Kejenuhan Karena Pandemi

Kejenuhan Karena Pandemi

Belakangan ini saya banyak disibukkan oleh kegiatan di RL (real life) yang lumayan menghabiskan tenaga dan menegangkan..

Walaupun begitu saya masih sempatkan update kondisi dunia umumnya dan Indonesia khususnya. Masih mengikuti pemilihan umum di Amerika Serikat… sampai perkembangan korona dan kehebohan kepulangan tokoh kondang.

Ya, meskipun pandemi kita masih harus menghabiskan waktu seperti saat normal.

Er…tepatnya sekarang makin banyak orang yang mulai merasa normal.

Saat saya keluar untuk sekedar berolahraga atau refreshing (dengan protokol kesehatan). Semakin bingung, kenapa kiri kanan enggak pada pakai masker ya…#kaboooor

Taman bermain penuh manusia, jalan-jalan juga dipadati mereka yang naik sepeda.

Masih mending, ya. Beberapa waktu lalu berita dan media sosial dihebohkan dengan luapan manusia yang memadati bandara. You-know-why-lah.

I’m not against anyone…tapi bukannya masih koronce ya…?

Saya merunut-runtut apa penyebab semua kejadian yang tidak masuk diakal di tanah air ini.

Satu, stress karena ketidak jelasan kapan berakhirnya pandemi. Ya, itu efeknya bisa kemana-mana, sih. Bila awalnya patuh tapi kemudian menjadi apatis dan sebodo amat bisa jadi adalah salah satu gejala depresi (atau halusinasi hahaha)

Pythagoras pun enggak terima (sumber : twitter)

Dua, kebutuhan akan seorang tokoh. Dalam kondisi yang tidak menentu, orang cenderung mencari-cari panutan, dengan harapan mereka akan bisa mengubah situasi. Ini nggak di Indonesia saja, ya. Ambil contoh di Amerika kemarin. Kandidat baru mungkin nggak bagus-bagus amat, tapi orang mulai memakai prinsip “the least of two weevils”. Siapapun asal lawannya dia lah..

Tapi semua bisa dibalik-balik juga. Apalagi bila ada yang berani kritis.

Pertanyaannya, bagaimana cara supaya kita nggak jatuh kepada dua kondisi itu. Minimal yang pertamalah. Yang kedua bisa saja gara-gara yang pertama.

Mungkin kita harus mengibaratkan diri seperti seseorang yang tengah terdampar di pulau. Atau ketinggalan sendirian di Planet Mars. Yang harus di lakukan adalah bertahan hidup.

Tentu saja cara bertahan hidup nggak berhalusinasi ria, seolah semua baique-baique saja dan hore mari kita liburan kemanapun suka-suka. Jangan pakai masker. Bikin kondangan. Kalau ini di pulau atau planet Mars, bisa dimakan hiu atau kena sapu badai kosmik!

Apa yang harus dilakukan menghadapi kebosanan luar biasa…bak menanti kapan ada kapal yang datang untuk jemput kita?

Yang selama ini saya praktekkan….slaman slumun slamet deh #komat-kamit

Membuat rutinitas, saat malas melanda, paksakan diri lakukan itu

Ini yang krusial banget sebetulnya. Karena kecenderungan orang saat depresi adalah….jadi kaum rebahan! Alias, oh betapa nikmatnya bermalas-malasan. I mean it. Makanya ketika ada gejala ini, musti paksakan untuk melakukan sesuatu (walaupun itu sepele) selama kegiatannya jadi bagian dari kebiasaan. Saat mulai malas kuadrat saya memaksakan diri bersih-bersih. Awalnya cuma rapiin bolpen saja, tapi seperti permainan bola bilyard, itu memicu reaksi berantai. Ketika mesin mulai panas, aku bisa berlanjut ke yang lain tanpa bad mood. I feel better.

Selesaikan masalah satu persatu. Jangan sekaligus nanti berasap kepalanya

Kalau kondisi biasa saya bisa menyelesaikan masalah segambreng. Sekarang persoalan A dulu, dikuliti dan dicari solusinya perlahan-lahan. Setelah selesai baru B, C, dsb.

Temukan teman bicara, atau kalau nggak ada bisa ngobrol sendiri (eh tutup pintu dulu yaa)

Bisa dalam bentuk apapun sih, coba ingat Tom Hanks dan Matt Damon waktu terdampar di pulau dan planet Mars, yang wajib mereka lakukan apa? Iyak, sodara-sodara. Ngomong. Kalau perlu bikin catatan. Sampai bola basket dikasih mata dan hidung atau cuma bicara sama alat perekam. Untungnya sih kita bangsa yang lumayan cerewet di medsos dan messenger ya hihihi. Saya membiasakan ngobrol dengan beberapa teman di RL walau hanya sebatas chat.

Self-therapy dengan seni atau hobi

Di postingan kemarin saya sudah mention lagi banyak-banyakin hobi moto. Asli hobi itu ngebantu banget loh. Tapi yang paling ampuh sih memang melukis atau menggambar. Yang sifatnya terapi tentunya. Tidak sembarangan. Ada kasus orang-orang dengan waham tertentu justru dilarang menggambar yang seenake dewe…karena akan memperparah gejala. Kapan-kapan saya bikin pos sendiri, deh. Mengasyikkan, kok..

Kawan-kawan sendiri apa kabar? Bagaimana cara kalian mengatasi kejenuhan yang memuncak di masa pandemi ini? Tetap taati protokol kesehatan yaa..