Minimalism dan Hal-hal Yang Penting

Minimalism dan Hal-hal Yang Penting

Saat datang perasaan tidak mengenakkan, saya selalu berpegang pada satu hal, bahwa hidup di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Kata-kata itu memiliki banyak arti .Satu, siap-siap menghadapi yang lebih serius namun sifatnya metafisik (if you believe in after life).Atau yang kedua, rileks, nggak usah tegang-tegang amat. It’s just a game. We never knew how it ends.

Minimalism

Beberapa waktu lalu saya menonton ulang “Minimalism”, sebuah film dokumentar di Netflix. Kalau kamu nggak langganan, film besutan sutradara Matt D’Avella ini juga tersedia di YouTube, kok.

minimalism

Ryan Nicodemus & Joshue Fields Millburn dalam Minimalism

Ceritanya tentang orang-orang Amerika yang sukses namun akhirnya menemukan kebahagiaan hidup dengan bergaya hidup minimalis.

Menurut mereka, semakin banyak yang dimiliki, justru bikin melupakan hal-hal yang esensial.Tentu saja mereka tidak menganjurkan sampai ekstrim, lebih ke menghentikan perilaku konsumtif yang sifatnya impulsif.

Kalau saya lihat, mereka memang kelihatan auranya sangat cerah dan tulus banget.

Di film dokumenter itu juga dipaparkan cara kerja otak (ada neurosains), bagaimana iklan bekerja, psikologi, perilaku sosial, dsb. Masing-masing dibawakan oleh para ahli yang kompeten di bidangnya. Juga beberapa pelaku gaya hidup minimalis seperti Joshua Becker, Courtney Caver, Joshua Fields Millburn, dan Ryan Nicodemus.

Sebetulnya masih banyak lagi, ya, penulis buku serta tokoh lain di film dokumenter ini.

Satu hal yang saya suka dari film ini adalah penyajian visual yang menyenangkan. Benar-benar mewakili konsep minimalism.

Love People and Use Things

Satu kata yang menarik adalah kesimpulan di akhir di film dokumenter ini,

“Love people and use things. Because the opposite never works.”

Mengusung gaya hidup ini sulit, menurut saya bila memang niat kita tidak kuat. Atau tekanan dalam lingkungan besar. Jadi harus pintar-pintar mengakali.

Lihat saja di Indonesia, apakah ada saat-saat kita tidak dibombardir iklan? Kayaknya jarang, deh. Kita nggak nengok gadget aja tiba-tiba suka masuk sms spam. Hahaha.

Dan pengiklan tahu banget cara masuk ke pikiran konsumen, meyakinkan mereka bahwa somehow kita butuh barang itu. Terutama bila perilakunya sudah dipetakan (untuk yang itu bisa nonton dokumenter lain yang judulnya The Great Hack). Makanya jadi orang yang susah ditebak dan dipetakan itu penting banget, ya.

Kita tidak lagi memperlakukan barang sebagai fungsinya, tapi lebih kepada mode sesaat. Kepuasan memiliki sebuah barang bisa hilang kalau nilai sosialnya hilang. Dengan trend dan iklan, pelaku pasar bisa mewujudkannya. Ya, semengerikan itu.

We love things. Dan ujung-ujungnya demi memenuhi kebutuhan… use people.

Aplikasi dan Prakteknya

Seharusnya nasehat para minimalist juga berlaku untuk segala aplikasi yang terinstall di gadget. Iya, termasuk Instagram, Facebook, TikTok, you name it. Sudahkah digunakan dengan semestinya? Kadang kita pakai karena sekedar suka dengan kepuasan yang diberikan oleh aplikasi itu serta nilai ekonomi yang diberikan.

Nggak heran banyak yang suka stress sendiri saat nggak dapat banyak like, susah dapat follower, video cuma diintip nggak di klik.

Saya menyadari sesuatu soal Instagram. Selalu ada jeda waktu signifikan saat kita posting konten dan orang mulai nge-like. Bagaimanapun bagusnya koneksi. Konon jeda itu dipasang untuk nge-boost endorfin yang muncul saat terjadi anxiety karena merasa nggak ada yang like-lalu tiba-tiba dapat banyak like.Dibuat seperti perasaan orang yang baru menang lotere.Kepengin coba lagi dan lagi.

Memang jenius mereka yang menciptakan permodelan ini, yang sudah paham benar perilaku manusia. Tentu saja ada cerita beberapa dari mereka.para pionir pengembang smartphone, yang terketuk nuraninya, sih. Belok kanan dan memperingatkan orang akan apa efek yang ditimbulkan alat ini.

Sayangnya, di masa stay at home ini, orang akan semakin bergantung kepada internet dan gadget. Untuk melakukan konferens, berkomunikasi, belanja online, sampai streaming online. Iklan juga semakin masif.

Contohnya, halaman yang biasa saya buka tiba-tiba harus di klik tanda “X” terus untuk menghilangkan iklan yang tiba-tiba ada diantara kita.Di masa-masa orang butuh untuk bersosialisasi…teknologi menyediakannya.

Nggak ada yang salah dengan itu, menurut saya, asal saya juga ingat apa fungsinya. Sama seperti prinsip para minimalist diatas, nggak lupa pada hal-hal yang penting.

Apa Yang Penting dari Yang Tengah Dikerjakan….

Kembali kepada kita, apa yang tengah kita kerjakan sekarang.

Disini saya sebagai blogger, ingin kembali ke fungsi dasar.  Blog bagi saya juga sebagai alat sosialisasi. Melakukan itu karena senang dan kebutuhan, tapi bukan untuk memanfaatkan orang lain.

Saya merasa untuk tujuan itu jauh lebih tercapai saat blogwalking lebih daripada membuka media sosial.

Bagi saya, gambar saja nggak cukup saat mendengarkan pesan seseorang. Lebih lengkap bila ada cerita yang panjang dipaparkan dari point of view penulis. Sehingga kemungkinan salah tangkap kecil, karena seperti yang kita tahu yang namanya gambar saja sifatnya multitafsir.

Kata-kata yang terlalu pendek, juga bisa multitafsir. Makanya banyak yang baku hantam di twitter hanya karena beberapa statemen.

Niatnya saya adalah mendengarkan manusia. Secara utuh. Tidak separuhnya bermain dalam imajinasi liar. Kemudian berbagi manfaat positif. Supaya bisa mempraktekkan secara benar kalimat love people and use things. Not the opposite.

Karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

====

Apa hal-hal yang menurutmu penting dalam apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?

Gambar : “Minimalism” -Netflix dan dokumentasi pribadi