Pamer di Media Sosial dan Cara Menghadapinya

Pamer di Media Sosial dan Cara Menghadapinya

Warning. Ini bukan julidin konten medsos orang, ya. Lebih ke refleksi diri sendiri dan cara menghadapi media sosial.

Baru-baru ini ada analisa yang menggelitik tentang pamer di taut media sosial oleh akun @logic_editors. Dia memberikan pengamatan menarik tentang perlunya kesadaran diri sendiri saat melihat konsep “pamer”.

Sebaiknya dibaca langsung saja tautnya karena setelah ini saya hanya meringkas :

logiceditors

Nah, di bagian subjective reality, setiap orang itu tentu punya pengalaman hidup yang berbeda-beda. Dia belajar dari apa yang dialami. Itu akan membentuk persepsi (beliefs).

Ada yang memiliki :

Beliefs yang buruk : sangat sederhana (hitam putih).

Beliefs yang bagus : lebih kompleks (tidak selalu hitam putih). Yang terakhir disebutnya orang berwawasan luas.

Beliefs menentukan reaksi seseorang saat ada kejadian. Misal melihat seseorang lagi menunjukkan benda mahal. Pemilik beliefs yang hitam putih akan langsung mendeteksi apakah kasus ini hitam atau putih? Kalau hitam : mendingan uang dipakai buat mesjid, teganya saat banyak orang susah makan, dsb. Sementara pemilik beliefs yang lebih kompleks akan berpikir : mungkin punya orang lain dia cuma endorse, apa pesan yang ingin dia tunjukkan, dsb.

Jadi sebuah tindakan yang disebut pamer adalah subyektif, tergantung persepsi kita sendiri bagaimana (subjective reality) dan niat dari orang yang pamer (objective reality). Yang tahu niat seseorang ya cuma Yang di Atas dan orangnya sendiri.

Kalau itu kesimpulan taut diatas, saya setuju.

Tentu saja itu semua akan jadi semacam plot twist kalau dari awal kita mengakui secara tertulis “gue memang mau pamer, kok” #gedubrak.

Baik nggak pamer?

Euh…kalau soal itu, saya nggak akan bahas panjang, kembali ke value masing-masing. Tapi boleh dicari sebab-dampaknya secara keilmuan (psikologi) atau spiritual (hukum agama).

Kembali ke laptop. Saya akan menambahkan lebih mendetail lagi.

Benarkah semakin luas wawasan seseorang semakin kebal menghadapi konten di medsos?

Nggak selalu.

Manusia itu berfluktuasi kondisi emosinya. Orang yang ahli, berwawasan luas, dengan banyak referensi juga bisa, kok, jatuh julid dan seolah-olah punya beliefs yang hitam putih. Kita tentu bisa melihat banyak kasusnya.

Kenapa?

Ada bagian dari sejarah hidup seseorang, yang selain membentuk persepsinya juga meninggalkan bekas mendalam di alam bawah sadar. Sebagai contoh, bisa jadi saat orang lain pamer harta benda seseorang adem nggak ngerasain apa-apa. Tapi ketika orang lain pamer foto anak-anak kecil tiba-tiba ada rasa maknyus. Jleb.

Kemudian lihat stimulus dari kondisi yang dia terima saat kejadian. Ngeliat orang pamer-pamer makan martabak crunchy, pasti beda reaksi emosinya saat kamu sedang tinggal luar negeri, dibanding saat kamu tempat tinggalnya di samping warung martabak.

Makanya ada yang kasih saran, kalau lagi emosi mendingan jangan main medsos. Atau saat media sosial membuat kamu ngerasa nggak nyaman, mulai membandingkan, berandai-andai..maka tinggalkan. Sederhana tanpa ngebahas analisa aneh-aneh.

Ya, itu sudah benar banget, sih.

mental

Sumber : milwaukeeindependent.com

Nah soal quit medsos, masalahnya, nggak semua orang bisa begitu kan. Tapi dari penjelasan awal di atas, sebetulnya itu masalah persepsi, jadi sebetulnya kita tetap bisa, kok ber-medsos.

Mencegah hadirnya perasaan-perasaan nggak nyaman saat melihat konten medsos :

1. Jangan tolak atau tidak mengakui perasaan yang hadir, tapi deteksi

Kalau kita mulai merasakan gejala nggak nyaman, kita tahu penyebabnya apa. Pikirkan langkah-langkah yang harus dilakukan, misalnya, “Oh ini saatnya log out”, mengalihkan ke hal lain yang lebih penting. atau biarkan orang lain yang mengurus (ini misalnya kamu sudah jadi artis kali ya)

2. Menguatkan konsep diri

Menurut saya ini yang utama perlu dibenahi sih. Kalau konsep diri kita buruk, semua yang terlihat di media sosial lama-lama akan jadi buruk.

The_looking_glass_self

Konsep diri dan the looking glass self (sumber: wikimedia.org)

Pelajari, apa sih yang bikin kita merasa buruk? Bisa saja karena selama ini sering menerima kata-kata abusif dari sekitar (akibat langsung), timbangan naik terus(eh), kondisi ekonomi sedang buruk (akibat tidak langsung), dsb. Kalau ketemu bisa dicari solusinya, atau minimal diingat baik-baik.

Saya pernah dijelaskan bahwa ada hubungan erat perilaku pamer dengan konsep diri yang buruk. Semakin seseorang haus akan pengakuan yang tidak dia terima di masa kecil, maka akan semakin gencar pula dia ingin membuktikan diri, pamer (yang bukan karena pekerjaan ya) adalah salah satunya.

Jadinya ironis kan kalau gara-gara medsos, seseorang malah jadi punya konsep diri buruk GARA-GARA orang lain yang sebetulnya punya sejarah konsep diri buruk juga.

3. Follow akun-akun yang membuat kita merasa nyaman.

Ini juga bukan hanya konten tapi juga keperilaku dari orang yang di follow. Kontennya cakep tapi kelakuannya misalnya enggak sehat dan membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri. Seperti terpaksa mengikuti tapi, kok…..?

Untungnya banyak sosial media yang sudah mengadakan fungsi mute sebagai alternatif blocked, yang bisa digunakan tanpa merusak hubungan pertemanan..

4. Lakukan aksi untuk mengalihkan perasaan yang muncul

Daripada pasif dan hanya menelan semua paparan, lebih baik kita aktif supaya nggak fokus di perasaan-perasaan yang muncul.

Misalnya kalau di medsos, kita bisa ikut rutin posting tentang hal-hal berguna atau berarti. Selama nggak jatuh jadi ajang persaingan atau perlombaan ya hahaha..

5. Bayangkan behind the scene sebuah postingan

Ini sebetulnya kita lompat ke beliefs yang bagus. Melihat sebuah postingan gambar, misalnya, jangan langsung ambil kesimpulan dulu, tapi amati lalu bayangkan kira-kira saat seseorang posting ini behind the scene-nya kayak gimana, ya. Cara itu untuk membuat otak kiri jadi aktif dan mungkin bisa bikin kita jadi nyadar kalau yang kita tahu cuma hasilnya doang bukan prosesnya. Bisa jadi penuh darah keringat dan air mata lebay Mau nggak kayak begitu?

6. Sadari peran teknologi di sebuah postingan

Semakin banyak apps-apps kecantikan, filter estetika, dsb bahkan bisa bikin seekor kucing jadi kelihatan ganteng kayak aktor Korea! Sampai merinding lihatnya. Yang kayak begitu ya kita perlu pertimbangkan juga, kenapa ada orang yang sampai tampilan paripurnanya kebangetan walaupun lagi masuk pasar ikan.

7. Batasi waktu bermedia sosial dan matikan fungsi notifikasi

Yang sehat itu paling lama sekitar 30 menit saja (untuk orang dewasa). Walau memang menggoda banget kalau sctoll medsos sambil ngantri di bank atau ke dokter gigi. Kalau belum bisa ya 30 menit stop lalu nanti jam berapa 30 menit lagi. Pasang aplikasi yang bisa tracking penggunaan medsos kamu. Yang penting rem di pre-frontal cortex perlu di latih bener-bener supaya bisa cepat switch ke dunia nyata tanpa mood swing berlebihan.Mematikan fungsi notifikasi akan mematikan juga godaan untuk ngintip saat gadget berbunyi.

8. Ingat, media sosial itu pada dasarnya memang nggak membuat orang jadi bahagia

Yang bahagia mungkin pengembangnya, online shop, atau seleb medsos karena dapat pundi-pundi. Hahaha. Kalau kita merasa nggak bahagia, tidak berarti karena ada masalah dengan diri kita. No.

Media sosial dibuat sedemikian rupa oleh pengembangnya menerapkan banyak strategi-strategi yang menyelami kejiwaan manusia secara luar biasa. Seperti kenapa “like” tertunda sekian belas menit, agar bisa nge-boost endorfin. Itu artinya agar kita semakin teradiksi. Lepas dari medsos, bisa kayak sakaw begitu. Atau baru mulai merasa kunang-kunang. Nah kan pait.

Tagline media sosial yang di gadang-gadang membuat kita bahagia karena “merasa terkoneksi” ternyata tidak terbukti. Satu penelitian di American Journal of Health Promotion menyatakan bahwa interaksi di media sosial bagaimanapun positifnya, nggak bikin orang jadi lebih gembira. Nah, interaksi positif saja sudah begitu, apalagi yang negatif, malah makin memperparah perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.

Bila pekerjaan kamu nggak mengharuskan menggunakan media sosial, perlu kamu ingat bahwa berhenti dari media sosial bukan berarti memutuskan tali silaturahmi atau berhenti bersosialisasi. Salah kaprah ini. Mendingan bikin janjian ketemuan sama orangnya di dunia nyata langsung (di kondisi normal ya).

Bila kita bermedsos bukan karena pekerjaan, tapi karena memang nggak bisa melepaskannya (meski tambah sengsara kalau lihat orang pamer)…..

Mungkin kita hanya menjadikan medsos sebagai pelarian atas suatu masalah lain di dunia nyata. Cari sumber masalahnya, tuntaskan.

Kalau nggak, kita pasti akan kembali lagi dan lagi ke dalam skenario yang sama.

===

Bagaimana pengalamanmu selama ini menghadapi konten di media sosial?

Gambar fitur : dokumentai pribadi