Pengalaman Pribadi dengan Ilmu Terapi

Pengalaman Pribadi dengan Ilmu Terapi

Sebetulnya dari dulu saya punya ketertarikan tinggi pada ilmu-ilmu kejiwaan, motivasi, self-help, dan pengembangan diri.

Awalnya sepele, kebetulan dulu saya hobi membuat cerita, melukis, dan menggambar karakter. Semua itu berguna bagi saya untuk memberi jiwa serta mood yang pas pada karya saya. Diatas semua, jadi mengenal diri sendiri dan orang di sekitar dengan lebih baik.

Metode Pertama Yang Dikenali dan Turunan-turunannya

Saat masih duduk di sekolah menengah, saya pernah belajar tentang mind control, The Silva Mind Control Method. Sebetulnya ini belajar meditasi dengan cara lebih ilmiah. Saya tentu tertarik dengan unsur terapinya. Oya. Dulu itu belum hype yang namanya hypnotherapy atau yang sekarang lagi ngehits…mindfulness. Belum ada Uya Kuya juga hahaha

images

Gambar : amazon.com

Penyebab saya kembali tertarik dengan ilmu terapi adalah saat mengikuti hypnobirthing. Karena preambule nya agak mirip dengan The Silva Method, saya merasa mudah dan familiar. Eh, kok sama, ya? Karena terbiasa, saya jadi termasuk yang cepat masuk dalam kondisi alfa-kata trainer-nya.

Selanjutnya saat terpicu lagi saat ikut acara-acara ringan parenting. Ya, namanya juga parent. Pasti tertarik dengan segala ilmu yang berhubungan dengan anak-anak. Betul, nggak?

Tertarik mendalami lebih lanjut…

Nah, di salah satu seminar atau workshop parenting, saya langsung klik dan tertarik dengan tema-tema yang lebih “berat”. Padahal sebetulnya kalau cuma tertarik dengan parenting tidak perlu banget masuk sampai sedalam itu. Apalagi ini di luar bidang keahlian saya. Yaitu tema-tema therapeutic.

“Kalau sudah sampai begitu dalam tinggal konsul ke psikolog, saja.” Maka peminat parenting banyak yang berhenti sampai disitu.

Tapi saya memilih maju terus ke “dalam”. Mungkin pada dasarnya memang dari dulu demen yang beginian kali, ya hahaha. Bahkan psikolog yang sering menjadi trainer saya suka jadi curigation.

giphy

Sesekali saya di gangguin saat ditanya tujuan belajar, yang intinya kurang lebih Beneran, nih, mau belajar beginian?  

Dalam pandangan umum, kasus yang seperti ini kadang terjadi pada orang-orang yang ingin “berobat jalan”. Alias pengin sembuh dari masalah kejiwaan, tapi menghindari pergi ke psikolog, maunya ngobatin sendiri sambil dapat ilmu.

Ehm. Sebetulnya tidak selalu seperti itu, ya. Kalau kita memang tipe yang demikian, coba saja, deh.

Karena semakin belajar malah semakin insyaf bahwa sebaiknya pergi ke psikolog saja. Hahaha. Lebih praktis. Berobat jalan bisa sama sulitnya seperti seorang dokter bedah yang ingin membedah dirinya sendiri. Selain jadi ribet, prosesnya akan jauh lebih membingungkan dan lama. Bila ada sinyal sebuah masalah tidak bisa diselesaikan sendiri, tentu saya akan mencari ahlinya!

Jadi kalian juga jangan takut, bila suatu hari muncul kesadaran yang demikian.  Segera hubungi mereka yang berkompeten. Itu sudah hal biasa, bukan tabu, sakit badan saja kita ke dokter, kok. Apalagi ini soal kejiwaan yang efeknya bisa ke fisik juga. Menurut saya itu hal yang logis.

Tentu saja persoalannya akan berbeda bila kita memang tertarik ilmunya, yang muncul bukan rasa frustasi tapi curiosity…

Saya pun pelan-pelan menjadi “muka lama” di berbagai kelas yang seharusnya jadi poin sekian SKS jurusan psikolog. Bahkan daftar kenalan saya dari tahun ke tahun yang makin banyak dari bidang psikologi dan kependidikan! Ya. Tapi menyenangkan, semakin belajar saya semakin merasa belum tahu banyak hal, jadi bisa banyak belajar dari mereka.

Yang saya sayangkan hanya satu, kenapa baru mulai merekap/menulis tentang ini sekarang, hahaha. Padahal sudah jalan dari beberapa tahun lampau…

Berbagai macam unsur terapi dalam kehidupan

Sejak lebih dari tujuh tahun saya mempelajari dan menerapkan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari (itu yang utama dulu), keluarga, dan mereka yang membutuhkan, saya mendapatkan kesimpulan. Bahwa hampir semua unsur menyenangkan dalam hidup kita sebetulnya memiliki unsur terapeutik.

Kalau memang tidak suka, nggak perlu sampai masuk ke kondisi alfa, melakukan meditasi, dsb. Kan ada orang yang gitu, ya. Begitu kita mau melakukan hypnotherapy, langsung ngancem…

Eh mau ngapain, awas, saya gak mau dihipnotis!”

Mungkin dikiranya kalau orang dihipntotis itu langsung curcol rahasia pribadi atau nyerahin harta benda apa. Lol. Ya, begitulah kalau masyarakat jadi korban misinformasi dari entertainment dan berita-berita kriminal. Hahaha.

Sedikit clue : orang sulit terhipnotis bila dia TIDAK membuka celah dan mengijinkan dirinya untuk terhipnotis.

Jadi buat yang nggak demen begituan, coba saja pikirkan apa kegiatan yang kamu sukai, hobi kamu, dsb. Suka seni?Jadilah art therapy. Suka nulis? Ada expressive writing therapy. Demikian pula fotografi, musik, olah raga, dsb.

Tentu saja lebih bagus lagi bila kita memahami unsur-unsur terapeutik dalam setiap kegiatan yang dijalani. Sehingga semua itu bisa “diarahkan” kepada kesembuhan, perilaku yang lebih positif lalu kondisi jadi semakin membaik, bukan memperkuat kecenderungan buruk yang sudah ada.

Sebagai contoh dalam fotografi – yang sering saya lakukan. Saat perasaan kusut dan ada kecenderungan jadi lebay dalam hal emosi, saya memilih untuk memfoto dengan tone yang lebih lembut, soft, tidak bold dan vibrance. Otomatis mood akan ikut jadi soft. Saat jenuh dengan segala hectic dan rutinitas, saya menghasilkan karya yang memiliki banyak ruang negatif. Nggak kebayang kalau saya melakukan hal-hal sebaliknya dari kondisi psikis saat itu. Yang ada? Bakalan makin lebaaay hahahaha….

Saya mulai belajar menghayati karakter seseorang berdasarkan karya-karya yang dihasilkan. Kalau sekarang, saya lebih banyak melihatnya dari media fotografi ya.

Bagi mereka yang relijius bisa lebih mudah karena dalam kitab suci sudah mengandung banyak unsur terapeutik, asalkan kenangan kita tentang itu juga baik, ya. Kalau kasus nggak mengaji malah digebukin, saat nggak mencapai target bacaan dimarah-marahi, munculnya tekanan besar saat akan membaca, yang ada bukan unsur terapeutik, tapi bisa jadi trauma, perlu disembuhkan dulu.

Bagaimana dengan blogging?

Nah, untuk blogging sebetulnya juga sarat unsur therapeutic. Cuma itu baru muncul bila tulisan yang dihasilkan adalah spontan apa adanya, tanpa ada embel-embel menulis karena tuntutan pekerjaan, atau demi konten.

Tapi kan kalau spontan bisa rame nanti, apalagi kalau nyinyir? Ya, nggak harus diposting dulu, bukan? Bisa kita tinggalkan saja dulu di draft. Setelah reda emosi baru itu dikoreksi ulang. Saat menulis spontan akan terjadi rilis energi negatif kedalam tulisan (lebih bagus kalau manual, sih). Saat melakukan koreksi, kita sebetulnya otomatis melakukan re-framing, alias bagaimana, sih supaya saya bisa menyampaikan yang negatif ini dengan cara yang lebih baik atau dari sudut pandang baru?

Terus terang pengetahuan tentang ilmu terapi selama ini juga bermanfaat dalam proses kreatif, karena memberikan karakter dan warna tersendiri bagi tulisan-tulisan saya.

==

Apakah kamu pernah berkenalan dengan ilmu terapi? Apa hobi dan kegiatan sehari-hari yang membuatmu senang? Dapatkah kamu menemukan unsur healing mu disana?

Gambar dari dokumentasi pribadi,  meme diambil dari giphy.com