Topik Mental Health Sekarang Jadi Primadona?

Topik Mental Health Sekarang Jadi Primadona?

Di masa pandemi begini kesadaran tentang mental health jadi semakin tinggi. Itu kalau aku perhatikan.Aku membahas beberapa topik berseliweran yang kutangkap, ya.

1. Inner Child

Aku agak sedikit surprise juga soal inner child ini kok sekarang jadi banyak banget yang ngomongin, yaπŸ€”

Aku berkenalan dengan materi inner child sekitar 4-5 tahun lalu dari seorang psikolog senior.

Sejak saat itu, inner child dan metode healingnya mulai jadi pembicaraan dari mulut ke mulut di berbagai komunitas. Dari praktisi sampai penggiat parenting. Bisa dibilang sebelum istilah itu booming diantara masyarakat umum, aku dan kawan-kawan lain adalah angkatan pertama yang beruntung diperkenalkan secara lengkap.

Jadi inner child adalah semacam “jeritan anak kecil” yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Sisi kanak-kanak yang muncul di diri seseorang dewasa.

Contoh kasus : seseorang waktu kecil dititipkan ke tantenya, ibunya terpaksa pergi karena ada masalah darurat. Walaupun selang beberapa bulan si ibu kembali, ditinggalkan tanpa pamit jadi membekas di perasaan si anak.

Perasaan yang membekas itu ada yang hilang di alam bawah sadar atau muncul saat ada stimuli. Seperti saat pasangan tiba-tiba tidak ada kabar. Akhirnya terjadi flash back. Muncul perbuatan yang tidak masuk akal, akibat rasa insecure.Yang belum tertagih yaitu jeritan anak kecil yang ingin berteriak dan menangis kencang-kencang keluar,

“Jangan tinggalin. Aku kepingin ikuuuuut!!”

Sayan, inner child ini cenderung dianggap biang kerok saat seseorang mengalami permasalahan dalam keluarga atau yang lain. Begitu kuatnya, sampai yang aku ingat, saat bersama kawan seangkatan sedang mempelajari teori yang lain pun selalu ada saja yang nyeletuk (umumnya cewek, ya),

“Kalau inner child-nya bagaimana?”

Padahal tema yang dipelajari saat itu nggak nyambung, misal, Brief Therapy. Jelas beda angkotπŸ˜‚. Apa penyebab inner child jadi buah bibir seperti itu, aku sendiri juga nggak begitu ngerti.

Membahas inner child, menurut aku sebenarnya jauh lebih melelahkan dan menyita energi daripada yang lain. Bayangkan saja, untuk memecahkan sebuah masalah sekarang, seseorang harus melakukan kilas balik ke masa lalu- yang belum tentu menyenangkan. Iya kalau lapisan masalahnya cuma satu, kalau ternyata berlapis-lapis…?😝 Selamat mengupas bawang ….

Pertanyaanku pelan-pelan terjawab..

Dari beberapa tulisan di medsos, blog, dan sebagainya, aku baru “ooh” kalau istilah inner child dipopulerkan kembali oleh penggiat medsos yang berprofesi sebagai psikolog.

Ya, menurutku bagus bila sebatas itu untuk edukasi.

Kalau untuk terapi penyembuhan sebaiknya memang ke psikolog. Ibaratnya butuh resep dokter, harus pergi ke dokternya. Bukan mau ngobatin sendiri karena merasa bayar ahli mahal. Nggak bisa kita menganalisa sendiri gejala-gejala (simtom) dan menyimpulkan oh ini inner child lagi.πŸ˜–πŸ§Ÿβ€β™€οΈ

Hmm..Kalau inner child itu orang, dia bisa keluar keringat dingin kali πŸ˜…

“Lha. Kok gue lagi gue lagi??”😨😨

Yang berbahaya bila seseorang hanya belajar dari video dan medsos, kemudian mencoba mengobati diri sendiri tanpa ada yang membimbing. Melakukan regresi ke masa lalu, apalagi yang traumatik nggak bisa sembarangan. Bahkan yang ahli sekalipun harus selalu mewaspadai apabila ada tendensi-tendensi ke arah yang ekstrim dari seorang klien. Tahu kapan sesi musti di stop.

Ibarat kita secara pikiran masuk ke masa dimana seseorang pernah mengancam kita dengan pisau. Kalau tidak segera “ditarik keluar” atau dilakukan upaya healing…bisa-bisa kita akan terjebak berputar-putar di masa lalu. Sementara hidupnya di masa kini dan dunia nyata. Akhirnya tidak bisa menerima realita, menyalahkan, menyesali, dan sebagainya. Alih-alih sembuh malah bisa kemana-mana.

Saat belajar tentang teori psikologi dari video, penting untuk anggap itu semua adalah bahan edukasi, bukan alat untuk melakukan healing masalah kejiwaan yang mengganggu. Untuk healing tools biasanya lebih sederhana, praktis, dan nggak bikin mumet. Dan diterapkan setelah ada diagnosa.

Oya. Inner child itu nggak semuanya buruk, selalu ada keinginan yang kekanak-kanakan dalam jiwa semua manusia.

Coba bayangin, kalau nggak ada orang dewasa yang ingin terbang seperti burung mungkin nggak ada juga Wilbur dan Orville Wright. Kita traveling ke Eropa bakal naik kapal Columbus. Sisi yang dihadirkan saat yayang-yayangan dengan pasangan juga kan bukan ala orang dewasa yang nantangin kelahi. Hehehehe..

Pengalaman belajar sesi inner child itu sebetulnya menarik, yang namanya teriak-teriak dan nangis-nangisan sudah bukan barang aneh.

Orang dewasa, cowok, tinggi, sangar- pun bisa tersedu-sedu. Penyebab bisa sesuatu yang kesannya sepele.

Contoh, seseorang tiba-tiba ingat bagaimana dulu mainannya pernah dirusak oleh kakaknya dan yang dihukum keras malah dirinya. Masuk akal? Enggak. Ya namanya juga anak-anak yang “bicara”.

Cewek-cewek nangis dalam sesi terapi inner child itu biasa, tinggal menerima sodoran tissue. Kalau cowok? Hmm… resistensinya bisa gede banget, hahaha. Gengsi bok. πŸ™ˆ

Makanya cowok yang aku kenal jarang yang tertarik sampai banget dengan soal inner child dan metode healingnya ini. Biasanya mereka lebih pilih metode lain yang tidak mengharuskan berurusan dengan air mata. Melegakan sebetulnya. Karena emosi cowok kalau sudah rilis itu bisa sangat intens dibanding cewek. Energi dan kekuatan yang sewaktu-waktu muncul juga membuat kita harus mengukur diri sendiri bila mereka lepas kendali.

Tentu saja di tangan ahli yang tepat, luka karena duri yang dicabut cepat walaupun menyakitkan dan bikin meraung-raung, bisa lekas juga sembuhnya…

2. Depresi

Kemudian soal depresi, dengan gejala-gejalanya yang sudah bikin kita kenyang (saking seringnya di sebarkan)πŸ˜– : kehilangan semangat, merasa nggak berdaya, nggak punya harapan, nggak bermakna. Bawaannya dari pasif, negatuf, mager, zona nyaman : tidur, comfort eating, dsb.

Ini kita ngomongin depresi yang belum sampai taraf delusional lho yah. Alias yang ngobatinnya belum butuh pake obat.

Perbedaan dulu dan sekarang, dulu itu orang cenderung menyembunyikan bila kena masalah mental health seperti depresi ini. Sekarang? Berombongan cerita.

Mungkin karena sekarang hampir semua orang pernah mengalaminya (depresi yang masih tahap ambang).

Topik soal itu yang paling laris manis biasanya diusung oleh pesohor psikiater/psikolog yang berbicara tentang mental health di medsosnya.

Kalau aku perhatikan di setiap bahasan, selalu panjang komentar netizen yang bercerita tentang mental health yang sedang dialami. Dan tidak ada satupun yang mengolok-olok. Semua saling simpati. Bagus sih…sesuatu yang dianggap memalukan akhirnya menjadi biasa.

Di Barat sendiri bukan hal aneh saat seseorang memutuskan mendapat bantuan ahli kejiwaan. Tingkat kesadarannya sudah sangat tinggi. Setelah pergi ke profesional, mencari penyebab depresi baru pelan-pelan dilakukan healing.

3. Ancaman Bunuh Diri

Kadang orang speak up tentang kondisi kejiwaannya, di medsos atau blog, bila ada rilis bisa mencegah kondisi jatuh ke level ekstrem. Termasuk bila sudah mulai ada suara-suara di kepala.

Bukan cuma sekali aku membaca tulisan di medsos-medsos curcol mereka yang bilang ingin mengakhiri hidupnya. Untungnya netizen medsos luar biasa tanggap. Ada yang mention psikiatri, menyambangi, kontak, dsb.

Saat ada orang yang punya gelagat ingin bunuh diri, urusannya bukan hanya dengan psikolog saja. Lepas apakah itu a real threat atau sekedar mencari perhatian, sudah patut melibatkan polisi, karena mulai masuk ke ranah hukum. Biasanya intervensi psikiater sendiri akan otomatis karena ada tindakan medik.

Jadi kalau kita melihat ada orang yang mengancam bunuh diri, mencoba bunuh diri, pernah mau bunuh diri, atau ada kecenderungan itu, jangan ragu-ragu ya lapor ke kerabatnya, psikiater, bahkan yang berwajib…itu masuk tugas mereka, kok.πŸ˜€ Abaikan saja suara-suara yang meremehkan, aah paling dia cuma stress.

Ya kalau bener, kalau besok-besok udah nggak ada- kita bisa menanggung rasa penyesalannya nggak?😨

Tentu saja suicidal itu beda dengan depresi ya penanganannya. Nggak perlu tekan 911 dulu kalau diagnosanya depresi.

Apa topik mental health yang jadi perhatianmu sekarang?

Gambar dari dokumentasi pribadi