The Art Of War

Bunyinya nakutin? Santuy…bahasannya jauh dari angkat senjata beneran, kok πŸ˜„. Ingin cerita pengalaman saja yang berhubungan dengan itu…

Beberapa waktu lalu seorang rekan blogger senior berkata,

Well..walau enggak tahu musti bilang apa.πŸ˜…πŸ˜… tapi terima kasih, loh pak atas apresiasinya.

Saya tiba-tiba ngebayangin diri ini pakai perisai dan helm perang ala-ala Dewi Athena begitu.🀯

Terus terang..

Kayaknya ada yang aneh juga sih….πŸ™„πŸ™„#gedubrak

Saya jadi tercetus bikin ide blog post tersendiri. 😁 Tentang pengalaman saya terlibat dalam berantem dan perang alias “War”. Kalau yang saya ceritakan ini bisa dibilang perang ya.πŸ˜‚πŸ˜‚

Saya perhalus menjadi “The Art of War” seperti Sun Tzu..πŸ˜…

OK.

Kata kuncinya di postingan atas adalah “menghindar” dan “perang”.

Pada dasarnya, sebagai tipikal moderat…

….saya itu nggak suka berkelahi. 😣

Apalagi yang model gebak gebuk orang secara brutal!🀯

Tapi saya memang punya ketertarikan pada martial art. Karena unsur “art”-nya.πŸ˜€

Sebagai contoh, kamu pernah lihat film silat Mandarin? Cakep banget kan koreografinya? πŸ˜€

Dalam memilih seni bela diri pun saya tidak suka yang agresif dan kompetisi seperti Rambo, lebih suka yang halus seperti Steven Seagal. Karena ukuran tubuh saya yang pendek mungil tentu tidak akan menguntungkan juga.🀣

So. Saya jauh lebih dulu bergabung dalam dojo martial art yang pada prinsipnya lebih banyak memanfaatkan tenaga lawan spt Aikido dan Jiu jitsu.

Diantara keduanya, filosofi Aikido yang memanfaatkan chi mengalir dan sarat akan filosofi zen sebetulnya yang pas banget untuk saya πŸ˜€. Wah, kalau ngeliat sensei Jepang saya melempar-lempar muridnya dengan gerakan halus selalu jadi shocked😳 tersendiri.

Seperti melihat tarian alam semesta #lebay 🀣

Ohya untuk Jiu jitsu, sedikit mirip judo ya, meski tidak masuk kompetisi internasional. Saya masih bisa mengerti aturan main pertandingan judo yang puncaknya kemarin saya tonton langsung, dong saat Asian Game 2018 πŸ˜€ (lihat foto pertama).

Bagaimana dengan bela diri Indonesia? Saya juga pernah, kok mencoba silat πŸ˜€. Keren banget itu. Saya berharap banyak anak bangsa yang berkompetisi disini. Bela diri silat sarat gerakan-gerakan unik yang sangat berdaya.

Saya? Lagi-lagi memilih silat yang tipikalnya tidak bertarung langsung ☺ (karena sebetulnya saya juga nggak suka). Say bye bye to The Raid, deh 🀣🀣

Maklum saya hanya penggemar jelata martial art.πŸ€ͺ Perawakan saya juga perempuan biasa banget, nggak ada gaya tomboynya, apalagi aura bertempur…

Jadi mana “war” nya? Apakah selama ini hidupmu untuk main aman, Marimar? 😫

Tentu tidak, Ferguso.

Saya pernah “terjebak” dong. Mengikuti martial art yang mengharuskan anggotanya bertarung. Dan nggak tanggung-tanggung tarungnya boleh sama laki-laki 😩🀯

Itu terjadi saat saya mengikuti Kendo.

Ikut karena iseng. Selama ini kan martial art-nya tangan kosong. Bagaimana yang pakai senjata? πŸ™„Sumpah, iseng benar saya waktu itu. Mungkin karena melihat hakamanya ih aikido bener 😍Padahal hakama mah dimana-mana sama ya 😫😩 #lemahsamafesyen

Setelah naik ke level dimana saya harus bertanding dengan lawan…dan ternyata wajib (atau dimarahin sensei Jepang). Baru, deh, saya 😱😱.

What have I done??

Pikir saya panik dari balik Bogu (perlengkapan tempur Kendo) sambil tangan gemetaran menggenggam pedang bambu shinai.

Pertarungan pertama saya berlangsung cepat dong…baru 3 langkah sudah kena “Men” πŸ€ͺ🀣 karena lawannya juga sang juara bertahan. Wkwk..🀣🀣

Lagi…dan lagi…

Tapi pada pertarungan-pertarungan berikutnya, yang mengherankan, saya perlahan mulai menikmati, lho.

Bahkan adakalanya saya merindukan adrenalin yang muncul saat ada di arena “pertempuran”…

Tatkala kita harus menenangkan diri dan membaca gerakan lawan… menyesuaikan dengan irama degup detak jantung. Gerak yang paling haluspun akan begitu bermakna..

Itu sebetulnya adalah esensi dalam sebuah “perang” atau “pertempuran”, menurut saya (yang pengalamannya masih amat sedikit ini).

Mulai paham, bahwa kebiasaan untuk selalu menghindar dari pertarungan, tidak akan pernah membawa saya sampai ke level ini. Berlaku juga dalam kehidupan.

Bagaimanapun moderat…

Ada saatnya seseorang harus memilih. Dan akan ada saatnya seseorang memutuskan untuk “bertarung”.

Hal yang positif selama ikut martial art, selain mental digembleng, (buat saya penting banget) jadi mengerti bagaimana cara jatuh yang baik dan benar. 🀣 Sebelum jurus kuncian kita lebih dipentingkan tahu bagaimana teknik jatuh, supaya enggak cedera parah.

Kemudian saya juga belajar menyelami bagaimana reaksi sendiri saat ada di sebuah situasi yang tidak terduga.

Dan yang paling banyak diantara semua..learn how to behave.

Di dojo Aikido, selalu melihat sensei Jepang saya datang tepat waktu. Dan ketika karena suatu hal kami datang terlambat (kuliah tambahan dsb), dia selalu MENYAPU dan mengepel dojo tanpa merasa sungkan. Karena membersihkan adalah salah satu ritual juga yang penting. Tidak peduli kamu sensei, senior, atau junior.

Dan banyak lagi etiket yang sepertinya ribet dan merepotkan tapi sebetulnya melatih sikap, bukan cuma tenaga.

Contoh lain, sensei-sensei Kendo saya yang level “Dan”-nya sudah di awang-awang itu. Para samurai dunia modern (Kendo kan sejarahnya dari samuraiπŸ˜€). Saya bisa membayangkan, sebelum mereka menjadi samurai/ronin/pendekar, attitude mereka sudah diasah duluan.

Mereka tertib, tenang, tertata, dan santun😢 Nggak ada yang kelihatan seenak udel atau sok jagoan di dalam dan luar lapangan..πŸ™„

Padahal di dojo ih jangan tanya.😨😰 Jurus pamungkas maut samurai keluar semua #traumapernahkenagetoksatulangkahπŸ€ͺπŸ€ͺ

=====

Yah. Itu semua adalah cerita lama bertahun-tahun lampau..πŸ˜…πŸ˜… mungkin hanya menarik bagi orang-orang tertentu. Biarlah..☺ bagi saya semua sangat penting.

Karena itu adalah saat saya untuk pertama kalinya belajar..

Bahwa “pertempuran” dan “perkelahian” yang sebenar-benarnya, seringkali bukan seperti yang biasa kita lihat di layar TV, jalanan, atau…di dunia online πŸ˜“

The real art of war is knowing about our strengths and weaknesess.

Seperti kutipan Sun Tzu dalam Art of War,

“….if you do not know your enemies nor yourself, you will be imperiled in every single battle.

Demi untuk mencapai kebijakan seorang Musashi…

Perceive that which cannot be seen with the eye.

==

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya cerita juga?

8 Comments

  1. Wakakakakakakakakakka… Dijadiin tulisan hahahaha… Dan, kali ini bacaannya sama….The Art of War tambah Musashi..

    Betul sekali Pheb, masalah adrenaline juga, terkadang rasa tertantang itu menyenangkan. Cara menjatuhkan lawan termasuk cara mengatasi jatuhnya diri sendiri semua ada tekniknya.

    Sangat setuju sekali soal kalau pertarungan lah yang membawa kita sampai pada suatu level. Benturan itu bagian dari kehidupan dan sering menjadi pendorong seseorang bergerak maju. Mungkin orang lain suka gesekan kecil, tetapi saya kadang menyukai “benturan” yang terkontrol untuk bisa bergerak maju.

    Makanya Phebie pernah berkata “Wah, kepalanya ngebul, tapi sebenarnya tidak sama sekali” karena memang kenyataannya begitu. Adrenalin agak terpacu, benar , marah ya nggak lah karena saya sudah terbiasa mengontrol itu setelah melewati banyak “pertarungan” sebelumnya. It’s just a game, sebuah pertarungan terkontrol, di medan yang terkontrol juga.

    Dan, memang benar Pheb.. Saya apresiasi dan enjoy banget dengan gaya Phebie yang kadang “bengal” tersamar, ngeledek, dan seterusnya. Soal kata “berantem”, hemm cuma pakai istilah kebanyakan blogger saja, karena saya sendiri tidak merasa berantem.. hahaha.. tapi keliatannya kayak orang berantem, yo wis ikuti saja.. Biar tambah seru..

    Sudut pandang yang bagus Pheb… #sambil bayangin Phebie pakai topeng ala samurai dan bawa katana.. wakakaka.. seruuuu

    btw, salfok .. itu Phebie yang sama samurai? Wuihhh banyak miripnya sih emang.. hahahaha

    • Syukurlah kalau bacaannya sama, mas. Jadi lebih mudah menangkap arahnya ya..πŸ˜ŠπŸ˜„

      Kalau di arena, medan pertarungannya memang disediakan. Dengan rule yang jelas. Sehingga strateginya based on that. Terukur dan terawasi.

      Di di dunia nyata atau maya, seringkali kita terjebak bertarung di tempat yg sebetulnya..ya bukan tempat pertarungan…πŸ˜… plus orang-orangnya juga tdk mau bertarung..Jadi bgmn kita tahu itu adlh sebuah arena atau bukan?

      Aha, yang saya bercanda sebut ngebul itu karena bingung menangkap benang merah konteksnya..yah…πŸ˜… itu biasalah. Mungkin sayanya yg lg kudet.πŸ€ͺ

      Ooh ya mohon maaf, mas..yang di foto itu bukan saya.🀣 Itu street photography yang saya ambil di event Jepang. Wkwk..

      Terima kasih juga mas. Semangat terus, biar dunia perbloggeran makin seru ya πŸ˜…

  2. phebie dan pak Anton, dua blogger yang akan selalu kuperhatikan, biar ga di tekel dari depan, kalo mau ngajak ‘tarung’, mau salam hormatnya aja.

    Phebie tahu kan kalo manusia itu katanya secara alamiah lebih mengingat hal-hal yang membuat mereka terancam atau tentang hal negatif,

    Nah, ini bukan maksudnya kak phebie dan pak Anton negatif, tapi first impression yg kudapat di komen pertama kalian langsung terasa ancamannya (sekali lagi bukan karena negatif, tapi karena memang akunya yang terbiasa menghindari dan bermental tempe)

    hahahaha

    Tapi makin kenal, aku makin tahu bahwa kalian orang baik malah bijak tapi dengan penyampaian yang berbeda bahkan kayaknya sedikit usil sama orang-orang bermental tempe seperti aku, haha

    Dulu aku maunya menghindar,, tapi lama-lama, sekarang udah bisa melihat pesan penting dibalik komentar / kata-katanya. malah udah mulai bisa menikmati cara kalian ‘bertarung’

    sama pak Anton jg, makin sini malah makin suka beliau, hehehehe… *tp tetep jangan debatin aku,jangan usilin yaaaa

    i like you both…

    • Wahahaha…

      Nyengir2 deh saya di pojokan. Untung gak ada yg liat πŸ˜… Aduh. Saya merasa masih jauuh dari level bijak tapi trmksh.

      Sayang, pak Anton sdg libur jadi mungkin nggak baca kalau ada yang “makin suka” #tengok kiri kananπŸ™„πŸ˜‚πŸ˜

      Mungkin bahasanya orang2 forum suka rada “beda”.

      Actually, maap nggak pernah ada maksut niat usilin mas Ady πŸ˜‚…kepo mungkin iya sebagai pehobi fotoπŸ€£πŸ˜‚ apa sih yg dipikirkan masnya saat milih obyek.Bila itu yg dimaksud.

      Saya juga lihat2 orang kalau mau diskusi atau entah apa istilahnya yg terdengar gahar itu…😁. ..#kadang org2 juga terlalu lebay ya πŸ˜‚.

      Yuk sering ikutan deh ngobrol di forum2 diskusi. Disana kita bnyk belajar bgmn berdiskusi yg pro kontra dg asik loh 😁

      Terima kasih komentarnya yang bikin mood booster, mas Ady.πŸ˜€πŸ˜€ That was kind.

  3. Aku selalu suka liat orang yg jago beladiri :). Tapi aku ya sendiri ga bisa. Dulu pernaaaah mau ikutan judo, hanya karena novel remaja STOP, yang aku baca tokoh utamanya adalah jagoan Judo. Tapi sebagai seorang Gemini yg gamoang banget bosen, aku juga ga lama ikut latihan.

    Trus pernah tertarik Ama Merpati Putih, lebih ke tenaga dalam. Ngeliat temen bisa ngancurin tumpukan batu bata, lgs kepengin juga hahahahah. Tp waktu liat cara dia dilatih, mundur :p.

    Akhirnya aku LBH milih punya pacar yg jagoan beladiri, si mantan dulu jago karate. Pengen ikut sempet, biar bisa latihan berdua, tapiiiii pas nonton kompetisi dia, dan ngeliat luka2 memar yg didapet, huahahahahahaha, ga jadi. Mundur aja :l .

    Ya sudahlaaah, aku skr penikmat beladiri aja πŸ˜€ . Moga2 nih krucils ntr ada yg mau diikutin ke bela diri ekskul, terserah deh maunya apaan :D. Yg ptg bisa jaga diri πŸ˜€

    • Ohya tenaga dalam latihan pernafasannya lumayan. Bela diri itu cocok-cocokan sih. Sebaiknya pilih yang sesuai dengan karakter kita…

      Hahaha kalau cewek memang punya pilihan ya mba daripada cowok. Tapi paling gampang nyari cowok yg jago bela diri ya di tempat bela diri wkwk..

      Alasan saya belajar bela diri selain suka art dan unsur kesehatannya karena nggak mau depend juga sama kehadiran body guard. Soalnya nggak mungkin juga mrk ada di sisi kita terus? Dan terbukti berguna.

      Sbg cth saat di bus hadapi oknum pria yg ada gelagat mau “macam2” saya sdh siapkan “pertahanan” duluan shg orgnya jiper. Begitu juga dg teman perempuan lain seperguruan. Tp teman saya yg tdk pernah ikut bela diri saya ajarin cara melakukan hal yg sama yg terjadi malah dilawan balik. Kenapa?

      Karena memang beda “aura perlawanan” nya. Yg tidak biasa jauh lebih mudah panik saat praktek di lapangan…

      Itu sih guna praktisnya sampai sekarang…

Leave a reply