Kesederhanaan dalam Film “Tilik”

Kesederhanaan dalam Film “Tilik”

Kemarin aku dapat link film ini dari media sosial, awalnya cuma cuplikan saja kumpulan the power of emak-emak vs polisi. Puas ngikik aku cari yang lengkap.

Dan aku pun nonton 32 menit film tentang ghibah-an. Hahaha.

Kalau ada yang nanya ini ceritanya tentang apa? Sebetulnya dari awal sampai akhir tentang Dian. Saat para ibu-ibu mau jenguk bu Lurah desanya yang sakit, si kembang desa itu digosipkan dari awal hingga akhir perjalanan. Sementara tokoh Dian-nya sendiri cuma muncul di akhir dengan plot ending yang twist. Berhubung segenap pemirsa sudah keburu gemas, fokusnya semua sama tokoh bu Tejo.

Film pendek satire Indonesia ini formulanya lengkap, aktor aktrisnya aktingnya natural, kocak nggak serius, nggak menggurui. Dan pesannya multi layer, banyak dialog cerdas, bahkan hubungan sebab akibat, membuat semua orang jadi overthinking,

“Eh, ternyata kalimat ini artinya itu…”

Ada juga, sih yang kritisi, katanya film ini membuat penduduk desa seolah-olah stereotipnya negatif. Suka gossip, nggak berpikir panjang, dsb.

Aku sendiri tahu rasanya bersentuhan dengan kehidupan desa. Dan karena bisa relate banget makanya langsung ketawa-tiwi, kok, ya seperti ketemu langsung orang-orang yang dikenal. Ya termasuk karakter bu Tejo yang bikin gemesss.

Kehidupan di sana nggak jelimet, semua jadi sederhana. Saat aku berkumpul jadi satu dengan warga sekitar yang ala-ala bu Tedjo, mendadak aku jadi semi-semi Yu Ning dan Yu Sam (tebak ini tokoh yang mana hahaha). Ini pada ngomongin siapa saja nggak ngerti, dah… dan kenapa aku harus dengar?

Orang-orang model guyub di desa seperti itu bila ada yang gossip-gossip sering disalah artikan oleh kita sebagai, suka ikut campur urusan orang, kepo sama kehidupan orang lain. Apalagi bagi yang sudah ngerasain tinggal di kota yang individualis. Rasanya benar-benar kurang kerjaan.

Cuma kalau aku pikir-pikir, perilaku itu kan memang ciri peduli pada kiri-kanan, bahkan sampai ramai-ramai tilik saat ada yang sakit, datang kalau ada yang kena musibah. Kalau ada yang janggal ramai-ramai dibenerin. Saat tinggal di desa kamu nggak pernah benar-benar sendiri. Kamu sudah jadi satu dengan yang lain. Dengan segala kerempongan dan manfaatnya.

Ketika kembali ke kota, semua hal jadi kompleks. Kita seringkali mencari-cari perasaan nyaman dari guyub, termasuk di dunia maya. Dan di media sosial, kadang sadar atau nggak, ada kalanya kita adalah bu Tejo.

Tetep ghibah ya nggak bener juga. Kalau aku teliti, ghibahnya bu Tejo sebetulnya lebih mirip intel dan buzzer hahaha. Yang dipaparkan selalu ada logikanya. Lalu caranya menggalang persetujuan massa, yaitu bikin seneng dulu (ajakan ke pasar Beringharjo) baru validasi... betul nggak kata saya??

Poin yang bikin aku jadi overthinking, banyak dialog yang dia gunakan merupakan kalimat tanya! Beneran level julid psikis yang mengerikan. Bu Tejo itu, betul, adalah tokoh tipis-tipis yang pada dasarnya punya agenda, kalau kata aku, sih.

Ya, semoga nggak ada yang mengambil hikmah bahwa gossip adalah fakta yang tertunda. Bahaya itu hahaha.

Di dunia nyata, yang aku lihat tokoh seperti bu Tejo malah hidupnya suka jadi susah. Mungkin ghibah cara untuk membuat masalah sendiri jadi terlihat sepele dibanding masalah orang lain. Sebuah terapi salah fokus sebetulnya, karena pakai lambe dan topik yang dibahas malah kepunyaan orang lain.

Aku ingat kenalan yang pernah cerita bahwa sebagian kasus yang dia tangani sebetulnya bukan MURNI persoalan mereka yang datang berkonsultasi, kadang lebih ke persoalan entah saudaranya, anaknya, orang tuanya, bossnya, dsb.

Pas ditanya,

“Nama yang kamu sebutkan itu merasa punya masalah nggak?”

“Enggak”

“Lalu kenapa kamu merasa itu adalah masalah?”

Baru mikir, deh. Iya, bener juga, ya. Itu kan bukan masalah gue?

Siapa tahu malah orang lain menikmati kondisi yang dianggap masalah bagi orang sekitarnya. Seperti saling melempar piring saat pagi, yaaa…semacam kemesraan dalam berumah tangga gitu. Hahaha.

Ya, sesederhana itu kadang-kadang…

Buat yang belum nonton, ini dia filmnya, ada di youtube, legal kok!

Apakah kamu sudah nonton film Tilik? Bagaimana menurutmu?