Suka Duka Menjadi Moderator

Dahulu aku termasuk orang yang aktif dalam mailing list dan forum online. Kalau sekarang, mailing list jelas sudah tidak terdengar, ya. Yang masih ada adalah forum diskusi. Itu saja fungsinya sudah banyak diganti oleh media sosial dan grup messenger semacam WA atau telegram.

Entah kenapa dalam perjalananku menjadi anggota forum dan grup WA, seperti takdir, sering banget dipaksa dijebak didaulat untuk jadi moderator (untuk forum) atau admin (untuk grup WA). Bedanya kalau jadi admin forum, kita ibaratnya pegang semua kontrol panel, sementara moderator cuma punya akses beberapa fitur moderasi saja.

Mungkin ada, ya, lebih dari tiga forum bebas, dua forum resmi perusahaan dulu berturut-turut aku pegang. Pernah juga mendirikan forum dengan beberapa teman dan yes…karena jadi salah satu pendiri mau nggak mau wajib jadi moderator T_T. Hik. Ter-pe-rang-kap.

Sementara di era WA, jabatan admin, jangan tanya….sampai rasanya kuingin menghilang. Deep down inside, kalau boleh milih… kusungguh ingin jadi member biasa saja. Karena menjadi moderator admin forum atau grup dalam banyak kasus adalah pekerjaan mirip jebakan Batman.

Terutama kalau forum dan grupnya tipe aktif !

Aku harus rajin cek bergantian dengan momod dan admin lain apakah ada yang kelahi, posting hoax, foto-foto nggak genah, dsb. Walaupun ada sistem shift ya. Tetap saja…

Makanya tidak heran rotasi momod/admin itu cepat banget, banyak yang nggak sanggup (kecuali yang mengurus banyak). Cuma pada prakteknya, dengan admin banyak pun suka ada yang nggak aktif alias cuma titip nama, doang. Alias yang kerja cuma kita-kita yang aktif online.

Yah. Nggak bisa disalahin juga, sih, apalagi yang dasarnya jadi admin karena dipaksa.πŸ˜‚πŸ€£

Tokoh paling kiri mewakili perasaan kami, momod yang aktif (image : film The Hangover)

Yang sering menjadi buah simalakama dalam mengurus wadah diskusi disini adalah…terlalu banyak obrolan ngalor ngidul. Orang Indonesia itu rata-rata doyan ngobrol. Di forum terkadang topik berjudul mangga bisa berubah jadi jambu. Atau malah berakhir jadi ajang sapa-sapaan. Tugas momod biasanya mengembalikan ke topik, menegur bila ada one liner, walaupun nggak harus strict-strict amat. Karena sama-sama pahamlah karakter bangsa kita.

Kalau di grup WA obrolan ngalor-ngidul di dominasi member aktif. Di satu sisi menghidupkan suasana, sehingga grup tersebut tidak sunyi senyap (lalu pesertanya left.) Disisi lain bikin orang jadi pusing harus scroll up mencari topik yang benar-benar relevan dan penting. Itu bisa diatasi dengan rajin memakai metode clear chat. Kecuali admin ya, karena memang tugasnya harus screening hikshiks*

Makanan sehari-hari momod forum dan admin grup sebetulnya nggak banyak berbeda. Membuat suasana nyaman, kondusif, dan tertata. Mengayomi member juga. Tantangan yang kadang hadir itu adalah spammer dan troll. Kalau hacker, sih biarin itu urusannya admin πŸ˜…πŸ˜‚

Spammer. Memanfaatkan forum atau grup untuk jualan, sudah biasa, tergantung rule forumnya. Seringkali demi keteraturan kita punya subforum tersendiri untuk jualan. Jadi kalau tiba-tiba ada yang dagang di subforum lain, bisa dianggap OOT, dan langsung disikat oleh momod.

Tapi ada juga forum yang nggak punya subforum jualan. Biasanya forum resmi perusahaan (ya, ngapain juga jadi lapak buat orang lain, wong forumnya sendiri bagian dari sebuah lapak🀣).

Nah, karena nggak dapat tempat, biasanya spammer-spammer suka jadi asal pos. Saat ada topik hot, tahu-tahu di tengah postingan lain ada yang isinya nggak nyambung blas, macam “jasa cetak dokumen undangan”! Sudah di ban berapa kali, muncul terus kayak virus….!

Saking seringnya nongol, kalau ada topik panas lagi, tapi si tukang spam malah nggak muncul, banyak member yang heran,

“Tumben….?” πŸ˜‚ —)merasa ada yang ilang!

Di grup WA tantangannya tentu beda. Kadang suka ada member yang koleksi nomor anggota untuk di kirimin spam aneh-aneh.

Troll. Kami, momod di forum, seringkali harus hadapi troll tanpa henti. Alias member yang sukanya bikin onar.

Tipenya itu macam-macam, ada yang frontal mancing buat kelahi dan ada juga yang spesialis membuat topik yang aslinya biasa-biasa saja jadi sebuah medan perang!

Gambaran peta pertempuran di forum sehari-hari. Harry dan Ron : momods. Hermione : member yang kena Troll ( gambar: wizardingworld Harry Potter)

Yah. Nggak semua troll seperti Abu Lahab, si pembawa kayu bakar. Ada memang orang-orang yang pada dasarnya haus tantangan atau butuh perhatian dan mereka menemukan semuanya hanya di dunia maya. Kasus yang lain, memang pembawaan orang itu dari sananya sudah begitu. Punya cara bicara yang bikin member lain kepengin nampol setiap ybs muncul.

Pengalamanku, asal sesama momod kompak, ngadepin troll itu gampang, tinggal dikasih peringatan satu, dua, tiga dsb. Labelled. Banned. Kalau forumnya sepi, kita-kita ini masih sangat baik hatinya dan woles. Kalau ramai, ya mohon maaf deh.

Pernah ada, sih, teman momod yang sudah saking sebelnya sama seorang troll, belum sampai peringatan tiga, tahu-tahu pencet banned aja. Tinggal troll nya misuh-misuh sendiri, lalu daftar pakai nama baru lagi. Jadi menurutku nggak efektif juga kalau kecepetan.

Aku sekali waktu dapat rekan admin forum yang pendekatan menyelesaikan masalah troll ala-ala PR dan kejiwaan. Ketika forum lagi ngadain kopi darat, troll-nya dia temui lalu diajak ngobrol. Yang bikin kita semua itu suka heran, mereka para troll yang kelihatannya garang di dunia maya, ternyata di dunia nyata OMG… seperti domba….

Setelah dikenal dan merasa dihargai, member itu jarang nge-troll lagi. Karena sudah pernah temu muka dan punya rasa nggak enakan yang kuat kepada kita, para momod. Ya, seperti layaknya pergaulan di dunia nyata.

Cuma kalau semua troll harus kita dekati, berapa kopi darat coba yang harus ditempuh? T_T

Sekarang soal topik.

Topik-topik yang kami, momod dan admin, hindari banget, apalagi kalau bukan SARA dan…..politik. Wah, bibit-bibit saling cakar itu. Bikin kami semua pusing, bikin member-member lain nggak nyaman. Banyak yang keukeuh debat sampai titik darah penghabisan. Kalau sukses mengalahkan lawan bicara, kelihatannya saja seseorang menang, tapi itu cuma tampak luar. Jangan lupa para lurker, kita tidak pernah tahu apa yang mereka nilai, pikirkan, dan lakukan.

Aku ingat ada sebuah WA grup keluarga yang sampai BUBAR gara-gara anggotanya ribut bicara politik. Banyak yang akhirnya malah left. Padahal awal didirikannya untuk menjalin silaturahmi tapi endingnya…merontokkan silaturahmi.

Sukanya jadi moderator itu, aku jadi bertambah pengalaman menghadapi dunia online. Belajar untuk berdiskusi yang benar-benar fokus kepada topik, bisa memahamilah perasaan para pengurus forum diskusi, grup WA, atau pembuat topik. Berusaha nggak bikin trouble yang nggak perlu.

Sekarang aku sudah pensiun dari segala bentuk admin, momod, dkk. Terutama karena sudah mencoba menerapkan digital minimalism. Alias bersih-bersih hal-hal yang tidak kusukai di dunia online. Ternyata salah satunya menjadi momod forum dan admin grup. Tentu saja. Hahahaha…

Tapi sepertinya aku nggak bisa lepas sepenuhnya dari bayang-bayang beberapa job desk momod, setelah banting setir jadi blogger. Karena saat memutuskan untuk membuka kolom komen, kita semua sebetulnya adalah momod. Punya power untuk approve komentar apapun, mengarahkan, bahkan mengedit (untuk platform wordpress).

Ketika selesai memposting sebuah judul di blog, aku berusaha langsung switch dari mode penulis menjadi mode moderator. Bedanya dengan dulu, aku sekarang sangat menikmati berbagai diskusi yang hadir tanpa harus merasa terbebani karena memang jumlahnya tidak semasif jaman forum.

Cuma kebiasaan lama memang susah dihilangkan. Kadang suka reflek memoderasi percakapan tanpa sadar, baik di blog atau di tempat-tempat lain. Tanpa maksud apapun. Bawaannya kepengin merapihkan saja. Untung ada suara kecil mengingatkan, eh kan bukan momod lagi, biarin ajalah hahaha. So, lebih banyak mendengarkan dan mengamati saja ketimbang dulu.

Aku berusaha pegang kata-kata pendiri Pramuka Robert Baden Powell…

If you make listening and observation your occupation you will gain much more than you can by talk.

Kamu pernah jadi moderator, admin, atau tokoh-tokoh dalam forum/grup WA yang aku bold diatas? Kenapa?

Gambar fitur diambil dari dokumentasi pribadi

19 Comments

  1. Hahahha kepikiran ya mbaa nulis ini, whic is terjadi di kehidupan sehari-hari dan nggak jadi perhatian (buat aku) whis is ketika dibahas had that ” Oh iya ya” hahaha karena ada beberapa yang relate.

    Soal jadi admin, aku nggak pernah mba, karena udah kebayang overwhelmed-nya gimana, pernah sih dulu aku ada project baeng gitu, karena aku yang ngajak otomatis jadi admin dong, tapi grub dan projectnya nggak bertahan lama, gara-gara ada member yang suka-sukaan, berantem dan endingnya kami bubar hahahah, ngeselin emang hahahha.

    Mental baja banget mba Phebie ih πŸ˜‚πŸ˜‚

    • Sudah lama sih pengin nulis ini, mbak Sovia. Cuma lupa melulu. πŸ˜«πŸ˜…

      Sebetulnya lebih banyak lagi pengalaman lucu-lucu lain tapi tar kepanjangan.

      Yess overwhelmed betul. Makanya liat2 kebagian jaga di subforum apa. Ambilnya yg aman-aman tapi ujung2 musti bantuin rekan di subforum lain juga.

      Ahahaha bubar karena masalah cinta? Pernah juga sih ngurusin yg ada begituan…duh nggak dua kali deh ada di kondisi gitu susye banget nanganinnya mba πŸ€ͺπŸ˜‚

      Saya mah gak bermental baja mba buktinya pilih pensiun 🀣🀣

  2. Blocking toxic ppl udah jadi hobi skrng. Apakah nge-ban troll jg enak rasanya seperti ngeblock orang2 toxic πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    Tp betul banget drpd pusing sendiri ya udah pensiun aja πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  3. Pernah Pheb..dan sangat paham rasanya 😁😁

    Makanya lebih suka jadi member sajah karena dengan begitu bisa nge-troll-in admin πŸ˜‚πŸ˜‚

    Pengalaman saya, ya kurleb sama denga yang sudah Phebie tulis πŸ˜‚πŸ˜‚

    • Pernah jd admin ya mas.πŸ˜…Haha sudah paham rasanya tapi masih tetap mau nge-troll admin..πŸ˜„

      Gapapa kdg2 yg spt itu juga kita, momods, sengaja konservasi kok. Kl kelewatan tinggal di banned 😁Rumus yg sama anehnya dipakai juga oleh semua medsos…

  4. Membaca judulnya, saya pikir ini tentang moderator dalam sebuah seminar. Hehe. Saya pernah sekali menjadi moderator dalam sebuah seminar, tapi lebih senang dan seringnya menjadi narasumber.

    Di dunia maya, saya tidak pernah terlalu aktif ‘bergaul’. Forum, mailist atau bentuk lainnya saya ikuti secara pasif saja. Makanya jarang didaulat menjadi moderator.

    Di dunia whatsapp, pernah menjadi admin cuma karena saya yang membentuk grupnya. Setelah terbentuk, saya angkat yang lain menjadi admin, saya ‘mengundurkan diri’ dan cukup menjadi anggota saja. Haha.

    Tapi melihat bagaimana orang lain di sebuah forum/chat group, ada satu kunci untuk bisa menjadi moderator atau admin yang baik, yaitu mininal mampu bersikap netral. Selebihnya, tinggal ikuti aturan yang telah disepakati bersama.

    • Bukan, mas Agung. Ah kalau moderator seminar sih menyenangkan, ya….

      Saat trend saya dulu memang aktif, tapi nggak sampai banget cuma memang kenal dengan yg berkepentingan di forum. Kalau dari pengalaman kita dulu saat mau rekrut momod baru, dasar pemilihan dilihat dari perilaku dan yes netralitas juga, bukan sekedar seberapa seringnya seseorang online. Kadang troll dan spammer lebih sering online daripada yang lain XD

      Tapi memang pernah ada grup yg benar-benar kepepet butuh akhirnya cari siapa yang sering online.

      Hahaha taktik yang bagus itu mas, orang lain yg jadi admin…

  5. Saya nggak pernah jadi moderator mba Phebie πŸ˜‚ Sekalinya jadi, yaaa moderator blog sendiri hahaha. Alias balas-balas komentar yang masuk di blog. Menurut saya jadi moderator itu susah, mungkin karena itu saya nggak pernah berminat πŸ˜†

    Mba Phebie banyak juga pengalaman jadi moderatornya, berarti sudah terbiasa bertemu banyak karakter di luaran sana (baik maya atau nyata) 😍 Saya rasa hal tersulit ketika jadi moderator itu saat tanpa sengaja ketemu karakter yang nggak cocok sama kita, tapi seperti yang mas Agung bilang, kitanya perlu bersikap netral πŸ˜‚

    • Haha mbak Eno sepanjang saya lihat sudah sangat bagus kok membalas-balas komentar…πŸ˜… mungkin pengalaman dlm pekerjaan di dunia nyata sgt membantu.

      Kalau di blog sy lihat jarang sih sampai difungsikan jd mirip forum diskusi. Yg sampai panjang berbalas-balasan ke bawah..

      Baru mbak Eno saja yg saya lihat blognya berfungsi sekaligus spt forum diskusi itu. Saya bertanya2, apa mbak Enonya nggak capek ya mgkkah sampai bergadang buat jawab2 satu2..?πŸ˜…
      Ya selalu ada yang nggak cocok begitu, tapi kalau kitanya berusaha netral biasanya woles saja. Yang repot kalau sudah bawa2 perasaan….πŸ˜€

  6. Kalau jadi admin, di grup WA keluarga besar bokap + grup WA teman masa kecil, ya aku bagian dari admin. Tapi di dua grup tersebut hampir 99% membernya dijadikan admin semua. Fungsinya untuk back up, supaya kalau satu admin bermasalah dengan teknis (hp hilang, nomor hangus/ganti) masih ada orang lain yang bisa moderasi, masukin member baru dll. Nah yang parah di grup WA keluarga besar nyokap saya mbak. Adminnya satu orang yaitu om saya, dan beliau meninggal dunia 3 tahun lalu. Jadi agak susah mau masukin member baru dan aktivitas2 lain yg cuma bisa dilakukan admin, karena anak dan istrinya juga ga seberapa aktif ambil alih nomor alm.om saya itu πŸ™

    • Hahaha ohya mbak Imelda, di grup ada juga sih sistemnya begitu. Pernah nemu grup anak-anak muda yang semua jadi admin. Tapi di tengah jalan pada berantem dan mereka saling mengeluarkan dan memasukkan sesamanya XD. Kayaknya sih kalau semuanya kalem dan bersikap dewasa ngggak masalah admin borongan.
      Wah rumit juga ya bila ada yang wafat tapi jadi satu-satunya admin. Satu-satunya cara ganti grup baru.

  7. Menjadi moderator tapi platformnya berubah-ubah memang tidak gampang. Keren. Kalau di dunia nyata, mengatur peserta diskusinya lebih gampang ketimbang diskusi online. Kecuali ada fitur mute dan hanya mengizinkan beberapa orang untuk berbicara. Tapi itu terlalu otoriter. Sebenarnya, individunya saja yang harus sadar diri.

    Menyangkut soal moderasi komentar, saya orang yang tidak mengaktifkan itu. Komentar saya biarkan saja tanpa moderasi. Itu cara saya membiarkan orang mendapatkan hak bicaranya. Atau mungkin, saya saja yang belum menemukan tipe trolls itu. Agak menyebalkan memang betapa orang sangat gahar di dunia maya tapi di dunia nyata mentalnya ciut

    • Ya, mas Rahul, fungsi mute (hanya admin bisa pos) di WA termasuk baru, yang lalu-lalu belum ada jadi seperti hukum rimba saja. Hahaha

      Kalau di blog saya moderasi bukan karena troll, tapi spam. Yang sering masuk itu, sih.

      Troll anehnya banyak yang begitu, mas Rahul. Justru karena di dunia nyata merasa bukan siapa-siapa….

Leave a reply