Gear Acquisition Syndrome

Tema fotografi is back.

Kali ini kita bicara soal G.A.S. alias Gear Acquisition Syndrome yang kerap hinggapi professional atau pehobi fotografi.

Gampangnya itu adalah keinginan untuk ganti peralatan/gear saat muncul yang paling/lebih bagus dari yang dimiliki.

Misal, saat jaman kamera DSLR, kamera film diganti. Saat jaman kamera mirrorless, kamera DSLR ditukar. Punya kamera tipe Mark III, saat ada Mark IV, langsung dijual untuk tukar tambah.

Tapi sebetulnya bukan masalah gear saja. Setiap genre fotografi punya godaannya sendiri-sendiri, yang tidak jarang harus merogoh kocek.

Anak-anak landscape, harus punya modal untuk jalan-jalan. Untuk gear sedia filter, tripod, dan lensa wide/tele.

Anak-anak genre model, perlu kuat untuk bayar model (atau rogoh kocek buat ikut event). Masukkan juga gear seperti lensa tele, flash, lighting, strobist, sewa studio atau lokasi tempat.

Anak-anak macro, perlu keluar hunting keluar berburu serangga dan siap berbecyek becyek. Bila serius keluar modal juga untuk beli hewan langka/peliharaan, sampai punya kebun eksperimen sendiri. Belum modal lensa macro/tube/diopter. Lighting juga kalau eksplorasinya di studio.

Paling enak anak-anak still life dan food dong? Kan tinggal manfaatin barang-barang yang ada? Wkwk. Kenyataannya banyak yang harus pakai kaca mata kuda “ngerem” kenceng setiap melihat tawaran props lucu-lucu yang potensial bertebaran di pasar! Belum termasuk lensa 50mm, macro, tripod, lighting studio, strobist, dkk.

Intinya adalah, kalau mau dianggap bisnis, apalagi hobi, kena G.A.S. itu alamat merugi. Karena selalu kena rugi jual, jangan lupa depresiasi peralatan, yang perlu diperhitungkan setiap tahun.

Paling aman, kita pilih gear yang mampu bertahan 5-10 tahun ke depan, stuck with it, baru jual setelah ada kebutuhan atau ingin menghindari kedaluarsa.

Gear bandel dengan nilai jual stabil seperti itu jumlahnya sedikit dan harus dipilih dengan hati-hati. Bahkan ada mereka yang sabar melihat reaksi pasar dulu serta pemakai setelah setahun-dua tahun sejak pertama produk ybs. rilis. Tidak begitu saja sikat kanan beli saat launching.

Paling baik fotografer berinvestasi lebih banyak pada barang-barang yang non elektronik. Seperti lensa, filter, tripod, dsb.

Lebih bagus lagi jika seseorang sudah dari awal tahu genre yang memang ingin didalami. Itu akan membuatnya lebih fokus memilih gear yang paling esensial.

Sadari juga bila suatu waktu diri tercetus ingin G.A.S. Tanya dulu pada diri sendiri, sebetulnya saya ini butuh atau kepingin saja?

Bila ada jasa sewa kamera/lensa…lebih baik dimanfaatkan (paling mujur : pinjem teman 🤣). Karena bisa jadi setelah mencoba sendiri, gear tersebut ternyata tidak cocok untuk kita.

Fenomena G.A.S. berlaku juga untuk segala macam produk keseharian terutama elektronik. Sebut saja smartphone, komputer, laptop, robot, dsb.

Tentu kita familiar dengan iklan-iklan produk yang futuristik kerap muncul saat browsing atau menatap layar bukan?

Pernah, nggak sih kepikiran kenapa rentang usia produk elektronik itu selalu singkat banget, belum setahun eh sudah muncul versi baru lagi. Bahkan ada yang rentangnya cuma 8 bulan saja. Kenapa mereka nggak istirahat dulu dari inovasi barang lima tahun, gitu..??

Take a guess..😶

====

Apakah kamu pernah kena G.A.S. dalam bentuk yang berbeda (bukan fotografi), karena ingin selalu mendapat alat-alat terbaru yang lebih baik?

8 Comments

  1. Sesungguhnya, aku termasuk orang yg mudah kena G.A.S ini karena memang aku suka dengan hal-hal baru dan kemajuan teknologi.
    kalo bicara kamera, kalo bisa ya selalu memiliki kamera teknologi terbaru tiap rentang 5 tahunan, KALAU BISA. tapi nyatanya ga pernah bisa, aku aja ini punya 500d sejak awal ampe sekarang ga pernah beli baru karena emang ga pernah kekumpul uangnya, kyknya udah lebih dari 8 tahun deh punya kamera itu.begitupun dengan lensanya,

    Tapi aku ga se-desperate itu, karena memang sebagai pehobi, pake aja apa yg dipunya, toh kyknya masih cukup memenuhi sih, yg penting bisa motret.
    tapi ketika ada yg minta difotoin (ada duitnya), akupun ingin memberikan hasil yang lebih baik, portfolio jg sih, makanya solusinya adalah sewa aja.

    Begitupun dengan gadget seperti smartphone atau laptop.
    sesungguhnya aku sangat menyukai produk apple, pengen rasanya punya iphone atau macbook atau iPad. tapi mungkin karena aku sudah ‘terlatih’ untuk ga pernah mendapatkan apa yang kuinginkan, ya.. ujung-ujungnya cuma menikmati tech review dari youtube, setidaknya meskipun aku ga punya, tapi aku tetap tahu fitur terbarunya udah bisa apa aja.

    in life, sometimes you just can’t get everything you want. yaa kalo ada rejekinya kebeli, disyukuri. Engga juga ga apa-apa. pake aja yg dipunya, manfaatkan yg ada.

  2. Hola mba Phebie 😍

    Kalau saya, termasuk yang nggak begitu mengikuti perkembangan teknologi, beli karena memang butuh jadinya. Ini Iphone saja sudah keluar sampai versi 12, tapi yang saya pakai masih yang X 😂 Mungkin baru ganti jika yang saya pakai sudah sekarat, atau rusak. So far masih oke jadi disayang-sayang wehehehe.

    Dan kamera, saya tuuuh sebenarnya interest, tapi nggak paham. Jadi nggak pernah beli gear-nya. Waktu itu beli DSLR dan mirrorless hasil rekomendasi abang penjualnya 😂 Abangnya bilang yang merk ini bagus, yasudah saya beli, dan sudah dapat satu set sama lensa. Jadi saya nggak beli lensa lagi. Saya bingung soal lensa itu, yang wide, tele, gitu gitu, sering baca bahasan orang tapi nggak paham 🙈 Jadi pakai yang ada saja sekarang 😅

    • Haha Iphone saya jaman kuda banget mba, beli saat harganya sudah sama dengan ponsel Cina XD. Biarin deh soalnya paling dipakai fungsinya yang itu-itu lagi.

      Oh, beli sepaket sama lensa ya mbak. Namanya lensa kit. Biasanya sih, itu sudah memadai karena rangenya standar nggak wide banget, normal, dan sedikit tele..:D
      Pakai kamera apa mba Eno, ngomong-ngomong?

  3. Mampir cuma mau bilang “SETUJUUU”.. dah gitu ajah..

    Maaf komentarnya nggak bermutu.. hahaha.. efek kebanyakan makan selama tahun baru..

    Happy New Year Pheb.. wish you the best in the new year 2021

  4. Sindrom ini cukup universal. Saya pikir, semua orang yang baru mau nyemplung dan belajar akan kena juga sindrom ini. Mau ngeblog, harus laptop bagus, harus template keren, harus pake TLD, dan sebagainya. Saya juga mengalami fase itu.

    Semakin ke sini, semakin berpikir untuk memaksimalkan hal yang saya punya. Dulu, pas belum ganti laptop niatnya mau rajin edit video. Sekarang sudah punya gear malah banyak alasan. Aduh, kayaknya saha mesti menghindari sifat pengeluh ini 😅

Leave a reply (akan di moderasi dulu) 😇