The First Reader

The First Reader

Siapa pembaca setia tulisan kamu di dunia nyata?

Me, my own husband, off course.

Aku memang jarang mention tentang dirinya di tulisanku. Cuma dia itu suka baca-baca tulisanku. Dia tahu kalau aku suka menulis tentang tema-tema psikologi untuk blog atau untuk yang lain.

Saking seringnya dia bisa nebak juga apa yang aku pikirkan…

Pernah aku ngeliatin dirinya dari jauh. Jurusku mirip seperti inilah kira-kira.

“………….”

Biasanya yang diliatin cuma menghela nafas panjang,

“Ini pasti mau bikin tulisan tentang laki-laki, ya?”

Ach. Ketahuan deh.Wkwk…

Tapi dia santuy, as grown ups kami sama-sama tahu yang bisa dibagi dan tidak di dunia maya. Apa-apa yang membuat kami merasa nyaman tanpa perlu menunjukkan lebih dari itu. We’re the ordinary couple and we both enjoy it very much.

Namun yang tidak bisa dipungkiri, akan selalu ada pengaruh dari orang di sekeliling kita atas tulisan-tulisan yang dihasilkan.

Aku ingat dua buah buku, The Female Brain dan The Male Brain karangan Louann Brizendine. Isinya membahas perbedaan otak perempuan dan laki-laki yang membuat cara berkomunikasi dan perilaku antara laki-laki dan perempuan, berbeda.

Nah. Ketika Brizandinne menulis buku kedua (The Male Brain), dia sempat ditertawakan koleganya, lho. Karena dianggap buku tentang Male bakalan lebih tipis dari Female, bahkan mungkin seperti pamflet saja! Karena faktanya, laki-laki sering dianggap sebagai template dasar dari seorang manusia.

Padahal template dasar otak manusia adalah otak perempuan dan baru berubah setelah terjadi pembentukan oleh hormon….

Besar dengan saudara-saudara dan kawan-kawan main beda gender, aku melihat cara berpikir laki-laki pada dasarnya lebih simpel. Cuma kalau dibikin buku yahhh nggak setipis pamflet juga kali…..untuk perempuan. loh. hahaha. Kita itu kadang-kadang perlu guidance juga. Demikian juga pasangan kita perlu diajarkan, begini loh kalau bahasa aku…

Bahasa kita berbeda. Menangkap dan menerjemahkannya juga.

Nah, waktu awal-awal aku bikin tulisan, kadang dia suka kasih masukan. Nggak sering, hanya di tema-tema tertentu. Dari sana pelan-pelan aku mulai ngerti gimana menuliskan suatu tulisan berdasarkan kaca mata laki-laki.

Menurut aku bagus, ya kalau kita bisa jadikan pasangan (kalau ada) sebagai first reader, alias pembaca pertama tulisan kita. Coba, deh, baca-baca di kata pengantar entah itu novel atau non fiksi, biasa ada tulisan dimana si penulis bilang terima kasih pada pasangannya (yang pasti udah baca ceritanya duluan).

Bagi sebuah tulisan itu jadi seperti menemukan chemistry yang pas dari kacamata pembaca laki-laki (him) dan perempuan (me). Tanpa mengubah esensi dan karakter menulisnya. Tentunya kita ingin agar tulisan kita bisa diterima baik oleh kedua gender bukan?

Kadang-kadang hal semacam ini bisa membuatku menyederhanakan banyak hal. Karena dia nggak suka kalau baca tulisan yang panjang-panjang (ih padahal tulisan-tulisan siapa juga, ya XD). Hahahaha..

Ya maklum konon perempuan butuh bicara 20.000 kata panjang lebar sehari (kalau nggak bisa susah tidur). Eh ini sih silahkan percaya nggak percaya, karena kasus anomali juga ada.

Namun saat kita melakukan hal tersebut umumnya laki-laki tuh akan nanya,

“Jadi intinya apa? ”

Jleb. Widih. Padahal ya, memangkas kata-kata itu sama saja seperti memangkas kebutuhan hidup kami hahahaha…

But’s its OK, lucunya kan di situ.

Karena kadang aku suka nggak sadar juga bikin tulisan itu kayak ular naga panjangnya. Padahal kalau aku pangkas sana sini intinya ya sama saja hahaha. Alasan saja sok-sok SEO, padahal ya memang kepengen panjang aja wkwkw..

Lama-lama itu jadi kebiasaan.

Patokanku dulu kalau dia sampai bilang kepanjangan, wah kayaknya ini perlu di cut. Sekarang, sih suka-suka aku..hahaha. Alias sudah dapat feelnya apakah suatu tulisan perlu panjang atau nggak. Namun intinya aku belajar berpikir lebih simpel.

Itulah pelajaran terbesar dalam penulisan yang diajarkannya padaku. Secara tidak langsung.

Kamu punya pembaca setia tulisan dari gender yang berbeda? Biasanya bagaimana menurut mereka tulisanmu?