Social (Media) Distancing

Social (Media) Distancing

Hari ke sekian Work From Home – Stay at Home.  Sebetulnya lebih cocok pakai istilah “social distancing hari ke-XX”.

Nah.  Saya mengamati pengalaman diri sendiri saat sedang menjalani….

Hari pertama dan kedua masih biasa. Jatuh ke seminggu lebih…. mulai, deh, ada perasaan-perasaan yang hadir.

Perasaan terbesar saya adalah kebutuhan akan kehadiran manusia lain dan rasa bosan dengan rutinitas.  Akhirnya di waktu lowong yang terjadi adalah ingin terkoneksi terus dengan dunia luar, mau tahu di berita ada apa. Kemudian buka-buka media sosial. Tapi kalau buka berita Indonesia, yang ada kenapa jadi malah semakin menakutkan, ya? Apalagi di media sosial. Kebetulan saya paling aktif di twitter. Bukan main itu yang namanya berita, semuanya selalu tentang COVID-19. Dan hampir sebagian besar isinya mengandung kecemasan.

Akhirnya jadi mengalami serangan cemas. Padahal tubuh butuh imun yang baik di hari gini. Ya, kan! Kalau kondisi stress apa bisa? Ukh…

Saya nggak bisa ngebayangin pasien yang positif COVID-19, diisolasi di ruang terbatas, lalu media komunikasinya cuma dari gadget dan berita dari TV lokal.  Apa mereka ini nggak jadi lebih stress dan kemampuan untuk sembuhnya juga berkurang?

Ngeliat tembok itu-itu lagi tiap hari…

Mereka yang menyebarkan kecemasan secara sengaja atau tidak, sebetulnya sudah memiliki andil melakukan hal yang sangat destruktif bagi sesama.

OK. Cukup sampai disini.

Saya pun jarang ngintip media sosial lagi,  mulai menerapkan juga social media distancing. Iya, betul. Kayaknya nggak cukup cuma social distancing, deh. Harus dengan media sosialnya sekalian.

Coba pikir, kalau dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam beritanya selalu tentang efek negatif COVID-19, kira-kira apa yang diproses oleh otak ini? Melihat iklan cuma beberapa menit saja ingat produknya bisa sampai bertahun-tahun.

Ignorance is a bliss, sometimes.

Terus musti gimana?

Cara Kerja Media Sosial

Sebelumnya, kita perlu ngerti gimana cara kerja media sosial yang memang memanfaatkan insting alami manusia. Ini secuil pengetahuan yang saya dapat dari mas Carl Newport penulis buku Digital Minimalism. Ternyata bermanfaat juga dalam kondisi begini.

Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kalau kata Aristotele, “Man is by nature a social animal”. Maka terputusnya seseorang dari seseorang yang lain (sosialiasi) bisa memicu perasaan yang sakitnya nyaris sama seperti kesakitan fisik. Pernah nggak kehilangan anggota keluarga, patah hati, atau dijauhi teman sebaya?

Pantai pun sepi….

Nah. Media sosial itu hubungannya kuat dengan perasaan kesepian dan terisolasi. Karena media sosial membuat seseorang terbiasa terkoneksi setiap hari dalam kehidupan.  Semakin banyak menggunakan media sosial, seseorang akan semakin mudah terjebak kepada perasaan-perasaan itu. Saya juga merasakannya belakangan ini.

Kalau terjadi di jaman dulu, ibarat kita biasa tiap hari rutin kongkow-kongkow dengan puluhan orang. Tiba-tiba keesokan harinya nggak ada orang sama sekali (tidak terkoneksi). Pasti langsung jadi gelisah kayak belut kepanasan di lumpur.

Hal Yang Tak Tergantikan

Sialnya, otak kita nggak bisa membedakan mana yang lebih penting orang yang berkomunikasi dengan kita dari gadget atau yang ada dihadapan. Artinya semua momen ber”layar” akan menghilangkan kesempatan untuk bersosialisasi langsung, secara sehat, di dunia nyata. Kalau di kondisi sekarang, termasuk interaksi dengan keluarga di rumah.

Padahal  keunggulan sosialiasi dunia nyata yang nggak dimiliki sosialiasi online banyak, seperti  bisa ngeliat ekspresi seseorang dan belajar merasakan empati.  Percakapan seringkali lebih random dan nggak terstruktur. Kita lebih bisa belajar mengamati dan beradaptasi dengan karakter seseorang.

Dua fungsi gadget…

Di layar kan palingan cuma bisa nebak-nebak ini orang maksudnya marah atau seneng, Kalaupun seneng apakah beneran? Like-nya apakah cuma basa-basi doang?

Komunikasi Yang Berpusat Pada Percakapan

Teks nggak pernah bisa menggantikan kehadiran suara dan ekspresi wajah.  Dalam kondisi stay at home dan social distancing ini,  komunikasi yang berpusat pada percakapan (conversation-centric communication) adalah solusi terbaik. Polanya mirip dengan percakapan seperti di dunia nyata.

Apaan sih, itu? Memang ada teknologinya?  Hahaha. Dari jaman dulu juga ada, kok. Yang paling canggih : video chat. Yang paling klasik : telpon.  Intinya ada sentuhan indrawi yang dikirim oleh lawan bicara : ekspresi wajah, minimal nada suara.

Informasi tetap perlu, ya. Cuma sekarang saya lebih suka membaca berita dan membaca kabar dari negara lain, terutama negara yang sudah melalui tahap mengontrol pandemi ini. Istilahnya sudah berhasil berkelit dari tembakan peluru. Media sosial juga sesekali saja dibaca untuk paham topik apa yang sedang dibicarakan orang (yang genuine, lho, bukan yang dibuat untuk dibicarakan,yah).

Saya juga memprioritaskan menggunakan video call saat ingin membahas sesuatu. Agak aneh karena biasanya di dunia nyata bisa hadap-hadapan. Ternyata nggak beda-beda amat, sih, hasilnya. Kehadirannya lebih bisa dirasakan. Paling kalau gemas nggak bisa jitak orangnya aja hahaha…

Terkoneksi yang memanfaatkan teks masih, sih, untuk menyederhanakan.  Saya lakukan buat yang penting-penting saja atau memang kepepet. Contoh, saat berkomunikasi dengan kerabat atau kawan yang tinggal di luar. Mereka ini, menurut saya, butuh juga perhatian dari tanah air, ya. Apalagi kalau negaranya lagi kena lock down.

Suasana belakangan ini di salah satu distrik di kota Jepang (dok : IS)

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dan dapat foto suasana dari kerabat di Jepang. Dia bilang disana masih ada kasus tapi orang tetap menjalani keseharian seperti biasa. Para pegawai ada yang kerja di rumah, dan tetap kerja. Jam-jam sibuk berlangsung seolah tidak ada apa-apa.  Artinya virusnya sudah terkendali.

Di kesempatan lain teks kawan yang ada di Amerika yang kotanya kena lockdown. Di Tibet, di daerah Nordik, dsb.  Mungkin perlu juga suatu waktu video call.

Kalau ada foto-foto dari sumber lain yang saya terima langsung akan di pos disini, deh.

Pada Akhirnya….

Ada perasaan senasib yang nyata dalam sosialiasi sesungguhnya. Dan, gimana, ya…. saya merasa jadi lebih baik. Jauuh ketimbang selalu memantau berita dan media sosial atau hanya melalui teks.

Saya memikirkan ini juga bila sekolah tutup sampai berbulan-bulan. Anak-anak harus belajar bersosialiasi dengan sesamanya secara nyata. Mendekati nyata minimal. Tentunya dengan pengawasan orang dewasa juga.

Kira-kira itu, sih pengamatan saya atas keseharian selama social distancing dan stay at home ini.

Bagaimana dengan kamu?

Gambar selain yang disebut sumbernya berasal dari dokumentasi pribadi