human interest

Pehobi Fotografi VS Fotografer Profesional

Teknologi sudah semakin canggih. Kamera sudah bersatu dengan handphone dan biasa dibawa kemana-mana di keseharian. Kualitas image yang dihasilkan juga OK banget.

Akibatnya, semua orang ingin jadi fotografer karena merasa bisa memfoto. Sehingga pekerjaan fotografer sering dianggap “enteng”.

Ah ‘kan tinggal jepret-jepret sana-sini, edit, cetak-kasih bingkai. Nggak perlulah untuk model ginian doang pakai fotografer.

Padahal fotografer profesional ada yang mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk belajar di sekolah fotografi (atau saat proses belajar mandiri), cari pengalaman lapangan, beli peralatan, bayar asisten, dsb. Belum termasuk perhitungan depresiasi dari nilai peralatan fotografi. Karena sebuah barang setiap tahun nilainya akan berkurang.

Ini adalah screenshot percakapan seorang fotografer profesional dengan seorang klien, yang dia sempat bagi di linimasanya di twitter. Nggak tahu ini cuma bercanda atau beneran yah…πŸ˜…

Follower fotografernya pada gemas, dong. Mau tak….hiiiih! πŸ‘ΊBegituπŸ˜‚πŸ€£

Tapi itu kenyataan. Persaingan makin ketat, jenis produknya makin banyak, produsen kamera mengincar banyak segmen, sehingga membuat ruang bagi…

Para Pehobi Fotografi

Ciri-ciri para hobbyist (pehobi fotografi), mereka umumnya memiliki pekerjaan di luar bidang fotografi/ tidak berniat mencari nafkah dari bidang ini.

Memfoto karena, ya, memang hobi saja. Beberapa dari mereka itu… sangat berbakat! Hampir sama dengan fotografer profesional. Pangsa pasar amat segar (kayak ikan aja ya πŸ˜…) dari kelas-kelas belajar, workshop fotografi, hunting bareng, serta lomba-lomba foto yang umumnya diadakan oleh fotografer profesional.

Seiring berjalannya waktu, para pehobi ini akan terbagi dua :

Satu, mereka yang memberanikan diri menerima keuntungan dari hobi memfoto.

Ada yang menetapkan harga seperti umumnya profesional.

Ada yang memilih bermain di harga di bawah pasar, dengan alasan sekedar mencari portofolio dan menjalin relasi dulu.

Sisanya, sudah cukup puas dibayar tiket dan akomodasi saja saat diminta meliput event! Karena niatnya cuma kepengin ikut jalan-jalan! πŸ˜…πŸ˜‚ Ini nyata, kok. Pernah lihat sendiri.

Dua, mereka yang tetap keukeuh, ini hanya untuk senang-senang, kok. πŸ˜„

Sebuah “hobi yang jadi pekerjaan”, tidak akan menimbulkan kegembiraan lagi alias kehilangan sifat teurapetik-nya. Sebagai hobi, seseorang nggak akan merasakan tekanan, persaingan, no target dan deadline, dan bisa menjalin pertemanan yang tulus. Di atas semuanya, akan selalu merasa happy di setiap kesempatan memfoto! β˜ΊπŸ•ΊπŸ’ƒ

Bukan rahasia lagi, hobi fotografi juga satu bentuk prestise dan memiliki kelasnya tersendiri. Karena memang kamera bukan barang murah kan?πŸ˜€

Konflik Kepentingan Antara Pehobi Fotografi dan Fotografer Profesional

Yang jadi polemik adalah saat pehobi fotografi berbakat (dengan banyak follower) menerima pekerjaan seperti meliput event, memfoto profil, secara cuma-cuma!

Ya, paling-paling bayar biaya traspor dan akomodasi. Namun sisanya, mereka seperti tanpa beban melakukan segala pekerjaan itu. πŸ˜…

Kalau ditanya kenapa bisa santai begitu, si pehobi fotografi berbakat hanya berkata,

“Because it makes me happy.” 😍😍

Juga membuat orang lain senang, demikian motonya.

Apalagi di komunitas kesehariannya jadi punya “julukan” yang terdengar keren,

“Si A dari divisi X yang suka moto itu lho…” 🀫🀭

Kalau beruntung dan memang bagus banget, karya para pehobi ini akan jadi populer di medsos, didapuk sebagai influencer oleh brand terkenal….semua tanpa harus melalui jalur cukup lama dari seorang profesional.

Jadi ironi bagi mereka yang memang mengandalkan hidupnya di bidang ini.πŸ˜‘

Contoh, C mau nyari fotografer di hadapannya ada 2 pilihan :

  1. B yang profesional. Hasil memuaskan dengan banyak pilihan produk menarik, tapi biayanya mehong….atau..
  2. A, si teman, yang pehobi. Hasil ok-lah, nggak banyak pilihan produk, tapi biayanya itu…nggak ada.

Marilah kita tebak manggis, mana yang di pilih C. 😁

Para pehobi berbakat, atau fotografer yang menolak dibayar, nggak sadar, ada pasaran yang terancam oleh niat baik dan tulus mereka membantu orang sambil menikmati kegemaran.😢

Seorang fotografer profesional sampai bilang ke temannya, pehobi fotografi yang berbakat.

“Kamu kalau moto-moto event janganlah gratisan, walaupun memang hobi. Atau kalau moto-moto sekedar hobi, jangan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri.”

Dibayar Pakai Ucapan “Terima Kasih”

Bila pehobi fotografi puas dengan bayaran persahabatan, penghargaan, dan terima kasih, tentu tidak demikian halnya dengan para profesional.

Tapi pekerjaan ini dianggap bisa “kompromi”, selama ada hubungan kedekatan. Misal, sahabat, teman, rekan kerja, saudara, atau kenalan.

Padahal, guys, yang namanya bisnis kalau semua dibikin gratis atau harga teman, itu kapan, dong, balik modalnya?πŸ€ͺ Bahkan orang jualan cendol bakal mikir-mikir kalau keluarga sekampung minta dagangannya dengan cuma-cuma!😬

Ini sering terjadi di kultur kita, yang penginnya sama kenalan hanya dibayar dengan ucapan terima kasih. Eh, belum tentu juga dapat terima kasih, sih. 😬😰

Bicara proyek gratisan, ini “suara hati” murni kawan-kawan fotografer profesional :

Apa Sebenarnya yang Kurang?

Idealnya, memang harus ada proteksi pada profesi fotografer- alias ada regulasi. Mengoptimalkan asosiasi fotografer dan mendorong adanya suatu kebijakan atau peraturan yang mengatur profesi fotografer, sebagaimana profesi-profesi lain.

Karena hampir semua profesi itu ada aturannya.

Misal advokat, dokter, auditor, kontraktor, kurator, perawat, notaris, diatur secara khusus dalam peraturan perundang-undangan. Bahkan tukang parkir sekalipun juga diatur dalam Perda (supaya tidak tergeser oleh preman-preman)!🀣

Bayangkan, disana orang mancing saja ada peraturannya sehingga orang-orang yang tidak punya sertifikasi (ijin) memancing, tidak diperkenankan mancing sembarangan!πŸ˜‚

Jadi Harus Bagaimana?

Seorang fotografi guru memperingatkan, siapapun yang ingin terjun di bidang ini, “berhati-hati” bila memberi jasa foto secara cuma-cuma. Biasanya orang akan meminta gratis untuk seterusnya. πŸ˜–

Saat sebuah pintu terbuka, akan sulit untuk menutup lagi. Walau di tahan-tahan pakai punggung dengan sekuat tenaga.

Jika kita nggak mau kasih gratisan lagi, belum tentu mereka- yang biasa dikasih gratisan- akan menerima begitu saja (kalau iya, sih bagus). Biasanya malah jadi sebal, akhirnya kegemaran memfoto bukan malah menambah teman!😬

Banyaaaak orang yang sebenarnya ingin memanfaatkan kemampuan seorang fotografer, entah itu profesional atau pehobi. Kembali ke pilihan masing-masing pelaku, apakah keahliannya mau dimanfaatkan secara gratis atau tidak.

Setiap orang akan punya standar pribadi sendiri-sendiri. Bukan karena seberapa tinggi seseorang menilai dirinya sendiri, atau seberapa besar modal ikhlas yang dipunya. Melainkan apa prioritas utamanya, saat memilih untuk memiliki dan memanfaatkan sebuah kamera.

Bagaimana menurutmu? 😊

**Special thanks kepada teman-teman di grup fotografi.

Postingan ini adalah re-post dari postingan lawas