Sharing : Schema Therapy

Sharing : Schema Therapy

Minggu kemarin saya melakukan reuni kecil dengan kawan-kawan penimba ilmu parenting dan terapi ilmu kejiwaan. Bukan berita baru kalau dalam acara-acara seperti ini saya selalu berjumpa dengan wajah-wajah lama…

Acara yang kami ikuti adalah sharing day bersama Teh Yeti Widiati. Dibilang hanya sharing day juga bukan, karena materinya sudah ala-ala semi workshop, membuat otak bekerja keras (!). Mungkin hanya otak saya saja, sih maklum perlu rajin diminyaki. Hihihi..

Bahasannya adalah Schema Therapy, metode yang dikembangkan oleh Dr. Jeffrey Young (walaupun di acara juga di sharing materi dari perkuliahan Ida Shaw dan Farrel ).

Dr. Jeffrey Young (gambar : securenest.org)

Schema Therapy sendiri cukup menarik karena didasari oleh beragam teori (Psikodinamik, Behavior, Kognitif, Attachment, Perkembangan Psikososial, dan Neuroscience) dan treatment (Imagery, Empty Chair, Psikodrama, Emotion Focused Therapy, Hypnotherapy, Ego State Therapy, CBT, Play Therapy, Penugasan, Card, dsb)

Nah, karena banyak istilah-istilah psikoterapi yang, apa ya istilahnya…. “tak terjemahkan” (tsaah) maka untuk mengikuti sharing day ini sendiri dibutuhkan prasyarat. Antara lain sudah pernah mengikuti Ericksonian Hypnotherapy, Psikodrama (atau Family Therapy), dan Trauma Healing (atau Healing Inner Child Within).

Saat mulai mencerna materi, saya semakin paham bahwa semua prasyarat itu bukan tanpa alasan. Karena di tengah-tengah kita seringkali “diingatkan” lagi tentang sesi-sesi terapi dari berbagai model. Bisa habis waktu sendiri kalau tiba-tiba ada yang bertanya artinya satu persatu. Ini saja otak saya mulai berasap mengingat beberapa metode lama. Psssssshhh…

Inti dari Schema Therapy, menurut saya, adalah bagaimana kita menelaah berbagai kemungkinan (skema) perilaku negatif yang ditimbulkan karena kekurangan dalam pengasuhan.

Sharing pengalaman dalam Schema Therapy

Jadi disini kita nggak ada, tuh, yang membicarakan efek positif, semuanya negatif (glup!). Terbukalah segala yang terlewat dari sejarah parenting seseorang.

Istilah-istilah penting : schema adalah pola yang berkaitan dengan pengalaman individu, coping style adalah perilaku seseorang sebagai respon terhadap skema (avoidance, surrender, overcompensation).

Ada delapan belas schema dan coping style yang bisa terjadi, yang nanti akan di perkirakan juga :

  1. Penyebab terjadinya/ lingkungan masa kecil
  2. Kebutuhan apa yang tidak terpenuhi,
  3. Bagaimana ekspresinya di masa kanak-kanak
  4. Bagaimana ekspresinya di masa dewasa.
  5. Hubungan antara semuanya dan bentuk terapi/re-parenting-nya (saya baru tahu ada istilah ini-lol)

Peserta terdiri dari berbagai kalangan, guru, hingga peminat parenting

Contoh :

Skema Abandonment/ Instability

Pada skema ini kebutuhan yang tidak terpenuhi dimasa kecil adalah rasa aman, disebabkan oleh lingkungan masa kecil yang membuat anak kesepian dan merasa serba tidak terprediksi. Ekspresi yang timbul di masa anak-anak dari ketakutan, menempel pada pengasuh, hingga tidak merasa ada hubungan dengan siapapun. Ekspresi yang hadir di masa dewasa adalah orang lain tidak akan dipandang layak.

Boneka peraga

Nah. Delapan belas skema itu (masalah-masalah pengasuhan), biasanya baru “muncul” pada masa remaja akhir dan dewasa. Kenapa? Saat anak-anak / remaja awal mereka masih tergantung kepada orang tua, sementara setelah remaja akhir dan dewasa, ada kebebasan dalam menentukan sikap. Karakter mulai terlihat.

Makanya orang tua jangan kaget bagaimana anaknya jadi “berubah” serta memiliki perilaku baru ketika dewasa. Huhuhu.

Istilah-istilahnya perlu dihafalkan dalam bahasa Inggris, karena padanan bahasa Indonesianya bisa kompleks, dan menyimpang dari maknanya. Untuk membuat peserta yang gagap bahasa seperti saya hafal, maka dihadirkan permainan tebak-tebakan serta mengisi beberapa pertanyaan.

Enggak gampang juga. Karena beberapa kali saya sudah merasa yakin skemanya A ternyata B. Duh. Duh. Harus sering dilatih.

Melatih schema therapy ini ternyata perlu ketelitian dan kepekaan, tidak sekedar menebak-nebak. Memang, sih, kalau di awal kita menebak seseorang skemanya C, ini di awal kesannya judging. Tapi apa yang terlihat bisa jadi hanya gambaran sekilas. Kita perlu melihat gambaran secara keseluruhan, alias menggali lebih dalam. Biasanya lewat pengamatan atau percakapan (wawancara).

Pst. Ya, enggak apa-apa, kalau di awal masih terkesan judging namanya juga latihan ngeles mode. Asal jangan jadi doyan demi tujuan nyinyir..-_-

Menurut saya sharing satu hari itu cukup memuaskan. Kendala cuma di bahasa Inggris dengan istilah-istilah baru (buat saya macam unrelenting, enmeshment, dkk ..euh…lieur!). Sisanya, cuma masalah pemahaman dan hafalan.

IMG-20191208-WA0003.jpg

Oooh…snack time!

Untung snack yang disediakan lumayan “kenceng” (termasuk sumbangan Beng Beng dari peserta). Bahan bakar agar otak semakin cerdas dan obat anti ngantuk. Ini sih, nyari alasan sahih untuk ngemil…

Snack diantara pelajaran..

Bagaimana dengan metode terapinya?

Ehm, enggak diajarkan secara spesifik, ya. Dianggap peserta sudah belajar tentang itu di sesi workshop (prasyarat yang disebutkan diatas). Di modul ada disinggung beberapa saran bagi terapis/orang tua. Karena sudah pernah mempelajari, saya bisa paham apa langkah-langkah yang sekiranya perlu dilakukan.

Walaupun dalam ilmu psikologi tidak ada yang pasti, setidaknya sudah ada “panduan” dari kasus-kasus yang umum ditangani ahli. Saya yakin akan terpakai dan bermanfaat bagi keluarga sendiri maupun orang lain. Setidaknya membantu saya untuk memahami dan mengidentifikasi permasalahan anak (atau seseorang) dengan cara yang lebih terpola.

Gambaran lengkap tentang Schema Therapy bisa disimak di video ini :

Makasih sharingnya, Teh! Sering-sering, ya….

Gambar : dokumentasi pribadi, dok. paradigma’s Schema Therapy One Day Sharing