Melatih Toleransi Dalam Pergaulan

Melatih Toleransi Dalam Pergaulan

Ada orang yang aku kenal, nggak dekat-dekat amat, sih. Awalnya kami merasa, ah, kita kayaknya bisa match.

Namun seiring berjalannya waktu muncul perbedaan-perbedaan signifikan. Sebetulnya bukan muncul, ya. Lebih kepada mulai aware bahwa kita sebetulnya punya cara pandang yang berbeda saja dalam hidup.Tsaah berat amat, ya?πŸ˜„

Jadi ketika kita pertama kali saling berkenalan yang hadir adalah asumsi-asumsi belaka, bahwa

“Oh dia suka ini. Pasti orangnya lucu…”

atau

“Nah, kayaknya cocok diajak ngobrol serius”

Lalu lama setelah kenal mulai terjadi koreksi-koreksi.

Oh, ternyata dia orangnya begini…

Bukan berarti kita lantas nggak berteman lagi. Tetap jalan seperti biasa, nggak ada yang ekstrim. Namun satu sama lain mulai berhenti mencoba menyelami dunia masing-masing dengan penuh penghayatan. Selow saja. 🀣Diskusi soal apapun, ya, jalan terus.

Karena nggak ada gunanya juga kita tetap overthinking padahal dari awalnya tidak sekutub. Dipaksakan juga, pasti ada salah satu pihak yang pusing tujuh keliling dan harus minum antimo.

Misal, orang yang humoris dan happy-go-lucky dihadapkan dengan orang yang serius dan kritis, akhirnya bisa korslet salah satu pihak.

Btw. soal Happy-Go-Lucky ini ada film berjudul sama yang bagus banget buat ditonton. Yang main Sally Field, si pemenang Oscar. Film ini menggambarkan betapa sengsaranya orang serius saat harus memahami si happy-go-lucky. Dan juga sebaliknya, yang akan nggak habis pikir.. why are you so serious?😫

Aku nggak masalah masuk ke kondisi pertemanan dengan perbedaan karakter yang ekstrim. Bagiku itu malah bagus, melatih elastisitas toleransiku agar jadi semakin panjang, sekaligus menambah pengetahuan bagaimana melihat dari sudut pandang orang lain.πŸ˜€ Bukan selalu dari sudut pandang seragam ala-ala happy-go-lucky yang optimis terus.

Menjadi orang yang selalu positif menurutku asyik, bisa jadi karena aku memiliki beberapa privilege dan sudah mempelajari banyak tools.

Tapi aku nggak menyangkal, bagi orang lain...it’s a long and winding road. And bumpy.

Sehingga aku nggak mungkin menyimpulkan,

“Gue nggak bisa klik sama dia, karena dia mikirnya muram dan bitter amat..”

Kalau itu terjadi, toleransiku akan berhenti di titik itu. Status quo.

Saat kita nggak bisa bersikap seperti orang lain, bukan berarti cara pandang dalam hidup kita (atau orang lain) itu salah.πŸ€” Setiap orang punya sejarah berbeda. Tidak berada di sepatu yang sama dengan kita. Itu aja. Let’s respect each other’s. See the bright side.πŸ˜€

Tips yang selama ini aku jalanin, bagaimana cara bertahan punya kawan beda pola pikir, tanpa jadi ikut “terpengaruh”-misal jadi cenderung depresif atau jadi cuek bebek nggak peka-cuma satu : perbanyak ngumpul dengan kawan yang sudut pandangnya sama dengan diri kita.

Karena saat birds of a feather flock together akan punya kemampuan bertahan hidup lebih tinggi dari mereka yang single fighter dan hanya bisa bertahan.

Tentu saja kumpulnya bukan sebagai teman julid bareng, ya.πŸ˜‚…malah jadi bu Tejo banget (masih gagal move on film Tilik).

Sekedar memperkuat apa yang menjadi prinsip dan karakter aku saja. Sehingga setelah bergaul dengan berbagai jenis orang, aku tetap bisa re-charge otak bersama sekutu-sekutu satu spesies.😊

Maklum, aku bukan tipe-tipe yang bisa bertahan lama ada dalam environment yang negatif, bawaannya suka gelisah kayak belut yang langsung menggeliat ingin kabur dengan segala kelicinannya. Padahal kabur it’s a big no karena nanti elastisitas toleransiku jadi menyempit lagi.

Above all, berbaik sangka dan positif itu nggak ada ruginya, kok. It’s OK bersifat kritis, skeptis logis, tapi kalau ekstrim efek berantainya panjang. Dan akhirnya bisa kena diri sendiri.

Misal, ada kelompok yang suka nggak pakai masker dalam circle kita,

Kalau ada yang kena kapok deh. Baru pada sadar.

Lebih baik doakan mereka sehat atau diberi kesadaran. Artinya kita sudah berbaik hati kepada orang lain.

Energi positif doa itu akan balik pertama kali ke diri kita sendiri, baru kepada mereka. Kita nanti akan diberi kesehatan dan kesadaran (entah tentang apa). Pernah nggak mengharap yang buruk ke orang tapi akhirnya malah kena diri sendiri?😫

Reflek seperti itu nggak gampang, ya, aku akui. Apalagi kita hidup dengan berbagai paparan. Salah satu cara, seperti yang sudah aku jelaskan. Harus banyak belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Tanpa perlu jadi jatuh bitter atau judging.

Punya kawan berbeda cara pikir adalah salah satu tips. Supaya hidup tetap nyaman, perkuat circle satu spesies kita.πŸ˜„

Dan bukan berarti aku ekspert soal itu. Sama seperti orang lain. Aku juga masih perlu banyak belajar. Semua orang yang berinteraksi dengan diriku, baik ataupun buruk akan selalu menjadi guruku, dalam mempelajari kehidupan.πŸ™‚

Kamu punya pengalaman menarik bertoleransi dengan orang yang berbeda pandangan?