Menjadi Minimalist di Indonesia, Sulit?

Menjadi Minimalist di Indonesia, Sulit?

Ada pendapat bahwa menjadi minimalist itu tidak mudah di Indonesia. Ya, entah karena kulturnya berbeda dan belum jadi trend super populer saja.

Nggak, saya lebih cenderung pada pendapat karena memang beda kultur budaya, ya.

Dahulu, saya pernah menjadikan pengaruh kultur ini sebagai bagian dari penelitian (sudah lama sekali, sih, belum update lagiπŸ˜…).

Singkat kata, orang Indonesia umumnya cenderung suka yang ramai-ramai. Sedikit heboh, termasuk dalam hal warna. Iklan-iklan yang dibuat perusahaan besar selalu ada unsur “kebersamaan”, “sama-sama”….

Kemudian ada lagi pengaruh trend melihat ke orang lain, opini dari mulut ke mulut cukup besar.

Contoh, kejadian di kampung, tetangga jadi perhatian karena pakai sesuatu yang lagi happening. Tinggal soal waktu yang lain pada ikut.

Makanya di Indonesia majalah mode tidak menjadi patokan atau bible pembeli dalam pembelian baju. Yang jadi contoh malah public figure. Nah, mudah ditebak kan kenapa influencer di dunia media sosial itu laris manis?πŸ˜…

Menurut influencer A, B, C, kata orang, kata tetangga, kata grup sebelah, kata suami saya, kata istri saya…

Ada perkecualian dengan orang Indonesia yang sudah lama terpapar kultur lain, ya, misal, pernah tinggal di negara asing. Atau memang mereka yang memiliki jiwa seni dan tertarik pada hal-hal baru.

Tetapi semua ini memang menarik, bagaimana besarnya pengaruh kondisi geografis dan demografis. Manusia jadi cenderung bereaksi terhadap warna berdasarkan mood yang hadir ketika hidup di sebuah negara.

Orang negara dari 4 musim di Eropa umumnya menyukai warna-warna kalem, itu juga berubah sesuai musim, tetap tidak sampai warna yang sampai heboh gonjreng begitu (paling hanya sebagai aksen). Dan tergantung iklim negaranya. Pernah melihat bagaimana trend berpakaian Inggris dan negara-negara Balkan beda karena mood berdasarkan kondisi cuaca juga unik, sendiri-sendiri.

Untuk Asia minimalisme juga dipengaruhi budaya.

Seperti Jepang dengan tradisi Zen yang salah satu unsurnya adalah menahan diri, tidak berlebih-lebihan, meditasi, dsb.

Tentu saja untuk budaya pop kultur, yang didominasi anak muda, kita akan menemukan sedikit kehebohan warna.

Namun saya masih melihat padu padan fesyen anak muda Jepang sangat bagus. Memang sedikit cerah ceria tapi apa ya….pas, gitu. Tidak tabrak sana sini alias semua unsur dimasukkan. Itu yang sering saya lihat pada pakaian turis-turis mudanya. Membedakan turis Jepang dengan turis Asia lain, itu gampang banget….

Menghasilkan seni yang mengandung unsur minimalis itu juga tidak mudah. Padahal kita, penikmat melihatnya seperti gampang. Karena tidak banyak yang rumit. Sederhana tapi…eh, kok, bagus? Kira-kira begitu.

Ya, soalnya memang harus bermain di berbagai unsur seperti garis, pola, warna, dan unsur-unsur yang mewakili cerita.

Saya sendiri pernah mencoba walau memang masih taraf ecek-ecek…dari fotografi sampai lukisan.

Masing-masing ada kendalanya. Untuk fotografi sulit menemukan spot yang sepi (maklum kota).

Untuk lukisan, pikirannya harus benar-benar fokus dulu, ini mau dibawa kemana? Godaan untuk “nambahin sesuatu” gede banget wkwk…

Iya, doyan nambahin banyak hal sampai akhirnya serame kliping. Kuncinya sama saja mau soal gaya hidup atau seni, ada sesuatu yang berlebihan perlu ditahan. Ibarat hawa nafsu kali, ya…hahahaha.

Akibatnya kalau kebanyakan ya nggak fokus.

Sebetulnya timbal balik, karena minimalis seseorang bisa jadi fokus, atau karena fokus, maka seseorang bisa menghasilkan sesuatu yang minimalis.

Hal lain yang menyebabkan gaya hidup minimalis belum populer dianut di Indonesia, mungkin karena tempat tinggal kosong atau kurang barang identik dengan ketidak mampuan membeli alias qismin (miskin).

Padahal kan belum tentu juga, ya. Walaupun orang kaya, bisa saja baju mereka tidak sampai memenuhi lemari. Tapi harga jangan tanya rata-rata barang branded semua, nah itu ceritanya bagaimana?🀣

Segala perbedaan dan karakter hasil dari budaya, sebetulnya tidak ada yang salah, semua tetap menjadikan diri seseorang unik. Asalkan diambil sisi baiknya dan tidak berkembang menjadi sesuatu yang terlampau ekstrim.

Bagaimana menurutmu, apakah punya pengalaman yang berhubungan dengan hal diatas?