Seni Mengomentari Tulisan  Orang Lain

Seni Mengomentari Tulisan Orang Lain

Teori seputar cara berkomentar ada banyak bertebaran di dunia maya, tinggal googling dan pilih.

Cuma pada prakteknya di lapangan dan dunia per-netizenan, beberapa dari kita, termasuk diriku, suka rada ambyar.

Baru kemarin aku di-mention kawan blogger, Mas Anton, yang rajin membuat renungan dari reply pembaca blognya, kemudian meramu ide tulisan yang serpihannya berserakan dari mana saja, seperti tinggal ditangkap.

Sumber pembahasan (menurutku) adalah seputar seni mengomentari tulisan orang lain.Menarik banget.

Timbul kembali pertanyaan. Gimana sebaiknya berkomentar untuk itu di dunia maya (blogging, medsos, dsb)?

Berdasarkan pengalamanku….Sederhana, sih cuma pegang dua rules.

FIRST RULE, yang aku musti ingat banget…Ini tujuan aku komen apa dulu, tho? Apakah mau…

  1. Berekspresi
  2. Nyari jodo teman
  3. Buang sampah (a.k.a. sambat)
  4. Jualan
  5. Uji kecerdasan
  6. Troling
  7. Hiburan
  8. Nyari info
  9. Dsb.

Manusia kan dinamik jadi bisa hari ini nomor 1 besok nomor 4. Suka-sukanya..

Tujuanku sendiri mentok ke 2, 7,8, lebih ke pertemanan, cari info, dan hiburan. Berekspresi cukup di blog dan IG

Catatan : karena aku blogger, bukan berarti ini soal blog saja. Bisa juga dipraktekkan untuk medsos yang suka ada note, utas-nya. Pokoknya tulisan dengan kalimat segambreng ya. Bukan cuma sekian karakter.

SECOND RULE

Karena kita nggak bisa mengontrol orang mau bereaksi bagaimana, yang bisa dikendalikan adalah diri kita sendiri. Jadi biasanya aku, tuh suka lihat dulu tipe postingannya.

Kelemahan bahasa tulisan itu adalah minim banget ekspresi indrawi (tone suara, ekspresi muka, dsb) walaupun bisa dibantu dengan emoticon. Dan nggak semua kotak komentar mengijinkan ada emot. Kadang yang keluar hanya <?> blank. Minus ekspresi, orang akan punya kecenderungan berasumsi akan komentar kita berdasarkan pengalaman pribadi.

Lanjoot…

Anggap kita semua sudah ngertilah soal nettiquette.

Aku mengkategorikan beberapa tipe pos (untuk blog, bisa keseluruhan kalau memang jelas niche nya.)

1. Postingan Hobi

Yang suka topik ini sendiri sudah sangat terpilih, alias mereka yang doyan saja.

Jarang partai kaum rebahan tiba-tiba komen di blog traveling, ngapain sih jalan-jalan muluk.Kebanyakan komentar di seputar hobi, tidak terlalu tertarik bicara topik lain. Kecuali itu berpengaruh dengan hobi mereka ya.

Misal, di grup mancing nggak peduli, deh negara mau ngapain, pokoknya pergi mancing!

Topik pasangan, walaupun nggak nyambung, tetap terbahas karena berhubungan dengan kelanggengan hobi…Berkomentar disini aman seratus persen asal masih seputar itu.

2. Postingan Curhat

New level, dari pengalamanku, harus berhati-hati berkomentar. Terutama bila anda cowok dan yang curhat cewek, ya. Dalam banyak kasus yang dibutuhkan biasanya cuma dukungan dan empati. Bukan salah atau benar.

Bila ada yang tiba-tiba masuk melawan arus di sebuah postingan curhat yang intens, bisa di tebak….nasibnya….

Aku beberapa kali menjadi saksi bagaimana seseorang itu dibantai oleh penulis berikut kawan-kawan sesecurcol dibawahnya. Mungkin di dunia nyata ybs sampai harus minum paracetamol…

Lhaaa..maksud gue kan cuma gini kenapa jadinya gituuuu?

Nggak perlu ngerasa susah. Untuk mengerti itu buat anda cowok yang masih single perlu memahami video ini …sila-sila di screen cap kalo perlu. Wkwk…

Just kidding….XDXD

Mau cowok atau cewek, kalau sudah terbawa emosi bisa saja bereaksi nggak masuk di akal, ya.

3. Postingan Opini Murni

Kebanyakan pos yang opinionated menyampaikan banyak hal ideal. Biasa disampaikan karena concern oleh kejadian di dunia nyata.

Berkomentar yang berlawanan disini kita perlu wawasan yang cukup, minimal yang tidak diketahui oleh penulis.

Bila tidak, perlu energi dan waktu, untuk melayani saat dicecar dengan logika.

Ya, iya dong penulis kan pasti membela opininya.

Yang perlu aku perhatikan disini, apakah di akhir tulisan, ada pertanyaan apa pendapat kita. Jika iya, chance nya 50 : 50 lah pendapat diterima atau ditolak.

Artinya penulis membuka diri pada beberapa kemungkinan termasuk yang berlawanan.

Betuuul.

Nggak usah khawatir, banyak juga yang berakhir manis dan dianggap memberi pencerahan #nonton sambil mengunyah pop corn#—> ini mah keliatan mencurigakan banget XD XD.

4. Postingan Curhat Rasa Opini

Kasus yang agak membingungkan. Jadi perlu jeli melihat ini condongnya kemana.

Kalau salah tebak berkomentar di pos opini yang sebetulnya tercampur curhat…wah yang namanya julid sarkas bisa keluar semua. Karena tengah menggalang genk yang bilang “yes”. Kita akan dianggap merusak tatanan yang sudah rapih. Hahahaha…

Kalau masih nebak-nebak masuk golongan pos yang mana, lebih baik kita tunggu saja komentar-komentar yang bererot ke bawah, apakah bunyinya senada semua? Apakah isinya semua orang yang akrab dengan penulis?

Kalau iya, bisa ditebak mungkin itu lebih ke curhat. You know what to do lah.

5. Postingan Edukatif

Biasanya berisi tips-tips dan berbagai cara yang bisa diikuti orang. Disini bisa bebas berkomentar dan berpendapat karena biasanya yang menulis punya pengalaman soal itu. Diskusi sifatnya juga biasanya lancar mengalir.

Mungkin karena lebih banyak menggunakan otak kiri dan pembaca juga dalam posisi siap menerima elmu.

6. Postingan Ceramah

Engg..ini sih jelas sebaiknya berkomentar santun, tidak berlawanan, atau didengarkan saja. Isi komentarnya biasanya lebih banyak sejenis atau yang isinya pertanyaan.

Kalau kita nggak tahan, tergelitik berkomentar berbeda, lebih baik gunakan kalimat tanya.

7. Postingan Marketing/Jualan

Kalau yang aku perhatikan, biasanya yang rajin pos jualan sudah tahan banting, jadi dia nggak peduli mau ada yang marah-marah atau opininya nyelenyeh.

Yang penting barangnya dibeli/link-nya di klik! Wkwkwk…

8. Postingan Gado-gado

Sebetulnya ini sejenis kategori blog, ya. Bisa di lihat kategorinya kadang ada yang opini, curhat, hobi dan sebaginya. Sebaiknya sih cara kita berkomentar disesuaikan dengan tema.

Yang perlu digaris bawahi, hati-hati bila berkomentar yang menyangkut lifestyle seseorang (termasuk keluarganya).

==

Bagaimana kalau menjawab komentar?Aku masih terus belajar, mungkin nggak akan ada akhirnya.

Ibarat berada dalam sebuah forum, yang satu sama lain perilakunya beragam, ada yang bicara halus, ada yang gebrak-gebrak meja, ada yang %^%&#&#^. Harus tetap bisa santuy dan fokus menangkap apa yang sebetulnya ingin disampaikan seseorang. Bagaimana caranya agar bisa lebih melihat ke konteks dan bukan dialektika semata.

Pada dasarnya, nggak ada seorangpun yang ingin mematikan handphone dan komputer sambil masih overthinking pada apa yang terjadi di antara kita dan orang lain di dunia maya.

Mungkin aku sudah sampai pada kesimpulan yang sama dengan Don McMillan di video di atas..

I’d rather be happy than right…:))

===

Bagaimana denganmu?Mungkin bisa ikut berbagi dan menambahkan?