Pangeran Berkuda Putih

Nggak kerasa sudah topik malam minggu lagi. Ehm…

Kali ini kita ngomongin tentang White Horse Prince atau Pangeran Berkuda Putih. Kenapa kudanya musti putih, plis jangan tanya saya, ya (itu pertanyaan saya dari kecil juga yang belum terpecahkan). :))

Hampir semua orang, apalagi kita ciwi-ciwi tahu jargon itu, dong. Sering ada cerita-cerita dongeng jadul saat putri punya masalah, tiba-tiba tararatrara…muncul Pangeran Berkuda Putih. Dan putri pun terselamatkan. Cowok-cowok jangan mencibir dulu, ya.

Sekarang jangan coba-coba, deh, ceritakan dongeng ini kepada anak-anak modern, karena asupan dongengnya sudah “beda”.

Banyak seleb Hollywood yang menolak menceritakan dongeng klasik ala-ala Cinderella, Snow White, dsb. Karena identik dengan pasif, nrimo, tergantung pertolongan pria, kecenderungan korban, dsb, padahal kata mereka, the world doesn’t always work that way.

Apalagi sekarang sudah berhembus seruan persamaan hak kedua gender. Makin banyak saja cewek-cewek yang menghempaskan impian Pangeran Berkuda Putih ke laut!

Saya pernah jadi salah satunya dahulu.

Di suatu hari di negara 4 musim, saya ingin sepedaan karena girang banget ada satu hari yang cerah banget diantara yang gloomy. Kebayang bisa sepedaan santai di sekitar taman.

Janjianlah saya gowes, dengan kawan-kawan. Sayang, ketika tiba di tempat perjanjian, yang available genks cowok semua. 😫

Di tengah jalan mulai menyesali diri karena kemampuan fisik cowok>fisik cewek (plus baru mulai gowes lagi). Yang ada saya hampir semaput ngejar mereka yang bisa gowes kencang sambil ketawa-tiwi. 🤪

Betul saya bukan Wonder Woman.

Lalu diantara peluh mikir-mikir, ini tujuan gue sepeda ngapain sih. Mau ngejar mereka atau menikmati suasana. Akhirnya saya kibarkan bendera putih.

“Guys, kalian duluan aja, ya. Gue mau selow aja..”

“Yakin lo?” leader dari genk the boys itu menyelidik.

“100%”

Saya acungkan jempol. Senyum selebar mungkin sambil ngatur nafas.

“OK kalau begitu. Come on genks…” si leader kasih aba-aba dan mereka semua bergerak mendahului saya.

Setelah mereka berlalu, sambil bersenandung riang, saya mulai bersepeda santai dengan ritme sesuai kondisi fisik saat itu. Menikmati semilir angin musim itu. Menatap daun berguguran…sampai…

PLOP!

Seorang cowok, a new guy of the genks yang terkenal seorang ladies man, tiba-tiba muncul disamping saya! 😱

“??Hiyaaa!! Kaget gue. Loh, ngapain lo disini, gih kejar yang lain!”😅😅

Nyaris jatuh dari sepeda, karena doi munculnya ngagetin kayak jelangkung.

“Nggak mau. Lo harus ada yang jagain, tar kalau ada apa-apa gimana?”

“…..”

Saya bilangin berkali-kali, nggak apa-apalah, gue bisa jaga diri, endebre-endebre.

Tetap… dia nggak bergeming.

Perasaan saya berikutnya yang muncul adalah…. gemas☹. Karena dianggap lemah, nggak dipercaya, dan nggak berdaya. So terhina dina-lah (sori, say, itu sih perasaan cowok banget, ceplosan suami dari balik punggung🤭)

Akhirnya setelah mengerahkan berbagai jurus alasan, saya bisa meyakinkan doski. Dan pergilah dia seperti kelinci yang terusir…

Beda banget, ya perlakuan kawan saya, leader and the genks dan the new guy. Dengan perhitungan terukur, yang pertama akan melakukan hal yang serupa dengan sesama kawan cowoknya. Arti lain, selama bergaul dengannya dan genks, saya itu nggak dianggap cewek! 😳 Gimana sih…padahal feminin begini 👠👡 #Saat sadar itu saya nggak tahu musti merasa senang atau sedih 🤣😂

Dari kilas balik diatas, saya jadi mikir. Kalau misalnya, nih, cowok yang tiba-tiba muncul itu orang yang saya sukai, mungkin nggak perasaan-perasaan dongkol diatas muncul? Bagaimana kalau itu Nam Do San dan Han Ji Pyeong

Mejeng dulu..

====

Cewek-cewek, di jaman modern ini kita kepingin dianggap sebagai apa, sih sama cowok-cowok?

Do we really need a White Horse Prince?

Lalu kenapa selalu ada pernyataan,

“Dasar cowok nggak peka!”

Saat pasangan tidak memenuhi harapan-harapan kita, ya?

Kalau lagi kompetisi olah raga badminton dengan suami, saya selalu bilang,

“Jangan pakai kasihan, pokoknya harus sungguh-sungguh. Biar seru..”

Percuma.

Kalau dia sudah kelihatan unggul dikit pasti nggak tega dan…. ngalah. Duh.

Begitu pula saat kita jadi pencinta alam, naik perahu, ngubek-ngubek gunung dan persawahan, dia pasti jadi orang pertama yang bantuin kalau saya nyungsep.

Bohong kalau saya nggak enjoy, dong, diperlakukan seperti Princess. Spoilt banget malah…sampai di satu titik bilang, ini kayaknya udah kelewatan deh 😑. Masa mau mancing saja udangnya harus dia yang kaitin di mata kail? 🤣 Beda tipis, ternyata antara merasa dilayani dan dianggap enggak kompeten 😂

Akhirnya kita bikin nota kesepakatan. Di titik tertentu, demi kemajuan diri kita masing-masing, harus “ngerem” insting. Saya ngerem ke-Princess-an saya, dia ngerem ke-Prince-an dia (nggak pakai kuda putih offkors. Hahaha..)

Tentu lain kasus, saat saya ketemu rekan atau kawan beda gender. Bisa ditendang dari kerjaan atau dihempaskan genks kalau insting Princess diterapkan. Katanya kesetaraan gender? Kenapa ditugasin ke medan perang malah mewek dan drama coba…?

Kesimpulannya apakah kita cewek-cewek, tetap butuh Pangeran Berkuda Putih?

Di beberapa kasus..why not? It’s a privilege…apalagi bila dilakukan oleh our man. Mereka juga senang dan terhormat, kok bisa melakukan itu. It’s in their blood. Hak dan keistimewaan spesial mereka juga…

Gue punya anak cewek, nih, gue ayahnya, nggak kepingin dia jadi anak manja. Apalagi sampai membayangkan Pangeran Berkuda Putih segala!

Dunia itu keras, man. Jadi nggak gue beda-bedain perlakuannya antara anak gue yang cowok dan cewek.

Kalau berpikiran begitu, iya bener secara logika kamu nggak salah, tapi sorry to say…kamu……logikanya kebalik.

Seorang ayah harus jadi Pangeran Berkuda Putih pertama dari anak-anak perempuannya. Her first love.

Kalau nggak, niscaya suatu hari dia akan nyari Pangeran Berkuda Putih di luar sana, sebagai pengganti ayahnya. To feel her void inside. Ya kalau ketemu Pangeran yang bener…? A lot of predator out there….

Makanya banyak kasus-kasus kriminalitas macam “grooming.” Yaitu om-om dan kakak-kakak mengincar anak gadis di bawah 18 tahun, yang mengalami void figur ayah di jiwanya itu.

Di awal-awal korban akan dipenuhi kebutuhan emosionalnya (alias di grooming dulu). Diperlakukan dengan baik, dimanjakan, dibantu, dilindungi, hingga pelan-pelan korban terikat secara emosi, lalu bisa dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu pedofilia mereka.

Waduh. Bagaimana caranya dong? Gue, cowok, suka nggak ngerti gimana ngetrit anak perempuan cewek…

Pernah nonton nggak film How I Met Your Mother? Tahu kan si Robin dianggap anak cowok sama bapaknya sampai dilempar ke luar helikopter untuk survival di hutan? Jangan gitu, tong…itu mah koplak bener, atuh…

Korban bapack-bapack terobsesi punya anak laki-laki

Saat bawa dua anak cowok dan cewek naik gunung, ini perbedaan perlakuannya.

Kalau sama anak cowok, fine biarin aja jalan terus mau nyungsep suruh bangun sendiri. Justru kalau berhasil dan dikasih tepuk tangan dia akan merasa hebat.

Kalau sama anak cewek, dia nyungsep, boleh dimotivasi bangun plus, nyamankan juga perasaannya. Bila tetap nggak bisa, pasti akan dibantu. Dilindungi.

Beri jaminan bahwa kalau ada apa-apa pasti ayah akan selalu ada disampingmu. Kalau ada yang ganggu kamu, sampai ujung dunia akan ayah kejar orangnya.

Be the hero. A knight in shining armor. A white horse prince.

So…

Demikianlah sekelumit cerita tentang Pangeran Berkuda Putih.

Kita mungkin nggak suka, tapi dongeng dan legenda apapun biasanya berlandaskan perilaku manusia. Jika bukan, bagaimana itu bisa bertahan dengan pola yang sama hingga berabad-abad?

===

Bagaimana menurutmu?

14 Comments

  1. wkwkwk, ada Han Ji Pyeong kecintaan sejuta netyjen (termasuk akoooh) 😀

    Iya sih, memang gimana yaaa, ada perasaan ‘ogah’ dianggap lemah sama cowok… tapi kadang demen juga kalo ada yg perhatian berlebih 😀

  2. Kak Phebie!! Aku suka banget dengan tulisan ini karena menggambarkan perasaanku belakangan ini 🤣
    Beberapa waktu belakangan ini, aku ngerasain banget perbedaan yang dilakukan oleh 2 orang pria terhadapku. Satu dari temanku, satu dari pasanganku. Kalau pasanganku ini tipe yang membiarkan aku mandiri, tapi dia selalu ada untuk membantu kalau aku kesusahan, seperti ilustrasi seorang bapak dari tulisan di atas. Kalau temanku adalah tipe yang melihat cewek sebagai kaum lemah tak berdaya, sampai dia shock ngelihat aku yang bisa angkat meja agak besar sendirian karena menurut dia meja itu terlalu berat untuk diangkat sendirian oleh seorang cewek, lalu dia bilang “lo terlalu kuat untuk jadi cewek, Lii”. Well, aku pikir, memang kalau jadi cewek harus lemah tak berdaya, apa-apa jadi ketergantungan dengan orang lain? 🙄. Tapi aku tetap ingin punya pangeran berkuda putih, kok 🤣. Siapa yang nggak senang dimanja dan disayang-sayang? Tapi alangkah lebih baik kalau semuanya sesuai porsi. Toh kalau si cowok terlalu memanjakan pihak cewek, siapa yang disusahkan kemudian? Dua-duanya. Yang satu lama-lama bisa jadi terbeban, yang satu jadi tidak mandiri 😂.

    Nice post, Kak Phebie! Benar-benar mengungkapkan apa yang aku rasakan wkwk

    • Makasih mbak Lia..hahaha pas banget sikonnya, ya.

      Untung pasangannya lebih well balanced ya. Ya, paling enak itu kita ngertilah cara menempatkan diri, begitu saja. Dan nggak sampai jadi damsel in distress juga. Btw kalau mau dibalik bisa, sih sebenarnya itu kalimat, mbak Lianya yang terlalu kuat atau temannya yang terlalu lemah? Hihihii

      Semoga bisa terwakili perasaannya, ya, mbak hahaha…

  3. Suka suka sukaaaaa! 😍

    Dan setuju soal ayah justru perlu jadi first love anaknya, especially anak perempuannya. Hehehehe. Saya bersyukur banget punya ayah yang care ke saya, bahkan bisa ajarkan saya bagaimana jadi perempuan yang strong dan mandiri dalam menjalani hidup ke depannya. Bukan berarti jadi daddy’s little girl terus berubah manja 🙈 Hehehehe.

    Terus kalau soal sama pasangan, sebetulnya, dimanja itu enakkk tapi kalau keterusan nanti lama-lama nggak bisa jalan alias pincang 😂 Dikawatirkan jika pasangan kita pergi duluan amit amit semoga nggak kejadian, kitanya jadi bingung mau bagaimana, karena sudah terbiasa dimanjakan dan dibantu segala-galanya. So yeah, seperti yang mba Phebie pernah tulis pada post lama, ini pun berlaku pada sebuah hubungan, yaitu being moderate 😆

    Tau kapan bermanja-manja, tau kapan harus mandiri itu sih yang utama 😍 Eniweis, terima kasih untuk tulisan kerennya mba Phebie, as always! 🥳

    • Ohya saya pernah baca cerita mbak Eno tentang ayah. Keren…😀 Banyak bukti anak perempuan yg dekat dg ayah jadi tangguh dan sukses.🙂

      Betul, jangan berlebihan kuncinya. Terima kasih juga sudah membaca, mbak Eno. 😊

  4. balance jg sih pheb..kalo urusan fisik terus terang suami byk ambil porsi tapi urusan ngotak ngatik sesuatu, hp rusak, pc, laptop bermasalah..dia teriakin nama istrinya,termasuk kalau main sama anak2 lego. kalau urusan fisik angkat2 sih nyerah hehe, tp urusan lainnya msh bs andelin diri sendiri, ga pny figur first love di bapack:) terlalu tertekan dan lebih pilih menjauh, tapi untuk anak2 kita berdua memberikan full cinta untuk si anak perempuan, biar baba nya jd first love anak ceweknya, apa yg dialamin emaknya dulu tdk dialami anak2. selalu berdoa anak2 bisa mendapatkan jauh baik.

    • Berbagi tugas ya, mbak Rahma 😀. Kerjaan ibu sebetulnya juga sdh cukup banyak.

      Yang nggak ada figur bapack, kalau beruntung, bisa nemu sosok penggantinya di keluarga besar, spt kakek, paman, dsb. 🙄 Lebih amanlah kalau sodara. Tetap waspada juga di jmn gini ya 😫 Moga-moga Baba-nya jadi first love putrinya ya 🤗 Nanti pasti anaknya keren.

Leave a reply (akan di moderasi dulu) 😇