Pengaruh Seni dan Fotografi Pada Kejiwaan Seseorang

Kali ini saya ingin bercerita tentang terapi dalam fotografi. Based on experiences..

Pada dasarnya, dalam art therapy kita tidak bisa begitu saja mengintrepretasikan makna yang di sajikan seseorang dalam gambar ciptaannya. Harus dilengkapi wawancara juga dengan yang bersangkutan.

Karena apa yang kita anggap sebagai A belum tentu buat dia adalah A. Bisa jadi B, atau malah C. Pengalaman hidup seseorang tidak pernah sama. Demikian juga kultur dan didikan yang diperoleh.

Tentu saja ada sesuatu yang “secara umum” bisa dibaca karena sifatnya memang universal. Misal, kita cenderung takut pada kegelapan, karena merepresentasikan ketidakjelasan, serta depresi. Di negara 4 musim ada terapi sendiri untuk musim dingin yang berkepanjangan dan minim cahaya matahari.

Beberapa waktu lalu saya melakukan sebuah sesi foto produk yaitu food photography, sifatnya edukasi.

Awalnya, saya memfoto makanan yang bertema low key photography (yang dark-dark begitu deh, lagi hype). Namun something happened in the way to heaven. Alias ketika proses foto, terjadi banyak hal di sekitar saya.

Awal-awalnya, ada skedul yang bertabrakan dengan sesi foto. Itu saja sudah membuat hectic. Setelah semua berhasil saya akali, tiba-tiba dapat kabar bahwa ke depan ada jadwal-jadwal baru yang berat dan mustahil di masa pandemi. Belum cukup juga, ada kabar buruk yang membuat semua rencana awal jadi berantakan. 😰

Saya masih melanjutkan sesi foto low key tersebut. Apa yang terjadi? Memang masih bisa diusahakan berhasil, tapi rasanya semua jadi sangat berat dan penuh aura depresif! Ide yang harusnya mudah muncul tidak mengalir seperti biasanya.πŸ˜–

Kemudian saya melihat ke foto-foto yang dihasilkan. Alih-alih terlihat enak, malah jadi demikian menakutkan wkwk. Ini mah siapa yang mau makan coba.

Saya menyadari bahwa ada mood tertentu yang memang tidak pas bila dipadukan dengan perasaan yang hadir saat ini. Tema dark, gelap yang di hasilkan dari low key photography, ternyata semakin memperuncing emosi-emosi negatif yang hadir pada diri saya di hari itu. Bertambah parah dengan hadirnya unsur-unsur kasar dan “tajam” yang secara visual ditampilkan dalam tema tersebut.

Karena saya tidak ada keharusan untuk menyelesaikan sesi low key hari itu juga, akhirnya saya stop saja. Kurang baik bagi mood dan jiwa. Hasilnya juga tidak akan maksimal. Kalau diteruskan malah jadi karya seni serba gelap 🀣 hahaha..

Sesi berikutnya, memakai tema high key photography (bersifat terang). Saat itu saya was-was akan tersedot kembali ke suasana depresi, moody, dan macet ide seperti sebelumnya.πŸ˜‘

Tapi ternyata yang terjadi…

I feel great! πŸ˜€πŸ€©

Ide mengalir lancar, saya menikmati sesi yang ada dengan perasaan sangaaat ringan!

Hasil? Jauh lebih bersinar dan memuaskan. Seperti ingin melompat. Kalau Marie Kondo bilangnya, “spark joy” hahaha…

Jika tujuan saya memotret high key hanya sekedar untuk terapi..bisa dipastikan itu sudah sangat tercapai!πŸ™„

Ini adalah salah satu contoh kecil dari penggunaan art therapy secara tepat. Aslinya bisa beragam, ya.πŸ˜€

Dengan cara yang pas, art atau seni bisa menjadi healing bagi jiwa, dengan penggunaan yang salah, justru akan mempertajam kegilaan rasa yang telah hadir.

Kalau dipikir-pikir, kebanyakan pelukis yang karyanya indah-indah itu banyak yang mengalami mental health problem. Depresi, kesakitan, stress, perasaan ingin bunuh diri dan sebagainya. Mulai dari Vincent van Gogh sampai Frida Kahlo.

Saat saya memperhatikan karya terkenal salah seorang dari mereka, ada kalanya bergidik sendiri. Terutama bila melihat bagaimana kontrasnya warna, dominasi warna hitam dan suasana yang digambarkan di salah satu lukisan, jauh sebelum pelukisnya sendiri memutuskan menembak dirinya sendiri.

“Wheatfield with Crows” – Vincent Van Gogh (image : wikimedia.org)

Bagi saya, sebagai penikmat seni, semua memang kelihatan indah dan magis.

Dari sisi art therapy, pahamkah saya bagaimana perasaan si pelukis lewat obyek dan goresan warna dalam lukisannya?

Gambaran si pelukis yang merasa “ini adalah akhir dunia”, jiwa yang lepas seperti burung gagak terbang ke surga….warna-warna hitam dipadu warna kontras lain, melambangkan emosi yang demikian membuncah dalam kegelapan.

Apakah warna-warna dan obyek yang di gambarkan… justru semakin memperparah kondisi mental mereka?

Bukankah itu ironis bahwa kebanyakan dari mereka baru terkenal setelah mati?

Karya yang meroket tinggi setelah kamu tiada, itulah harga sebuah karya seni, yang seringkali diijinkan untuk memakan jiwa dan raga kreatornya sendiri. Sebuah karya bisa membawa rasa gembira dan depresi. Sekaligus pesan yang sama kuat.

Kadang kita luput menangkap pesan itu. Saya mengalaminya sendiri, saat melihat betapa biasanya gambar dari seseorang pembunuh dibanding gambar-gambar orang yang lain.

Saya juga ingat, ada semacam rules tertentu dalam feng shui bahwa kita sebaiknya tidak memasang foto mengandung unsur pertempuran di ruang tamu. Paling aman gambar ikan koi (ini umum banget, ya).

Pemanfaatan seni, entah itu fotografi atau gambar, bila dimaksudkan sebagai terapi sebetulnya tidak sekedar bikin kelompok ceria-ceria dan menggambar/memfoto ramai-ramai. Paling optimal dipandu ahli dengan step-step yang memang sudah diprogramkan demi tujuan healing. Untuk praktik individu, sih masih suka-suka saja, ya. Lebih bagus kalau sudah tahu basic therapy-nya.

Sama seperti yang saya alami di atas.

Lesson learned, bila alami kondisi emosional saat melakukan sebuah kegiatan seni, banyak-banyak bertanya pada diri sendiri,

“Apa perasaan saya saat proses karya ini berlangsung?”

Bila itu membuat diri sendiri semakin nggak keruan, lebih baik time out dulu. Ganti tema yang berlawanan, atau coba tema yang sama di waktu yang berbeda.

Apakah artinya mereka, yang suka tone berwarna gelap mewakili mood dari jiwa pencipta, yang ingin disampaikan?

Balik kepada paragraf awal, yang tahu hanya yang bersangkutan. Makna sebuah gambar bisa berbeda-beda, walau ada yang sifatnya universal. Apalagi tema-tema tertentu, lebih bisa membangkitkan selera hanya dengan tone yang “gelap”.

Kamu sendiri bagaimana, lebih banyak suka tema gelap atau terang dalam fotografi? Apa yang kamu rasakan dalam prosesnya?πŸ˜€

18 thoughts on “Pengaruh Seni dan Fotografi Pada Kejiwaan Seseorang

  1. Wah, ini tulisan yang luar biasa!
    Saya memiliki pengalaman yang serupa. Beberapa waktu yang lalu, saya menyadari adanya hubungan antara emosi yang saya rasakan pada saat itu, dengan pemilihan gambar untuk latar handphone. Memang, pada saat itu hati saya sedang kalut dan kelabu, so latar handphone pun saya pilih berwarna hitam, kelabu dan terkesan berkabut. Sengaja memilih gambar demikian dari pinterest. Sesaat kemudian, ketika saya mendapatkan pesan gaji sudah masuk, dan melihat kembali latar hanphone saya, rasanya ‘tidak nyaman”. Langsung saya ubah.

    Semoga cerita ini nyambung haaa

    1. Terima kasih, mbak Frani. Semoga manfaat.

      Ya seringkali otomatis sih mbak kita melakukannya sebagai ekspresi. πŸ˜€ Kalau mood berubah ekspresi yg ingin diwujudkan juga πŸ˜„

      Tapi sedikit yg sadar kita bisa memilih untuk mempertajam itu atau menetralkan.

      Oh nyambung banget dong mbak..πŸ˜€ terima kasih sharingnya

  2. Topik yang menarik mba Phebieeee πŸ˜†

    Kalau saya, suka dark, tapi juga suka colorful πŸ˜‚ Suka gloomy, tapi juga suka bright. Betul-betul deh, follow the mood abiz hahahahaha. Tapi saya akui, warna bright bisa buat hati cerah ceria. Mungkin karena itu, di rumah, saya dan si kesayangan suka pakai baju gonjreng alias terang benderang macam kuning, putih, hijau, biar muka tuh kelihatan bersinar. Wk nggak tau ngefek apa nggak πŸ€ͺ

    Ohya, menimpali komentar mba Ayu di atas soal wallpaper handphone, saya tuuuh kalau ingin ubah mood, salah satu hal paling sederhana yang saya lakukan adalah ubah wallpaper hape dan laptop mba. Ketika wallpaper berubah, mood jadi baikan. Ada koneksinya nggak, mba? πŸ˜‚ Tapi itu yang saya rasakan. Serasa fresh hehehe..

    1. Namanya mood of the day yaπŸ˜„ Tapi punya warna favorit nggak?

      Tapi memang warna cerah itu bikin mood berubah, kok. Tinggal vibrance nya yg kayak gimana..

      Ada dong koneksinya kalau hape dan laptop adalah sesuatu yg dipandangi hampir setiap hari..πŸ˜€ hiasan yg plg minimal…setelah itu karya..

  3. sungguh tulisan yang menarique!
    foto-fotoku kebanyakan bright, cenderung high key…apakah ini artinya aku selalu ceria dan bahagia, kah? hmm.. i hope so, tapi yang jelas, foto-fotoku pada dasarnya hanya ingin mengejar karya foto-fotonya idolaku mas Hideaki Hamada yang sangat khas jepang yang bright tapi tetep teduh.

    dan memang benar, kalo lagi ga mood trus dipaksain, hasil editnya malah bikin bete karena ga bagus-bagus, kalo udah kayak gitu, biasanya kutinggalin aja dah…. kerjainnya lain kali aja, trus lari deh ke nonton film atau keluar menghirup udara segarrr…

    hmm.. udah deh kyknya gitu aja komennya, haha

    1. Terima kasih..
      Kalau foto mas Ady bright vintage..(memang kamera vintage yah πŸ˜…).

      Yang tahu hanya mas Ady kalau soal perasaan 😁. Tapi pilihan warnanya amanlah… untuk perasaan negatif hihihi..πŸ˜… Perasaannya sebelum, saat, dan setelah memfoto bagaimana?

      Tantangannya kalau landscape dan musim di Jepang kan memang suasananya teduh kecuali musim panas…disini terang benderang.

  4. Pembahasan yang menarik kak Phebie. Meski ngga berhubungan dengan foto, ini cukup relate dengan masa-masa saya nulis. Waktu itu, tahun 2019, cerpen saya yang jadi tugas mata kuliah terbit di koran lokal atas kurasi dosen saya. Setahun berikutnya, saya diminta lagi untuk ngisi cerpen dari sebuah antologi dengan tema yang sudah dikasih. Bukannya nolak, tapi itu rasanya mengekang saya dan saya kurang suka nulis seperti itu, apalagi berkaitan dengan gagasan.

    Daripada sayanya ngga senang ngerjain dan tulisan saya jadinya maksa, saya nolak saja. Padahal itu mungkin kesempatan baik. Saya jadi ingat kata Suraya,”seni bagiku adalah sikap diri, lebih karena suka, bukan untuk mempertahankan hidup”

  5. Food photography itu genre yang ‘susah’ menurutku.
    Butuh niat yang besar sekali untuk membuat foto makanan yang bagus karena kalo buat gue sih kalah sama passion untuk menyantap makanannya selagi hangat HAHAHAHA

  6. Saya kurang paham masalah photografi mbak, kalo mau foto atau ambil gambar dari handphone asal jepret saja.

    Tapi kalo disuruh pilih terang atau gelap kalo untuk foto tentu saja yang terang agar hasil gambarnya bagus, tapi kalo untuk wallpaper hape malah aku sukanya tema dark

    1. Nggak harus yang paham tentang fotografi kok, mas Agus. Justru bagus, karena apa yang dipilih jadi spontan berdasar mood, bukan teknis πŸ˜€
      Suka yang terang tapi untuk HP sukanya dark ya…Apa ada hubungannya dengan kenyamanan saat melihat layar?

  7. Selain ikan koi, gambar kuda dan suasana perdesaan (gunung-sawah) masih jadi pilihan…wkkwkwk

    Untuk editing foto, aku ga terlalu suka warna cerah, lebih suka warna yang tajam dan deep. Beberapa kali nyoba belum sampai deep.

    Kemudian wallpaper hp lebih suka yang terang, tapi bukan yang colorful. Bukan karena mood atau apa. Tapi biar kebih nyaman kalau pas dibuka..hihihi

    1. Standard di kantor-kantor ya mas Rivai. Terutama kuda sih biar tambah produktif πŸ˜‚

      Suka yang tajam karena detail yaπŸ˜€ Deepnya itu yg seperti apakah?

      Biasanya kalau HP banyakan terang-terang mungkin supaya gampang dibacaπŸ˜ΆπŸ™„

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: