Gen Z, K-Popers, dan Aksi Protes

Gen Z, K-Popers, dan Aksi Protes

Belakangan ini lini masa penuh dengan berita tentang aksi protes yang terjadi berbagai kota.

Karena sudah banyak yang bahas, saya fokus saja ke sebuah fenomena menarik. Bagaimana Fans K-Pop ada di garis depan protes terhadap UU Cipta Kerja.

Tentang kronologinya, bisa dibaca di Vice.

Reaksi banyak orang pun,

image : HIMYM

Masyarakat seringkali menganggap bahwa fans K-Pop terdiri dari anak muda yang (mohon maaf) dianggap alay, dengan pemujaan berlebihan kepada idol Korea.

Kok, bisa-bisanya sampai aware dengan UU-yang saking berjilid-jilidnya sampai banyak yang menyerang balik,

“Udah baca belum?”

Ternyata sodara-sodara, di circle fans tersebut sudah ada penjelasan lengkap yang di summary dengan sangat sistematis.

Tapi memang kekuatan K-Pop-ers di media sosial enggak main-main. Tidak sedikit yang kena dampak enggak enak, (misal ada yang kecolek dikit bisa runyam). Mereka punya power luar biasa.

Namun di balik itu juga memiliki awareness cukup tinggi tentang banyak hal. Saya sudah berapa kali melihat berbagai tagar berbau kemanusiaan dan protes sosial yang dinaikkan oleh K-Popers.

Tidak heran. K-Popers mewakili Gen Z (generasi yang lahir 1995-2009).

Wait…beneran K-Popers tuh? Atau jangan-jangan buzzer?

Ismail Fahmi, data analyst dari Drone Emprit yang kerjanya biasa menganalisa masalah buzzing di media sosial mengatakan :

“Ava bisa ditipu. Tapi networking di SNA (social network) tidak bisa ditipu. Pura2 jadi k-popers, jika tidak benar2 engage dengan kawan2 k-popers betulan, maka networknya akan nyempil sendiri, ngerumpi, keluar dari jaringan kpop.”

Bukan hal baru, kekuatan massa K-Pop-ers, bahkan sekelas Donald Trump saja pernah marah-marah gara-gara proyeknya terganggu.

Ngeliat sisi positif saja. Kalau kekuatan K-Popers dipakai untuk isu-isu yang membutuhkan perhatian, rasanya seperti menyaksikan tangan tidak terlihat mencoba memberikan keseimbangan baru. Di dunia yang mulai jauh dari ideal.

Saya punya kenalan yang jujur saja, benci banget sama K-Pop. Awalnya saya memahami alasannya, mungkin berhubungan dengan gaya berpakaian beberapa idol wanita atau cowok yang dandan.

Tapi saya juga mikir,

“Masa sih nggak ada yang positif sama sekali?”

Karena kalau nggak ada yang positif, pasti mereka juga bakal ninggalin. Gen Z itu sangat kritis.

Menurut saya, setiap orang akan memiliki momennya sendiri, momen untuk terpesona dengan segala bentuk keindahan, momen untuk belajar tentang bagaimana harusnya hidup itu berjalan, dan momen untuk melihat dunia seperti apa adanya. Yang terpenting : bagaimana cara menyikapi yang terakhir itu.

Menolak anak muda untuk ikut merasakan momen semacam itu adalah kesalahan besar. Karena di saat inilah semua merasa bisa berperan, senasib, dan memiliki arti. Belajar mengambil keputusan sangat besar saat menghadapi realita hidup, yang kadang nggak semanis di film Hollywood atau mungkin…drakor.

Bahwa kebaikan tidak selalu menang melawan keburukan.

Tapi kebaikan tetap harus ada dan diusahakan.

====

Seseorang yang saya kenal sedang ditekan karena berusaha membela apa yang dianggapnya baik. Dia curhat,

” Saya capek ngadepin kasus ini. Kayaknya nggak bisa menang. Lama-lama pengin saya tinggalin saja.”

“Memang yang baik di dunia akan selalu menang?”

“….”

“Nggak”

Ya memang hidup itu gitu. Di dunia fana ini, mungkin kebaikan lebih banyak yang kalah daripada yang menang.

Ada saatnya kita tidak bisa overthinking mau menang atau kalah saat berbuat baik. Lakukan saja yang bisa dilakukan. Sesuai nurani, sesuai porsi kita. Karena bisa jadi datangnya bencana itu karena kebaikan benar-benar kalah. Artinya keburukan sudah terlalu banyak.

Yang paling penting, saat bencana itu terjadi, jangan sampai kita tengah berpihak pada keburukan.

Kabut asap, lumpur panas, pencemaran limbah pabrik…

====

Kemarin demo yang terjadi cukup besar dan sulit dikendalikan. Berbeda dengan setahun lalu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, kala semua orang muda mulai menua, bahkan mungkin menduduki berbagai posisi strategis, apa yang akan diingat akan hari-hari ini?

Bagaimana caranya agar semua orang bisa mengambil hikmah atas apa yang pernah disaksikan dan dilakukan bersama-sama? Mengingat ironi bahwa orang-orang yang diprotes pun pernah ada di posisi anak-anak muda yang turun ke jalan.

Mungkinkah ada diantara mereka yang kemudian akan terpaku,

“Why do the idealism of our youth fade?”

Saya tidak tahu.

Banyak jalan terjal yang manusia pilih demi untuk dikenang, seiring dengan bertambahnya usia.

Bagaimana cepat waktu berjalan.

Hingga tiba saatnya, suatu hari kita menyadari..

..how beautiful it is to be young…

Gambar fitur : filmdaily.co