Tentang Ekstrovert dan Introvert

Seorang yang saya kenal dekat sedang terobsesi dengan istilah ekstrovert dan introvert.

Jadi ceritanya dulu dia itu percaya bahwa dirinya itu ekstrovert. Kenalannya itu ada dimana-mana. Bahkan kalau ketemu orang diajak ngobrol, bisa dipastikan tahap selanjutnya mereka akan saling bertukar no hp.

Tapi tahun demi tahun berlalu. Setelah kenal dan sering ngobrol dengan saya berikut ikut pelajaran-pelajaran tentang kejiwaan manusia, anggapan tentang ke-ekstrovert-annya mulai bergeser.

“Kayaknya gue itu introvert, deh.”

Dia memang suka bertemu orang tapi setelah itu terjadi juga butuh menyepi beberapa lama.

Ekstrovert konon mendapat energi dari ketemu orang. Yang bikin dia habis energi itu kalau nggak ketemu orang. Haus..haus..Langsung telpon sana sini buat janjian ketemuan.ย  Jadi istilahnya mereka dapat energi dari orang lain begitu- seperti vampir-lah digetok kaum ekstrovert.

Sementara introvert itu sebaliknya. Energinya di dapat dari berdiam sendirian lama. Kalau ketemu banyak orang lama-lama energinya kayak dihisap lalu langsung low bat. Buru-buru nyari tempat sunyi buat re-charge. Kayak baterai gitu lah dijitak kaum introvert.

Saya sudah lama tahu tentang istilah ekstrovert dan introvert ini. Cuma generalisasinya itu kalau kamu cerewet pasti ekstrovert. Kalau pendiam introvert. Lha, banyak introvert itu cerewet banget kalau ketemu orang. Pas semua orang bubar langsung drop.ย  Seperti hp yang kedip-kedip tinggal 5% Wkwkwk…

Kenalan saya, seorang praktisi ilmu kejiwaan, malah nggak percaya teori ekstrovert introvert. Mungkin karena di tempat praktek terlalu sering ngeliat anomali kali,ya hahahaha..

Menurutnya ekstrovert dan introvert itu cuma soal latihan. Jadi kalau merasa introvert, cukup latihan saja bertemu orang, ngobrol-ngobrol, berusaha menikmati, dsb.

Awalnya saya sambil lalu saja mendengar ujarannya. Ketemu kasus kenalan itu baru mikir-mikir. Apakah label introvert dan ekstrovert itu sebetulnya cuma bikinan kita supaya gampang menandai perilaku orang?

Karena kita berubah sesuai usia. Seringkali seorang yang kala muda jadi matahari dan meledak-ledak, di usia senja jadi lebih kalem, butuh ketenangan, dsb. Siklus hormonalnya memang begitu.

Saya juga pernah membaca sebuah teori agak-agak metafisik. Bahwa hidup dan berinteraksi itu sebetulnya adalah perebutan energi.

Ada orang-orang tertentu yang memang tanpa sadar itu “menghisap energi” dari orang lain. Pernah nggak ketemu orang yang sesudah selesai berinteraksi dengannya kamu ngerasa capeeeeeek banget?ย  Heits, bukan berinteraksi di medsos yaaah.

Bisa jadi introvert itu sebetulnya adalah mereka-mereka yang peka dan mudah terhisap energinya oleh para dominan ini. Makanya berasa cape dan harus recharge. Dan ada cara tersendiri bagaimana agar alih-alih ngambil energi kita, kebutuhan akan energi dari para dominan tersebut bisa kita belokkan ke yang lain, yaitu kepada sumber yang lebih permanen.

Bagi saya, sepertinya terbuka kemungkinan teori ekstrovert dan introvert itu bisa di gugurkan. Seperti suatu massa yang sampai akhir hayat ingin selalu menemukan bentuknya, people change. We are change. The way we behave, the way we treat others, etc.

====

Apakah kamu percaya bahwa manusia ada yang introvert dan ekstrovert? Menurutmu dulu kamu orang yang mana?

**Artikel ini adalah re-post dari tulisan sebelumnya yang telah diperbaiki

Gambar diambil dari dokumentasi pribadi

25 Comments

  1. Wah, tulisan yang menarik ini, Mbak.
    Sampai saat ini pun saya masih belum bisa menentukan kalau seseorang bisa digolongkan ke dalam kelompok Ekstrovert atau Introvert. Saya malah lebih banyak menemukan “Ambivert” hehehe. Saya sendiri percaya kalau saya adalah ambivert. Entah benar atau tidak hahaha.

  2. Kerenn tulisannya, menarik.
    Aku sendiri percaya aku ambivert, karena sometimes aku bisa melakukan hal yang malu2in banget, cerewet sama banyak hal, ini dan itu. Tapi ada kalanya juga aku butuh tempat sendiri, gakmau denger orang ngomong.
    Nah baca tulisan ini kok yaa jadi ragu jangan2 perubahan itu cuma mood swing aja. Bukan soal teori ekstrovert introvert ambivert ๐Ÿ˜‚

  3. Kalau saya dari dulu introvert. Saya lebih suka tempat yg tenang karena di saat itu saya bisa menjadi penuh energi. Banyak orang ekstrovert yang menanyakan, apakah aku tidak bosan diam terus? Haha…well aku merasa baik-baik saja. Tapi sebagai makhluk sosial(meskipun introvert) aku selalu berusaha ramah ketika bertemu orang dan berperilaku selayaknya orang ektrovert…dan bisa dipastikan, setelah pulang dari keramaian entah kenapa badan saya langsung lelah sekali. Padahal tidak melakukan pekerjaan yang berat. Hanya bertemu banyak orang saja.

  4. Halo, salam kenal! Saya percaya dengan teori extrovert dan introvert karena ada test melalui darah mbak. Biayanya memang mahal dan memang betul kalau ada orang yang cerewet tapi sebenarnya dia introvert seperti temen saya. Kalau saya sih, anaknya introvert karena saya dari dulu memang pendiam.

      • Kalau enggak salah teman saya test darahnya melalui teman yang sedang menjalani kuliah S3. Mungkin kebetulan penelitiannya tentang hal itu. Saya juga kurang yakin sih. Nanti kalau bertemu, saya tanyakan lagi. Hehe

  5. Nih yang lagi populer: ambivert. Terus ada lagi teori omnivert, seperti ambivert tapi berperilaku kebalikan dari lingkungannya. Kayaknya semakin berumur juga gw semakin introvert, atau itu cuma faktor stok energy yang menipis ya?

  6. wah berarti guru2 dosen2 itu extrovert penghisap energi dong:D apalagi kl ketemu mata kuliah berat*abis kuliah langsung lelah..heheh nyambung ga.

    Kalau saya ga tau masuk mana: kalo ketemu orang baru ga mudah nyaman, casciscus..banyak diem. kalo udah nyaman..deket..ngobrol dr tengah malam sampe pagi aja bisaโ€ฆtapi tetap ga suka jd pusat perhatian

Leave a reply (akan di moderasi dulu) ๐Ÿ˜‡