Keluarga vs Fotografi

Bagi para fotografer amatir maupun profesional, saat-saat weekend, sore hari, sampai malam hari sepulang kerja, adalah waktu-waktu favorit untuk hunting, alias “berburu”, ikutan workshop, sampai lomba.

Sayang, seperti halnya hobi-hobi lain, bila tidak ditangani dengan bijaksana, dapat berubah jadi seperti candu.

Seorang anak lelaki berkata ia tidak mau mengikuti jejak bapaknya yang suka fotografi. Alasannya, aku hampir nggak pernah ketemu bapak. Bapak biasa keluar untuk urusan fotografi. Kadang bisa berhari-hari dengan gerombolannya. Padahal bapaknya juga komplain, loh karena anaknya yang beranjak dewasa nggak bisa CS-an, lebih suka kelayapan.

“Gimana-gimana..? Kok….mirip?”😭

Belajar dari sana aku mencoba ambil hikmah saja.

Yah. Kalau mau diturutin, sih, dulu setiap minggu kubisa pergi hunting.

Eh iya, itu kan kasus pria, ya. Kasus perempuan?πŸ™„

Kenalanku, seorang ibu 2 anak, memulai karir profesionalnya dari hobi motret di rumah dengan obyek suami dan anak-anak. Ia banyak bekerja sama mengatur jadwal bersama suami, misal soal menjemput anak.
“Intinya dukungan keluarga.”

“Kalo mereka mendukung Inshaa Allah semuanya bisa diatur.”

Begitu ceritanya.

Yang sering terlupa, perempuan memang bisa multi tasking dan tidak banyak masalah “switch” peran pada waktu bersamaan. Beda dengan pria yang mudah fokus dan bila sudah menyelami lebih sulit dialihkan. Jadi untuk pria itu bisa jadi tantangan tersendiri.

Ingin berbagi pengalamanku dalam membagi waktu agar kegiatan berfotografi-ria tidak habis mengkonsumsi perhatian kepada keluarga dan aktivitas utama.

Tapi belum versi murni profesional ya. Mohon maap πŸ˜…

Karena versi fotografer profesional, manajemen waktunya tentu lebih rumit dan ketat. Time table dari seorang working-at-home-mom yang punya studio foto bisa cukup padat. Anda bisa melihat contohnya di tulisan Stacie Jansen.

OK. Tarik nafas, mari kita mulai…πŸ˜€

1. Buat skala prioritas

Sebetulnya ini lebih ke konsep tujuan berkeluarga, sih, tapi nggak apa-apa, deh nyinggung sedikit.πŸ™„

Bila memang belum punya, coba urutkan skala prioritas dalam hidup kita, apa yang ingin dicapai.

Dalam kasusku saat ini, kegiatan fotografi porsinya lebih banyak di unsur leisure. Jadi kue pembagian waktunya jelas. Dalam seminggu- sampai sebulan, maksimalnya berapa jam.

Ada dua buah magic words yang bisa menetralisir banyak godaan :

Kita sedang benar-benar butuh atau hanya kepengin?

Apakah yang didapat kelak akan sebanding dengan pengorbanannya?#ilmu itung-itungan

2. Memilih genre fotografi yang fleksibel dan bisa di lakukan dimana saja

Yang aku perhatikan selama ini genre paling fleksibel adalah food, macro, miniature photography, dan still life (benda mati). Kenapa? Ya, mereka ada dimana-mana. Bisa di abadikan kapanpun.

Bandingkan dengan genre animal (besar), architecture, nature dimana kita harus berada DI LUAR. Kecuali di rumah punya kebun luas dan bagus, yaks.

Human interest..hmm..musti muter-muter kan. Masa iya mau foto elo lagi elo lagi? 🀣😭

Stage photography? Kalau keluarganya artis bisa kali, yaa…harga tiket bikin nangis 😭

Genre yang kontroversial? Wah, bapack-bapack dan iboe-iboe, mending jangan main api kalau nggak ingin terbakar…whiiy..😱

Bukan berarti aku tidak bisa pindah genre.

Misal, mendadak di jalan lihat obyek menarik. Semua disesuaikan dengan kondisi. Hari gini kan yang namanya HP sudah punya kamera mumpuni.

3. Berusaha mendapatkan foto bagus yang selesai saat itu juga

Jadi saat mulai memfoto, aku berusaha semampunya agar langsung dapat hasil bagus, sehingga tidak perlu habis waktu di edit-edit lagi di Photoshop atau Light Room. Karena akan sangat time-consuming! Memang, kuakui untuk poin yang satu ini aku masih perlu belajar banyak dan berhenti jadi perfeksionis. 😭

4. Ajak pasangan ikut terlibat dalam kegiatan

Sudah bukan rahasia lagi, kata diprotes “pasangan” kerap jadi alasan untuk absen dari hunting. 😎

Entah benar atau sekedar bahan penolakan halus, semua kembali pada cara menyikapinya.

Ada triknya sih..Mau tahu? 🀫☺

Aku dan suami senang kegiatan berburu di luar. Jadi kadang kuajak ikut moto juga satu genre yang sama-sama di suka. Hunting dengan pasangan akan lebih asyik dan nyambung bila punya target sama. πŸ˜€

Tentu saja ada fotografer yang lebih nyaman melakukan hunting sendirian, dengan berbagai alasan, misal, agar lebih fokus. Bisa anda diskusikan dengan pasangan kemungkinan menyisihkan satu hari khusus untuk memfoto.

Nah. Bagi yang sudah memiliki anak, bila sudah di tahap berhasil ajak pasangan hunting bareng, bisa masuk ke taraf…

5. Hunting bersama keluarga

Hidup itu berjalan begitu cepat.πŸ™„

Seperti kisah awal diatas, tentunya kita tidak ingin melewatkan masa-masa kebersamaan dengan anak-anak kan?

Paling “dapet semua” itu kegiatan piknik ke sebuah tempat dengan obyek beragam. Untuk dewasa ada, untuk anak-anak tersedia.

Bila tidak ketemu, berlatih foto candid aktivitas keluarga sendiri juga seru, kok. πŸ˜ƒ

Selain jadi kenang-kenangan, jadi bisa belajar cara menangkap mood anak-anak yang bagus.

6. Jadwalkan jauh hari waktu hunting atau eksperimen

Tentu ada waktunya kita ingin hunting atau belajar dengan komunitas atau kawan-kawan. Bagian dari proses belajar, sosialisasi, atau “me time” (ayo, ngaku, ngaku aja, deh 🀣). Bagaimanapun juga “ngelmu” apalagi tentang dasar fotografi sangat penting.

Aku biasanya bikin kesepakatan jauh-jauh hari, mulai dari sebulan, hingga seminggu jelang hari H. Tidak ada kata dadakan. Bagaimanapun mood terbaik hunting bagiku adalah saat bisa fokus dengan hati tenang.πŸ˜€

Jadi nggak ada alasan juga, sih, untuk nggak berlatih memfoto setiap hari. Statusnya saja beda : solo karir hunting dan hunting….bareng pasangan/keluarga. Tinggal satu kata yang perlu diusir yaitu…malas (ini mah banyakan hinggap di diriku sih…hahaha). Syuh..syuh..

Seorang photography enthusiast (bukan fotografer profesional), seyogyanya perlu mewaspadai bila terkena gejala-gejala sebagai berikut :

  • Secara spontan, melakukan kegiatan hunting foto keluar, bisa sampai lebih dari tiga hari berturut-turut.
  • Mengalami penurunan produktivitas di pekerjaan sehari-hari, kebanyakan tidak fokus.
  • Mulai ada anggota keluarga yang mengeluh, komplain, sampai apatis.
  • Sering bergadang, hidup tidak teratur karena lebih banyak memfoto/mengedit.
  • Tanpa sadar, besar pasak daripada tiang.
  • Kualitas hidup yang menurun, bukan meningkat.

Jika ternyata mengalami, terbuka kemungkinan kita tengah menjadikan hobi ini sebagai pelarian atas sebuah permasalahan, yang seharusnya lebih dulu diselesaikan.

Pokoknya barometer yang paling gampang itu pasti dari anggota keluarga terdekat, karena biasanya lebih aware dengan perubahan-perubahan perilaku.

Tulisan ini juga sebagai pengingatku di masa depan. Namanya juga manusia kadang suka lupa, ya kan. πŸ˜πŸ˜…πŸ˜…

Semoga semua ini bisa jadi gambaran bagi siapapun yang mulai menyukai hobi apapun.πŸ˜€

Apakah kamu punya tips lain dalam menyelaraskan sebuah kegiatan yang kamu sukai dengan pasangan dan keluarga?

8 thoughts on “Keluarga vs Fotografi

  1. no 5 doang paling bs diterapkan, keluar rumah mesti diikutin anak, atau ga pas emang ada keperluan ke luar daerah, pasti bawa kamera, kalau lg belanja modal hp aja, terlalu byk larangan ambil foto , padahal menarik sih kl saja dibolehkan moto2 penghuni gedung sebelah jika sedang beraktifitas:D

      1. Kan tinggal nya di komplek lapas😬 ga boleh foto2 sembarangan, open prison, warga binaannya bisa sliweran di luar,tp privacy mereka ttp dilindungi, yg boleh moto2 cm pihak yg dpt ijin, kyk wartawan or dr depkumham nya , ada denda menanti kl ketauan warga sipil posting di sosmed, udah ada kejadian gitu, ada kunjungan trus organya foto isi lapas dan diposting sosmed, kena denda besar😬kl saya yg moto,suami sbg petugas bs kena sidang dgn kemungkinan dipecat, jd hrs pinter2 nyari objek yg aman di pluto, apartmn tinggal si ga masalah , cm komplek sebelah terlarangπŸ˜…

          1. Oh kl itu gpp, tp kl moto orang, kadang ga bs asal candid, ada yg santai aja difoto,tp ada jg yg agak konservatif ga mau kena foto, waktu foto kegiatan ibu2 di desa ketika kumpul buat roti, ga mau mukanya dsorot

  2. berhubung di keluargaku yang suka begini hanya aku aja, jadinya lebih sering jalan sama temen, itupun bukan fotografi yang prof banget. modal alat pun seringnya dari hape.
    genre foto human interest aku suka mbak, cuman masih belajar aja, sukanya masih memandangi foto karya orang lain, lebih “hidup” aja kalo liat punya orang lain

    1. Jaman sekarang enaknya sudah punya kamera HP mbak Ainun. πŸ˜€Jadi tetap bisa dikategorikan fotografi. Malah lebih mudah dan tidak menarik perhatian loh.

      Haha kalau hunting HI paling lepas itu sama temen2. Saling jaga dan bisa bantu2 😁
      Ya gapapa lihat foto orang lain dulu, nanti jadi teringat caranya secara naluriah saat giliran kita yg hunting πŸ˜€

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: