Jadi Tempat Sampah Curhat?

Warning! Postingan ini bukan untuk dibaca dalam kondisi emosional, ya. πŸ˜…

You’ve been warned, lho..

Pernah suatu hari saya sambil ngobrol santai menerima sedikit curcolan kawan yang biasa jadi “”tempat sampah” dari kawan-kawannya.

Ohya, memang ada tipe seperti itu di sekitar kita. Jadi orang yang pembawaannya kalem dan damai banget. Kalau bahasa personality plusnya tipe-tipe Phlegmatis yang damai.

Mereka ini biasanya seperti “magnet curhat” bagi banyak personality lain. Ibaratnya orang melihat rasanya kok nyaman cerita-cerita masalah gue ke dia. Apalagi kalau orangnya nggak emberwati.

Alias kalau kita cerita ke dia hari ini besok sekampung nggak bakal nanya ke kita, gimana kelanjutan ceritanya wkwkwk..🀣

Tapi nggak seorangpun tahu bahwa si Phlegmatis ini (apalagi bila ada melancholy), sebetulnya bisa sampai titik nggak nyaman juga kalau sudah kebanyakan dicurcolin. Apalagi kalau dari dulu masalahnya itu-itu aja.

Istilahnya, sudah sampai titik jenuh.

“Gue heran, dari dulu udah tahu bermasalah dengan si X tapi dia balik lagi, gitu lagi, gitu lagi..”

Biasanya yang saya tanyakan ke si Phlegmatis adalah,

” Anaknya udah dikasih solusi nggak?”

“Udah. Berulaaaang kali.”

“Oh, ya udah… artinya cuma butuh perhatian elo, cyiiin..”

Saya belajar bahwa di dunia ini ada banyak tipe orang curhat.

Yang pertama, curhat karena disuruh orang lain buat curhat (ini istilahnya bukan curhat kali ya konsultasi).

Yang kedua, orang yang curhat untuk menemukan cahaya terang entah darimana dari orang yang diajak curhat. Dan kalau sudah merasa menemukan, dia sungguh-sungguh ingin keluar dari masalah. Alias mau melakukan sesuatu demi perubahan.

Yang ketiga, orang yang curhat karena berharap orang lain yang berubah. Biasanya ngeluhnya banyak, dan apapun step yang ditawarkan untuk melakukan perubahan, selalu mental.

Yang pertama masih bisa diarahkan untuk jadi yang kedua.

Yang kedua, ini mah curhater idaman!πŸ˜€ Biasanya nggak balik lagi balik lagi dengan masalah sama.

Yang ketiga, nah ini yang kita sendiri harus bertanya-tanya, sebetulnya kebutuhan yang bersangkutan apa? Jangan-jangan mereka cuma butuh perhatian dan kuping buat didengarkan.πŸ€”

Kasus kawan saya dan kawannya itu kebetulan yang ketiga. Sebetulnya yang bermasalah kan orang lain ya. Tapi makin kemari yang migren-migren malah dia.πŸ˜† Sementara dia sendiri nggak berdaya untuk membuat orang lain itu menjalankan solusinya.

Konon Tuhan tidak akan membantu orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Namun pada prakteknya di Indonesia karena masyarakatnya yang komunal, kita sering merasa bahwa kita seharusnya bisa menolong orang lain yang memiliki masalah.

Jadi agak kebolak-balik, sih.

Karena ada area-area yang memang bisa kita kendalikan dan ada area yang mohon maaf, mau kita jungkir balik sampai koprol pun ya tetap gitu-gitu aja.πŸ˜“ Biasanya hal-hal yang menyangkut perilaku orang lain.

Makanya dalam curhat atau sesi terapi apapun, yang difokuskan adalah bagaimana caranya seseorang itu bisa berdaya hadapi sebutlah monster A, monster B, monster C. Dan dikasih tools bagaimana membuat perubahan perilaku diri sendiri.

Seseorang perlu tahu, sedikit sekali yang bisa kita kendalikan di dunia ini. Meminta orang lain berubah dan seluruh dunia berubah adalah seperti pungguk merindukan bulan. Yang perlu dibukakan adalah cara cara menghadapi orang lain dan dunia.

Yang dilakukan kawan saya itu, bagaimanapun saya tahu bagaimana besarnya kebaikan hatinya, sama seperti pungguk merindukan bulan.

Dia berharap masalah kawannya selesai, sementara kendali perubahan perilaku tetap ada di kawannya, bukan dia.

Ketika saya katakan bahwa yang dibutuhkan kawannya tersebut adalah perhatian (dimana dengan adanya masalah itu dia diperhatikan benar), maka pemecahan masalah curcolita ini bagi kawan saya ini adalah dia perlu belajar NDABLEG.

Alias masuk telinga kanan keluar telinga kiri kalau kawannya mulai curcol lagi. Ibarat sudah masuk tempat sampah, tapi kudu ingat tempat sampahnya harus dikosongkan juga.

Eh. Kecuali mau pulang ke rumah bawa-bawa sampah orang lain ya wkwk. Gimana coba, dianya yang lega, kitanya yang bau…🀣🀣

Temukan cara supaya nggak usah ketarik terlalu dalam, dibawa kepikiran dan migren. Anggap saja dengan mendengarkan masalah sudah bisa diselesaikan. Ya mau diapain lagi kan dikasih solusi juga nggak dijalankan…πŸ˜•

Pertanyaan kepada kawan saya yang berikutnya, apakah dia sanggup bila tipe ketiga ini datang lagi dan lagi…?

Karena bila dia tidak bisa pakai cara ndableg, niscaya dia yang akan tertekan, kemudian melanjutkan lagi rantai curcol karena ketiban masalah curcol (lama-lama mirip rantai makanan ya).

And the story continues…

Yang saya perhatikan, hal ini semakin banyak terjadi di dunia maya, terutama di media sosial. Makin tipis batas antara curcol di ruang pribadi dan di ruang publik.

Anak curcol tentang orang tuanya, orang tentang orang lain, dsb. Membuat kita begitu menutup medsos kepikiran ini-itu, bisa berkembang jadi emosi dan ikut sambat.

Kembali seperti siklus di atas, sebetulnya itu kan perkara orang lain lagi buang-buang sampah dan yang nangkap kita. Mereka jadi bersih, kitanya belepotan…πŸ˜… Ya nggak? Tolong koreksi bila saya salah…πŸ˜…

Pertanyaannya, apakah orang curcol di dunia maya tujuannya agar masalahnya terselesaikan?

Sama seperti kasus ketiga. Belum tentu…paling untuk melegakan ybs. saja. Atau di kasus paling ekstrim bisa sampai karena ada unsur balas dendam, emosional ala kamikaze. Ada juga, sih, curhatan yang sistematis, disengaja. Kedengarannya saja emosi, padahal penulisnya nyantai. Yang terakhir ini perkara lain, yaπŸ€”. Semacam aktor/aktris intelektual namanya.

Curhat perlu ditanggapi dengan santuy. Selain bisa cegah migren, ketika seseorang curcol tentang perilaku orang lain, yang kita lihat cuma sudut pandangnya, benar nggak sih?

Kita tidak bisa mendapatkan sudut pandang, hak jawab atau pembelaan diri orang yang dituduhkan melakukan ini itu. Makanya bila itu terjadi di dunia maya, rawan sekali kena UU ITE dan pasal pencemaran nama baik.

Sayangnya, yang biasa terjadi, netizen, sudah emosi duluan apalagi bila mengingat dulu pernah mengalami kejadian yang sama. Padahal kita belum melihat dari berbagai sisi.

Belajar dari berbagai hal diatas saya merasa penting sekali agar bisa membedakan hal-hal yang sederhana seperti apa hal yang bisa saya kendalikan dan apa yang diluar kendali saya.

Saya juga masih belajar mendengarkan untuk kesekian kalinya curcol dari orang-orang yang masalahnya itu-itu saja. Saya menawarkan telinga saya di luar yang sifatnya materiil.

Namun saya juga perlu memberikan warning di otak kanan saya…

Bahwa ini adalah hal di luar kendali saya mengubah mereka. Saya hanya bisa memberikan clue agar mereka bisa mengubah nasibnya sendiri.

Pelan-pelan.

Pelan-pelan….

Apakah kamu punya cerita juga?

Kamu biasa jadi tempat curhat atau yang suka curhat? πŸ˜„

===

Postingan ini terinspirasi dari tulisan mbak Rahma..

33 Comments

  1. Mau jungkir balik sampai koprol, kalau niatnya mau merubah orang lain, nggak bakalan pernah berhasil ya mba, hahaha. Tipe yang ketiga udah parah itu ya mba, sampai migraine mikirin masalah orang, iya sih orang kita sering banget merasa nggak enakan dan hal ini yang jadiin orang lain bebas masuk kehalaman rumah kita padahal kitanya udah nggak nyaman wkwk.

    Kalau aku tipe yang dicurhatin juga mba, kata mereka aku good listener, tapi nggak sampai tahap ketiga juga, mostly yang curhat sahabat dekat sih dan luckily mereka nggak dalam kasusu seperti yang diatas haha.

    Ngomongin ini kayaknya udah masuk ke topik Boundaries-nya Dr. Henry Cloud sama John Townsend deh kayaknya, di mana disana dia membahas menciptakan batasan-batasan yang orang lain boleh masuk dan enggak, being clear about your “yes” and your “no” gitu mba, cocok bangetlah sama masyarakat kita yang sering nggak enak sama orang lain dan mengabaikan diri sendiri, ya intinya gimana cara ndablek lah hahahaha, karena memang ada beberapa yang susah banget buat ndablek wkwk. Nice topik mbaa 😁😁

    • Haha…iya biasanya begitu mbak Sovia..

      Nah Phlegmatis juga kah? πŸ˜€ Untung masih dapat kasus curhat biasa, ya…. Ya berdoa saja, mbak jangan sampai ada tipe ketiga. Ih kayak orang ketiga saja hahaha

      Belum tahu topik Boundaries itu kayaknya menarik. Kapan-kapan cari ah πŸ˜€

      Hahaha memang susah mbak kalau diterapkan di masyarakat kita. Apalagi yang budayanya terkenal mbulet. Waduh musti main silent quizz deh XD

      Iya sayangi diri (dan keluarga) sendiri dulu. Kadang mikirin sampai akhirnya kebawa-bawa ke kehidupan pribadi. Ndablek kdg perlu.

      Makasih mbaak. Moga2 manfaat ya

  2. Cerita yang seperti itu.. buanyaakk Pheb.. maklum kayaknya di jidat saya dan istri di rumah tercap kata “SOK SIAL” (bukan sosial) hahahahaha… Karena saya dan dia termasuk yang menurut Phebie Phlegmatis.

    Entah kenapa kok orang betah banget curhat sama kita berdua. Memang bener sih, kami berdua biasanya rajin mendengarkan dan setelah itu disimpan saja tidak disiarkan lewat radio/Toa hahahaha..

    Cuma bener banget kalau ada ketiga tipe itu. Cuma kebanyakan yang kami hadapi sih yang, sedihya, nomor 3.. hadeuuhh…

    Capeekkkkk. hahahahahahahah

    Tapi, yo wis kami berdua terima nasib dah… hahahaha

    • Ada capnya di jidat ya mas πŸ˜… kok kayak the chosen one gitu..

      Oh mas Anton phlegmatis ya..biasanya kalau pasangan suami istri beda personality sih πŸ˜€

      Wah artinya banyak yang percaya pada mas Anton dan istri, bisa menyelesaikan masalah. Istimewa itu πŸ˜€

      Capek ya mas hadapi tipe 3 πŸ˜… ya bila sudah jenuh diberi tahu saja mas, maaf tutup praktek dulu..jangan lupa sering2 buang sampahnya kembali…spy tdk jd penyakit πŸ˜…πŸ˜…

      • Kami sama Pheb..si Yayang malah kadang orang tak dikenal ajah bisa tiba tiba curhat abis ngobrol bentar ma dia.. 🀣🀣🀣

        Makanya dia kusebut si cucakrawa…

        Alhamdulillah, kami berdua dikasih kepercayaan sama banyak orang..

        Ooh biasanya beda yah..Jadi kami termasuk pasangan “aneh” 🀣🀣🀣

        Yup..kami memang punya sistem sendiri tuk buang sampah curhatan orang lain.

        Hahahaha

  3. Saya tipe yang jadi tempat curhat tapi jarang curhat, mba. Untungnya saya belum pernah (seingat saya) ketemu orang tipe ketiga πŸ™ˆ

    Biasanya mayoritas yang curhat karena memang butuh masukan dari pihak netral terus mereka akan langsung bergerak, means bukan curhat untuk cari perhatian. Mungkin mereka berpikir nggak ada gunanya cari perhatian saya πŸ˜‚

    However, kalau saya ketemu sama tipe pencurhat ketiga, saya akan bicara dari awal dan seperti kata mba Sovia di atas, saya akan buat batasan. Mungkin saya akan to the point soal saran yang bisa saya kasih selebihnya dia yang menentukan bagaimana hidup dia mau berjalan 😁

    Jangan sampai yang dengar curhat justru jadi ikutan migren seperti pengalaman teman baik saya yang merasa overwhelmed karena terus menerus mendengarkan curhatan yang sama. Itu efeknya betul betul ke badan kata dia. Jadi capek rasanya. Padahal dia cuma jadi pendengar tapi bisa exhausted parah. Dia bilang seperti bicara sama tembok hehehehe. Dari situ saya belajar, segala sesuatu memang perlu untuk punya batasan. Bukan karena kita nggak care sama yang curhat. Obviously kita care makanya kita luangkan waktu untuk mendengarkan. Namun jangan sampai lupa kalau kesehatan mental kita perlu dijaga πŸ˜†

    Hehehehe. Sebetulnya curhat di sosmed nggak apa-apa. Cuma saya pribadi lebih suka membaca dan menanggapi curhatan teman di blog. Mungkin karena interaksinya by comments jadi tek toknya lebih ringkas, padat dan jelas. Tulis panjang lebar dalam satu komentar (nggak bertele-tele sampai puluhan atau ratusan chat). Terus masukan yang datang bisa dari banyak orang πŸ™ˆ

    • Hai mbak Eno. Jadi tempat curhat ya toss…Wah berdoa mbak jangan ketemu org ketiga πŸ˜…

      Senang kalau dapatnya curhater tipe dua ya..langsung bergerak selesaikan masalah jadi nggak berlarut-larut.

      Iya bener banget mbak. Biasanya saya juga nanya ke ybs. Singkat, semacam, “aku perlu tahu dulu, kamu lagi butuh curhat atau solusi?” πŸ˜€ Jadi tahu musti pasang mode bagaimana.

      Betul bahaya banget buat pendengar karena sifat curcolnya repetitif berulang. Itu bisa masuk ke bawah sadar yg dicurhati lho. Makanya bnyk yg exhausted atau terpengaruh..πŸ˜‘

      Selama curhat nggak membawa institusi/ org tertentu dg identitas jelas yg bisa dilacak orang, curhat di dunia maya mau medsos atau blog sih aman ya mbak. Sayangnya netizen kadang suka bablas.πŸ˜…

      Resikonya kena UU ITE atau pencemaran nama baik. Malah nambah masalah bukan? πŸ˜€

      • Kalau aku juga lebih sering jadi tempat curhat teman-teman tapi jarang curhat ke teman πŸ˜‚
        Dan teman-temanku yang sering curhat itu yang tipe ke3, ceritanya tentang orang itu lagi.. orang itu lagi.. dengan akar permasalahan yang sama tapi cerita yang berbeda. Tapi aku sih tetap mendengarkan aja karena seperti yang Kak Phebie bilang bahwa tipe orang yang ke3 ini adalah tipe yang lebih ingin didengar, jadi aku membalas sebisaku aja. Berusaha kasih masukan sesekali pas di akhir sesi, walaupun aku tahu nggak akan didengar juga sih πŸ˜‚ habis bingung juga mau tanggepin apa karena biasanya pada curhat di chat hahaha. Lalu.. kenapa aku jadi curhat di sini 🀣

        • Haha cerita tentang dia lagi dia lagi ya mbak Lia? πŸ˜… Kebayang deh lama2 malah kita yg sebel ke “dia”. Gara2 kamu sih jadi curhat terus kaaann..

          Ya nggak apa-apa mbak. Yang penting sudah mendengarkan, itu saja sdh selesaikan sekian puluh persen masalahnya loh πŸ˜ƒ masukan bonusnya..

          Nyantai mbak Lia. Anggap saja disini tempat khusus curhat bagi yg sering keterima curhatan πŸ˜‚ jarang ada kan..

  4. hallo mba phebie, sebenernya uda beberapa kali intip intip blog ini tapi kadang aku malu n sungkan mau ikut komen hihi, maklum soalnya aku minder kalau berhadapan ama blogger yang bahasanya intelek n pinter kayak mba ahahha,
    topiknya menarik mba phebie, aku jadi pengen cerita…saat kuliah salah satu sohib kentel aku orangnya mellowan banget mba dan dia kalau lagi naksir kakak kelas kami ya Alloh curcolnya mpe berdrama drama dan terus terang aku capek dengerinnya soalnya kakak kelas kami ga sambut cintanya dan diapun bertepuk sebelah tangan, lalu aku berhari2 harus menampung keluh kesah dan kegundahgulaannya yang sebenernya aku capekk hahahhahaha #maap jadi syurhad

    • Halo mbak Nita. 😳m-masa sih celamitan begini bahasa intelek #ditampolparasuhublogger 😫 Makasih mbak, jujur saya itu sangat kepo dengan mbak Nita yang berapa kali di mensyen teman2 blogger dengan kode oink oink. Penasaran apa sih kok tega2nya nama yang cantik dipanggil begitu..Ternyata maskotnya ya πŸ˜„
      Unik banget karakternya.πŸ˜ƒ

      Ih, iya itu ada periodenya tuh pas kawan dekat kita lagi ada gebetan. Pasti ceritanya seputar mereka terus, kalau jadian tenang deh kita. Kalau patah…ya plg lama sebulan dua bulanlah kitanya tahan nafas mendengar πŸ˜… Biasanya kalau sdh gak kuat saya estafet anaknya ke sohib lain yg sering jd bemper kl sy sdh bendera putih πŸ˜‚πŸ€£ …
      #Iya gpp mbak..

  5. Kalau aku sepertinya seimbang, jadi tempat curhat dan jadi orang yang curhat. Eh tapi emang iya, kalau dapat teman yang curhat soal itu-itu aja, rasanya ngebosenin dan ngeselin. Hehehe.

  6. Saya tipe yang mana ya? πŸ˜€

    Jujur, saya sejak kecil jarang punya teman, kebanyakan orang berteman sama saya karena ada butuhnya.
    Waktu kecil, bidang akademik saya masih terbilang bagus, jadi orang berteman dengan saya ya kalau bukan buat contekan PR atau semacamnya wakakakak.

    Setelah besar, yang menjadi daya tarik saya adalah, saya termasuk tipe pendengar yang baik, nggak pernah mendikte, tahan mendengarkan masalah orang beeerulaaaanggg kali dia curhat masalah yang sama.
    Alhasil, banyak orang yang suka berteman dengan saya karena butuh kuping saya doang πŸ˜€

    Banyak yang datang ke saya karena sedang galau, dan lupa saya saat senang, anehnya saya nggak merasa perlu dendam πŸ˜€

    Bahkan kakak saya sendiri, kalau dia berantem ama suaminya, bisa 4 jam tahu nggak saya kudu duduk mendengarkan curhatannya, dan sama sekali nggak mau nyela, nggak mau ngasih saran, kecuali dia minta, itupun saran saya yang menyenangkan hatinya, meski itu salah wakakakaka.

    I know dia sih, percuma kasih saran bener, aslinya dia juga tauk, hanya saja saat itu dia sedang kesal πŸ˜€

    Nah ternyata, apa yang saya lakukan itu, saya juga inginkan pada orang lain, dan selama ini, saya belom pernah nemuin kayak saya.
    That’s why saya lebih suka menulis ketimbang curhat.

    Karena dengan menulis, saya nggak akan didikte secara personal oleh pendengar saya.

    • Halo mbak Rey πŸ˜€

      Nggak enak ya. Biasa jadi pendengar tapi merasa tidak cukup didengarkan ..πŸ˜… . Kalau boleh tanya apakah mbak pernah berterus terang meminta kebutuhan untuk didengarkan saja kpd teman2 di dunia nyata?
      Mohon maaf kadang2 sering terjadi tuh teman malah tidak tahu ada kebutuhan itu pada tmn yg kelihatannya setrong..πŸ˜… dan tdk semua org mengerti bahasa gesture atau kode..

      Ya kita disini memang masih blm biasa jd pendengar aktif. Saya juga masih belajar kok. Namun saat mendengarkan org lain saya juga harus dlm kondisi prima dan netral . Apalagi bila sifat curhatannya repetitif…tdk semua org kuat mendengar tanpa emosi ikut terpengaruh. Nggak kebayang susahnya bagi yang belum paham/terbiasa, makanya org lebih pilih lari ke mode praktis yaitu menasehati

      Mbak merasa sering didikte oleh pendengar di dunia nyata ya.😯..karena itu lebih nyaman menulis di dunia maya…Ya nggak papa mbak..selama kita ngerti batasan2 dan juga paham resikonya..bagaimanapun dunia maya tetap dunia maya

  7. kalau kasus teman yang sering mampir ke kost dulu, krn butuh didengar aja sebenarnya, dikasih saran ya ndableg , ga diikutin, dia curhat masalah penghuni rumah yang dia tumpangi-tinggal di rumah saudaranya– ngeluh ini itu, saran ya pindah aja toh nge kost sendiri gitu, beres kan masalah, tapi ya ga dilakoni, katanya ga boleh lah sama ibu nya. Lah terus tiap weekend datang cuma curhat penghuni rumahnya, saya sampai hafal loh tokoh2 yang dia maksud, padahal ga ketemu langsung, minta masukan buat ngadepin si A, si B. Pokoknya hafal gitu, berujung cuma jadi pendengar lalu saya hibur, nah pernah juga mereka (ada dua) teman lama. kami beda kampus, dua2nya loh datengin ke kost, buat curhat, krn ada kelas, lah mereka sampai ikut ke kampus, nungguin. Ga terlalu ambil pusing, sampai skrg kan masih menerima DM-dm curhater di instagram, minta masukan ttg pernikahan yang sama, selebihnya ga terlalu peduli, ada kejadian yang akhirnya membuat saya repot sendiri krn ikut terlalu jauh nanganin problem salah satu teman. Berharap sebuah perubahan itu. hingga pada satu titik, curhat, dengerin, kasih saran udah. mau dia ikutin atau engga, skrg angkat tangan. Nah ‘sampah’ jadi kebawa2 kan ga enak.

    • Iya mbak Rahma. Bawa sampah orang lain nggak enak..πŸ˜… wah dengan banyak pengalaman seperti itu sebetulnya bisa dibuat skenario untuk sinetron stripping ya.

      Mbak Rahma mungkin perlu membuat batasan kalau akhirnya malah jadi kerepotan. Karena yg buat yg buang sampah kadang begitu. Habis buang nggak peduli kitanya migren2 atau bau. Yang penting dianya udah plong…sekali sih OK..kalau berulang kali? πŸ˜…πŸ˜…

  8. kalau saya sih termasuk orang yg curhat karena pgn cerita ajaaa,, pgn didenger aja, udah.. tanpa harus ada solusi dari yang dicurhatin.. itu masuk yg mana ya?? kalau dimasukin ke yg ketiga kayanya kurang pas juga sih ehehe.. tapii, itu dulu sih, jaman2 remaja sampai baru lulus kuliah waktu masih suka galau2 karena kisah percintaan wkwkwk.. kalau skrg mah rasanya udah jarang bgt berkeluh kesah πŸ˜€

    • Masuk yang suka curhat dong mas Bara πŸ˜… cuma nggak tahu masuk yg mana, harus dilihat apa mas curhatnya selalu tentang hal sama? πŸ˜„

      Haha nahlho….

      Ya masa remaja sih kita semua suka lebay ya 🀣 πŸ˜πŸ˜„

  9. Saya tipe jarang curhat dan… jarang dicurhatin juga :))

    Mungkin karena default tampang saya yang kalau ke tipe ketiga bisa kebaca “lo kalau cuma mau ngeluh, mending jauh2 dah… ga punya cukup energi positif nih gw, buat menetralkan energi negatif dari keluhan2 lo…” tutup muka sendiri karena kok ya dipikir2 kejam juga ^^”

    Eniwei, sebenarnya ga masalah kalau ada yang pengen curhat demi solusi. Yang buat ngeluh juga 1-2kali bisa lah dilayanin (kalau sempat). Tapi yang berkali-kali plus curhatannya sama terus itu lhoo…

    Bener kayak yang kata mba Phebie bilang, dia seperti cuma ingin buang sampah ke kita. Dia-nya lega, kita-nya yang ketiban baunya :))

    • Halo mbak Hicha

      Karena tampang ya..πŸ˜… haha memang sebetulnya bisa setel kenceng sih supaya bebas aman kalau dibutuhkan..

      Nggak seorangpun nyaman mbak berkali-kali…kecuali memang pakai argo tarif 🀣 alias konsultan. Soalnya drain out our energy.

      Itu juga saya tekankan berulang mbak soal kitanya kena bau. πŸ˜…Karena seringkali nggak sadar kalau lelahnya karena masalah org lain.πŸ™„πŸ˜…

  10. Jadi tempat curhat Mbak. Heran sayah 😬

    Uniknya yg sering saya temukan tipe ketiga πŸ˜… tipe dua jarang, tipe 1 lumayan. Kalau tipe tiga ini sih emang nanggapinnya mesti santuy. Dengerin aja. Kalau dibawa emosi bisa nimbun penyakit.
    Udah jadi tempat sampah, masa mesti kena sakit? kan gak asik πŸ˜…

  11. kalau aku jadi tempat curhat mbak. Mungkin tipe plegmatis juga. Karena kadang kalau pada curhat, aku sering kasih saran dan masukan. Kadang teknis juga kalau aku paham. Kadang pernah cuma dengerin aja. Biasanya aku pastikan dulu mau dikasih saran atau cuma didengerin aja.

    Tapi beberapa minggu terkahir sering berada di posisi dengerin curhat, dikasih saran. Terus malah disalahin atas apa yang dia lakukan di kemudian hari. Padahal situasi dan kondisinya sudah berbeda. Berusaha ngasih saran/masukan, eh malah disalahin dan dinyinyirin. Rasanya diam saja dan bilang kurang tahu menjadi pilihan yang baik ketika mendengarkan cerita orang-orang kayak gitu.
    pernah ketemu dengan orang tipe 3, ndak aku ga pernah ambil pusing atas masalah dia. Akhirnya cuma dengerin dia cerita aja.

    Aku kalau curhat hanya ke teman yang benar-benar aku percaya aja. tidak hanya dekat, tapi harus bisa dipercaya. Pernah cerita sesuatu, eh ceritanya malah sampai kemana-mana. ydh besok-besok ga cerita lagi..hahhahaha

    • Hi mas Rivai πŸ˜ƒ waduh waduh sudah curhatnya didengerin kok malah disalahin…

      Ada area2 tertentu yang saya berusaha agar make decision adalah orangnya sendiri.

      Soalnya ya itu nanti kalau disalahin berabe πŸ˜…. Jika orgnya sendiri yg milih kan aman yah..

      Haha iya pilih2 tempat curhat ya mas. Kecuali memang kita sengaja supaya tersebar…#biasanyaygmodus2 🀣

  12. Aku bukan tipe suka curhat :D. Kalo mendesak banget, biasanya ke suami yg paling aman :D.

    Tapi aku seriiiiing dijadikan tempat curhat Ama temen2 hahahahaha. GPP sih, Krn aku sendiri sadar diri mba, aku bukan pemberi nasihat yg bagus, cendrung emosional dan blak2 an advice yg aku ksh ke mereka, tapiiii aku suka dengerin temen2 kalo sdg curhat.

    Ada tipe org yg kalo dicurhatin org lain, pandangannya kayak ga fokus dengerin. Sambil main hp lah, mata lirik kanan kiri, kkliatan bgt ga nyaman dicurhatin.

    Tapi aku bisa fokus saat dengerin temen curhat, walo ga bisa ksh solusi bgs. Mungkin Krn itu sih mereka seneng cerita ke aku. Aku ambil kesimpulan mereka itu hanya mau didengerin :). Jd ga ada salahnya juga minjamin lengan untuk mereka senderan πŸ˜€

    • Waah iya memang ada yang begitu. Sambil dicurhatin sibuk lihat ke tempat lain. Biasanya cowok, sih….karena buat mereka nggak nyaman kalau sambil ngeliatin (kecuali yang ahli ya). Kalau cewek yang begitu artinya dia memang nggak serius hihihi….

      Curhat kebanyakan cuma mau didengerin sih, walau ada juga yang kemudian minta solusi…..

Leave a reply