Terapi Grup dan Psikodrama

Terapi Grup dan Psikodrama

Di Amerika ada sebuah grup sosial, semacam persaudaraan yang dikenal dengan nama AA (Alcoholic Anonymous). Para pencandu alkohol mendapat bantuan konseling salah satunya dengan acara terapi grup.

Sebetulnya sudah lama saya tertarik dengan model terapi semacam ini. Sayangnya, dia tidak begitu dikenal di Indonesia.

Kalau kamu masih bingung bentuk terapi grup seperti apa, hmm…pernah nonton film Avengers : End Game? Ada adegan dimana para Avengers, setelah dikalahkan Thanos jadi stress. Pelampiasannya macam-macam. Salah satu tokoh utama, Captain America, memilih mencurahkan isi hati dalam sesi grup terapi. Disana semua korban Thanos menceritakan pengalamannya.

Ya, kira-kira seperti itu, deh.

Captain America dan sesi konseling grup. Ini kenapa musti gelap-gelapan, yak? (Gambar : Avengers End Game)

Untung, beberapa waktu lalu saya berhasil mendapatkan ilmu terapi grup tersebut, yaitu pada pelatihan yang diadakan oleh tim Paradigma dan Kang Asep Haerul Gani. Temanya adalah Group Counselling & Group Therapy (GCGT). Diadakan selama dua hari saja.

Dikenal dengan nama lain metode psikodrama, GCGT ini pesertanya juga tidak boleh terlalu banyak. Kasus dalam grup AA pergrup paling maksimal 12 orang.

Apa yang membedakan GCGT dengan metode terapi lain?

Yang pertama – dan paling jelas – yaitu jumlah orangnya. Kalau terapi biasa yang kita tangani adalah satu orang. Nah, kalau grup, bisa sekaligus 11 orang (termasuk kita)! Jadi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Lumayan juga, ya.

Yang kedua, kita mendapatkan keuntungan dari pengalaman-pengalaman peserta lain. Ketika seorang peserta sedang melakukan psikodrama pada tema kehidupannya, peserta lain akan mendapat hikmah (atau bahkan insight-pencerahan) atas tema permasalahan yang sama.

Yang ketiga, perasaan senasib yang dihadirkan diantara para peserta dengan tema permasalahan sama. Hal itu sangat membantu dalam rangka normalisasi sebuah problematika.

Tantangan metode terapi ini, lebih membutuhkan banyak pertemuan. Umumnya dalam satu sesi, di 1 jam pertama saja, kita baru bisa mengindentifikasi sebuah masalah. AA biasa mengadakan sampai 12 kali pertemuan (dengan formasi anggota-anggota yang sama).

Mengapa psikodrama bisa menyembuhkan? Karena seringkali dalam diri kita ada sebuah “adegan yang belum selesai”, dimana adegan itu ingin kita tujukan kepada orang lain. Berupa pikiran, perasaan maupun ucapan. Di setiap sesi GCGT, semua orang memiliki hak yang sama dan kesempatan untuk melakukan itu.

Karena mengandung kata “drama” tentu bisa ditebak, pada prakteknya terapi ini akan “menghadirkan” sebuah pertunjukan.

Kursi melingkar dan….terjadilah percakapan…(doc : Paradigma)

Sehingga yang dibutuhkan dalam membuat terapi grup adalah :

  1. Panggung / Arena
  2. Sutradara/ Pimpinan Grup
  3. Tokoh Utama / Protagonis
  4. Pemain pendukung (auxiliary ego)
  5. Penonton

Sebuah grup akan dipimpin oleh “Sutradara” (Director, Group Leader). Sutradara bersama asistennya (jika ada) akan membuat sebuah “program” untuk membahas sebuah tema spesifik, lengkap bersama runtutan langkah-langkahnya. Misal, dalam 2 jam di hari pertama apa saja target yang akan diselesaikan.

Diskusi kelompok membuat program untuk sebuah kasus (doc : Paradigma)

Dalam sebuah grup juga akan ada seorang tokoh utama (bisa dilakukan bergantian) yang bernisiatif untuk mengungkapkan tema permasalahan dirinya. Cerita sang tokoh utama ini yang nanti akan “diperankan” oleh anggota-anggota grup. Ada yang berperan sebagai pemain pendukung ataupun penonton. Menjadi penonton lain, bukan berarti pasif, ya. Mereka bisa proaktif memberikan penilaian dan masukan atas adegan yang disajikan.

Kurang lebih seperti itu gambaran psikodrama yang ada dalam GCGT. Sangat mengasyikkan sebetulnya karena saat dilakukan ibaratnya kita sedang bermain peran.

Sepanjang pelatihan Kang Asep menjelaskan berbagai “tips & trik ” menghadapi dinamika dalam kelompok. Oya. Untuk adegan-adegan psikodramanya saya tidak tampilkan disini, ya, karena alasan privasi.

Bagi-bagi ilmu itu bisa saat praktek..(doc : Paradigma)

Dari sini saya melihat betapa krusialnya peran sutradara. Bila kamu bukan tipe orang yang bossy (sutradara kan biasanya bossy hehehe), mau tidak mau harus tegas dan strict terhadap substansi dari terapi grup, bila tidak cerita akan lari kemana-mana.

Apalagi dalam sebuah grup ada berbagai macam karakter manusia. Nggak usah jauh-jauh ke grup macam AA, deh. Coba tengok saja di grup WA pada smartphone kamu, bagaimana asyiknya bila sudah ada drama, bukan? Hahaha..

Selama dua hari itu kami semua diterjunkan praktek langsung bergiliran peran secara bergantian. Karena mempelajari adalah mengalaminya sendiri!

Tools lain yang bermanfaat : permainan kartu. Ini kita bukan main gaplek lho? (doc : Paradigma)

Mayoritas peserta yang berlatar belakang psikolog, guru, pekerja sosial, pegiat parenting, dsb, sama-sama kembali jadi “anak baru” dalam praktek. Beruntunglah mereka yang sudah memiliki pengetahuan akan ilmu-ilmu terapi lain, karena disini sangat membantu.

Sebagai contoh, metode clean language & brief therapy bisa digunakan untuk membuat protagonis menemukan permasalahan, sementara di akhir sesi psikodrama , hypnotherapy dan sugesti bisa diterapkan kepada protagonis.

Memang tidak ada pola yang bak dalam sebuah terapi grup. Kadang kita perlu cepat berganti metode sesuai kondisi dan situasi si protagonis. Serta berimprovisasi dengan berbagai solusi. Istilahnya kerennya : IMPROMPTU!

Apakah tanpa teori? Ya, teori pasti adalah. Cuma diselang-seling sehingga tidak monoton. Lagipula ciri khas pelatihan Kang Asep yang saya tahu, beliau akan menyesuaikan dengan kebutuhan setiap peserta. Sehingga ada wawancara motivasi setiap peserta dulu sebelum pelatihan dimulai.

Overall, ini adalah metode terapi paling dinamik dan paling asyik yang saya pernah pelajari. Bila memang kondisi memungkinkan, saya akan mencoba memprioritaskan cara ini dibanding yang lain. Karena melihat sifat, dinamika, serta keragaman peserta, semua metode yang saya pernah pelajari lebih besar kemungkinannya akan terpakai.

Tantangan menggunakan metode ini di Indonesia adalah, orang Indonesia suka shy shy cat pada orang asing. Jangankan membuat seperti AA. Mungkin akan lebih efektif bila pesertanya adalah circle orang-orang yang saling kenal, seperti rekan-rekan sekantor, teman-teman dekat, murid-murid, dsb.

Makan malam ala-ala keluarga besar (doc : Paradigma)

Anyway, bila mulai bingung artinya perut sudah lapar. Di tengah break pelatihan kita dipersilahkan menyantap makan siang yang kebanyakan…ehm spicy. Bahkan makannya pun seperti acara makan keluarga besar saja. Hahaha.

Sebelum acara ditutup, puaskan foto-foto dulu (doc : Paradigma)

Terimakasih sekali lagi, kepada para “suhu” dunia persilatan khusus terapi, Kang Asep dan Teh Yeti dari Paradigma, yang sudah mengadakan pelatihan yang bermanfaat ini. Sampai jumpa di acara selanjutnya!

==

Gambar fitur diambil dokumentasi pribadi psikodrama pencandu narkoba Dr. Aisyah Dahlan