Fotografi dan Kucing-kucingan

Tema fotografi kali ini bukan bahas tentang kucing, yah. πŸ˜…Β  Tapi tentang “kucing-kucingan”-nya para architecture/landscape/street photographer.

Disclaimer : tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan profesi tertentu. Hanya murni menceritakan apa adanya kondisi lapangan.

Sudah bukan rahasia lagi, yang membuat fotografer “enggan” hunting foto di sebuah lokasi yang obyeknya menarik di Indonesia adalah karena sering “dihentikan” oleh-kita sebut saja “guard” -di sebuah habitat. Whatever guard means ya. Bisa satpam, pengawas, preman..

Misal, saat mau foto sebuah bangunan dengan kamera dari JALANAN, tiba-tiba langsung di tegur,

“Nggak boleh moto harus ada ijin.”

Hal sama terjadi saat ada di dalam bangunan umum seperti mall, dsb.

Orang yang pakai kamera 20 megapixel dilarang, sementara yang pakai HP 48 dan 64 megapixel dibiarkan. Kalau di pikir-pikir ini ‘kan kocak juga, ya? πŸ˜‚Β  Ibarat mencegah agen rahasia masuk dengan stop orang yang berbaju item, yang pakai baju putih masuk sambil menari-nari 🀣🀣🀣

Sayangnya, itu juga terjadi di area-area lanskap, yang normalnya kita sah-sah saja ambil foto. Sebab tidak ada unsur hak cipta yang mengikat.

Kalau ditanya dasar pelarangannya apa dan kenapa yang pakai HP dibebaskan, jarang sekali yang mampu menjawab dengan landasan logika memuaskan. Rahasia umum juga di kalangan fotografer, kalau beberapa kasus ada yang berlandaskan UUD (alias ujung-ujungnya duit) πŸ˜….

Padahal…di banyak negara lain, yang namanya memfoto obyek sering bebas-bebas saja.

Beberapa suhu fotografer lebih senang memfoto landscape dan arsitektur di Singapura ketimbang di kota besar Indonesia.

Alasan?

“Nggak perlu berurusan dengan “guard” seperti disini.” 😀

Kurang lebih demikian yang selalu kutangkap.

Kucing-kucingan fotografer dengan guards, bukan hal baru.Β  πŸ™„Di satu sisi ada sebuah kerugian besar sebetulnya.Β  Karena fotografer profesional dan amatir biasanya punya follower media sosial yang jumlahnya bisa ribuan. Bisa dibayangkan apa dampaknya bagi promosi parawisata di sebuah kota dan tempat?

Bisa dibilang untuk urusan satu ini, orang-orang Singapura lebih pandai dalam mempromosikan parawisata negaranya secara cuma-cuma.

Promosi masuk, devisa juga masuk (ya kan fotografer kita pergi ke sana berhari-hari).

Dan dari pengalamanku mencoba berlogika dengan guards itu cuma buang-buang waktu. Yang baik, mereka hanya menjalankan perintah atasan, yang oknum sudah ditebak, pasti UUD.

Ya mau gimana lagi. Untuk mengubah persepsi atau cara berpikir banyak orang, nggak segampang membalikkan telapak tangan. Sekarang kita berpikirnya masih level mikro bukan makro. Jangka pendek, bukan jangka panjang.

Memang aku akui, ada oknum fotografer yang mungkin dianggap reseh juga oleh yang berwenang. Alias main ambil foto seenaknya, padahal mengganggu ketertiban umum atau lingkungan.

Misal, dengan peralatan segambreng bawa couple untuk wedding fotografi di sebuah resto atau lokasi, padahal tempatnya padat manusia yang antri.

Atau saat lakukan fotografi bawah laut berjubel padat sehingga mengancam merusak terumbu.

Kalau berdasarkan pengalaman, yang diincar biasanya yang pakai kamera profesional. Mereka yang menggunakan kamera point and shot atau APS-C masih dibiarkan atau dianggap,

“Ah. Amatiran.” πŸ˜‘

Apalagi cewek, yang kelihatannya panik dan kebingungan sekali nyari tombol shutter. Bakal diremehkan seremeh-remehnya.🀣 Makin parah kalau ceweknya cakep. Bisa-bisa malah dibantu untuk foto-foto kali ya.

#Sori cowok-cowok, iya dunia itu memang tidak adil. πŸ˜‚

Intinya untuk kasus ini, diremehkan tidak selalu merugikan, kok. πŸ€£πŸ˜‚

Andai mereka tahu teknologi makin canggih, sekarang saja sudah ada kamera full frame seukuran pocket serta kamera HP sekian puluh megapixels.πŸ˜…

Bila apes pakai kamera apa saja tetap kena hadang, sih.

Tapi di sisi lain, aku juga pernah, kok, ketemu guards yang ramah dan bersahabat. Saat aku ada di luar pagar sebuah gedung, menyiapkan kamera, ada suara menegur,

“Mbak mau foto gedungnya? Masuk saja, foto dari halaman sini.”

Ternyata itu guard-nya, yang menunggu di balik pos jaga.

{{Padahal sudah pasang kuda-kuda ambil langkah 1000 a.k.a. mabur πŸ˜‚}}

Tidak bisa dipukul rata. Di tempat lain kenalan fotografer dongkol berat karena saat ikut lomba di sebuah tempat, malah dihadang dan ditanya ijin sama guards-nya. Mungkin karena template dasar guards adalah stop dulu, kali, ya? πŸ™„

Dan alkisah, kucing-kucingan antara fotografer dan guards di Indonesia masih berlanjut….

{{Siluet fotografer dikejar guard πŸƒβ€β™‚οΈπŸƒβ€β™‚οΈπŸ’­ berlatar matahari terbenam pun mulai menghilang di layar pemirsa}}

===

Bagaimana menurutmu?

Punya pengalaman serupa?

Bila jadi pemilik sebuah tempat wisata atau obyek arsitektur, apakah kamu akan membebaskan fotografer atau membatasi dengan menarik bayaran?

26 thoughts on “Fotografi dan Kucing-kucingan

  1. aku pernah mengalami ini Mbak Phebie. DI salah satu objek wisata karena bawa kamera DSLR segede gaban, kudu bayar dong atau kalo engga kameranya kudu ditinggal. Sejak itu jadi males bawa-bawa kamera gede. Bahkan kadang kamera mirrorless yang kecil aja suka diminta bayaran loh mbak ><.

  2. Sebenarnya hal ini emang ada peraturannya ngga sih? Kayak semacam UU, Perda, ataupun peraturan adat yang mengatur hal semacam ini.

    Agak bingung sih, apalagi ntar hubungannya dengan copyright.

    1. Kalau menyangkut obyek-obyek vital negara, kedutaan, RS, biasanya ada pelarangan.

      Sementara untuk lokasi umum seharusnya tdk ada larangan ya, kecuali yg menyangkut obyek foto utk dikomersialkan. Kalaupun ditarik bayaran resmi wisata tertentu perlu ditanyakan juga apkh benar tarikan itu akn disetorkan utk negara?

      Copyright pada bangunan monumen yg plg strict di LN juga terbatas bila itu utk dikomersialkan sbg cth menara Eiffel.

  3. Saya sudah beberapa kali mengalami sih Pheb. Sebenarnya semua pembawa kamera non HP itu berpeluang disetop sama “guard”. Entah kenapa, bahkan kalaupun sekedar prosumer sekalipun, kalau bentuknya bukan HP bisa disetop.

    Pengalaman saya di Kebun Raya Bogor, saat masuk pas ada pak Jokowi, mata tentara yang menjaga di pintu gerbang, langsung bertanya “Dari mana (maksudnya dari koran mana)?” Saya jawab pura pura bego, dari Bogor.. wkwkwkwkw dan jalan terus

    Di kereta juga begitu, bawa kamera APSC saja langsung ditegur satpam, padahal sudah ada juklak yang memperbolehkan. Padahal, yang dilarang itu yang sifatnya komersial. Lucu lagi salah satu partner media iklan Commuter Line mengadakan ajang “photo of the day” rutin…. tapi ga boleh bawa kamera lain selain kamera ponsel

    Masih butuh waktu agak lama kayaknya Pheb, supaya “kamera” non HP bisa diterima sebagai bagian kehidupan masyarakat modern. Banyak orang yang masih menyandang pola jadul dalam hal ini.

    Tapi ada keuntungannya juga sih, pas acara Cap Go Meh Bogor, kan seharusnya media partner dan wartawan harus pake idcard untuk masuk ke wilayar tertentu. Cuma, biasanya kita yang berbekal kamera non Hp bebas berlenggang kangkung masuk wilayah itu, sedangkan yang cuma bawa HP ga boleh.. wkwkwkw

    1. Wkwk koran Lovely Bogor. Padahal pak Jokowi cs-an dg kelompok fotografer saat pemilu πŸ˜…

      Sempat ramai kan mas yang fotografer ribut dg petugas stasiun krn nggak boleh moto pakai kamera. Ternyata dibolehkan kecuali ruang2 tertentu.

      Pola jadul yang mana, mas Anton?

      Padahal dibanding kamera HP, kamera biasa sudah jauh lebih lama ada di masyarakat.

      Serius mas? Bisa melenggang tanpa ID begitu ya πŸ˜…

      1. Sampe sekarang juga kayaknya Jokowi masih cs-an deh.. yang ga cs orang-orang di sekitarnya hahahaha

        Pola jadul bahwa yang bawa kamera itu cuma hak “wartawan dan jurnalis” masyarakat biasa ga mungkin bawa kamera seperti itu. Pola pikir itu ada di dalam masyarakat karena kalau melihat bagaimana mereka memperlakukan pembawa kamera non hape…

        Betul sekali kamera itu sudah lama ada, tapi yang punya ga banyak wakakakakaka.. kalah ma hape..

        Iyah.. hahaha kita di wilayah yang “steril” pas Cap Go Meh sampe ke depan panggung pejabat lolos ajah…tanpa ID, padahal yang laen pake ID. Itu kerjaan saya dan teman-teman setiap tahun.. hahahaha

  4. aku pernah, memang UUD, tapi kalau udah ga boleh, yaudah aku akan pergi aja. hahahhaa
    beberapa kali motret di pasar, sebelum motret, biasanya kami ngobrol2 dulu biar suasana cair. Ga grusah-grusuh (kalau kata orang jawa). Terus akhirnya malah diperbolehkan untuk motret. “Ayo mas kalau foto. Saya siap-siap dulu”..hahhahaha

    sekarang gadget ga perlu besar untuk menghasilkan foto bagus. Tergantung skill si tukang foto. untuk menghindari perhatian orang banyak (termasuk guard) temanku malah seringnya pake gopro. Jadi dia bisa melenggang dengan aman..hahhaha

    1. Kalau nggak gratis pergi aja ya, mas Rivai πŸ˜…

      Ya betul, sebetulnya bisa dengan pendekatan dulu ke guard-nya di beberapa kondisi. Atau org yang di foto.

      Ho oh. Kamera sekarang sudah canggih. Kalau sekedar pos di medsos pakai hape saja cukup.πŸ˜… Gopro biasanya untuk video ya karena kecil malah nggak ketahuan πŸ˜ƒ

  5. Wah iya aku pernah tuh pas lagi jalan di mall trus ditegur karena kebeneran lagi bawa kamera mirrorless sehabis ikut acara Studio Ghibili (yang emang boleh motret2).

    Aku jadi ketawa pas bagian “cewe diremehin” 🀣🀣🀣

    Aku pun kalo ga dibolehin motret, yauis aja pergi daah hahahaha

      1. Yes betuuul
        Kan itu di Pacific Place, pas lagi jalan-jalan mo cari makan, eh ditegur ga boleh motret
        Padahal kameranya digantungin di leher doang hahaha

        Iyaa aneh ya titiba ditegur gitu
        Orang lagi kaga motret wkwkw

        Betull kenapa cari yg bayar kalo ada yg gratis yak wkwkw

  6. Saya belum pernah mengalami dicegat atau disuruh bayar tiba-tiba mba, paling disuruh bayar saat masuk ke tempat wisata yang memang ketika beli tiketnya ada tulisan, “Bawa kamera bayar sekian sekian.” Nah baru deh saya bayar πŸ˜‚ Kan beberapa tempat wisata mewajibkan bayar untuk kita yang bawa kamera besar. While bawa hape masih nggak apa-apa. Padahal hape jaman sekarang kadang hasilnya nggak kalah bagus daripada kamera πŸ˜† Wk.

    Cuma saya pernah baca, lupa siapa yang share, bloggers atau influencers gituuuu, dulu bacanya, dia pernah kena cegat gara-gara foto tower building pas lagi ikutan street photography sama club-nya. Hehehe, padahal bangunan di Jakarta banyak yang bagusss yaaa, dan kalau di foto, hasilnya nggak kalah keren sama bangunan di luar 😍

    1. Haha saya dulu juga berpikiran seperti mbak Eno saat awal-awal senang foto πŸ˜„ Bahkan pernah dg bangga cerita ke genks foto. Tapi seiring dengan banyaknya jam terbang kelayapan hunting foto di Indonesia…eh kena juga wk πŸ€ͺπŸ€ͺ🀣

      Semoga sih mbak Eno nggak mengalaminya ya..πŸ˜…

      Kalau di depan tempat wisata ada pengumuman begitu masih berusaha maklum…seperti kata mas Anton di atas itu memang imej jadul tentang fotografer. Kalau nggak ada dan tiba-tiba itu kan tidak ada dasar tertulisnya…πŸ˜…

      Nah itu dia mbak tower segede gaban dilarang moto, mending diumpetin aja sekalian πŸ€£πŸ˜…

  7. Aku bingung juga alasannya apa kali hanya memotret bangunan dari luar. Kalo bagian dalam suatu gedung aku bisa ngerti kenapa dilarang. Itu security reasonnya ada. Dulu aku selalu perintahin security ku utk larang nasabah yg mau foto2 di dalam ruangan. Anak2 buahku juga aku larang. Krn ditakutkan semisalnya foto dicapture di medsos mereka, trus terlihatlah bagian ruangan suatu bank, lengkap Ama cctv nya di posisi mana aja, itu bisa membantu para perampok bank utk menyusun rencana bagian mana aja dari suatu bank yg hrs dihindari. Dan itu ada SOP nya soal larangan.

    Tapi kalo bagian luar, serius aku jg ga ngerti kenapa. Selain alasan UUD :p.

    Trus aku jg ga ngerti kenapa dlm museum ga bisa difoto :D. Ato mungkin alasannya sama kayak bagian dalam bank yaa? Tapikan aku foto subjecknya, bukan ruangan. Mungkin pihak museum takut org2 jd males DTG, cukup liat dr foto2 yg tersebar ? Dunno lah…

    1. Kalau dalam gedung memang saya lihat-lihat dulu gedungnya apa. Macam ruang kantor, RS apalagi bank…itu sih cari masalah hahaπŸ˜…πŸ€­

      Sementara yg sifatnya hiburan yg butuh pengunjung seperti mall, restoran, dsb….why not? Bukannya kalau dipublikasikan malah untung ya?

      Oh kalau museum saya maklum πŸ˜ƒ…

      Ada beberapa dokumen/ gambar / obyek yang memang peka terhadap cahaya flash. Kemudian alasan kenyamanan pengunjung lain, agar yg suka foto tidak bergerombol di depan obyek. Selain itu ada alasan melindungi hak cipta intelektual artis, hak eksklusif museum untuk repro foto di souvenir n cards, dan juga membuat pengunjung untuk kembali lagi menikmati (karena hanya bisa dinikmati ditempatπŸ˜€ ). Terakhir alasan yang sama seperti yg mbak utarakan saat kerja di bank : cegah security threats.πŸ˜€

  8. hihihii… aku sempat beberapa kali nih ketemu guard dan oknum pula yang larang-larang tapi ujung-ujungnya duit, hadeuuuh… mana gede lagi mintanya -_-

    Alhasil sejak itu, ya suka kucing-kucingan aja, dan karena itu juga, jadinya agak jarang foto di mall atau gedung di kota, biasanya di taman, pasar, dan di alam yg keciiil banget kemungkinan ada yang maen larang-larang.

    Tapi kayaknya sekarang udah mulai jarang yg larang-larang kalo di Bandung, kyknya udah pada sadar kalo hal itu justru bisa nguntungin alias diiklanin gratis di sosmednya.

    PR aku sekarang justru di human interest, fotoin orang tapi pengeen banget ngobrol dulu sama orangnya, biar dapet ceritanya aja gitu, trus difotoin atas izinnya… tapi selalu takut ditolak, jd ga pernah berani, haha…

    pernah juga sekali motoin mesjid agung Bandung, padahal motoin bangunannya dan beberapa orang masuk in frame karena biar lebih bagus aja, tapi ada ibu-ibu yang masuk frame (kefoto) trus liat saya dan menghampiri… β€œmana duitnya? itu foto buat koran kan ya…?” lalu aku jawab aja β€œbukan.. ini buat pribadi, ga ada duitnya sama sekali” trus akupun pergi, diapun diam aja.

    haha, ada-ada aja…

    paling aman mah foto lansekap alam atau foto temen-temen aja -..-

    1. Bagus banget tuh kalau sudah jarang yg larang2πŸ˜€ memberi angin segar utk harapan hunting dg bebas tanpa kucing-kucingan…πŸ˜…

      Ya memang hrs bnyk praktek spy luwes dan natural pendekatannya sih πŸ˜„. Pernah kejadian moto street minta ijin obyeknya belakangan..stlh lihat fotonya kyk apa dibolehin. Mungkin kekhawatiran org dia di foto kelihatan jelek. Semua org ingin kelihatan bagus saat di foto. πŸ™„

      Hahaha itu frontal sekali si ibu-ibu πŸ˜…

      Ya yang mas Ady sebut terakhir itu memamg paling nyaman.

  9. hehehe banyak benernya mba phebie nih. biasanya kalo cewekna cuakepppp trus bingung mo poto, ehh datanglah sang pangeran di siang bolong yang sok bantuin alias modus
    kucing-kucingan kayak gini juga pernah aku liat di kalangan temen aku biasanya :D, tapi masih termasuk jarang juga.
    kalau aku lagi pergi sama komunitas fotografi, mereka selalu mengutamakan perijinan atau nanya nanya dulu boleh apa engga bawa kamera, karna bawaan anak anak fotografi ini aduhai sekali tasnya.

    biasanya kalau ke tempat wisata yang terlalu touristy ini, ada aja yang bohong ke petugas kalau yang dibawa cuman kamera hape aja, padahal kamera “benerannya” di sembunyiin di tas πŸ˜€

  10. di Jerman, ada aturan yang cukup ketat soal foto. salah satunya adalah memotret rumah orang, tidak boleh sembarangan. kenapa? karena bisa jadi di foto tersebut muncul identitas si orang dan si empunya properti harus consent.

    untuk ruang publik, lansekap, secara umum boleh mengambil foto. kecuali jika memang terpampang larangan mengambil foto, misal di museum.

    masalahnya jika di Indonesia, ada semacam diskriminasi. pake kamera, ngga boleh. tapi pake ponsel boleh. ini yang ngga beres.

    soal “mempromosikan”, rasanya juga perlu dilihat dari sisi lain. ada yang memang tidak ingin propertinya “dipromosikan” dengan cara disebar fotonya di media sosial, karena memang properti itu menjual pengalaman langsung.

    contoh, museum Ghibli di Jepang. larangan fotonya ketat. tapi yang mau datang, banyak, bahkan harus memesan tempat beberapa bulan sebelumnya.

    belum lagi terkait soal kekayaan intelektual. Menara Eiffel di Paris itu saja, orang tidak boleh sembarangan memotret di malam hari, karena terkait dengan hak cipta si artis soal tata lampunya. memotret di siang hari ya boleh-boleh saja.

    1. Ya, mas Zam, seingat saya masalah privasi di Eropa jauh lebih ketat. Seperti ada aturan bahwa anak bisa sue orang tuanya sendiri terbukti setelah mereka besar tidak nyaman dengan foto yang diumbar di medsos.

      Soal museum saya setuju, seperti yang sudah dijelaskan di reply kepada mbak Fanny. Salah satu yang dijual memang “kehadiran” on the spot. Juga menyangkut distribusi hak cipta kreatornya.

      Eiffel Tower memang rights-nya complicated. Tapi pada prakteknya sering yang ambil foto dan nggak ditangkap ninu ninu, jaman hp begini dan nggak semua orang tahu law-nya. Hehehe. Sulit mengawasi semua orang. Apalagi dengan bentuk bangunan segede itu. Diambil dari jauh juga masih bisa. Beda kalau profesional pilih ambil ijin sekalian. Mungkin takut juga dibikin tiruan lighting-nya di negara lain hehehe.

      1. kalo aku sih, ya kalo dilarang ya diikuti saja. kadang kita ngga perlu ngeyel.

        aku juga beberapa kali ketemu kasus begini di Indonesia.. dan akhirnya berujung pada, “kalo gak boleh ya udah. ngga sememaksa itu kalo mau ambil foto”.. 😌

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: