Kesalahan Komunikasi Saat Ingin Membantu Seseorang

Kesalahan Komunikasi Saat Ingin Membantu Seseorang

“Spiritualitas seperti pedang bermata dua, bisa membantu tapi bisa berbahaya” – Guru besar psikoterapi Prof Aris S SpKJ(K)

Ketika seseorang memiliki masalah, seringkali mendapat nasehat dari orang lain bahwa dia kurang ibadah. Nasehat itu baik, tapi akhirnya jadi bumerang karena orang tersebut malah jadi tidak nyaman dan menutup diri.

Ini membawa ingatan saya kembali kepada nasehat salah seorang suhu psikoterapi tentang pentingnya untuk tidak berprasangka saat menghadapi seseorang. Kebiasaan saat bertemu kasus, kita seringkali secara otomatis memetakan segala hal membangun persepsi tanpa sepenuhnya mendengarkan apa sebetulnya keinginan seseorang itu.

Saya mencoba menerapkannya selama beberapa tahun. Kelihatannya sederhana, tapi agak rumit. Saya sendiri masih perlu banyak belajar. Kenapa? Karena kita hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa dengan pola tersebut. Suka menasehati, tidak cukup mendengarkan. Saat menasehati itu yang muncul adalah ego kita, paket lengkap bersama semua value yang dianut. Bahwa kita sudah berpengalaman dan dari analisa kita seseorang seharusnya melakukan ini dan itu.

Padahal belum tentu hal tersebut yang dia butuhkan. Ini ibaratnya kita melihat orang sedang berteriak minta tolong, belum selesai orang itu ngomong, kita sudah melempar beberapa peralatan P3K kepadanya. Dan kita merasa masalah sudah diselesaikan. Sementara bisa saja dia minta bantuin dorong mobilnya yang mogok! Apa yang kita anggap dia butuhkan, belum tentu itu yang dia butuh. Lebih parah lagi kalau saat kita melempar peralatan P3K kena jidat. Hahaha. Bukannya membantu malah nambah benjol parah.

Seperti itu juga nasehat soal agama. Bukan barang baru kalau ada suatu problem kejiwaan dikit-dikit disuruh lari ke agama. Ibaratnya ibadah yang baik : problem-solved. Padahal kalau mau lari kesana juga proses perlu panjang.

Dan yang terpenting apakah itu sesuai dengan value orang yang bermasalah? Bisa jadi dia nggak begitu suka dengan agama karena selama ini dibully atas nama agama. Atau orangnya memang lebih suka yang bersifat praktikal dan logis.

Intinya adalah, tidak bisa memaksakan value kita saat akan membantu seseorang. Bila iya, rasanya lebih memuaskan ego kita sendiri ketimbang membantu permasalahan orang. Nah, kembali ke tujuan kita saat memulai berkomunikasi dengannya itu apa, sih?

Memutuskan benang-benang- cetakan bagaimana kita dibesarkan dalam sebuah lingkungan memang tidak mudah. Butuh effort dan kesadaran cukup. Kadang kita suka keceplosan menasehati, baru ingat, eh seharusnya enggak begini, ya? Asal jangan keseringan, sih hahaha.

Beberapa kesalahan komunikasi yang dulu pernah saya lakukan saat seseorang datang menceritakan masalahnya :

Menasehati

Saat ada seseorang curhat masalah saya langsung memberikan solusi A, B, C. Cara ini efektif bila orang tersebut memang sifatnya ingin dapat solusi, seperti dia konsultasi tentang sebuah kasus yang memang saya terspesialisasi disana (hukum, kedokteran, keuangan, dsb). Diluar itu? Cenderung membuat saya tidak melihat akar dari permasalahan sebenarnya.

Menceritakan tentang diri sendiri

Sebetulnya ini adalah kamuflase dari keinginan membuncah saya untuk menasehati (yang kadang agak-agak humble brag )wkwkwk. Jadi kadang supaya tidak terkesan menasehati saya itu suka bercerita, bahwa saat menghadapi masalah persis sepertinya itu menghadapi dengan cara begini lho. Efektif, bila seseorang setelah selesai cerita bertanya,

“Dulu waktu ngalamin kasus sepertiku kamu ngapain?”

Keluar dari konteks itu, sama saja hasilnya seperti yang pertama. Malah bikin orang sebel,

Ih ini orang narsis amat, kok jadi cerita tentang dirinya sendiri? Bagaimana dengan masalahku?”

Menghibur

Sebetulnya kalau bersifat bukan curhat ini tidak apa-apa diterapkan. Misal, saat bela sungkawa. Namun kalau memang saat ada masalah itu ingin dipecahkan, sekedar menghibur it won’t ease the pain. Malah kesannya meremehkan perasaan seseorang yang sebetulnya ingin didengarkan itu.

===

Yes. Saya pun masih berusaha terus untuk memperbaikinya hingga sekarang. Nggak mudah, tapi haruuus.

Kamu sendiri bagaiamana? Respon apa yang seringkali kamu rasakan sebagai tidak nyaman saat menceritakan masalah kepada seseorang?

Gambar fitur diambil dari dokumentasi pribadi (model Sefdy-Monic)