Menghadapi Stress Pandemi Corona ala Introvert

Menghadapi Stress Pandemi Corona ala Introvert

Reaksi setiap orang terhadap berita yang banyak berseliweran tentang COVID-19 berbeda-beda. Apalagi yang ekstrovert dan introvert.

Sebagai contoh, baru-baru ini gubernur DKI mempopulerkan kata-kata baru : “social distancing” . Sebuah tindakan yang dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit. Oya, namanya terdengar keren kan? Tapi mendengar kata yang kurang lebih artinya “ sosialisasi berjarak”, sesekaum introvert akan menghela napas dalam khidmat,

“Jamanku telah tiba…”

Kaum introvert cenderung memilih berada dalam kondisi yang tenang dan kalem untuk melakukan re-charge. Jadi menjauhi keramaian serta hiruk pikuk adalah hal yang alami, bahkan dicari-cari.

Namun sekarang ini adalah era yang melebihi bayangan para introvert. Terlalu ekstrim!

Bayangin, kalau dulu saat di kantor kita masuk lift, pasti ada saja orang yang cenderung ngobrol. Sekarang hukumnya ada 4 orang di lift saja…. harus menghadap ke tembok di depannya masing-masing! Seperti anak-anak kena silent time.

Lalu saat ketemu orang banyak dalam satu ruangan….sekarang itu yang ada jadi saling was-was dan mencurigai satu sama lain takut ada yang sok akrab ada yang diam-diam ternyata sakit. Kalau ada satu saja bersin seruangan bakal terbirit-birit lari seperti kelinci.

“Huatchiii..”

Apakah kamu (yang introvert sekalipun) beberapa waktu ini merasakan perasaan seperti : cemas, mudah marah, tidak nafsu makan (atau makin banyak makan), sulit berkonsentrasi, susah tidur, sakit kepala? Atau yang ekstrem jadi apatis berat alias nggak peduli sama sekal?

Saya sempat mengalami beberapa darinya, walau sifatnya ringan. Padahal itu sebenarnya adalah gejala stress.

OK, sekarang ingin berbagi pengalaman sendiri bagaimana mengatasi stress akibat berita, self-isolation, dan social-distancing, sebagai so-called introvert :

1. Mengurangi secara drastis paparan informasi dari berbagai media dan media sosial

Saya ngalamin, ketika terlalu banyak informasi yang berulang-ulang, menghasilkan stress dan kecemasan, tanpa disadari. Memang tetap update perlu, cuma sekarang saya batas satu hari sekali. Karena kepo terhadap informasi itu sangat adiktif. Kalau biasanya tiap jam, pelan-pelan di turunkan jadi setiap 6 jam, lalu sehari sekali, dua hari sekali. Itupun yang diikuti sudah dipilah hanya informasi dari sumber terpercaya

2. Menjaga kesehatan mental dan tubuh dengan melakukan rutinitas

Agar bisa mengembalikan diri sendiri ke realita, saya wajib menjalankan rutinitas menggunakan the power of habbit. Ritual-ritual sederhana yang wajib saya jalani setiap pagi adalah olah raga ringan, stretching, berjemur di bawah sinar matahari kurang lebih 30 menit. Memasak makanan yang bergizi sehat serta seimbang. Lalu saat malam hari tiba, tidur tepat waktu, dilarang keras begadang. Oya, sebelum tidur, saya menghindari terpapar berita. Nanti kebawa mimpi, nggak asyik.

Ritual mengistirahatkan mental buat saya bermacam-macam, bisa beribadah, berdoa, mindfulness, hypnotherapy, dsb. Kalau ada pikiran-pikiran yang datang biarkan lewat….

3. Melakukan aktivitas yang menenangkan dan membuat rileks

Hari gini kan nggak mungkin saya melakukan aktivitas seperti jalan-jalan ke taman, walaupun kepengin banget kelayapan. Tapi masa ber”layar” terus, sih?

Sebetulnya paling bagus melakukan aktivitas motorik halus, seperti menulis, menggambar, dan melukis. Atau kalau merasa nggak bakat bisa aktivitas yang bikin kenyang, yaitu memasak. Nonton film juga OK tapi harus menghindari yang bikin stress seperti film-film thriller atau horror. Paling bagus komedi saja.

Belajar tentang banyak hal baru juga bagus. Beberapa hari ini saya juga mencoba merefresh kembali bahasa-bahasa asing yang ingin lebih dikuasai.

4. Berusaha menerima realita yang ada

Kadang saya ngeliat di media sosial (dari semua negara) orang misuh sana misuh sini tentang banyak hal. Awalnya saya pun ada kecenderungan untuk begitu juga, tapi setelah dipikir-pikir, duh, masa kayak orang yang baru sekarang tahu realitanya. Bukannya dari dulu begitu, ya? Terus, kenapa baru ribut sekarang…..kan aneh…

Yang namanya wabah dari virus flu itu sudah ada sejak berabad-abad lalu dalam sejarah manusia. Kebetulan saja jatuhnya di tahun ini. Tidak perlu dilebih-lebihkan tapi juga tidak abai. Kita hidup bersih sudah, menjauhi orang sudah, hidup sehat sudah, apalagi yang bisa dilakukan? Belajar untuk menerima realita. Lalu setelah diri tenang dan menerima keadaan…

5. Membuat rencana

Pengalaman saya, kalau sudah memiliki persiapan jelas, saya bisa mengurangi stress berlebihan. Karena seseorang yang shock butuh waktu untuk menerima situasi. Dan saat emosi, orang biasanya tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Rencana-rencana yang saya lakukan nggak harus rumit dan terlalu ke depan.

Yang biasa-biasa sajalah, seperti, “Apa yang hanya bisa saya kerjakan dalam kondisi ini?”

6. Melakukan apa yang perlu dilakukan sekarang

Setelah selesai membuat perencanaan, saya harus berhenti membayangkan peristiwa masa lalu, atau mencemaskan kemungkinan masa depan. Saya kan hidup di hari ini. Apa pekerjaan yang perlu dilakukan saat ini? Lalu menyibukkan diri dengan membenahi to-do-list di hari berjalan.

Jatuh ke kondisi berpikir berlebihan atau malah menganggap remeh, itu jebakan batman yang sama berbahayanya. Semoga kita semua nggak jatuh kesana, ya.

7. Tetap bersosialiasi tanpa harus bertemu

“Social distancing” bukan berarti nggak bersosialisasi sama sekali, bambang. Ingat film Cast Away, dimana Tom Hanks, yang terdampar sendirian di pulau, tetap butuh teman ngobrol. Akhirnya dia bikin boneka dari bola volley yang dinamai Wilson, lalu diajak bicara setiap hari.

Saya yakin sekarang orang lebih merasa aman ngobrol via messenger dan kawan-kawannya. Sosialisasi tetap jalan melalui dunia maya. Dengan catatan, selama percakapan nggak diisi dengan tema menakut-nakuti dengan berbagai fwd-an tidak jelas. Menurut saya kenapa nggak digunakan digunakan buat saling menguatkan, dengan sanak keluarga dan kawan-kawan.

====

Mungkin sebentar lagi akan ada hotline untuk kesehatan mental selama pandemi, melihat semakin banyak orang yang mulai kena stress. Kapan-kapan saya akan sharing aktivitas ringan, yang sifatnya terapeutik dan bisa dilakukan di rumah.

Ada ucapan seorang dokter senior, yang saya pegang betul. Pedoman saat saat menghadapi kondisi darurat :

“Simpan kekhawatiranmu untuk hal-hal yang lebih penting.”

Dan rasanya ini berlaku buat siapapun. Ekstrovert maupun introvert.

==

Bagaimana denganmu?

Gambar fitur : pxhere.com, giphy.com