Harapan

Membuka kembali lembaran jurnal-jurnalku di awal tahun, aku ternyata menuliskan ini di permulaan tahun 2020 :

“Selamat Tahun Baru 2020!

Awal tahun baru di Jakarta dan sekitarnya ditandai dengan hujan tak henti-henti dan….banjir.

Aku bertanya-tanya, kenapa ya malam tahun baru selalu hujan? Apa diantara yang merayakan adakah yang menari Hiawatha mengundang hujan…..

Yang jelas, tidak bisa gembira sepenuhnya karena harus waspada selalu.

Manusia semakin banyak. Itu tidak bisa dipungkiri…

Bertambahnya manusia berarti bertambah kebutuhan sandang, pangan, papan. Terutama tempat tinggal. Akhirnya mulai mengurangi keseimbangan dalam ekosistem, mendesak makhluk hidup lain, membangun tanpa memperhatikan keselarasannya dengan alam.

Tempat yang awalnya rimbun berubah jadi bangunan.

Akhirnya alam pun mulai melakukan seleksi. Ada banjir, penyakit, dsb.

Penyakit?

Betul, di jaman modern ini semakin banyak makanan tidak sehat, hasil modifikasi genetik demi memenuhi kebutuhan pangan, binatang ternak semakin banyak. Padahal makanan hasil rekayasa genetika tidak sebaik makanan berbahan alami dan kotoran hewan seperti sapi termasuk penyumbang gas metan terbesar.

Aku dahulu pernah tinggal di daerah Kalimantan dan sangat terkesan dengan kearifan lokal penduduk asli yang masih memegang tradisi. Mereka itu sangat menghormati alam, bahkan memiliki ritual-ritual yang mengisyaratkan bagaimana kita, manusia seharusnya hidup bersama sesama penghuni bumi. Jangankan menebang pohon sembarangan, ya!

Mereka bilang penduduk asli itu sulit dan malas. Makanya tidak bisa kaya. Mereka tidak paham sudut pandang penduduk asli, yang sudah berabad-abad menghuni tempat itu. Di daerah yang kaya sumber alam ini mereka sudah mengembangkan tingkat spiritualitas yang tinggi : manusia hidup akhirnya untuk apa dan akan kemana. Sebetulnya dalam hidup tidak banyak yang kita butuhkan

Tapi ada manusia yang selalu ingin lebih dan lebih. Seringkali berbenturan keras dengan filosofi keselarasan yang dianut diatas.

Keserakahan, dalam sejarahnya, hanya akan mengundang bencana bagi sesama manusia dan makhluk hidup lain.

Kita lihat tahun 2019 dari bencana karhutla, banyaknya ular beracun yang memasuki hunian manusia, dsb. Kita bisa menarik ke belakang apa sebabnya.

Selama masih ada keserakahan manusia, akan selalu ada bencana. Leluhur dari para penduduk asli sudah memahami itu sejak ribuan tahun. Tidak hanya suku di Indonesia begitupula suku Indian di Amerika.

Sayangnya kita jarang menghargai sejarah dan mempertahankan kearifan lokal- apalagi bila itu tidak menguntungkan.

Selalu fokus pada bagaimana agar lebih makmur, lebih kuat, dan lebih kaya. Terus seperti itu. Sampai akhirnya mengorbankan sesama penghuni bumi.

Semoga tahun 2020 bisa lebih banyak introspeksi. Nggak perlu terus menyalahkan siapa-siapa. Toh, hidup kita tidak tergantung kepada satu dua orang. Sampai kapan hidup dengan selalu menyalahkan seluruh dunia?Waktu kita keburu habis…

Menurutku lebih baik mengutamakan dulu hal tersulit, perbaiki diri dan wariskan perilaku yang baik kepada anak cucu. Karena yang merusak pelan-pelan akan menua dan tiada, tapi yang muda masih luas masa depannya.

Ini lebih banyak ditujukan buat diriku, sih. Belajar hidup seimbang dan tidak berlebihan.

Semoga tercapai semua target kita di tahun 2020.”

====

Apakah itu terdengar seperti sebuah ramalan?

Aku tidak terlalu ingin tahu..tapi…

Siapa nyana..

Pandemi merebak di tahun ini. Dan awalnya.. begitu mencekam! Sekarang kita pun masih terpaksa hidup “berdampingan” dengannya.

Memikirkan semua itu..aku hanya bisa menghela nafas panjang. Dan mencoba menghitung ulang hal-hal yang membuatku bersyukur.

Awal 2021, aku mungkin akan menulis harapan-harapan itu kembali.

Namun berusaha tidak terdengar terlalu indigo agar hilang kesempatan untuk mencoba memakai ilmu cocokologi..😑

Masa depan lebih baik tidak ada yang tahu. Agar manusia selalu punya harapan.

Bagaimana denganmu? Apa harapanmu di tahun 2021?

10 Comments

  1. Hola mba Phebie 😍

    Saya langsung terbengong baca kalimat, “Hasil banyak makanan tidak sehat hasil modifikasi genetik.” 😱 Mendadak teringat Corona, yang mana memang karena kebiasaan related to makanan. Woaaaah! Mba Phebie jangan-jangan cenayang, bisa lihat masa depan. Kira-kira tahun 2021 akan ada apa mba? 🙈 Semoga kehidupan kita semua akan kembali normal, nggak perlu sampai harus ‘merayakan ultah’ Corona yang ke dua 😓

    Happy (soon) holiday ya mba Phebie, stay safe and healthy! 💕

    • Hola mba Eno,

      Bisa jadi cenayang atau…kebanyakan nonton film dokumenter..yes…XD

      Hmmm…2021 yang saya lihat awal bulan Januari bakal hujan deras mba digetok itu mah obvious

      Iya semoga 2021 perlahan mulai normal, nggak bisa cepat tapi setidaknya sudah bisa menyesuaikan.

      Happy Holiday juga mba Eno :))

  2. Harapanku di 2021?

    Hmmm…

    Sudah beberapa tahun terakhir ini ga bikin resolusi karena ga pernah terpenuhi.
    tapi lambat laun aku memahami kalo resolusi atau harapan itu harusnya ditindaklanjuti menjadi rencana-rencana yang jelas dan harus direalisasikan.

    Aku juga memahami kalo rencana itu dibuat agar hidup lebih terarah, setidaknya jadi tahu setahun kedepan akan dibawa kemana. ga cuma menjalani hari demi hari begitu saja.

    Tapi ya gitu.. hmm..

    oke deh, 2021 ini aku harus bisa memulai berusaha merealisasikan rencana-rencana yg lahir dari harapan di awal.

    🙂

    • Iya benar banget. Bikin aja mas Ady, enggak ada ruginya juga kok. Justru bisa jadi clue kalau kita tujuannya mau kemana. Kalau tujuannya sudah ketemu step-step kesana bisa diakali.. 😀

      Semoga rencana-rencana yang terbaik bisa dilancarkan ya…:)

  3. Benar seperti ramalan 😂 apakah Kak Phebie punya indera keenam? 😱

    Harapanku yang paling utama untuk tahun depan adalah agar pandemi bisa segera pergi sehingga kita bisa berpergian dengan leluasa seperti sediakala. Amiiin.

  4. rekayasa genetika sebenarnya tidak selalu buruk. misalnya jambu tanpa biji, pisang salah satu merek terkenal di Indonesia, anggur tanpa biji, hingga hewan ternak yang selalu sehat dan kebal penyakit, semua adalah hasil rekayasa genetika.. jadi, lebih ke “memperbaiki kualitas”, sih.. tapi ya, selalu ada plus-minusnya. tinggal gimana kita bisa mengambil plus-nya dan menghindari minus-nya.. 😆

    ada yang bilang, kata adalah doa, dan harapan bisa jadi kenyataan. makanya aku selalu berharap yang baik-baik. tapi tetap mempersiapkan yang buruk-buruk.. 😆

    semoga tahun depan, makin membaik..

    • Rekayasa genetika yang saya sebut disini porsinya lebih besar bertujuan pada kuantitas bukan kualitas, sih mas Zam. Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan sejuta umat.

      Efeknya menimbulkan penyakit2 degeneratif…di belahan dunia lain ramai dibahas sehingga terjadi gerakan macam clean eating, raw food, dsb..Bahkan hewan yg diberi mkn tdk alami lbh banyak punya masalah kesehatan..

      Rekayasa genetika tdk buruk, tapi kembali pada tujuannya. Tdk untuk keuntungan semata. Dan harus disikapi dg hati2..

      Setuju kata-kata dalam bentuk sugesti bisa jadi doa. Tapi tidak semua doa dikabulkan lho mas. Ada syarat2nya yg ketat. Kalau iya semua org di dunia bisa jadi cenayang 😁

      Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini.😀

  5. 2021, nggak banyak-banyak, cuma mau kembali ke bangku sekolah. Aku rasa gap year selama satu tahun sudah cukup mengetahui apa yang aku mau. Wk. Meski belum terlalu kenal sama diri sendiri (yang ini long life learner) tapi aku sudah rindu dengan sekolah. Meski kadang juga suka misuh setiap ada tugas, but! Yahhh, I really miss all of them. Doakan ya kak, eheheh!

    • Sedang ambil gap year ya mbak Syifana, itu terkadang perlu. Di Barat yang ambil gap year suka keliling dunia. Lebih baik hati-hati dalam melangkah ya…
      Amiin semoga bisa semangat sekolah lagi dan yakin di jalan yang ditempuh. :))

Leave a reply (akan di moderasi dulu) 😇