Jadi Tempat Sampah Curhat?

Jadi Tempat Sampah Curhat?

Warning! Postingan ini bukan untuk dibaca dalam kondisi emosional, ya. πŸ˜…

You’ve been warned, lho..

Pernah suatu hari saya sambil ngobrol santai menerima sedikit curcolan kawan yang biasa jadi “”tempat sampah” dari kawan-kawannya.

Ohya, memang ada tipe seperti itu di sekitar kita. Jadi orang yang pembawaannya kalem dan damai banget. Kalau bahasa personality plusnya tipe-tipe Phlegmatis yang damai.

Mereka ini biasanya seperti “magnet curhat” bagi banyak personality lain. Ibaratnya orang melihat rasanya kok nyaman cerita-cerita masalah gue ke dia. Apalagi kalau orangnya nggak emberwati.

Alias kalau kita cerita ke dia hari ini besok sekampung nggak bakal nanya ke kita, gimana kelanjutan ceritanya wkwkwk..🀣

Tapi nggak seorangpun tahu bahwa si Phlegmatis ini (apalagi bila ada melancholy), sebetulnya bisa sampai titik nggak nyaman juga kalau sudah kebanyakan dicurcolin. Apalagi kalau dari dulu masalahnya itu-itu aja.

Istilahnya, sudah sampai titik jenuh.

“Gue heran, dari dulu udah tahu bermasalah dengan si X tapi dia balik lagi, gitu lagi, gitu lagi..”

Biasanya yang saya tanyakan ke si Phlegmatis adalah,

” Anaknya udah dikasih solusi nggak?”

“Udah. Berulaaaang kali.”

“Oh, ya udah… artinya cuma butuh perhatian elo, cyiiin..”

Saya belajar bahwa di dunia ini ada banyak tipe orang curhat.

Yang pertama, curhat karena disuruh orang lain buat curhat (ini istilahnya bukan curhat kali ya konsultasi).

Yang kedua, orang yang curhat untuk menemukan cahaya terang entah darimana dari orang yang diajak curhat. Dan kalau sudah merasa menemukan, dia sungguh-sungguh ingin keluar dari masalah. Alias mau melakukan sesuatu demi perubahan.

Yang ketiga, orang yang curhat karena berharap orang lain yang berubah. Biasanya ngeluhnya banyak, dan apapun step yang ditawarkan untuk melakukan perubahan, selalu mental.

Yang pertama masih bisa diarahkan untuk jadi yang kedua.

Yang kedua, ini mah curhater idaman!πŸ˜€ Biasanya nggak balik lagi balik lagi dengan masalah sama.

Yang ketiga, nah ini yang kita sendiri harus bertanya-tanya, sebetulnya kebutuhan yang bersangkutan apa? Jangan-jangan mereka cuma butuh perhatian dan kuping buat didengarkan.πŸ€”

Kasus kawan saya dan kawannya itu kebetulan yang ketiga. Sebetulnya yang bermasalah kan orang lain ya. Tapi makin kemari yang migren-migren malah dia.πŸ˜† Sementara dia sendiri nggak berdaya untuk membuat orang lain itu menjalankan solusinya.

Konon Tuhan tidak akan membantu orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Namun pada prakteknya di Indonesia karena masyarakatnya yang komunal, kita sering merasa bahwa kita seharusnya bisa menolong orang lain yang memiliki masalah.

Jadi agak kebolak-balik, sih.

Karena ada area-area yang memang bisa kita kendalikan dan ada area yang mohon maaf, mau kita jungkir balik sampai koprol pun ya tetap gitu-gitu aja.πŸ˜“ Biasanya hal-hal yang menyangkut perilaku orang lain.

Makanya dalam curhat atau sesi terapi apapun, yang difokuskan adalah bagaimana caranya seseorang itu bisa berdaya hadapi sebutlah monster A, monster B, monster C. Dan dikasih tools bagaimana membuat perubahan perilaku diri sendiri.

Seseorang perlu tahu, sedikit sekali yang bisa kita kendalikan di dunia ini. Meminta orang lain berubah dan seluruh dunia berubah adalah seperti pungguk merindukan bulan. Yang perlu dibukakan adalah cara cara menghadapi orang lain dan dunia.

Yang dilakukan kawan saya itu, bagaimanapun saya tahu bagaimana besarnya kebaikan hatinya, sama seperti pungguk merindukan bulan.

Dia berharap masalah kawannya selesai, sementara kendali perubahan perilaku tetap ada di kawannya, bukan dia.

Ketika saya katakan bahwa yang dibutuhkan kawannya tersebut adalah perhatian (dimana dengan adanya masalah itu dia diperhatikan benar), maka pemecahan masalah curcolita ini bagi kawan saya ini adalah dia perlu belajar NDABLEG.

Alias masuk telinga kanan keluar telinga kiri kalau kawannya mulai curcol lagi. Ibarat sudah masuk tempat sampah, tapi kudu ingat tempat sampahnya harus dikosongkan juga.

Eh. Kecuali mau pulang ke rumah bawa-bawa sampah orang lain ya wkwk. Gimana coba, dianya yang lega, kitanya yang bau…🀣🀣

Temukan cara supaya nggak usah ketarik terlalu dalam, dibawa kepikiran dan migren. Anggap saja dengan mendengarkan masalah sudah bisa diselesaikan. Ya mau diapain lagi kan dikasih solusi juga nggak dijalankan…πŸ˜•

Pertanyaan kepada kawan saya yang berikutnya, apakah dia sanggup bila tipe ketiga ini datang lagi dan lagi…?

Karena bila dia tidak bisa pakai cara ndableg, niscaya dia yang akan tertekan, kemudian melanjutkan lagi rantai curcol karena ketiban masalah curcol (lama-lama mirip rantai makanan ya).

And the story continues…

Yang saya perhatikan, hal ini semakin banyak terjadi di dunia maya, terutama di media sosial. Makin tipis batas antara curcol di ruang pribadi dan di ruang publik.

Anak curcol tentang orang tuanya, orang tentang orang lain, dsb. Membuat kita begitu menutup medsos kepikiran ini-itu, bisa berkembang jadi emosi dan ikut sambat.

Kembali seperti siklus di atas, sebetulnya itu kan perkara orang lain lagi buang-buang sampah dan yang nangkap kita. Mereka jadi bersih, kitanya belepotan…πŸ˜… Ya nggak? Tolong koreksi bila saya salah…πŸ˜…

Pertanyaannya, apakah orang curcol di dunia maya tujuannya agar masalahnya terselesaikan?

Sama seperti kasus ketiga. Belum tentu…paling untuk melegakan ybs. saja. Atau di kasus paling ekstrim bisa sampai karena ada unsur balas dendam, emosional ala kamikaze. Ada juga, sih, curhatan yang sistematis, disengaja. Kedengarannya saja emosi, padahal penulisnya nyantai. Yang terakhir ini perkara lain, yaπŸ€”. Semacam aktor/aktris intelektual namanya.

Curhat perlu ditanggapi dengan santuy. Selain bisa cegah migren, ketika seseorang curcol tentang perilaku orang lain, yang kita lihat cuma sudut pandangnya, benar nggak sih?

Kita tidak bisa mendapatkan sudut pandang, hak jawab atau pembelaan diri orang yang dituduhkan melakukan ini itu. Makanya bila itu terjadi di dunia maya, rawan sekali kena UU ITE dan pasal pencemaran nama baik.

Sayangnya, yang biasa terjadi, netizen, sudah emosi duluan apalagi bila mengingat dulu pernah mengalami kejadian yang sama. Padahal kita belum melihat dari berbagai sisi.

Belajar dari berbagai hal diatas saya merasa penting sekali agar bisa membedakan hal-hal yang sederhana seperti apa hal yang bisa saya kendalikan dan apa yang diluar kendali saya.

Saya juga masih belajar mendengarkan untuk kesekian kalinya curcol dari orang-orang yang masalahnya itu-itu saja. Saya menawarkan telinga saya di luar yang sifatnya materiil.

Namun saya juga perlu memberikan warning di otak kanan saya…

Bahwa ini adalah hal di luar kendali saya mengubah mereka. Saya hanya bisa memberikan clue agar mereka bisa mengubah nasibnya sendiri.

Pelan-pelan.

Pelan-pelan….

Apakah kamu punya cerita juga?

Kamu biasa jadi tempat curhat atau yang suka curhat? πŸ˜„

===

Postingan ini terinspirasi dari tulisan mbak Rahma..