Inner Voice

Setelah sekian waktu menekuni dunia fotografi dan bergaul dengan genks kawan-kawan fotografer, aku menyimpulkan bahwa pada dasarnya seorang fotografer itu memiliki dua karakter jelas : πŸ˜ƒ

Seseorang hunter/huntress alias pemburu.

Yaitu seorang fotografer yang lebih suka eksplor ke luar ruangan dan memfoto obyek seperti apa adanya, banyak main di teknis, kreativitas permainan angle, dsb. Kepuasan mereka dapat lucky snap itu besar banget. Mereka suka foto-foto yang natural.

Banyak di dominasi oleh kaum adam. Ya, maklum deh, karena cowok itu kan umumnya banyak yang nggak betahan mager di gua dan pada dasarnya suka berkeliaran. πŸ˜€

Seorang creator alias perencana

Fotografer yang sukanya foto-foto terkonsep. Biasanya mereka suka sekali berimajinasi hasil karyanya akan seperti apa, lalu membuat settingan sehingga semua terwujud. Biasa dimiliki orang-orang yang kreatif.

Kalau melihat kecenderungannya, sekarang banyak kaum hawa yang nyemplung disana, karena bisa dipraktekkan dimana saja, termasuk di rumah. Apalagi mereka termasuk tipe yang tekun dan attention to detail.

Btw. bukan berarti creator itu orangnya nggak ngelayapan ya. Kan banyak itu fotografi terkonsep di tanah landscape, biasanya kalau nggak menggunakan model, ya fotografi makro.

Tentu saja di dunia profesional, seorang fotografer harus bisa semuanya. Walaupun akhirnya dia mengambil spesialisasi.πŸ™„

Tetap, dari karakter foto yang dihasilkan, bisa ditebak-tebak tipislah seseorang itu bakat dan kecenderungannya dimana….

Pernah aku melihat seseorang yang keren abis saat bikin foto produk, tapi melihat foto model atau human interestnya, biasa-biasa saja. Enggak glowing gitu.

Begitupula sebaliknya, aku kenal seseorang yang memfoto modelnya sambil noleh-noleh, pakai satu tangan, mungkin sambil akrobat sekalipun, hasilnya tetap bikin ternganga #awas lalat. 😱Tapi kalau foto genre lain, ya bagus biasa saja.

Foto nggak pernah bohong. Mereka akan kelihatan glowing saat kita mengerjakannya dengan antusias. Because practice make perfect. Kita akan lebih sering mengerjakan yang kita suka ketimbang yang tidak, bukan?

Bagaimana denganku?

Sebetulnya aku lebih senang berburu, ya. Karena rasanya excited aja kalau menemukan obyek bagus. Bahkan salah satu cita-citaku adalah berburu foto singa, zebra, dkk, di Afrika (ampun deh, diaminin aja).😍😍

Saking kepinginnya sampai bikin lukisan sepenuh jiwa raga tentang itu, dong. Plis, jangan diketawain ya.πŸ˜‘

Padahal angkat lensa tele 600 mm saja rasanya aku udah semaput huhuhu. Gimana dong, pengin moto singa tapi nggak suka berat lensa tele.🀣

Seiring dengan berjalannya waktu, karena nggak nemu-nemu singa liar selain di kebun binatang πŸ˜‘, aku berburu obyek lain tipikal warga urban, human interest, gedung, dll.

Sampai akhirnya di masa-masa WFH- SFH (you name it), aku mencoba mendalami sisi creator yang lama sudah nggak dicolek-colek alias pernah dijalanin tapi seperti basa-basi doang.

Dari semua hasil, sedikit terkejut setelah mulai mengerti mana foto-fotoku yang terlihat glowing dan nggak. My strengths and my weaknesses.

Baru nyadar kenapa kalau memfoto suatu genre nggak pernah bisa bagus (menurut standarku), walaupun berlatih terus. 😩

Di luar soal teknis, mungkin karena hati fotografernya juga nggak disana. Membuat foto yang hidup, ibarat memberi sentuhan jiwa. Bagaimana bisa membuat sebuah foto jadi glowing, saat deep down inside we don’t even like it?

Dan temuan-temuan semacam itu seringkali nggak terduga. Kayak jodoh, gitu loh. Yang awalnya membayangkan orangnya saja kita sudah sebel, ternyata di masa depan dia bisa melengkapi kita.

Begitupula di kehidupan.

Kadang kita feel trapped di sebuah rutinitas yang dianggap baik buat kita, padahal bukan kita banget. Hanya terpengaruh oleh kiri-kanan. Kata orang. Atau mungkin karena suka imejnya.

Dan tiba-tiba KLIK menemukan apa yang selama ini kita mau.

Mungkin benar kata om Steve Jobs,

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice.

Syaratnya cuma satu, itu harus dicari.

Tentu saja aku nggak mendorong seseorang membuang begitu saja kehidupan sekarang demi passion, padahal sudah punya kehidupan mapan serta tanggungan.

Beda antara mencoba melarikan diri dari realita sehari-hari dan mengejar impian.

Karena banyak juga aku menemukan kasus rumah tangga yang jadi berantakan karena breadwinner dalam keluarga ambil keputusan drastis atau tiba-tiba ngilang.

Yang namanya mimpi, menurutku, tidak harus tumbuh besar saat itu juga, melainkan dipupuk pelan-pelan, di rawat, sampai tiba waktunya ia jadi besar.

So, first of all, we must find our own inner voice.

Ciri-cirinya, kita nggak ngelirik sana-sini lagi setelah ketemu “the one”. Alias bukan lagi jika tiba-tiba ketemu “mainan baru” langsung berubah. Model labil gitu, deh…

Untuk blogger, mungkin menemukan AHA moment sukanya nulis tentang apa kali, ya. Dan mengerti bagaimana cara menyampaikannya. πŸ˜ƒ

What’s your inner voice? Jadi apa passion kamu?

17 thoughts on “Inner Voice

  1. Sedihnya, aku hingga saat ini gak punya passion. Kalau musim mancing ya ikutan mancing, musim berkebun ya ikutan bikin taman segala, musim berburu monyet ikutan beli senapan angin, musim sepedaan ya ikutan.. Haduh labil banget

    1. Sudah dicari belum mas Layangseta, saat benar-benar sendirian? Coba tanyakan apa yang dg senang hati saya lakukan saat stress, saat banyak duit, saat bosan? πŸ˜„ Bahkan nggak bisa membayangkan hidup tanpanya. Lalu apakah org lain juga bisa mendapat manfaat darinya?

  2. Mba cakep amat foto bangunan dimalam harinya 😍 Saya paling susah foto malam, entah kenapa hasilnya pasti kalau nggak pecah macam ada bintik gitu, atau nggak…. biasanya blur, mba. Kenapa ya, apa karena auto? πŸ˜‚

    Menjawab pertanyaan mba soal inner voice, kayaknya jawaban saya adalah menulis, ini salah satu yang paling nyaman saya lakukan dalam keadaan apapun, hehehehe. Kalau fotografi suka juga sih, tapi karena nggak begitu jago, jadi lebih condong ke menulis. By the way, saya ikut mengaminkan mimpi mba Phebie foto-foto singa di Afrika, though itu seram bangatttt, tapi kalau jadi kenyataan, saya pasti akan menikmati foto-foto yang mba bagikan πŸ˜†

    Ohya lensa Tele itu yang warna abu-abu ada garis merah ya, mba? Yang macam pentungan? πŸ˜‚

    1. Kalau pakai mode auto, biasanya kamera akan otomatis menaikkan ISO Eno dan kalau ISO naik tinggi, kemungkinan hadirnya noise akan semakin besar juga. Bintik-bintik yang Eno lihat itu adalah noise dan memang efek dari penggunaan ISO yang tinggi di kala kurang cahaya dan biasa didapat kalau pakai mode auto.

      Cara untuk menghindarinya adalah memakai ISO rendah, dan pakai shutter speed lambat. Cuma resikonya, blur karena bukaan diafragma lama dan goncangan akan terekam.

      Mungkin bisa memakai tripod atau meletakkan kamera di atas sesuatu yang stabil dan tidak bergoyang. Kemudian menggunakan shutter speed lambat.

      1. Eh sudah di jawab πŸ˜… kamsia mas Anton.Ada pakarnya, nih 😁

        Saya terjemahkan ke bahasa umumnya mbak Eno, kalau pakai mode otomatis memang begitu.πŸ˜„

        Karena prinsip mode otomatis ituu si kamera “nggak mau penggunanya repot” jadi dalam kondisi cahaya kurang, ISO akan otomatis dinaikkan olehnya. Padahal ISO ketinggian = bintik2.

        Kalau mau foto malam yg jernih, momen cahaya yg masuk ke kamera hrs “diperbanyak” spt mas Anton sebut teknisnya diatas. Itu bisa lakukan dalam mode manual, supaya ISO nggak otomatis ketinggian.

        Sayangnya, semakin cahaya diperbanyak masuk, semakin kamera harus stabil, goyang dikiit saja gambar bisa blur.

        Solusinya, kamera enggak boleh dipegang tangan kita alias pakai tripod (atau ditaruh di obyek yg stabil).

        Er…Kecuali kita punya jurus tiang listrik bisa pegang kamera tanpa gerak. πŸ˜ƒπŸ˜„

        Amin doanya..trmksh…

        Tebull…lensa yang mirip bazooka mbak πŸ˜‚

        1. Foto dengan cahaya minim memang hal yang paling sulit dilakukan. Tapi sekarang hape sudah canggih-canggih. Ada mode yang bisa ngatasin low light biar bikin foto dalam keadaan minim cahaya itu jadi bagus.

          Saya suka dengan observer macam kak Phebie ini. Saya jadi tau dengan dua tipe fotografer itu, padahal kalo mau dipikir yah memang dekat dengan kita sendiri 😁

  3. Aku juga sering bingung teh pheb, masih mudah terbawa…
    Aku suka banget hunting, street photo, menangkap momen apa adanya, pokoknya yg teh pheb katakan itu bener semua. tap sejauh ini belum ada duitnya kalo dari itu.
    dan aku jg ternyata ga begitu menikmati photo session prewedding, tapi itu lebih karena blm bisa ngarahin pose, lebih sering bingungnya, ga tau kalo udah terbiasa mah.. tp so far, ga senikmat photo hunting. tap disini ada cuannya, hahaha…

    trus kalo foto semacam food photography jg ada enaknya jg, bisa mengatur benda mati, lebih mudah, tapi bener.. kudu kreatif dan aku kira aku masih blm sekreatif itu, hehe..

    Sekarang lagi penasaran banget sama foto dokumentasi gitu, kyk motretin pengrajin yang lagi membuat karya, prosesnya, orangnya, hasil karyanya, pgn banget suatu saat kolab sama pengrajin apaa gitu.. hope so.

    Oia, aku jg sempet kabita jadi wildlife photographer, tp dedikasi dan kesabarannya kudu extra extraaaa… satu momen terbaik bisa jadi didapatkan setelah beberapa hari nge-camp, karena harus ngikutin rutinitas alaminya si hewan yang mau dibidik jg kali yaa, jd bikin lama, mungkin bs jg cepet, tergantung keberuntungan.
    sempet kabita karena hasil fotonya keren keren gila, tp ragu bisa sededikasi itu πŸ˜€

    Semoga teh pheb bisa jadi wildlife photographer dengan lensa laras panjangnya itu

    Inner voice, i’m still working on it.

    1. Memang lebih cepat yg spt itu mas Ady, sekalian praktek belajar… tapi siapa bilang street photo nggak bisa dapat duit? Banyak kok yg cuannya dari sana spt Roe, Arbain Rambey, dsb..
      πŸ˜€

      Yg terakhir krn profesi jurnalis tapi yg lain dg foto-foto yg bagus didapuk jadi influencer L*ica. Sederetan lagi contoh lain biasanya mereka ngajar atau jadi EO event photo.πŸ™„

      Menarik, loh itu foto dokumentasi. πŸ˜€
      Why not?

      Hahaha nggaklah saya nggak mau jadi wildlife photographer.

      Cukup jadi turis yg foto2 singa liar saja.

      Dulu mikirnya itu kan keren aja hahaha. πŸ˜…(ini akibat keracunan NatGeoWild)

  4. Iyup banget deh.. enak dibacanya dan isinya juga bener banget.

    Kalau bandingin antara foto dan hasil art-nya, saya lebih suka foto-foto Phebie wakakakaka…

    Saya doain doa Phebie terkabul bisa berburu singa nantinya, mudah-mudahan bukan diburu singa juga… πŸ˜€

    Nice writing as always Pheb

    1. Makasih mas…haha art buat saya lebih banyak buat unsur therapy-nya…Kapan2 saya bikin tulisan soal itu πŸ˜€

      Amin lagi😁
      Ealah mas aman kok moto singa Afrika, biro perjalanan disana bnyk nawarin safari foto. Cuma ya telenya musti gede..

  5. hi mba. semoga kesampaian ya foto singanya. kalau afrika kejauhan bisa main ke raman safari aja dulu kali ya haha..

    hmm passion ya? passion sama sengan hobi gak sih? πŸ€” apa ya.. melakukan sesuatu yang kita sukai di waktu senggang. kalau untuk hobi saya suka baking, merajut, ngeblog (ini kalau gak mager aja sih dan ada bahan konten πŸ˜…), baca, dan foto-foto (iseng). nah karena saya melakukan sesuatu yang amat sangat disukai apa bisa di sebut passion?

    oiya mba phebie pakai kamera apa mba?

    saya sekedar foto2 pake kamera hp sih mba. lagi belajar foto landscape sama makanan nih. kata teman hasil foto saya kadang bagus kadang gak, sepertinya tergantung mood hehe

    1. Amin haha…taman safari saya tentu pernah tapi ya gak mau sering2 amat tar dikira penghuni 🀣

      Hobi bisa jadi passion yes..tapi kadang ada yg bukan hobi tapi krn memang sdh kebiasaan yg mengakar…πŸ™„ Passion itu nggak sekedar suka…ibaratnya kalau stress atau saat kita pensiun tetap ingin lakukan.

      Foto2 disini saya pakai sony seri a6000-an kaka.😁. Hayo semangat belajar fotonya lagi

  6. untuk fotografi saya memang lebih suka memotret yang sudah disediakan seperti landscape, nature atau bahkan gedung bertingkat. Kadang, saya suka memotret orang, detail fashion. Berhubung pandemi, saya mulai belajar memotret dalam rumah jadinya belajar foto produk. Nah, ini masih PR banget.

    Salam, kenal.

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: