Temans Are Everything..

Temans Are Everything..

Suatu waktu, saya menerima candaan dari salah seorang kawan, yang bilang setelah nikah beberapa kawan mainnya jadi tidak asik lagi. Alias ada saja alasan untuk nggak ngumpul bareng. Yang dia mention adalah seorang kawan cowok.

Agak de ja vu. Saya jadi ingat sesuatu.πŸ™„

Ada seorang cowok yang di masa mudanya memiliki motto keren “Temans are everything!”. Dan dia mengusung panji-panji motto itu dengan bangga selayaknya SJW di era media sosial.

Ketika ada temen sekomplotan nikah, lalu mulai membatasi diri, bakal dia bully habis di telpon.

“Booehoee! Takut istriii.”

Dan berbagai bully-an lain.Setelah puas, ia kembali “main” bersama kawan-kawan se-genknya dengan gegap gempita.

Ya. Anggapan dia tentang perubahan sikap kawan yang baru nikah, para kaum terpinggirkan itu..

Gambar : giphy.com

Kemudian tiba saatnya dia menikah.

Lalu punya anak.

Kita, semua penonton, seakan melihat sebuah film berjudul : KENA KARMA.

Setiap diajak teman sekongkownya main di hari Sabtu si pemilik moto temans are everything itu kabur bak seorang buronan, yang menghilang ditelan bumi saat diendus polisi.

Dan ramailah di tertawai di belakang oleh sesekawannya..

Cowok lain, ada yang doyannya mengoleksi brosur tentang rumah yang dijual. Tapi ngoleksi brosur doang, karena ujungnya yang dibeli mobil terbaru yang paling gres! Kapan lagi, mungkin demikian pikirnya.

Setelah nikah dan punya anak-anak, dia baru serius mau beli rumah. Sayang, brosurnya ya jelas sudah kedaluarsa, dong. Kan sudah dari jaman dulu.

Saya pernah punya genk main, beberapa sahabat cewek dan banyak sahabat cowok.

Para sohib cowok masih sangat enjoy being single, menikmati masa senang-senang. Seperti di sitkom-sitkom Friends. Bahkan ada yang bilang baru mutusin cewek yang mulai ada gelagat ngajak serius. Takut, katanya.

Setelah ada anggota yang menikah, mulai terlihat beberapa anggota kawan cowok itu yang mulai gelisah. Seperti orang ditinggal atau menghitung detik sisa usia.

Entah itu gara-gara di friendzone-in sama yang nikah (kalau itu sohib lawan jenis) atau bukan. Selalu begitu bila salah seorang anggota memasuki sebuah tahap kehidupan baru.

Suatu saat akan tiba giliran gue..Saat itu apa yang terjadi pada diri gueee?

Overthinking..(gambar : giphy.com)

Dan itu diperparah dengan siklus yang terjadi setelahnya.

Jadi pola dari teman segenk yang baru nikah : awal-awal masih semangat ngumpul, cuma kali ini bawa istri.

Kemudian pelan-pelan dia akan membatasi diri, semakin parah saat anak lahir. Wah itu sudah nggak mikirin ngumpul-ngumpul seperti jaman masih jomblo. Tiba-tiba lenyap saja, seperti kasus pertama.

Yang menarik, saya melihat banyak perubahan menakjubkan terjadi pada kawan-kawan cowok itu. Dari cowok yang hidup seenaknya, selengekan, pokoknya hidup kayaknya nggak punya tujuan selain cuma main, beli barang keren, jalan-jalan ke tempat paling hebat.

Kemudian mereka kemudian berubah menjadi….lebih dewasa dan lebih serius. Yes, termasuk semakin serius kerja. Saya seperti melihat perubahan from boys to men (moga-moga mereka nggak ada yang baca tar saya dijitak berjama’ah).

Sebetulnya mulut saya gatal seperti dikilik-kilik sapu lidi untuk usil mengingatkan pada motto-motto yang di masa muda mereka kibarkan dengan demikian jumawa..

“Kalau gue nikah enggak bakalan….” Atau.semacam…Temans are everything…

But no. Let it be.

Pesan moral dari itu, life doesn’t work that way. Kamu bisa bicara apapun tapi tidak disaat musimmu sudah berganti.

Menurut saya, perubahan psikis bukan hanya terjadi pada cewek saat dia mulai menjadi istri atau memiliki anak. Cowok juga akan jauh berubah (dalam artian positif). Mereka memang tidak mengandung atau memberi ASI, tapi secara natural ada rasa tanggung jawab yang hadir. Normalnya seperti itu, ya. Walau ada juga kasus mereka yang kena sindrom Peter Pan. Yang ini sih kesian banget istrinya.

Sebab tidak ada yang lebih banyak mengasah kemampuan seorang laki-laki selain hadirnya rasa tanggung jawab yang besar. Ditujukan terhadap istrinya dan (kalau ada) anak-anaknya. Prioritas di kepala akan terbentuk secara alami, mana kehidupan yang harus diutamakan dan mana yang tidak.

C’est la vie. Good luck, bro! (gambar : giphy.com)

Gitu, deh. Masa iya kita kepengin sohib jomblo forever. Kan nggak gitu. Hahaha. Paling sebel aja karena kebalap wkwkwk.

Kalau ada cewek yang merasa kehilangan seorang kawan cowok sampai segitunya saya malah curiga, jangan-jangan selama ini dia di friend zone-in. Alias pertemanannya modus. Hahaha.

Jika sudah punya anak kecil bisa dipahami kenapa semua orang yang baru setahun dua tahun berkeluarga tiba-tiba “ngilang”. Anak adalah makhluk yang menyedot hampir segala perhatian dan upaya dirimu sedemikian rupa, sehingga mereka akan selalu ada di setiap prioritas tindakanmu.

Di kepala cowok yang punya istri dan anak, selain penyesuaian dengan kehidupan baru, juga penuh rencana masa depan untuk keluarganya.Β  Moto temans are everything diganti jadi keluarga is everything. Kalau hanya sekedar ngumpul ngopi sekali-kali its OK. Tapi nggak kayak dulu yang bisa kapanpun lowong..

Kalau kata Don Vito Corleone,

Setelah semua anak-anak kecil tumbuh besar, mereka yang pernah memiliki kawan yang hilang di masa muda akan mulai cari-carian lagi. Mengadakan reuni ramai-ramai.

Mungkin sekaligus mengenang segala kebodohan di masa-masa dulu. Saat seseorang merasa semua serba pasti dan setiap perkataan adalah absolut. Membayangkan bagaimana seharusnya dunia berlaku, bagaimana harus diperlakukan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, belajar membedakan keberadaan hal-hal yang bisa diubah dan hal-hal yang tidak bisa diubah. Betapa lelahnya jiwa bila menolak semua itu.

Seperti ombak yang menyadari dia telah mencapai pantai. Seperti air yang tidak pernah memaksakan bentuknya dalam wadah apapun. Seperti musim yang menerima bahwa suatu saat dia akan berganti.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu punya cerita juga?

Gambar fitur diambil dari koleksi pribadi