadang yang kita perlu ucapin sederhana, kok misalnya seperti perkataan… until we meet again.

Yep. Until we meet again.

There’s always a season for everything.

====

Apakah kami juga pernah mengalaminya? Bagaimana perasaanmu?