Pesan Pribadi

Pesan Pribadi

Dahulu saya pernah belajar berkorespondensi dengan media surat menyurat klasik. Menyurati orang asing yang sama sekali tidak dikenal di negara asing.

Dunia sudah melupakan surat. Sekarang sudah diganti e-mail, direct messages, personal messages.

Tetap nggak ada yang bisa menggantikan sentuhan personal surat tulisan tangan.

Cuma saya kan sudah hidup di dunia modern ya. Harus sesuaikan diri. Terus terang saya kehilangan rasa deg-degan menunggu jawaban yang ditimbulkan oleh surat menyurat. Hahaha…gimana gitu.

Beberapa waktu lampau saya membuat sebuah niatan. Dalam sebulan saya menyapa kawan-kawan yang di kenal di dunia maya entah follower atau yang saya follow secara lebih personal. Entah itu lewat DM atau e-mail.

Hasilnya memuaskan, dari semua responden 80% membalas dengan hangat dan interaktif,  15% membalas saja, 5% tidak membalas.

Artinya angka respon positif atas sapaan personal message cukup tinggi

Ini menyenangkan. Fyi, saya mencobanya atas dasar memang ingin menyapa dan beramah-tamah saja, lho! Tidak ada niatan lain ala-ala mama minta pulsa. Hahaha. Harmless banget!

Saya sekaligus memberikan penghargaan atas inspirasi mereka bagi saya seberapa pun kecil. Menurut saya ini hal yang baik, memberikan apresiasi mumpung kesempatan masih ada.

Bagaimana dengan yang 5% tidak menjawab? Biasa saja, saya tidak terlalu memikirkan karena lebih fokus ke yang 95%. Segala sesuatu pasti ada alasannya. Saya percaya pada prinsip law of attraction.

Saya lebih banyak menerima respon  orang-orang yang ramah, positif, terasa di lingkupi oleh pembelajaran  EQ antar sesama manusia yang cukup tinggi.

Ya. Dalam sebulan saya mendapat pemahaman penting bahwa dibalik video, tulisan, ada manusia, yang sebetulnya bisa jadi tidak mengenali siapa kita. Terkadang perlu juga untuk menunjukkan bahwa kita ada dan mengapresiasi. Tidak sekedar sebuah like atau sebaris tulisan di kolom komen.

Apakah ada resiko? Ya ada.  Bisa saja sebuah pesan pribadi jadi backfire, misal, responden sontak menutup diri, merasa di stalking, mulai berpikiran macam-macam, dll.

What can I say? Ini dunia maya, kita nggak pernah tahu kondisi dan psikis seseorang, yang kita lihat baik-baik saja. Kita juga nggak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan kemudian, atas sebuah message. Menerima respon yang di luar dugaan, itu adalah murni pilihan yang dilakukan orang lain.

Yang penting memahami  pikiran dan niat kita sendiri yang positif 😄. Semua itu juga bisa jadi uji ketulusan, apapun respon yang di dapat.

Tapi melihat persentase respon positifnya yang lebih banyak, saya bisa simpulkan  worth to risk. Kembali ke niat yang esensinya sederhana :  interaksi sewajarnya antara sesama manusia.

Apakah kamu pernah melakukan itu? Menyapa secara lebih personal seseorang asing ?