human interest landscape

Fotografi Terapi Bagi Perfeksionis

Mari kita kembali bicara tentang fotografi sebagai salah satu bentuk terapi, yaitu bagi perfeksionis. Ciri perfeksionis, segala detail perencanaan sampai dipikirkan. Bahkan dari jauh hari. Kalau ada yang belok sedikit langsung resah gelisah, atau intinya timbul berbagai anxiety.

Dahulu, saya ada kecenderungan kesana. Saat memfoto yang berhubungan dengan still life atau product photography, bisa sampai berulang-ulang bahkan mengedit hingga bergadang. Akhirnya capek sendiri, deh. πŸ˜– Kalau sudah capek duh emosi mudah timbul.

Ketertarikan saya untuk meningkatkan kemampuan spasial cukup besar, jadi saat ketemu obyek yang berhubungan dengan arsitektur, ruang, dan tema-tema minimalis…bisa berjam-jam betah mencari-cari pattern yang unik.πŸ˜‘

Memang begitulah cara berpikir tertata dan terpola. Sayangnya di taraf yang lebay, bisa jatuh jadi perfeksionis dan idealis. Dan banyak sekali perfeksionis yang mengalami anxiety. Apalagi di masa pandemi begini, di mana segala sesuatunya jatuh chaos. Kalau kitanya sendiri nggak nyadar dan tahu cara mengendalikan diri, bisa runyam. Padahal nggak ada namanya kesempurnaan.πŸ™„

Bagusnya, jika kita punya deadline, kalau harus stop, stop semua. Mau hasilnya bagaimana juga.

Di taraf ekstrim, anxiety yang hadir bisa terasa mengganggu sekali dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana, dong, fotografi terapinya?

Kuncinya di pemilihan obyek

Saat melakukan fotografi sebagai sarana rekreasi, saya menghindari segala obyek yang sifatnya tertata. Yes, termasuk memfoto minimalis (hiks hiks hiks).

Saya perlu banyak memfoto segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidak teraturan. Seperti cahaya, pohon, angin, hujan, bahkan mungkin badai tornado (ini sih lebay lagi).πŸ€ͺ

Awal-awalnya, memang seorang yang suka menata seperti saya akan membayangkan semua itu dengan penuh kengerian!😱

Ya, bagi para perencana dan orang yang menyenangi hal terkendali, kondisi berantakan dan morat-marit itu seperti menyaksikan salah satu bentuk film horor!😨

Namun setelah dicoba, well, it’s not that bad….πŸ™„

Saya merasakan kenyamanan dan semangat baru. Perasaan anxiety…perlahan-lahan hilang.

Jadi bertanya-tanya…

Saat melakukan kegiatan foto untuk menyenangkan diri sendiri, sebetulnya kita itu memfoto untuk apa, sih? Apakah untuk mendapat banyaknya likes di medsos? Memenangkan lomba? Dapat proyek? Dipuja-puji banyak orang?

Target seperti itu tentu membuat kita memiliki standar, tapi seringkali malah lupa niatan awal…yaitu bikin hati senang. Saat merasa sesuatu harus sempurna, disitu kebahagiaan kita mulai berkurang!

Cobalah nekad asal-asalan jepret, sebodo amat orang mau komentar apa. Ngelikes, ya syukur, nggak ya, ok ok aja.

Mohon maaf, bila karyaku tidak membuatmu senang, tapi saat memfoto ini akunya ‘kan jadi happy? Itu jauh lebih penting.😊☺

Dengan begitu, nggak musti mikir apakah ini harus di edit sampai bagus banget, harus miring kanan kiri, sampai berpose aneh demi mendapatkan angle pas. Memfoto dengan pikiran seperti itu..it’s quite fun, right?

Itu arti fotografi sebagai terapi.

Sebab kita mungkin pernah mengalami fotografi sebagai bentuk kompetisi. Yang bikin lirik-lirikan kiri kanan dan kepikiran, duh kenapa yang lain fotonya bagus-bagus sihhh? Lalu kalau ada yang tiba-tiba suka fotografi juga di genre yang sama dan fotonya lebih bagus, langsung dianggap sebagai kompetitor. Tiba-tiba minder karena gearnya kurang canggih.πŸ˜‘

Sebagai terapi, tujuan memfoto cuma bersih-bersih dari perasaan-perasaan negatif. Kalau bisa menghasilkan sebuah katarsis, yang terjadi saat tiba-tiba merasa lega luar biasa dan dialiri banyak energi positif.πŸ˜€ Jadi bukan setelah selesai malah jadi banyak energi negatif, capek, merasa kurang puas dan gagal, gitu.πŸ˜–

Dengan catatan bahwa tidak di atur gayanya atau sudah disiapkan macam-macam (alias natural saja), inilah genre fotografi yang menurutku obyeknya potensial akan banyak ketidak teraturan :

  1. Landscape photography
  2. Human interest photograpy
  3. Animal photograpy (wildlife, bird, reptile, dsb)
  4. Macro photograpy
  5. Astro photograpy
  6. Sky photography
  7. Abstract photograpy
  8. Aerial (Drone) photography
  9. Kids photography
  10. Sport photography

Silahkan tulis di reply bila kamu tahu yang lain, ya. Terima kasih sebelumnya.πŸ˜„

Saat memfoto, saya berusaha dengan persiapan seminimalis mungkin, walau belum bisa sampai nol (yeah saya tahu terlalu ekstrim, kalau bilang jangan persiapan apa-apa wk, plis minimal baterai dan lensa berapalahπŸ˜‚). Ini kan buat senang-senang doang. Yang terjadi terjadilah.

Apakah sama sekali nggak boleh foto lain saat berekreasi? Boleh-boleh aja, dong. πŸ˜„ Asal nggak mulai lebay. Dan musti ingat tujuan motonya di awal buat apa…

Rasanya menyenangkan. Nggak bawa target yang sampai ekstrim. Ngalir apa adanya…saya bebas mengabadikan angin yang berhembus diantara daun, awan yang berubah-ubah bentuknya, tiupan angin diantara rumput panjang. Seperti relaksasi tersendiri.

Belum kesampaian, sih moto topan badai, hahaha…itu mungkin puncak ketidak teraturan obyek yang maksimal, ya? Tapi tentu saja saya nggak akan mengundang obyek ybs. untuk mampir, ya…Nyari susah saja namanya!🀣

Ini semua bukan berarti kita nggak melakukan hal terbaik demi sebuah karya, tapi menurutku, jadilah high achiever ketimbang perfectionist, sehingga masih memberi ruang pada kesalahan serta bisa menikmati proses sama seperti menikmati hasilnya.πŸ˜„

Kalau boleh mengutip kata Michael J. Fox ,

β€œI am careful not to confuse excellence with perfection. Excellence I can reach for; perfection is God’s business”.

Kamu sendiri punya bentuk kepuasaan yang seperti apa saat memfoto?