Kendala Fotografi di Indonesia

Sejak menekuni dunia fotografi, aku banyak mengalami hal-hal yang umumnya hanya dipahami para penggila foto.

Tentunya kejadian di Indonesia, ya. Biasa dialami tanpa membedakan apakah seseorang adalah profesional atau sekedar pehobi.

Kira-kira seperti apa, kendala-kendala eksternal yang sering ditemui selama proses hunting foto yang cantik? Atau aku lebih suka menyebutnya tantangan kali yaa, supaya auranya lebih positif

Biangnya para tiang listrik…

1. Panorama indah (bersama tiang dan kabel listrik)

Nggak, ini bukan mengarah ke balada tokoh terkenal dan tiang listrik. Ini beneran tiang dan kabel listrik, secara harafiah!

Banyak dialami fotografer saat ada di kota-kota besar dan hendak memfoto arsitektur, human interest, dsb. Kita sudah melihat pemandangan dan obyek yang, wuih, pokoknya sudah cakep banget. Begitu diintip di view finder, cilupbaa di atas atau belakangnya tampak tiang-tiang listrik, berbaris bersama kabel-kabelnya, yang ramai menjuntai. Obyek-obyek tak diundang yang amat melelahkan saat dihapus satu persatu dengan photoshop! πŸ€ͺ Dan mereka itu sudah seperti bayangan saja…ada dimana-mana! Mungkin memang sengaja berkomplot, agar tetap eksis di background obyek-obyek indah nan berseni Indonesia. Menggemaskan, ya!😬

Aku terkadang mengakalinya dengan mencari spot yang tepat, sehingga para pengikut setia itu tidak kelihatan. Bisa juga diposisikan sedemikian rupa sehingga nanti saat di edit bisa menggunakan jurus terakhir, yaitu :

“CROP…CROP…CROP…” (Gambar : pixabay.com)

Tapi kalau sudah kadung putus asa, ya, mending dijadikan obyek saja sekalian! T_T

Berbahagialah bila penampakan tong sampahnya rapi begini…

2. Semarak sampah dan tong sampah

Ini juga sering mengganggu, bila mau ambil genre foto human interest sampai landscape. Pilihan yang tersedia adalah kita pinggirkan satu persatu, atau jika kamu orangnya jijikan, bisa dihapus belakangan dengan photoshop (lagi).

Aku pernah lihat foto jurnalistik bagus yang ternyata aslinya ada obyek sampah yang cukup mengganggu. Eh. Memang boleh, ya, dihapus? Selama nggak mengurangi esensi berita mungkin bisa saja kali, ya? Tapi untuk masuk kriteria penghargaan bergengsi atau perlombaan, tentu syaratnya lebih ketat.

Contohnya pada kasus fotografer Harry Fisch. Padahal sudah sampai menang National Geographic Photo Contest, beliau didiskualifikasi 72 jam kemudian. Kenapa? Gara-gara ketahuan menghapus SATU buah sampah kecil saja di foto karyanya. Sakit teriris-iris kan…😭

Untuk tong sampahnya sendiri, bila beruntung, mereka tampil rapi dan cantik, bila tidak, ya harus diakali agar tidak jadi patokan mata. Lagi-lagi untuk keduanya aku lebih memilih jurus yang sama seperti menghadapi para tiang dan kabel listrik.

Tanpa bermaksud meremehkan pemasang iklan, bila di latar belakang foto ini ada menara Eiffel sekalipun, kharismanya bakal tersungkur oleh penampakan sang baliho

3. Spanduk, poster, dan baliho segede gaban

Di kota-kota besar baliho sarat makna ada di setiap pojok strategis. Seperti jamur di musim hujan. Penempatan mereka bagi banyak fotografer seringkali malah mengganggu pemandangan, terutama kalau ukurannya ampun-ampunan.

Khusus spanduk dan poster, paling banyak ada saat musim pemilu. Saat kamera siap diarahkan, di segala mata memandang muncul wajah-wajah yang tersenyum (ini bukan mistis). Di luar musim pemilu, beberapa spanduk masih terpajang membentang bersama sisa pesan sponsor.😯

Aku menghindari tempat yang banyak baliho dan spanduknya. Kalaupun tidak ada cara lain, terpaksa meminimalisir penampakan mereka.

Tapi kalau pengawasnya seperti mereka ini, mari kita gagal fokus minta foto bareng!

4. Pengawas di sebuah habitat

Bukan suatu hal baru, kalau di Indonesia sering terjadi petak umpet antara fotografer dan “otoritas” yang mengawasi sebuah ekosistem dan habitat berpenampakan indah. Misalnya, fotografi dengan genre arsitektur, landscape, dan sebagainya.

Tapi sekali lagi, ini lain lubuk lain ilalang. Di beberapa negara, orang bebas-bebas saja memfoto selama masih ada di ruang publik. Tidak dihadapi dengan penuh kecurigaan, ketakutan, proteksi berlebihan, atau dianggap sebagai sumber penghasilan.

Dengan adanya media seperti instagram, blog, dan sebagainya, semua foto yang di upload fotografer sering jadi daya tarik serta promosi gratis sebuah tempat. Ujung-ujungnya bisa menaikkan kesejahteraan banyak orang. Memang berbeda dengan cara sebelumnya, hasilnya tidak instan.

Kecuali memang ruang privat atau obyek vital, sayang juga sebetulnya kalau untuk memfoto saja selalu dilarang atau harus melalui ijin berbelit dan bayar mahal. Potensi kedepannya itu lhoo….😬

Bagaimana akibatnya? Ada mereka yang terpaksa mengeluarkan jurus FLASH. No, bukan pakai lampu kilat buat membutakan lawan! Itu trik memfoto secepat tokoh superhero yang bernama sama. Bisa dilakukan dengan menggunakan hape atau kamera yang bentuknya kecil dan ringan. Tapi jam terbang untuk berlatih jurus ini harus tinggi, guys! Bayangkan langsung ceklik- simpan secepat mungkin dan hasilnya tetap bisa fokus…πŸ˜…

Cara lain yang standar, tanya ijin dulu dan beramah-tamah dengan sang pengawas. Kalau untung bertemu mereka yang ramah, sangat membantu, dan bersahabat. Bila tidak, jika ogah ribet atau merogoh kocek, mending pergi cari spot yang lain, deh.πŸ™

Persaingan ketat di tengah suasana mirip cendol…

5. Sesama fotografer

Ini, sih, bukan hanya di Indonesia, melainkan kisah klasik mancanegara. Namanya sesama angkot, ya, lihat penumpang berebutan. Obyek bagus selalu jadi incaran banyak mata.

Tetapi manusia memang beragam ekspresinya.

Tidak jarang ada fotografer yang mengeluhkan perilaku berlebihan sesamanya. Yaitu mereka yang cuek saja memonopoli tempat sampai lama dan menutupi pandangan banyak fotografer lain. Mungkin takut momen dan incaran bakal ngilang, karena atas nama semesta raya, segala obyek di dunia ini hanya milikku saja.

Hal-hal semacam itu memang akan selalu ada dan kita harus siap mental. Sering terjadi, dalam sebuah acara yang penuh manusia, ketika kita menekan tombol shutter, tiba-tiba di view finder atau hasil foto muncul fotografer lain yang nungging memunggungi ada di antara kita dan target!

Solusinya, datang pagi-pagi dan sudah stand by di posisi terdepan. Kalau ternyata tetap masih terhalangi, mari kita siapkan bulu ayam plan B untuk ide foto yang berbeda. Kecuali memang ingin kembaran hasilnya dengan fotografer lain.

Seperti kutipan dari om Drake,

“Sometimes it’s the journey that teaches you a lot about your destination.”

Pernah mengalami? Atau kamu mau menambahkan?

Postingan ini adalah re-post dari tulisan lawas

8 thoughts on “Kendala Fotografi di Indonesia

  1. Bwahahahahaha….BENAR BETUL BANGET SEKALI!!

    i feel you kak!
    tapi gimana lagi, memang itulah yang ada di sekitaran, di kota besar, jadi agak susah dihindari, tapi kalo di Bandung, biasanya hal-hal seperti ini jarang muncul kalo di pinggiran atau yang deket-deket ke alam.

    Jadi yaa kalo ga diedit (malesin deh ngedit beginian tuh), ya crop, atau terima aja apa adanya deh, hahahaha…..

  2. Oia, mau nambahin, keingetan karena barusan abis hunting di Braga, yaitu vandalisme…
    memang ga semuanya kenap coretan ga jelas itu,tapi kalo di Bandung, pasti adaaa aja coretan-coretan nama geng atau apapun, dan itu sungguh menyusahkan, apalagi yang mau hasil fotonya agak minimalis.

  3. Yaampuun… semuanya bener banget. Dan tiang listrik itu ga di Indonesia aja, mba… di Jepang juga masih banyak tiang listrik yang bikin foto jadi kurang estetik 🀣
    Ini tulisan lawas dulu diposting di blog mana, mba?

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: