Menemukan Pemicu Emosi

Menemukan Pemicu Emosi

Aku pernah membaca twit tentang seseorang yang bertanya kepada perempuan penyintas KDRT. Bagaimana sebaiknya menghindar dari “salah pilih” pasangan hidup? Yaitu orang yang berpotensi ringan tangan.

Karena kadang perempuan digebuk lalu lelakinya minta maaf and all right with the world.

Penyintas KDRT tersebut menjawab kurang lebih begini ; sebelum menikah perhatikan gangguan emosi yang ada pada pasanganmu. Terutama bagaimana reaksinya terhadap suatu hal yang memicu reaksi marah. Bagaimana dia bersikap? Apakah melakukan kekerasan fisik atau psikis? Jangan ditolerir.

Aku setuju dengan nasehatnya.

Namun dalam pengalamanku juga harus menyikapinya dengan hati-hati karena….sebetulnya kilas balik KDRT tidak sesederhana itu.

Terutama di kota besar seperti Jakarta dengan berbagai keragaman manusianya serta faktor pemicu. Kondisi stress, penuh tekanan dan macet berat. Coba perhatikan perilaku pengemudi di jalan. Bila nasehat itu ditelan secara mentah, bisa dipastikan hampir separuh pengguna lalu lintas di ibu kota tidak layak mendapatkan pasangan!

Pertanyaan seseorang kepada perempuan yang mengalami KDRT.

“Sebelum mengalami pemukulan, apa yang anda ucapkan atau lakukan?”

Walaupun kesannya ngajak berantem, itu adalah sesuatu yang sering luput jadi sorotan. Karena kita seringkali fokus kepada perbuatan akhir.

Biasanya akan banyak sergahan, TAPI TETAP SAJA TIDAK BOLEH MUKUL KAAN.

Ohya. Betul. Setuju.

Itu tetap bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Pelaku KDRT jelas salah dan bisa dihukum.

Tapi kalau nyawa sudah melayang, badan sudah remuk, semua sudah tidak berguna. Bagaimana caranya agar bisa menghindari pemicu itu? Dalam rangka menemukan penyebab, kita harus mengupas semua kemungkinan seperti mengupas kulit bawang. Bukan untuk menemukan siapa benar siapa salah.

Bisa saja kita kenal dengan seseorang, merasa cocok, kemudian menikah, tidak ada ciri-ciri ekstrim seperti yang disebutkan penyintas KDRT diatas. Tapi seiring berjalannya waktu dia tiba-tiba melakukan kekerasan. Ternyata dia mempunyai trauma terpendam di masa kecil yang membangkitkan emosi. Dan trauma itu tiba-tiba terpicu oleh ucapan atau tindakan pasangannya.

Kemungkinan lain, adalah terulangnya pola pendidikan yang selama ini pelaku terima dalam keluarganya. Dia pada dasarnya tidak suka, tapi dalam kondisi kritis seseorang hanya bisa bereaksi sesuai pola yang ia terima sejak usia 7 tahun.

Bukan berarti korban KDRT perlu maklum atau menarik gugatan. TENTU TIDAK.

Pengetahuan itu agar kita jadi lebih paham reaksi sendiri demi mencegah hal serupa terulang lagi di hari kemudian. Paham apa yang harusnya dilakukan agar seekor macan tidur tidak bangkit. Sebelum diri sendiri bisa keluar dari situasi yang sulit dihindari.

Memang banyak sekali pemicu emosi di sekeliling kita. Penyebab dari luar, perilaku manusia, lingkungan, keruwetan, dsb. Penyebab dari dalam, kurang makan (!), kelelahan, atau kurang tidur. Dan kondisi sekarang semakin tidak sehat karena masa pandemi. Di balik tembok setiap rumah jumlah kekerasan meningkat. Kalau dulu sumbernya di jalanan atau di kantor, sekarang bisa saja karena kondisi rumah dan paparan pemberitaan.

Demi keselamatan masing-masing tidak ada salahnya mengasah insting. Insting untuk survive. How to tame the beast within us and outside us. Bagaimana agar tidak menjadi korban dan tidak menjadi pelaku.

Beberapa tools ditawarkan untuk mencegah agar stimulan emosi tidak jauh merasuki kita. Salah satu yang umum dipakai pelarian spiritual. dari doa, dzikir, atau meditasi hingga self-hypnosis.

Bila seseorang tipe otak kiri, cara ini bisa dipakai : tenang sebelum bertindak, kemudian temukan pemicunya. Apa yang kamu dengar, lihat, sentuh, baui SEBELUM terjadi sesuatu yang membuat emosi melejit?

Karena kadang mereka adalah hal yang begitu sepele. Setelah ketemu gali memori, apa kenangan tentang “hal sepele itu”.

Sebagai contoh, ada orang yang marah terpicu dengan bau keringat. Setelah dikilas balik ternyata waktu kecil ia punya kenangan buruk tentang keringat. Karena itu yang dia baui sebelum bapaknya memukuli dia.

Aku ingat dulu yang memicu emosiku adalah kemacetan. Pernah ada situasi dimana sedang ada kondisi mendesak tiba-tiba macet blas. Semua berantakan. Banyak orang marah, badan merasa tidak enak.

Lama aku berusaha keras mengalahkan perasaan itu, namun baru berhasil dengan mencoba menerima dulu perasaan, oh aku ini sedang kesal, tidak berdaya, dsb.

Ketika sudah bisa melakukan itu, baru pelan-pelan bisa memasukkan sugesti positif dan membayangkan hal-hal menyenangkan saat dalam kondisi itu. Seperti melihat pemandangan cityscape nan indah, langit memerah, mendengarkan audio book, dsb.

Jadi semua bukan tidak bisa disembuhkan. Asal kitanya juga mau menjalankan.

Pertama mengetahui dulu pemicunya.

Kedua menerima emosi yang terpendam dan di rilis di tempat yang tepat.

Aku pernah menuliskan beberapa tools untuk calming down yang berdasarkan pengalamanku sendiri praktis silahkan temukan yang cocok disini.

Mari menemukan penyebab emosi kita dan bisa berusaha menyembuhkan “luka”. Bila kesulitan bisa berkonsultasi dengan ahli yang kompeten, ya.

Terutama ditujukan bagi teman-teman yang belum menikah. Selain banyak-banyak berdoa….

Beneran deh, bila masih punya kendala dengan emosi-emosi tertentu, lebih baik diselesaikan dari sekarang. Karena kalau sudah punya pasangan repotnya akan kuadrat. Sudah harus menangani diri sendiri, berhadapan dengan orang lain lagi, belum ditambah kehadiran anak-anak. Kalau diri sendiri sudah selesai setidaknya beban jadi lebih berkurang. Bahkan bisa membantu problem emosi anggota keluarga.

Sama seperti peragaan kondisi darurat di pesawat, pasanglah masker oksigen untuk diri anda dulu.

Apapun masalahnya, usahakan untuk fokus selalu kepada solusi, bukan emosi. Pinjam istilah bu Tejo..πŸ˜…

===

Apakah ada hal-hal yang bisa memicu emosimu selama ini?

Tulisan ini adalah re-post dari postingan lama.