Pura Pura Normal

Pura Pura Normal

Sudah beberapa waktu berlangsung era “New Normal”. Satu persatu pekerja mulai masuk kantor, nggak WFH lagi. Yang WFH tergantung kebijakan kantornya, seperti mereka yang memenuhi syarat dan kondisi tertentu seperti usia, riwayat penyakit, dsb.

Nggak tahu, ya. Mungkin karena sudah kelamaan dirumah banyak orang yang jadi stress. Akumulasi stress pelampiasannya kemana-mana, tapi kebanyakan enggak nyadar…

Ini adalah kumpulan cerita lucu-lucu di sekitar saya seputar itu.

Kasus 1

Di sebuah kantor, ada seorang bapak-bapak yang sebetulnya dia memasuki kriteria boleh WFH (karena usia, dsb). Eh, pas dibilangin sebaiknya nggak masuk, dia kayak mohon-mohon begitu supaya diijinkan masuk. Soalnya di rumah dia stress karena tetangga dan kenalan pada datang minta dipinjemin duit.

“Kalau saya nggak dirumah mereka kan nggak berani datang karena cuma ada istri saya.”

Kasus 2

Saya bergabung di sebuah grup hobi yang biasa harus ngelayap untuk melakukan hobi tersebut. Isinya memang orang-orang lapangan. Selama tiga bulan grup itu sunyi sepi atau sesekali melolong-lolong gelisah, merasa lama-lama jamuran karena gak keluar-keluar.

Eh. Begitu ada pelonggaran dikit, langsung dalam seminggu bikin lebih dari satu event! Bahkan sekian minggu berturut-turut.

Kirain saya orang-orang masih pada mikir untuk gabung event, tapi ternyata! Setiap ada event yang gabung bisa 10 sampai 20 peserta! Saya melihat mereka kelihatan antusias dan gembira seperti nggak ada pandemi sama sekali. Paling yang bedain cuma pakai masker. Foto barengnya juga nggak berjarak-jarak amat. Bahkan ada lho sampai ada yang jabanin ikut sekian event berturut-turut.

Ini tidak terjadi dalam kondisi normal!

Kasus 3

Ada lagi orang kantor yang terkenal tertib dan disiplin dengan kebersihan. Di hari itu dia datang dengan PD nya melenggang dari parkiran tanpa masker. Ber-hai-hai kekiri kanan dengan satpam. Lalu pas masuk lift dengan tertib dia menghadap dinding lift. Ditegur sama kenalannya yang sinis, “Pak ngapain adap ke dinding, kan sudah yakin nggak pakai masker”

Langsung si bapaknya pucet,

“Astaghfirullah. Saya nggak pakai masker, ya?”

Buru-buru di lift dia bongkar-bongkar tas dengan gerakan super panik. Ternyata nggak sadar lupa pakai.

Kasus 4 dan 5, dst…

Beberapa minggu lalu saya kan nonton demo gede-gedean di Amerika untuk #BLM (Black Live Matters). Saya dan suami saling berpandang-pandangan. Iya, sih kita ngerti kalau itu isu memang penting banget disana dan perlu ada tindakan. Cuma sekarang bukannya lagi pandemi, ya?

Dan bukan sekali dua saya terima fwd-an kondisi demo disana dimana orang-orang muda menari-nari walau mengenakan masker jarak mereka ya begitulah…

Lalu entah bagaimana demo juga menular ke Inggris dan Prancis. Sampai gede-gedean. Padahal ketika seorang meninggal bukan karena COVID-19 dan dikuburkan, pengantar cuma boleh sekian orang. Orang sebanyak itu apa kabarnya, tidak bisa dilarang.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Semua ini masuk akal? Mungkin….sekian juta mungkin.

Mungkin penjelasan yang masuk akal dan sederhana….ya karena semua orang di seluruh dunia sudah jadi stress. Pelampiasannya bisa kemana-mana. Begitu ada pemicu kemarahan yang demikian hebat, begitu ada sebersit saja momen untuk berbuat nekad (yang tidak bikin kita tidak didenda atau jadi orang dalam status pengawasan)….why not?

CFD hari Minggu (gambar diambil dari twitter)

Mungkin itu juga yang bisa menjelaskan kenapa hari Minggu kemarin saat CFD semua orang tumpah ruah di jalan.

Sebagian manusia bisa tahan berada di rumah sampai berbulan-bulan. Sebagian lain tidak bisa. Sama seperti tahanan yang lebih baik mencoba kabur dan mati ditembak daripada dipenjara. Hakekatnya manusia merindu kepada kebebasan. Sekarang ujian terbesar manusia adalah pada instingnya sendiri.

Apalagi saat sudah merasakan ada di luar rasanya semua baik-baik saja. Sama halnya seperti saat demo atau event, seperti larut terlibat dalam sebuah hipnotis massal.

Cepat atau lambat, bila tidak diimbangi, seseorang akan melakukan apa yang dikerjakan oleh orang banyak di sekitarnya.

Kondisi ini mirip saat kita memaksakan diri tersenyum agar terlihat gembira. Pura-pura akan menjadi sungguhan, sebuah kenyataan yang dipercayai.

Berbagai mazhab yang timbul semasa COVID-19. Yang terakhir itu….hmmm…gimana ya? Stress memang berbahahahaya.. (sumber gambar : twitter)

New Normal pun bukan lagi kondisi normal yang baru dengan banyak prosedur, tapi sedikit saja bisa jatuh terpeleset menjadi kondisi normal yang sebenarnya. Banyak manusia lebih menangkap pesan utama, bukan kata pelengkap didepannya.

Lalu bagaimana caranya supaya nggak terbawa arus? Saya hanya bisa berusaha mencari informasi seimbang di luar sana tentang fakta dan kenyataan sesungguhnya. Cukup tricky memang. Sebuah pengalaman baru.

Semoga kita semua sehat, ya. Dan selalu berhati-hati.

Kamu punya pengalaman menarik juga saat memasuki New Normal?

Gambar fitur : wikimedia.org