Salah Pilih Film

Selamat hari Senin. Weekend kemarin nonton apa?

Jargonku weekend di rumah saja nonton TV. Kalau jaman sebelum pandemi kadang nonton bioskop dengan genks (sekarang sekeluarga).

Kangen juga sih πŸ˜† Sound systemnya itu looh.

Well. Aku jarang sekali tidak puas saat keluar dari bioskop. Biasanya genks atau keluarga selalu melirik kearahku kalau kita harus pilih film.

Kalau kataku, OK yang ini bagus. JALAN!

Dann…tanpa banyak cing cong mereka akan gedubrukan lari menuju film yang dimaksud. Mirip sepasukan prajurit yang habis diberi arahan oleh Jendral.

EHM EHM. Jadi begitu terpercayanya diriku #kibas poni ☺☺

Yah. Sebetulnya nggak sekeren itu, sih🀣.

Habis rumusnya gampang. Sebelum nonton aku biasa melakukan analisa dulu, baca review, lihat Ropert & Egbert, Rotten Tomatoes dkk.

Dalam hidupku nggak ada dalam kamus kalimat ini,

Feeling gue film ini bagus, deh.”

Walaupun bintangnya sekaliber Leo Di Caprio sekalipun!

OK mereka memang bisa jadi jaminan dan menarik perhatian. Tapi bintang besar juga pernah kepeleset, kok, terlibat dalam film dengan skenario buruk.

Sayangnya, untuk beberapa jenis film, memang tidak ada penilaiannya di situs-situs tersebut. Dan rata-rata reviewnya yang beredar di dunia maya lebih kearah promosi ketimbang kritisi. Entahlah. Mungkin karena banyak yang nggak tega.

Jadi ceritanya dulu aku mengincar film A atau B. Namun karena jamnya nggak bersahabat, akhirnya keputusan kilat ambil film C. Kebetulan aku pernah baca buku darimana film itu diadaptasi. Tapi memang buku yang pertama saja. Sekuel-sekuelnya skip.

Jadi aku BERASUMSI, ceritanya baguslah.

Aku lupa kata-kata bijak ini. Never assume! Research! Research! Research!

Masuk ke bioskop dan film mulai. Di awal-awal, everything is OK. Adegan-adegannya mengalir mulus, tapi tiba-tiba…BAKEKOK…muncul akting yang demikian parah sampai aku keselek pop corn.

Saat itulah aku mulai was-was. Keluar keringet dingin.

Firasat jelek, nih.

Jangan-jangan salah pilih film?

Ini mungkin agak hiperbola. Tapi dalam kondisi seperti itu, segalanya jadi lebay berkelanjutan. Setiap adegan demi adegan kelihatan ajaib. Plot holenya tampak berlomba muncul dimana-mana. Semakin dicari, semakin banyak kesalahan. Lalu percakapan demi percakapan mulai bikin ngantuk.

Puncaknya…adegan-adegan yang dalam hidupmu benar-benar bukan favorit semakin sering muncul. Seperti teror psikis!

Digambarkannya kurang lebih seperti ini: kamu sukanya romans dan nggak suka dikagetin, ternyata yang muncul adegan horror terus.

Atau sebaliknya.

Dan ternyata duduk di bioskop dengan menatap film yang tidak disuka itu sangat menyiksa, ya. πŸ˜–

Pengin cabut tapi sayang sudah bayar ‘kan.😭😭

Aku yang selama ini jarang salah pilih film, baru merasakan ciri-cirinya

  1. Gelisah. Seperti duduk diatas tungku.
  2. Berpikir terus,”Kapan selesainya…kapan selesainya film ini!”.
  3. Melirik hape, jam, untuk mengalihkan diri dari memandang layar.
  4. Mengais-ngais berbagai unsur dalam film yang bisa dinikmati demi menyelamatkan penilaianmu pada film itu. Misal, aktor atau aktrisnya.
  5. Mulai mendengar suara-suara tidak jelas di bioskop sebelah. AH, BETAPA STUDIO TETANGGA TAMPAK LEBIH HIJAU…
  6. Berandai-andai punya time machine, jika saja tadi ambil film A atau B…
  7. Mengkonversi jumlah uang yang dibayar buat beli tiket dengan jumlah mangkok bakso di warung sebelah.
  8. Hanya bagi mereka yang beruntung : mata tiba-tiba berat dan tertidur pulas hingga film selesai.

Aku jadi membayangkan orang yang masih fase penjajakan dan terpaksa nonton film yang genrenya nggak disuka demi gebetan.

OH, I FEEL YOU, PREN. I FEEL YOUUUU.

Ini kapan selesainyaaaa…😱πŸ€ͺ

Ketika film selesai, AKHIRNYA AKHIRNYA SUDAH SELESAI…#nangis-nangis 😭😭

Saat keluar, mengusahakan berbagai cara agar dunia kembali normal. Menipu menghibur diri dengan berbagai hikmah.

Ketika ditanya oleh yang lain..

“Gimana menurut lo filmnya?”

“Yah, filmnya bagus, kok dibagian ininya. Hm, pemainnya cakep. Not bad. Not bad.” #jagareputasidetected

“Oh gitu. Lain kali mau nonton film yang sama lagi ama gue, nggak?”

“ENGGAK.”

Lesson learned :

Jika kepepet harus pilih film dan kamu sudah didepan kasir, nggak apa-apa paksain minta waktu riset dulu sebelum milih. Walaupun dengan resiko harus ngantri lagi.

Kalau hasil nihil, nggak nemu review, yang beredar di dunia maya cuma trailer dan artikel promo, pikir-pikir dulu kali, yaaa…πŸ™„πŸ™„

==

Enaknya nonton di rumah, kalau manyun sama ceritanya, tinggal ganti saluran πŸ˜‚

Kamu pernah ngalamin ada di kondisi di atas?

23 Comments

  1. Salah satu ketakutan saya adalah ini, salah memilih film untuk ditonton. Membayangkan waktu yang harus saya lalui dengan rasa bosan dan tidak nyaman, oh no!
    Menonton trailer film sangat membantu, sebelum menonton filmnya langsung. Rekomendasi dari teman juga bisa membantu.

  2. Kak, aku jadi kepikiran Prikitiew saat aku ajak nonton Twilight series kayaknya hal yang Kakak sebutkan di atas itu dia alami 🀣 diam-diam dalam hati dia berkomentar “kapan film ini selesai?!!” 🀣. Sebab setelah beberapa tahun menonton film itu, dia selalu komentar kalau film itu cringe banget. Wkwk.
    Aku sendiri untungnya belum pernah merasakan salah pilih film karena biasanya jika ingin ke bioskop memang udah direncanakan ingin nonton apa, jadi aku selalu menikmati film-film yang aku tonton hahaha. Eh tapi ada 1 film yang sebenarnya bagus tapi membuatku berpikir “ini kapan kelarnya?”. Film Transformers itu soalnya durasinya panjang dan pas berantem, aku nggak bisa bedain mana yang baik dan jahat 🀣 udah gitu kebelet pipis, jadi kepikiran kapan kelarnya. Wkwk.

    • Poor Prikitiew…πŸ˜…πŸ˜… 99% cowok yg sy tanyakan ttg Twilight komennya kurang lbh gitu, mbak Lia. Yah. Mohon maap namanya juga film target market cewek ya.🀭

      Haha Transformer mah berantem semua. Eh kecuali Bumble Bee ya. Banyak dramanya juga πŸ˜€

      • Para cowok yang nonton Twilight sepertinya 90% adalah nemenin ceweknya ngebucin Edward Cullen 🀣

        Bumblee Bee adalah satu-satunya robot Transformers yang aku bisa bedakan. Sisanya nggak πŸ˜‚ padahal seru juga sih kalau lagi berantem hahaha

  3. Pernah sih, salah pilih film. Saya lupa judul-judulnya, tapi satu yang saya ingat dibintangi Nicolas Cage. Datang dan membayar karcis nonton ditambah snack sebagai teman nonton, ternyata berujung kecewa. Akhirnya saya tinggal pergi saja.

    Selanjutnya supaya tidak salah pilih, saya mulai mempertimbangkan beberapa hal untuk menentukan film yang mau ditonton, walaupun tidak mutlak menjadi pertimbangan saya. Misalnya, skor di situs IMDb di atas 6,5. Tapi kadang skor itu tidak menentukan kalau saya lihat aktor/aktrisnya terkenal, atau rumah produksinya terkenal, bisa saja saya tonton. Contoh terbaru, filmnya Gal Gadot, Wonder Woman 84, skor IMDb cuma 5,5 dari 10. Itu artinya filmnya mengecewakan, tapi karena hal lainnya saya mungkin akan tetap menonton film ini meskipun nanti kalau pandemi sudah berakhir.

    Faktor lainnya adalah karena memang suka. Misalnya saya sangat menyukai karakter Batman. Apalagi dalam trilogy Batman karya Christoper Nolan, skor di IMDb sangat bagus di atas 8 semua. Tapi begitu film selanjutnya ditangani Ben Affleck dan skor IMDb drop jadi 6,4 saya tetap menontonnya karena saya menggemari Batman.

    Kira-kira begitulah. Agak ribet ya. Hehe.

    • Haha Batman-nya Affleck..sampai ada memenya “Do you bleed?”😬🀭

      Perpaduan antara lihat review dan selera ya mas Agung πŸ˜… . Film super heroes yg ceritanya paling lame sekalipun tetap bisa dinikmati actionnya..

      Masa Wonder Woman Terbaru kecil amat ratingnya 🀯

      Biasanya kalau ratingnya kecil saya pilih nunggu bisa ditonton di TV saja πŸ˜…

  4. Aku nggak salah pilih film, tapi dulu itu gebetan yang pilih film kesukaan dia. Aku ngikutin aja. Sumpah nggak ngerti sama sekali dengan ceritanya. Dia bilang keren, aku bilang lumayan. Biar dia nggak ilfil. Ujung-ujungnya tetep aja gak jadian. Hahahah

  5. Kalo nonton bareng, saya dan seorang teman selalu jadi orang yang merekomendasikan judul film. Tali bedanya, mereka akan mempertinbangkan dulu. Pertimbangannya cukup sederhana. Paling hanya genre, siapa yang main, dan ditutup dengan pertanyaan klasik,”film ini bagus ngga?” Padahal kita sama-sama baru mau nonton πŸ˜†

    Saya pernah berasa difase itu, melihat rating dll sebagai acuan menonton film. Tapi sekarang itu jadi alasan kesekian. Sekarang nonton film yang memang dipengen nonton aja. Sekalipun kata orang biasa aja, tapi kalo misalnya saya penasaran sama eksekusinya, jalan cerita, atau pemerannya difilm itu, akan tetap saya tonton. Ada banyak pertimbangan, tapi yang paling sederhana adalah intuisi. Kadang bekal lihat poster dan trailer saja cukup. Atau kalau mau oldschool, saya cuma tau judul dan posternya saja. Biar kayak era dimana trailer film belum ada, jadi tinggal nunggu kejutan aja disepanjang film. Mungkin orang berpikir itu akan membuang waktu. Tapi bagi saya, mengandalkan rating juga sama saja membuang waktu. Nilai dari rating biasanya dari kritikus, sekalipun itu genuine dari penonton, belum tentu itu masuk selera saya. Saya lebih ngga apa-apa nonton film B aja yang saya pilih dari intuisi, ketimbang dari rating dan penilaian orang yang bilang bagus tapi bagi saya, “hah?”

    Preferensi dan referensi saya belum sampai untuk sampai bisa mencerna film-film Sutradara A, misalnya. Sehingga rating 8 atau 9 yang ada hanyalah sebuah angka.

  6. terakhir nonton*lupa film apa di CL, weekend gitu, sbg jomlo cuek aja sih sendiri, tapi keganggu bgt sama kelakukan bocah2 yg lg kencan atau genk2an gitu, berisiknya minta ampun, sepanjang film ngoceh juga..astagaaa mood nonton jg ambyar..kalau nyewa se teater buat sendiri saya bukan anak sultan, kayaknya jam2 nonton jg hrs jd perhatian

    • CL = Citraland?

      Ohya mba kalau nonton film yg banyak anak kecil dan abg berombongan siap-siap deh πŸ˜…

      Saya plg waspada kalau nonton film yg ada mas2 tamvan idola…jgn nonton di weekend deh…bnyk yg histeris jdnya bingung mau nonton yg manaπŸ˜‚

  7. Saya sering banget ketiduran di bioskop mba, ampuuun deh πŸ˜‚

    Dari dulu kalau diajak ke bioskop, pasti ada saja momen saya ketiduran. Kayaknya saya lemah banget sama kursi bioskop yang empuk dan ac-nya yang dingin mba. Jadi sering ketiduran baik cuma keriyep keriyep sepuluh menit, atau bahkan ada yang sampai sejaman hahahaha kacau πŸ˜† Tapi kalau bicara soal salah pilih film, nah ini sebenarnya nggak pernah. Biasanya pasti tau sih apa yang mau ditonton, cuma yaitu meski film yang mau ditonton adalah yang saya rencanakan (means saya tertarik), saya tetap bisa ketiduran dibuatnya πŸ™ˆ

  8. Terakhir mengalami salah pilih film tuh waktu nonton Antologi Rasa di bioskop, Mbaa. Aselik, aku gelisah sepanjang film wkwkwk padahal hari itu ceritanya aku me time dan udah semangat mau nonton bioskop sendiri. Apa boleh buat, film yang dipilih ternyata gatot πŸ˜‚ sepulang nonton suami nanya gimana, aku pun bingung ngejelasinnya tadi abis nonton apaan πŸ˜‚

Leave a reply