Momen Yang Tak Terabadikan

Momen Yang Tak Terabadikan

Apa awal mula saya begitu menggemari fotografi?Untuk menelusurinya, berikut ini adalah dua buah pertanyaan menarik dari permainan psikologi sederhana, yang ditujukan untuk “mengupas bawang” ingatan manusia – atau nama kerennya Gestalt.Dalam hidupmu…

Apa “foto” yang paling kamu suka?

Apa “foto” yang kamu sesali karena kenyataannya itu tidak terabadikan?

Hmm…foto yang paling saya suka jelas foto keluarga. Saat liburan di sebuah tempat bersama-sama. Berkesan banget itu.

Foto yang saya sesali karena tidak terabadikan…

Adalah foto saat ada acara spektakular di malam yang luar biasa bagus, tapi fotonya GAGAL DONG karena terlalu low light.

Saat itu saya memang cuek bebek soal dokumentasi dan perfotografian. Kameranya juga masih jadul yang dikit-dikit kehabisan memori. Kalau inget bagaimana malasnya diri saya, rasanya pengen cubit diri sendiri orang di samping kuat-kuat..

Setelah dikupas, ternyata itu cuma “lapisan pertama”. Saya pun menarik nafas, mencoba merasakan kembali secara lebih detail.

Perlahan, kabut yang menutupi mulai terbuka…..

Ternyata bukan soal acara spektakular itu saja. Tapi termasuk segala kejadian yang hadir meliputinya pada saat itu.

Di tahun tersebut, saya banyak bertemu orang dan berpisah. Saat kejadian, rasanya semua biasa-biasa saja, tapi kalau diingat kembali suka miris. Karena sudah tidak bisa jumpa mereka dan saya hampir nggak punya dokumentasi tentang banyak hal.

Bandingkan dengan era smartphone sekarang, dimana orang setiap sejam bisa moto (eh, kalau itu, sih kelewatan kali, ya?). Pokoknya bisa ngerti, deh, perasaan para opa oma jadul yang hanya bisa mengenang teman-teman SD nya cuma dari ingatan. :

tersebut jadi pikiran saya di tahun-tahun berikutnya. Saat alami kejadian-kejadian serupa.Suatu hari, saya membongkar harta karun dan melihat ada kamera DSLR suami yang nganggur. Lalu tiba-tiba seperti ada aliran listrik yang menyadarkan. Seperti Arthur menemukan Excalibur.

Saya pun mulai belajar fotografi dengan lebih serius, supaya lebih termotivasi buat mengabadikan momen. Waktu berjalan cepat, saya nggak kepengen kejadian diatas terulang kembali. Btw. saya niat motonya tentu lebih banyakan fokus lurus ke depan, bukan sebaliknya, loh! Hihihi..🤭

Fotografi digital sangat berbeda dengan analog, membuat saya menjadi kemaruk jepret. Memory card selalu penuh. Padahal isinya banyak foto yang anglenya nggak beda-beda amat. Saat pergi kesana-sini saya anggota keluarga yang paling rempong dan heboh buat jepret-jepret. Sampai suka ada yang protes!

Hingga tiba hari itu….

Sebuah pikiran baru melintas benak…

Ceritanya saya sedang mencoba mengingat peristiwa yang sudah lama dialami dalam hidup, dengan modal ingatan di kepala, demi membuat sebuah tulisan.

Awalnya memori tersebut sulit “muncul”. Saya bagaikan mencari-cari sebuah film lama dari sebuah gudang berisi ribuan film.Tapi setelah ketemu dan diputar perlahan. …ZAP!

Segala hal yang pernah saya alami seperti hadir di hadapan, sedemikian nyata. Setiap detail, setiap gerakan, bahkan ucapan-ucapan yang dulu sempat melintas di telinga. Kalau di “zoom in” lebih dekat lagi, saya bahkan bisa ingat apa-apa yang luput disaksikan.

Saat itu saya sadar, bagaimana luar biasanya ingatan manusia. Magnifique! Saya sampai merinding.Tapi kenapa sekarang, saya sulit mengingat detail, ya. Padahal jangka waktu kejadiannya tidak terlalu lama. Kontras dengan dulu.🤔

Setelah dipikir-pikir, di masa-masa itu yang namanya smartphone belum ada. Kalaupun ada harganya demikian mahal sehingga orang masih malas beli. Media sosial dan kawan-kawan pun belum semasif sekarang. Saya tidak banyak terdistraksi, untuk fokus kepada segala momen yang bisa direkam secara penuh oleh pikiran dan perasaan.

Ya. Walaupun jarang mendokumentasikan banyak hal, sebagai gantinya saya dulu menggunakan segala indra yang ada untuk merekam dan mengamati berbagai kejadian yang berlangsung. Sehingga hanya sekedar menutup mata saja, saya dengan mudah bisa “kembali” merasakan dan mengingat berbagai “suasana” di masa lalu (sering dilatih dengan self-hypnosis juga sebaiknya).

Jadi segala kealfaan mendokumentasi tidak perlu disesali benar. There’s nothing to regret about it. Karena di sebuah kekurangan, niscaya akan hadir kelebihan lain.

Sekarang, dimana semua dokumentasi serba diobral murah meriah, bahkan sudah level di videokan, hampir tidak ada momen dalam hidup manusia yang tidak diabadikan.

Sebagai bayaran, saya juga banyak kehilangan kesempatan untuk menghayati momen dengan sepenuh jiwa, yaitu dengan menggunakan memori penglihatan, pendengaran, penciuman, raba, dan rasa, lebih daripada segala gear yang ada. Karena saya seperti kehilangan kepercayaan akan adanya kemampuan itu juga. Terkorosi oleh keinginan yang terlalu besar untuk menceritakan segala hal dalam bentuk gambar kepada sebanyak-banyaknya orang.

PR saya sekarang adalah bagaimana agar bisa menyeimbangkan semuanya. Di tengah-tengah. Nggak sampai ekstrim kehilangan dokumentasi, tapi juga tidak kelewatan dalam menggunakannya, sehingga lupa rasanya menikmati sebuah momen seperti apa adanya.

Eh, beneran. Saat saya memfoto itu fokus yang saya ingat cuma satu : bagaimana caranya dapat foto bagus! Saya lupa saat kejadian itu ada apa saja, bagaimana ekspresi semua orang yang hadir, perasaan yang dialami, dsb. Mikirnya cuma cahaya, ISO, diafgrama, shutter speed. Beuh!

Saya ingat, sekelas suhu fotografi saya saja pernah mengeluh. Saat menikmati sebuah tur, dia paling nggak mau ketahuan kalau dirinya itu seorang fotografer. Kalau perlu gearnya disembunyikan! Karena kalau ketahuan, alamat disuruh jadi kang foto terus dan malah ribet mengurus bagaimana cara memfoto obyek.

Dia juga merasa nggak bisa menikmati suasana libur sama sekali, kalau jalan-jalannya dengan sesama fotografer!

Karena bukannya santai beristirahat, tapi malah sibuk saling berlomba-lomba memperhitungkan ini itu. Nggak mau kalah dengan yang lain! Setelah sampai rumah juga…..sibuk ngedit! Baru merasa puas dan sadar dirinya habis berlibur…..setelah ngeliat hasil foto sendiri, dong!

Duh. Ngapain jauh-jauh kan? Mending lihat gambar wallpaper laptop…🙈🤣

Pertanyaannya…

Apakah momen yang tidak terekam kamera akan hilang, karena tergantung oleh memori manusia yang fana?

Tidak.

Mereka masih bisa diabadikan lewat tulisan. Dan itu yang akan selalu saya lakukan.

===

Apa “foto” yang paling kamu suka?

Apa “foto” yang kamu sesali karena kenyataannya itu tidak terabadikan?