Hey, Teachers…

Hey, Teachers…

Sebentar lagi hari guru. Di masa Pandemi ini guru banyak mengalami tantangan. Sama seperti profesi lainnya.

Bila kilas balik. Banyak sekali guru yang hadir dalam kehidupanku.

Tunggu, ini aku bicara tentang guru yang benar-benar manusia ya…bukan romantisasi bahwa kehidupan adalah guru yang terbesar. No, yang normal-normal saja.

Guru Yang Punya Mata Ketiga

Waktu aku kecil, guru yang cukup berkesan di sekolah dasar salah satu daerah di Indonesia, adalah guru bahasa. Orangnya sudah separuh baya, tidak semenonjol guru-guru lain, tapi yang paling dikenal adalah sikapnya kebapakan dan sangat penyabar. Serta tentu saja pelajarannya yang…mudah (dibanding matematika).

Suatu hari dia bertanya,

“Dengar-dengar kamu suka menulis ya? Kalau sudah besar mau jadi penulis?”

Di sekolah aku lumayan dikenal dengan beberapa keahlian. Namun hanya dia yang bicara begitu kepadaku. Membuatku bertahun-tahun kemudian selalu berpikir. Apa, iya, sih? Eh lhadalah sekarang ngeblog hwhwhwhh. Yang jelas, aku tidak pernah melupakan pertanyaannya itu.

Guru Yang Kharismatik, tapi….

Tidak semua guru yang berkesan itu menyenangkan. Ada yang (untuk ukuran jaman sekarang) abusif. Cuma dalam kasusku, orangnya begitu kharismatik sehingga bisa menutupi kekurangannya ini. Aku baru menyadarinya setelah dewasa.

Jadi ceritanya, di sebuah sekolah di daerah yang lain lagi, kelasku diajari oleh sebutlah guru H, mengajar Fisika. Dia terkenal karena sangat kharismatik, suka melontarkan gurauan dengan gaya sinis tapi kocak. Tidak ada yang jatuh mengantuk bila dia mengajar.

Tapi guru H ini tidak suka kalau ada anak yang nggak disiplin.

Ada satu kawanku perempuan, N, anaknya pinter banget. Saking pinternya suka nggak bisa diam. Karena kerjaannya cepat selesai, ia suka ngobrol kiri kanan.

Distrap ke depanpun, dia nggak bisa diam juga, masih ketawa-tawa.

Akhirnya guru H ini naik pitam. Di doronglah punggung si N ini ketembok. Nggak keras, tapi bikin dia (dan seluruh kelas) langsung sunyi senyap karena ketakutan.

Sampai saat semua orang lulus, guru H tetap menyandang gelar sebagai salah satu guru favorit. Tapi kejadian pendorongan itu adalah satu titik balik yang tidak bisa kuhilangkan dan diam-diam selalu kupertanyakan.

Guru Killer

Guru yang teringat itu juga tidak selalu guru yang disukai. Pernah alamin “anugerah” dapat guru killer yang dihindari banyak orang karena cara mengajarnya mirip tentara. Galak, disiplin, tanpa ampun. Gayanya juga mirip Jendral. Selalu bawa-bawa ajudan yang mengiringi di belakang.

Kalau dia mengajar satu kelas diam karena…..tegang. Auranya…

Konon dia juga punya” intel” diantara murid. Jadi kalau ada yang jelek-jelekin dia di belakang, itu orang langsung ditandain (ini kelas atau medan perang siiiih??).

Hanya mereka yang bernyali duduk di deretan paling depan, konon dia suka pada murid yang berada di posisi strategis itu. Aku kalau mengenang kelas itu suka ketawa geli. Lulus dari situ berasa lulus dari camp pelatihan tentara Amerika. Phew.

Guru Yang Jenius

Aku juga pernah diajar oleh guru yang cerdas banget. Tapi saking cerdasnya sepertinya hanya beliau sendiri dan rumus-rumus di papan tulis yang tahu persis apa yang dimaksud.

Kami, murid-muridnya, sudah terbiasa melihatnya datang, membuka buku, bicara sebentar nyaris tanpa melihat kami, lalu menulis rumus-rumus panjang di papan tulis sembari terus berbicara sambil mata tak lepas memandang papan. Mungkin hanya 5-10% dari waktu menulis itu, kami semua sempat ditatap!

Yang terjadi kemudian adalah… kami suka bisik-bisik ngobrol sendiri di belakangnya hihihi. Bagusnya beliau tidak marah dan mungkin juga tidak begitu peduli.Hahaha.

Guru dari berbagai suku bangsa…

Yang aku bicarakan sebelumnya adalah guru-guru orang Indonesia. Karena aku pernah ngalamin diajar juga oleh guru asing, ternyata banyak juga yang nggak kalah nyentrik!

Guru cowok keturunan Italia, mengajarkanku tentang ilmu komunikasi, aslinya adalah seorang jurnalis bekerja di beberapa stasiun TV. Selain orangnya cakep (mirip George Clooney muda), cara mengajarnya juga asli enak banget ; setengah jam teori, setengah jam nonton, setengah jam diskusi diselang-seling. Termasuk kelas favoritku. Di akhir kuliah dia cerita bagaimana ia sangat respek sama murid-murid Asia, yang katanya lebih sopan serta fokus daripada murid bule.

Guru cewek keturunan Yahudi. Orangnya sangat cerdas, kerja di berbagai media. Dia kasih kita case-case menarik yang di luar dugaan. Lalu minta kita intrepretasi. Dan dari dia ini pandanganku tentang berbagai aspek simbologi jadi terbuka lebar. Sangat berkesan sekali dan syukurlah aku benar-benar “dapet” ilmunya dari dia. Walau dalam waktu yang singkat.

Guru cewek asli Prancis, cara berpikirnya terstruktur sekali, tapi dari dia juga aku belajar tentang metodologi berpikir yang pas. Yang aku suka dia orangnya fair banget. Bisa habis mendamprat seseorang kalau dia salah. Tapi di luar tetap baik-baik sama orang itu seolah tadi nggak ada apa-apa. Lalu di hari lain bisa memuji habis-habisan. Sama seperti cara berpikirnya, kecerdasan emosionalnya juga tampak terstruktur dengan sangat baik.

Suatu hal bagus untuk dipelajari, karena seringkali sebagian besar dari kita kadang tidak bisa memisahkan antara kedua hal tersebut. Profesional dan personal.

Dari mereka, para guru dari bangsa asing tersebut, aku banyak belajar makna keilmuan yang berbeda. Bagaimana agar berani bersuara, sambil terbiasa menghargai kebebasan berpendapat dan pemikiran seseorang. Sesuatu yang sulit digantikan karena yeah..I learned the hard way, di sebuah negara yang warganya terkenal paling blak-blakan sedunia.

Guru Hari Ini

Sampai kapanpun, walaupun pernah merasakan mengajar, aku masih berpendapat paling enak itu memang jadi murid. Hahaha. Rasanya ilmu itu nggak ada habisnya.

Sekarangpun aku masih belajar berbagai ilmu dengan guru-guru dari berbagai latar belakang. Semua mumpuni di bidang masing-masing. Ada yang berasal dari suku Jawa, Aceh, Sunda, Cina, dan sebagainya. Terkadang dari luar negeri juga seperti dari Mesir dan Jepang.

Tentu saja tidak hanya manis. Sepanjang pengalamanku guru juga tidak ada yang sempurna. Adakalanya aku menemukan yang begitu kaku dengan aturan, sehingga lupa bagaimana jaman telah berubah. Sementara murid generasi milennial keatas memiliki kebutuhan tersendiri sesuai jamannya. Akhirnya banyak yang merasa tidak nyambung, diterima, dan diabaikan.

Hal semacam ini sering membuatku memikirkan kembali, apa sebetulnya esensi menjadi seorang guru?

Ya, guru juga manusia. Mereka bisa melakukan kesalahan yang manusiawi. Tentu dalam batas toleransi yang kita sama-sama sudah sepakat.

Bicara tentang toleransi…

Aku ingat, di sebuah kelas dengan materi psikologi yang kuikuti, guru pengajarku pernah berkata tajam kepada seorang murid (yang seorang guru juga).

Ceritanya murid itu berpendapat bahwa hukuman fisik pada murid ada yang masih bisa diterima.

Langsung ditanggapi sang pengajar dengan nada dingin,

“Sangat berbahaya sekali bila kata-kata itu keluar dari mulut seorang guru!”

Semua murid, yang rata-rata para profesional, terdiam. Suasana hening. Jantungku pun sempat terpacu kencang hingga kata-kata berikutnya keluar.

“Guru yang menggunakan kekerasan fisik adalah guru yang sudah putus asa!”

Dan aku selalu mengingat perkataannya itu. Saat berhadapan dengan setiap manusia cilik. Bahwa jauh didalam diri kita ada naluri pewarisan yang akan semakin kuat saat usia bertambah. Secara otomatis akan menjadikan kita semua, seorang guru.

Sebagai guru, satu hal yang perlu kita pegang adalah…never give up. Jangan menyerah pada emosimu. Selalu mencari cara untuk berkomunikasi yang efektif…

====

Kira-kira demikian pengalamanku dengan para guru. Itu hanya sebagian kecil, masih banyak pengalaman yang lain.

Sebagian besar dari mereka belum pernah kujumpai lagi, sebab terpisah oleh jarak dan umur. Karena saat dulu mengajarku ada yang telah berusia tua, sehingga sekarang sudah tidak ada lagi di dunia.

Bagiku, para guru itu, datang dan pergi seperti angin yang berhembus di tengah putaran waktu, setelah menyebarkan benih ilmu. Mereka akan bisa hidup kembali dalam kenangan murid-murid, yang sesekali menyempatkan waktu untuk mengingat, dalam kehidupan di masa depan mereka yang sibuk.

======

Bagaimana denganmu apakah kamu memiliki pengalaman berkesan dengan guru-guru dalam hidupmu?