Jakarta PSBB (lagi)

Akhirnya Jakarta menerapkan PSBB lagi setelah awalnya masa transisi. Entah bagaimana nanti pemerintah daerah apakah ngikut atau nggak. Biasanya kalau pusat mulai, yang lain ikutan.

Reasonable.

Ekonomi bagaimana? Awalnya sepertinya masih pakai mazhab ekonomi karena ketakutan adanya chaos bila inflasi lebih dari ini (kita masih diuntungkan kemarin before COVID 19 karena pertumbuhan ekonomi sempat plus). Bila ekonomi terjun bebas, maka ada pengangguran, dan yang ditakutkan…riots.

Sekarang.

Kalau lihat berita bagaimana wisma Atlet saja sudah penuh. Para nakesnya burn out. Tidak ada yang lebih berbahaya dari tenaga kerja yang alami burn out.

Aku pernah diceritakan tentang petugas pabrik yang alami burn out padahal atasannya sudah diperingatkan oleh kenalanku, hati-hati orang ini sudah burn out kerja. Nggak diindahkan. Akhirnya panci logam raksasa yang panas tidak sengaja tumpah oleh petugas yang sudah kelelahan itu dan tebak yang kena siapa? Si atasan.

Pernah merasakan dirawat di bangsal rumah sakit pemerintah yang nakesnya sendiri sudah bekerja seperti robot dan terkesan membiarkan atau malah marah-marah sama pasien? Menurut kalian para nakes itu kenapa? Sudah pernah lihat bagaimana shift mereka?

Ciri-ciri burn out selain merasa lelah tak berkesudahan, pusing, nggak nafsu makan, susah tidur, juga gampang sakit dan imunitas turun. Kebayang kalau kerjanya di rumah sakit dan di masa pandemi.

Kalau bagian kesehatan kolaps, yang ada kita suatu hari akan memiliki banyak “zombie” di jalan-jalan yang tidak terkendalikan. Bisa lebih buruk dari film-film zombie malah..

Do we have any choice? Ini seperti picking the lesser of two weevils. Ambil pilihan yang kurang buruk dari yang terburuk. Pilihan ini sudah dilakukan di awal saat memilih mengedepankan ekonomi, Setelah di lock down 59 negara, sepertinya kita baru sadar, bahwa mazhab ekonomi tidak maksimal dan bisa kolaps juga kalau semua orang kolaps.

Sumber gambar : twitter

Semoga belum terlambat. Beberapa negara lain sudah mulai melandai, apalagi yang di bagian Utara karena mereka biasa hidup dengan deadline alami : 4 musim. They fear the winter. Musim dingin flu biasa saja sudah mematikan apalagi ada COVID 19?  Mau nggak mau musti disiplin..

Di perkantoran sudah banyak dilakukan rapid test (prosedur rapid dulu yang murah baru swab kalau positif) ternyata banyak OTG. Sulit untuk mendeteksi OTG ini dan mencegah mobilitas mereka. Jangankan OTG yang jelas-jelas flu saja suka nekad masuk, ya kan? XD

Kadang kita itu juga suka begitu, dibilang jangan gini gitu pakai masker-jaga jarak, orang lain dibilang lebay. Begitu ada circle yang kena COVID 19 langsung deh semua orang gemetaran sepanjang jalan saat diminta untuk swab.

Eh. Saat dibilang negatif hore-hore lagi. :)) :))

Duh, susah ya.

Sekarang saja kalau baca media sosial suka geleng-geleng kepala, banyak juga yang masih menganut mazhab konspirasi dan halusinasi. Atau mencoba mempertahankan mazhab ekonomi…atau malah saling serang karena dianggap si ini dan itu mencoba cari panggung.

Yes we’re not in the same boat but in the same storm. Cuma kalau sudah jelas berlayar ke Barat masih ada storm, ya, jangan ngajakin boat lain tetap ke Baratlah, nggak usah juga ramai satu mau kekanan satu mau kekiri,  kapal lama-lama bisa nyungsep…#geleng-geleng

Jadi PSBB sip deh…telat nggak apa-apalah daripada nggak sama sekali. Ya, nggak?

Yang perlu dipersiapkan…jaga kesehatan. Karena ke depan rumah sakit akan siap-siap dengan membludaknya pasien. Bukan cuma yang COVID 19 saja tapi yang sakit biasa. Sebetulnya cara melihat apakah jumlah yang sakit makin banyak di sebuah wilayah, nggak harus dilihat dari berapa yang di rapid. Lihat saja rumah sakit, isinya makin penuh atau berkurang?

Jadi teman-teman yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, terutama, apa yang sudah dipersiapkan untuk PSBB? Teman-teman di daerah apakah merasa perlu PSBB juga?

Semoga selalu sehat, ya. 🙂

12 Comments

  1. Di daerah juga sama. Berasa banget pas daerahnya zona merah. Mau kemana-mana gang pada ditutup.
    Puskesmas yang perawatnya kena covid juga ditutup.

    Sakit biasa macam sakit gigi aja susahnya mau ke dokter. Katanya resiko gede.
    Mau ke kota karena rumahku di kampung akhirnya diem-diem bae.

  2. Aku berada di bekasi dan tinggal di mess kantor. Yang termudah sih emang membatasi kegiatan di luar. Kalau emang keluar kantor, yaa mesti pakai masker, hindari kontak dengan orang lain dan hindari keramaian.
    Sangat setuju dengan pemberlakuan PSBB lagi. Banyak orang indonesia yang kurang disiplin. Jadi yaa akhirnya terjadi peningkatan jumlah pasien.

    Selama ini masih gagal paham dengan orang-orang yang cari panggung dan yang bilang ini adalah konpirasi. huhuuu

  3. Iya Mbak, gpp daripada gak sama sekali.
    Siapa tahu dengan diberlakukannya (lagi) masyarakat bisa lebih aware.

    Yang saya kadang bingung dan sedih sama yg nyepelein keadaan ini, saat kasus di awal masih dalam jumlah ratusan, orang ada rasa takutnya. Giliran diangkat ratusan ribu? Hadeuh. Miris
    Semoga di daerah pun diberlakukan sama khususnya yg red zone.

  4. Kakak saya nakes, dan udah cuek sejak beberapa minggu lalu, hehehe.
    Sampai-sampai mereka kompak, kalau ada yang kudu di test, disakit-sakitin biar kapok, wakakakaka.
    Maksudnya biar nakut-nakutin, kalau ditanam pakai plastik (saking geramnya sama orang yang ga taat) nggak cukup bikin mereka takut. mungkin dengan disogrok hidungnya sampai ke ujung pantatnya kali biar tahu kalau ditest aja sakit, gimana sakit utamanya?
    Astagaaa maapkeuunnn, kugeram, hiks.

    Bete sih ya.
    Terutama kami-kami yang sejak Maret udah melekat ama tembok rumah, saking kami tiap hari di rumaaaahhhhhh aja hahahaha.
    Saking tiap detik di rumah, kayaknya kami udah nyatu kali ama dinding, saingan ama cicak 😀

    Dan virus malah makin mengancam (lagi), ya mikirin kakak saya nakes, keluarga saya juga banyakan nakes di Buton, salah satu kerabat kami malah udah jadi korban virus tersebut.

    Dan juga saya sedih, anak-anak udah sampai di tahap stres nggak pernah keluar rumah.
    Di kompleks kami sekarang jadi rame banget dengan orang olahraga, dan sebalnya rata-rata nggak pake masker, alhasil kalau kemaren-kemaren saya biarin anak-anak main di luar asal ga keluar pagar, sekarang malah saya kunci dalam rumah, saking kalau dbuka pintunya si adik tuh suka nempel di pagar depan, sementara di luar itu banyak orang sepedaan, jogging, daaaaannnn kagak kenal waktu sodarah hahahaa.

    Tapi apapun keadaannya, memang tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain menerima keadaan sekarang, dan berdoa semoga kita semua selalu diberi kesehatan, dilindungi dari virus ini, dan pandemi bisa segera berakhir, aamiin ya Allah 🙂

    • Ikut prihatin, semoga kakak dan keluarganya diberi kekuatan.

      Memang sedih melihat kondisi nakes sekarang, pandemi memang berat. Makanya kita berusaha melakukan yang terbaik sesuai porsi kita masing-masing.

      Bila mampu di rumah ya lebih baik di rumah dan melakukan protokol kesehatan. Jangan jadi halu….

      Amin semoga segera berakhir pandemi ini

  5. Capek ya mba , ngadepin orng2 yg ga mau patuh gini, trus giliran di psbb lagi, malah ngomel :(. Sedih aku kalo liat Ig story temen2 yg hari Minggu sebelum psbb, pada rame2 ke bar, tanpa masker, karaokean, pake caption seneng2 sebelum psbb. miriiiiis banget. Ntahlaaah, ato aku yg terlalu baper, Krn mamaku meninggal Krn covid pertengahan Agustus kmrn. 🙁 Jadi melihat yg seperti ini, aku nyesek aja. Kok mama yg ga pernah kluar samasekali bisa kena, sementara nih orang2 pada santai dan ga peduli.

    Ah sudahlaaaah, yg ptg skr, aku dan kluarga bakal slalu patuh sampe pandemi ini selesai. Ga bisa traveling, gpp. Masih bisa ngelakuin itu nanti2 kalo kondisi aman.

    • Iya mbak Fanny saya yg ngeliat saja sudah capek nggak ngerti deh perasaan mrk yg sudah berurusan sehari-hari 😓😬

      Ikut sedih mbak. Apalagi keluarga mbak sudah menerima dampaknya sendiri psnyakit ini ya😔 semoga selalu dikuatkan.

      Nah iya mbak lebih baik kita tetap patuh tdk terpengaruh mrk yg di luar tdk taat protokol…😅

Leave a reply (akan di moderasi dulu) 😇