Penanganan Trauma dan Pelukan Kupu-kupu

Penanganan Trauma dan Pelukan Kupu-kupu

Weekend padat. No, bukan karena menghadiri kampanye. Hehe. Tapi, ya, kebetulan ada berbagai hal lain yang menjadi fokus perhatian. Salah satunya meningkatkan kemampuan serta kompetensi. Nah training yang saya ikuti kemarin adalah penanganan trauma-trauma, titik beratnya pada korban-korban bencana alam.

Etapi.. kemampuan serta pengetahuan ini pada dasarnya bisa digunakan untuk penanganan kasus trauma lainnya, lho ya.

Acara training diadakan oleh Paradigma dengan psikolog dan terapis senior bapak Asep Haerul Gani sebagai trainer. Banyak hadir peserta yang berlatar belakang ilmu psikologi. Terutama yang ingin mendapatkan pengalaman baru dalam penanganan trauma (mendapat kredit) serta sharing sudut pandang langsung di lapangan selama ini.

Tim kece trainer pak Asep Haerul Gani, Paradigma dan peserta usai training. Disclaimer : gesture kita #bukankampanye

Apakah susah mengikuti materinya dan jadi grogi karena banyak peserta yang jauh lebih berpengalaman? Untungnya tidak terlalu (psst ada sih iya hahaha), karena kita disini merasa sama-sama belajar. Lalu tools penyembuhan yang diberikan, kebetulan beberapa sudah pernah saya pelajari juga dan terapkan (EFT, hipnosis, empty chair, dsb). Walaupun ada juga hal-hal baru, seperti “butterfly hug”.

Metode ini mudah dilakukan dan bisa menenangkan. Anak-anak di tempat bencana, yang mungkin akan merasa “kehilangan” perhatian dan kehangatan saat relawan pergi, bisa diajarkan melakukan tehnik ini. Kamu juga bisa, kok, mempraktekkannya bila suatu saat merasakan ada ketegangan atau stress.

Menghilangkan trauma pada anak-anak korban bencana salah satunya dengan bermain

Saya senang bisa mengikuti kembali metode-metode yang ada. Setidaknya jadi penguatan kembali dan memenuhi yang selama ini saya anggap masih kurang, terutama di bagian quesioner-quesioner (duh, saya perlu banget kayaknya lebih serius soal ini meringis).

Empty Chair” adalah salah satu metode yang diajarkan, dengan berbagai variasinya.

Banyak fakta-fakta yang baru saya ketahui pasca pelatihan tersebut, salah satunya :

  • Pada hari-hari pertama hingga h+7 kejadian bencana sebetulnya yang dibutuhkan lebih banyak pemenuhan kebutuhan fisik ketimbang psikis.
  • Yang banyak mengalami trauma pasca terjadinya bencana alam adalah para relawannya. Karena mereka tidak “siap”, belum terkondisikan dengan baik saat diterjunkan kesana, terutama secara psikis. Padahal yang dihadapi adalah kondisi tidak menentu (misal, soal makanan, transportasi, tempat tinggal, berurusan dengan pihak-pihak yang berkepentingan,dsb).
  • Para penyintas (korban selamat), malah lebih cepat melewati masa trauma karena faktor kebersamaan dengan yang lain. Sehingga yang tepat adalah manajemen resiko serta fokus pemulihan satu daerah untuk jangka panjang.
  • Prioritas utama terapis adalah bagaimana agar penyintas dipersiapkan untuk mandiri tidak berlama-lama dalam kondisi “freeze” atau ketergantungan. Aktivitas rutin penting dihadirkan agar otak aktif kembali.
  • Kondisi trauma itu tidak selalu langsung terjadi, bisa terdeteksi setelah jangka waktu lama bahkan ada yang sampai 40 tahun lebih baru nampak.
  • Trauma yang lebih sulit justru disebabkan oleh faktor manusia, bukan alam.

Dan yang paling menarik adalah tentang pemahaman arti trauma sendiri orang-orang malah terkadang mudah main klaim saja dengan muka lempeng..

“Gua trauma nih gara-gara XXXX.”

{{Mungkin nggak, sih orang trauma bisa berkata demikian? Bisa jadi pernah mengalami tapi sekarang sudah sembuh}}

Di kasus trauma sebenarnya, jangankan menyebut… mendengar/melihat/membayangkan namanya saja sudah nggak mau kali ya. Menghindar terus. Bahkan sampai bertindak tidak masuk di akal.

Untuk mengetahui itu tentu saja perlu pengamatan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan menghasilkan skor untuk memperjelas apakah suatu kejadian masuk kategori PTSD (post traumatic stress disorder)-gangguan stress pasca trauma.

Intinya, saya puas dan senang dengan berbagai pemahaman serta keterampilan baru ini. Moga-moga bisa semakin banyak pengalaman yang tentunya berguna bagi diri saya sendiri dan orang lain. Serta makin banyak orang yang tertarik memiliki kompetensi ini.

Anyway, balik ke masa kini, yess…saya berharap pasca pemilu ini semua berjalan dengan lancar. Tidak ada hal-hal yang disengaja demi memicu ingatan serta trauma masa lalu… untuk kepentingan apapun.

Waspadai juga bila diri atau kenalan termasuk yang beresiko tinggi terkena PTES (post traumatic election syndrome) atau post-election stress syndrome (sindrom stress pasca pemilu- tapi yang beneran stress ya). Wajar bila muncul letupan emosi membuncah atau keinginan menyendiri. Normalnya, sih, makin hari makin berkurang. Bila tidak, sebaiknya segera menghubungi ahli.

Bagaimanapun bentuk ingatan yang muncul, KITA yang memiliki kontrol penuh atas hadirnya kesadaran, tindakan, dan perbuatan yang akan keluar dari diri sendiri.


Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar kata trauma?

Gambar : giphy.com, commons.wikimedia.com, dok. Paradigma, dokumentasi pribadi

*Artikel ini adalah re-post dari tulisan sebelumnya yang telah diperbaiki