Rahasia Sukses Metode KonMari

Rahasia Sukses Metode KonMari

Di masa pandemi ini saya kadang menonton ulang tayangan Marie Kondo di Netflix.

Reality show itu targetnya memperluas pangsa bagi mereka yang tidak baca bukunya.

Kalau buku saja, mungkin hanya akan menggerakkan hati para orang yang suka baca buku dan benar-benar punya niat beberes. Dengan tayangan TV mereka yang bisa mencerna lebih secara visual akan ikut tergerak.

Rotten Tomatoes memberikan penilaian 78% untuk tayangan seri Netflix itu.Not bad untuk sebuah seri yang menampilkan orang asing.

Marie Kondo memang fenomenal. Saat ia di awal karir baru mulai menulis buku, seorang editor juga bisa menebak,

“Anak ini akan jadi terkenal.”

Sebetulnya apa yang bisa membuatnya demikian?

Tentang Hak Cipta, Branding, dan Marketing

Saya ingat, baru kemarin membaca tuduhan dari seorang pakar organizer dari Amerika, Linda Koopersmith. Doski ini selain lebih senior, harganya premium, dan kliennya kakap-kakap (selebriti Hollywood).

Koopersmith mengklaim bahwa cara melipat ala Marie Kondo (yang hasilnya adalah seperti segitiga yang berdiri) ia sudah menciptakannya jauh hari. Ibarat sebuah tuduhan bahwa Kondo sudah “mencuri” ide-nya. Koopersmith mendapat dukungan dari klien-klien yang setia dan menganggap dia adalah organizer terbaik.

Tentu saja itu mengundang cemooh dari banyak pemirsa yang pro-Kondo.

Alasannya, Kondo sendiri tidak pernah nyata-nyata mengklaim itu, dan siapapun tentu bisa melipat dengan cara sama secara tidak sengaja. Namun tidak berarti bahwa kamu punya hak cipta intelektual atas itu!

Dan yang membuat tuduhan itu kurang memiliki gema, Marie Kondo sukses bukan karena lipatan segitiga saja. Tapi karena metode bersih-bersih dan bebenahnya yang lebih dari sekedar mengatur-atur.

Jadi banyak orang menyimpulkan bahwa Koopersmith mengada-ada karena telah kalah dari segi marketing dibanding Marie Kondo.

Bicara hak cipta intelektual, saya juga menemukan kasus-kasus menarik, di Indonesia, hak cipta intelektual mungkin belum terlalu dihargai. Terutama karena maraknya peniruan.

Bisa ditebak, di negara-negara seperti ini (didukung rendahnya tingkat literasi) akan bermunculan yang mulai memanfaatkan metode KonMari dan mulai menerima uang jasa atasnya.

Aslinya untuk menjadi Kon Mari Consultant, syaratnya cukup berat (terutama di kantong) dan Marie Kondo tidak sembarangan memilih orang untuk menjadi “murid” nya.

Kenapa Marie Kondo begitu ketat menyeleksi konsultannya? Disini saya mencoba memahami. Selain menyangkut nama brand-nya. Bagi Marie Kondo itu ibaratnya kita akan memilih dokter atau spesialis dari Universitas Berbenah-nya. Maukah kita di operasi oleh orang yang sebetulnya belum pernah melalui pengujian sesuai prosedur? Siapa tahu si konsultan di rumahnya sama sekali tidak menerapkan metode Kon Mari secara benar, jauh dari standar, atau malah menambah-nambah dengan cara sendiri.

Marie Kondo menerapkan syarat ketat untuk hal-hal diatas. Merupakan syarat kelulusan, istilahnya.

Menurut saya itu hal yang sangat bijaksana.

Banyak brand yang potensial besar akhirnya nyungsep karena tidak bisa menjaga image.

Sebagai contoh sebuah produk fesyen yang potensial high class, berkat pemilik dan desainernya dari luar negeri, disini terancam anjlok jadi sejajar dengan image barang murah karena para agennya menjualnya secara asal-asalan tanpa estetika dan panduan tata cara merchandising yang jelas.

Bisa jadi orang enggan bayar konsultan KonMari berlinsensi karena tarifnya memang mahal. Kembali kepada kebijaksanaan konsumennya. Apakah mau mengeluarkan uang untuk berkonsultasi pada seseorang yang belum terbukti jaminan, histori, jam terbang menangani klien, sampai apakah dia benar menerapkan apa yang dajarkan di kehidupan nyata? Seperti tidak memilih konsultan keuangan yang banyak berhutang kartu kredit.

Sebab berbeda dengan jasa merapikan lain, konsultan KonMari sifatnya lebih kepada coaching, bukan mengerahkan timnya buat membereskan rumah seseorang.

Jadi harapan Marie Kondo, para konsultannya yang teruji tanpa perlu banyak menjual image baru, bisa meyakinkan banyak orang..

{{Psst. Padahal kalau kita mencari murah, menurut saya ada yang jauh lebih murah lagi. Baca saja bukunya dan terapkan sendiri. Suer murah sangat πŸ˜‚πŸ˜ }}

Jadi saya berkesimpulan, selain metodenya menarik, pengalaman menangani kasus yang cukup banyak, branding, marketing, dan maintain image adalah kunci paling kuat dari KonMari inc.

Dengan marketing dan citra yang baik Kondo sudah bisa terkenal melebihi senior organizer seperti Linda Koopersmith, dll. Padahal bukan berarti caranya yang cocok, lho. Dan untuk sebuah brand yang punya kelas, sangat penting untuk memposisikan diri secara jelas, tegas, serta menampakkan keunggulan produk orisinil lebih tinggi diantara yang KW.

Kelebihan yang dimiliki…

Menonton seri itu, saya jadi lebih mengakui kelebihan Marie Kondo dibanding organizer lain. Apa yang membuat tayangan TV tersebut menjadi layak ditonton, setidaknya oleh saya (walau sudah lama baca bukunya) :

  • “Jepang” sendiri sudah menjadi nilai jual, karena negeri ini memang terkenal dengan estetikanya. Para klien memandangnya sebagai kesempatan unik melihat sudut pandang dari budaya lain.
  • Filosofi ketimuran dan metode-metode yang diterapkan untuk menghilangkan aura negatif
  • Pribadi Marie Kondo sendiri yang hangat, menyenangkan, serta empati yang tinggi kepada para klien. Kondo terlihat sangat akomodatif, dan suportif, lepas dari apa latar belakang kliennya, sehingga klien merasa nyaman saat didampingi.
  • Ada banyak solusi orisinil atas masalah bebenah yang ditawarkan dan itu tidak ada di buku.
  • Cerita-cerita menarik yang ditemukan dalam setiap keluarga seperti di reality series lain, seperti rasa kehilangan, pasangan yang berbeda standar dalam hal kebersihan, hadirnya anak-anak, dsb.
  • Mengajarkan klien untuk mandiri dengan beberes sendiri, bukan menjadikan mereka sebagai cash cow, kalau berantakan lagi panggil saya lagi, gitu. Jadi jarang ada pengulangan.
  • Banyak bermain di shock therapy sehingga proses berbenahnya lancar seperti jalan tol.

Poin di atas yang perlu saya jabarkan :

1. Memindahkan Kesadaran

Saat mulai berbersih dimulai dengan ritual “menyapa rumah”. Mungkin terdengar aneh, tapi sebetulnya itu adalah cara membangun kesadaran akan adanya unsur spiritual dalam berbenah, melebihi segala yang sifatnya pragmatis dan materialistis.

2. Shock Theraphy

Klien diminta untuk mengeluarkan semua yang berbau pakaian dan menumpuknya di satu tempat. Saat itu klien yang paling keras kepala sekalipun untuk buang barang akan terhenyak.

“Gilee ternyata pakaian gue sebanyak iniii.”

Buntutnya akan ada keputusan discarding yang memang esensial.

3. Akomodatif

Marie Kondo bersifat luwes, tidak strict pada pakem yang ia ajarkan. Ketika ada klien yang bersikeras ingin melalui tahap barang kenangan secepatnya (harusnya belakangan) serta menyelesaikan itu sendiri, Kondo mengijinkan sebagai special case. Dia membiarkan klien memulai tahap itu dan menjadikan itu sebagai PR.

Pertanyaannya…

Apakah saya menerapkan metode KonMari untuk berbenah di kehidupan nyata?

Nah. Saya terus terang tidak fanatik pada sebuah metode. Terbuka juga pada rujukan-rujukan lain yang tidak kalah menariknya untuk dipelajari!πŸ˜€

Tapi saya mengakui bahwa metode Konmari ibarat paket siap pakai yang unik. Terutama bagi mereka yang baru belajar berbenah. Tentu itu adalah sebuah keuntungan, ya?

Bagaimana menurutmu? πŸ˜€