Fotografer Minimalis

Kali ini mari bicara tentang fotografi, yaitu fotografer minimalis.

Ini bukan bicara karya seorang fotografer yang temanya minimalis, ya. Lebih kepada jumlah gear yang biasa dipakai.

Jadi ceritanya ada seorang rekan yang baru beli kamera baru. Terjadilah diskusi atas fitur-fitur barunya yang keren. Kameranya full frame, upgrade dari sistem APS-C.

Bagi yang belum mengerti, singkatnya untuk full frame itu sensornya lebih besar dari APS-C.

Banyak yang ngiler, pengen nabung untuk beli juga atau beli seken. Itu biasa terjadi. Selalu begitu biasanya, ada produk baru, banyak orang tertarik. Apalagi bila iklannya selalu berkibar-kibar atau dipanas-panasi se-genks foto.

Padahal dalam fotografi mau pakai gear yang manapun kalau orangnya memang kreatif hasilnya, ya, bagus-bagus aja, sih.

Pernah kenal juara lomba foto yang kameranya kecil dan APS-C. Atau fotografer profesional dengan segambreng foto keren, kameranya masih APS-C, hal yang membuatnya bisa bebas seperti turis-turis yang biasa jalan-jalan, walaupun aslinya sudah punya sertifikasi resmi fotografi dari Amerika.

Masuk akal, sih. Kalau menunya enak, kan pengunjung restoran jarang nanya ke koki, kamu pakai panci merek apa? Ya, memang karena kokinya yang jago kan?

Apalagi dunia fotografi dengan teknologi digitalnya sedang berkembang pesat. Apa yang hari ini keren besoknya sudah nggak up to date. Bahkan kedepannya, mungkin produsen tidak akan mengeluarkan kamera poket dan APS-C lagi karena para pehobi akan lebih pilih memakai kamera yang praktis di jinjing seperti mirrorless dan smartphone.

Iya, kualitas gambar smartphone sekarang sudah sangat mumpuni.Harga peralatan elektronik terutama digital bisa turun dengan cepat di dua atau empat tahun lagi. Apalagi di masa kencangkan ikat pinggang seperti sekarang…

Mereka yang berpengalaman akan memilih berinvestasi di benda yang sifatnya non elektronik atau pendamping seperti lensa, tripod, flash yang bagus.

Ya, namanya kaca, rangka, sumber cahaya, kan dari dulu gitu-gitu aja, paling ada penambahan seperti image stabilizer, autofocus, sama bentuk lipatan, kepraktisan, dsb.

Di Barat, trend minimalis juga booming di kalangan fotografer. Fotografer dengan prinsip minimalis di jaman ini banyak yang sudah mengenyahkan berbagai kerepotan membawa barang. Tidak jarang ada yang hanya memiliki beberapa lensa saja.

Contoh, beberapa fotografer profesional pemain lama yang aku kenal, tidak lagi membawa kamera yang kokoh tapi “gendut”. Bagi mereka rasanya itu sudah seperti membawa jangkar kapal kemana-mana.

Makanya jika mereka tengah membuat foto dengan tujuan bersenang-senang saja, modal bawaannya hanya kamera mirrorless kecil. Bisa lebih ekstrim lagi malah, yaitu cukup pakai smartphone Travel light, begitu.

Menurut mereka, semakin usia bertambah, ngapain juga bawa beban berat, nambah encok saja. Pengennya kan bisa berlincah-lincah kesana kemari?

Lensa yang mereka bawa juga umumnya sederhana, kalau nggak 35 mm ya 50 mm, lensa fix (yang nggak pakai zoom in zoom out}. Karena ringan, cepat, sesuai pandang mata manusia, dan kualitas gambar yang dihasilkan lebih bagus.

Kamera nggak masalah bawa yang APS-C walaupun mereka sebagai profesional punya full frame.

Kenapa? Karena walaupun kameranya sendiri sudah ringan, lensa-lensa full frame jauh lebih berat.Bila membawa kamera full frame, berarti bawa lensanya yang dipangkas. Biasanya fix bukan lensa zoom yang bulky dan berat-berat begitu.

Menurutku, keuntungan bagi menjadi fotografer yang memakai prinsip minimalis :

  1. Bawaan ringan
  2. Fokus dengan gear yang ada
  3. Melatih kreativitas dengan keterbatasan
  4. Lebih hati-hati dan perhitungan (karena harus mikir sampai detail)

Khusus untuk pecinta lensa fix, kita jadi tambah sehat, hahaha. Jadi zoom in zoom out nya ya pakai kaki.Tentu saja ada juga yang nggak suka lensa fix dan pilih pakai sebuah lensa zoom 24-70 mm, atau sapu jagat sekalian, tapi biasanya mereka main nggak jauh-jauh dari range itu.

Aku sendiri tengah membiasakan bahwa apapun yang terjadi harus pakai lensa fix yang nifty fifty (murmer tapi keren). Kenapa pilih itu? Paling mirip mata manusia soalnya.

Selain anti mager, bikin aku harus gerak kiri kanan nyari frame yang pas, fokus aku juga ke obyek ketimbang ini mau mikir mau pakai zoom yang bagaimana.

Diatas semua itu, ya ampun, ringaaaan, cyiin..

Tapi kadang kebiasaanku yang ini malah bikin sebel orang lain! Wkwk.

Saat bersama rombongan kawan, untuk foto ramai-ramai kita biasa minta bantuan fotografernya memfoto pakai kamera bawaanku.

Biasanya orang yang moto suka menghela nafas panjang,

“Mbak, kenapa lensanya ini sih??” menggerutu setelah ngeliat..halah 50 mm!!

Lensa fix pula. Akhirnya dia harus ekstra mundur-mundur sampai harus mentok tembok.

Mungkin mas-nya jadi mikir, kasian amat si mbak. Mungkin dia nggak ngerti di dunia ini ada lensa zoom. Wkwkwk…Yang lain saja pakai smartphone yang bisa di zoom in zoom out.

Aku hanya bilang, ya maap. Tanpa penjelasan apapun. Ribet jelasinnya juga..hahaha…Biarlah dikira masih berada di jaman dinosaur…

Memang tidak semua fotografer nyaman dengan lensa fix. Jadi kembali ke selera dan prioritas seseorang. Bagi aku lensa fix itu selain tajam juga sangat mengurangi beban keribetan. Dan bisa lebih fokus itu sangat menyenangkan.

Bukan berarti aku anti bawa peralatan yang berat-berat bila suatu waktu benar-benar memerlukannya.

Misal kalau tripod kan memang wajib kan kalau foto low light. Tapi jika temanya beda, bukannya lebih enak menyimpan tenaga dan pikiran untuk hal-hal yang jauh lebih penting?

Bagaimana menurutmu, apakah selama memfoto kamu suka yang praktis-praktis atau perlu usaha lebih tapi bisa punya kemungkinan lebih banyak?

32 Comments

  1. Permasalahannya, aku sendiri cuma ngerti setting manual mba :D. Jadi kalo traveling pun, paling mentok bawa 1 kamera dengan lensa bawaan. :D. Kalo males, ya cukup bawa hp aja :p.

    Bukan tipe yg suka bawa berat2 juga sih, kecuali tujuanku kesana memang mau belajar motret ato fotography , baru deh pasti bawa komplit Ama perlengkapannya . Tapi kalo sekedar liburan, santai sajaaaa gear yg dibawa hihihi.. :p. Makin kesini, jujurnya aku makin males bawa kamera. Kalo sdg pergi Ama temen2 aku justru ngandelin mereka yg motret, ntr hasilnya tinggal dishare :D.

    • Er…maksudnya manual atau otomatis, mbak Fanny? Kalau manual doyan main ISO, shutter speed, dan aperture.Ini sih sudah lengkap banget. :))

      Liburan memang untuk dinikmati, ya. Haha..iya apalagi sekarang semua sudah serba kecil-kecil. Nggak memberatkan. Kalau bawa teman enaknya begitu, punya temen yang pintar foto apalagi hahaha.

  2. Hahahaha.. lensa 50 MM emang bikin capek Mbak Phebie. Banyak yang sebel sama yang satu ini jadi kayak pake kamera jadul. Frame nya juga sempit. Butuh kreatifitas dan kemauan gerak .

    Tapi, saya juga sukaaa…… Bahkan saat hunting foto di jalanan saja, biar punya lensa 55-270, saya malah nggak ganti dan terus ngandelin itu si fix.

    Memang betul, fotografi itu bukan tentang kamera (atau gearnya). Yang termahal itu invest pengetahuannya, skillnya, Banyak yang terlalu fokus pada alat dan bukan skillnya.

    Waahhh… Mbak bicara dengan bahasa yang saya mengerti “bahasa fotografi” wakakakka..

    Kalau hunting foto ke Bogor, ajak saya ya..

    • Terus lensa zoomnya cuma ikut diajak jalan-jalan doang biar nggak bosan di rumah, dong. Hahaha….btw, saya kok baru dengar ya ada lensa 55-270mm, biasanya bulet di 250…
      Oya, kalau nggak salah mas Anton punya blog fotografi juga bukan?

      Haha..hunting, insyaallah, mas. Masa pandemi gini saya sekarang lebih banyak foto indoor…XDXD Walaupun teman-teman segenks foto sudah banyak yang mulai hunting diluar, sih…

      • 250 Pheb..mangap salah nyebut..wakakakakak semangat nemu yg suka fotografi gini nih πŸ˜‚πŸ˜‚

        Iyah….cuma sedang hiatus krn semangatnya kendor krn ga sempet hunting foto. Jadi ekbawa males .

        Saya lum berani keluar Pheb…pengalaman ke toko tahunya pegawainya kena. Hasilnya isolasi 2 minggu..

        Jadi pilih cari aman..ga keluar kalo g perlu

  3. Halo salam dari pengguna Fujifilm. Aku suka yang praktis aja, maka dari itu aku pilih yang 35mm saja. Biar gak mentok tembok kalau fotoin rombongan. Semenjak pake prime lens, yang zoom jarang aku sentuh lagi.
    Tambah praktis lagi saat ini bawa yang mirrorless aja.

    • Ah ada mas layangseta, halo. Pemakai fuji, ya. TerFujilah XD. Iya, kalau mau nangkap seluruh suasana enakan pakai 35mm, mungkin saya akan pindah wide kalau sudah puas dengan range 50mm. Kemarin genrenya masih human interest dan potrait jadi pakai range itu…
      Memang sekarang orang banyak beralih di mirrorless…

      • Pokoknya kalau pake 50 tuh. Gak bisa foto wisudanan di dalam ruang ha ha. Harus melampau ruangan lain. Kalau bokeh bokehan, temen temen malah gak suka. Pokoknya semua harus Sharp, jadi apperturenya harus 11.

  4. Jadi ingat dulu masih bujang *eaakk, sering ikutan teman saya ama pacarnya yang hobi hunting foto, dia tuh sering ke sana ke mari bawa tas gede. isinya kamera dan lensa segede gaban.
    Belom lagi tripodnya yang tinggi dan bikin encok bawanya, ribet banget deh, meski hasil fotonya memang jernih sih ya πŸ˜€

  5. Saya juga pake kamera yang APS-C aja, Belinya di second hand pula. Yang penting mah bisa dipake… hihihi
    Selain emang bukan fotografer juga, sih…

    Tapi belakangan kadang kalau jalan rame-rame malah pake HP aja. Karena selain berat, kadang saya suka asyik sendiri ngutak-ngatik setting demi foto yang bikin puas. Kan jadi nggak enak sama yang lain.

    Oiya, seingat saya juga akhir-akhir ini banyak juga fotografer yang pindah haluan ke mirrorless, karena kualitasnya mulai mendekati APS-C, tapi lebih ringan dan gampang dibawa-bawa.

  6. Dulu aku juga suka pake lensa 50mm di kamera aku mba. Kebetulan di rumah adanya kamera tua, tp lumayan buat saya yg amatiran hihi, sekedar coba2 dgn lensa zoom dan macro juga.

    Trus pas lahiran sy dapet kado kamera mirrorless dan kmrn saya lengkapi dgn lensa 35mm. Skrg lensa ini jadi favorit saya, walo tetep masih seringan pake hp motonya πŸ˜„

  7. Aku sih tergantung kebutuhan aja sih. Kalau lagi jalan yaa bawa yang praktis. Enteng bawanya dan mobilisasi jadi lancar. Kadang malah pakai Hp saja..hahhaha
    Tapi pas ikut teman hunting foto, yaa akhirnya lihat teman dengan banyak perlengkapan yang dibawa. Mungkin bisa jadi satu tas tersendiri hanya berisi peralatan foto..hahhaa
    tapi kalau dia lagi jalan-jalan yaa bawa cuma bawa kamera dengan lensa standard aja.
    Pernah diajak motret produk, perlengkapannya yang dibawa lumayan banyak..hahhaaha

    Lensa fix itu paling enak buat motret potrait atau model. Aku sih ga punya lensa fix. Tapi pernah bantu teman motret wedding. Dan hasilnya emang bagus. Fokusnya dapat banget. Tapi pas foto bareng yaa mending ga usah ikutan moto. Susah dapat semua obyek..hahhahaha

  8. Saya pakai mirrorless saja mba Phebie, itupun jarang dibawa kalau pergi jauh dan lama. Menurut saya mirrorless pun berat πŸ˜‚ jadi saya lebih sering foto pakai hape yang bisa masuk ke kantong dan tas ~ hehehehe. Untuk lensa saya nggak paham beginian, tapi ketika beli ada dikasih lensa jadi satu set, nah saya nggak tau itu lensa tipe apa πŸ™ˆ mana saya cuma auto doang pula, nggak bisa setting-settingan hahahaha. Angkat bendera putih deh kalau sudah becara ISO dan lainnya πŸ˜…

    Selalu salut lihat orang-orang yang bawa tas besar isi perlengkapan kamera, apalagi lensanya panjang-panjang. Pernah lihat lensa warna abu-abu panjaang banget sampai membuat saya tercengang, apa nggak berat itu bawanya. Begitu kata saya tentu dalam hati saja πŸ˜†

    • Eh tapi foto mbak Eno cakep-cakep loh. Memang kalau sudah punya feeling nggak usah pakai kamera pun sudah mumpuni ya 😁

      Lensa abu-abu atau putih ya? Rasanya tahu deh itu apa πŸ˜‚ … perlengkapan perang …

  9. Sebagai pehobi fotografi yang berangkat dari kamera film, udah terbiasanya dengan bawaan seadanya, satu body kamera dan satu lensa fix (emang takdir, ga pernah jauh dari fix 50mm)
    terbatas?tentu saja, ya mau ga mau harus maju mundur sih, tp lensa fix itu ga bingungin, hasil fotopun lebih konsisten.
    pernah pake lensa zoom 24-70 malah bingung mau pake focal length yg mana karena terbiasa sama fix, haha…

    so far, kameraku yg digital cuma canon 500d dgn lensa manual rikonen 50mm f1.8 dan analog canon FTb berlensa 50mm f1.8 jg haha…
    pengen kalo punya uang lebih, beli 35mm biar bs nyoba fix focal length lebih lebar.

    jadi, aku fotografer minimalis dong ya? bkn karena pilihan sih, tp karena punyanya ya itu aja. haha

    • Hear hear 😁malah jadi bingung kan mau pake focal length yg mana?πŸ˜‚

      Iya masuk minimalis sih mas tapi yg cuma pake hp dan pakai kamera poket juga bisa masuk juga.πŸ˜„ Hahaha…

      Moga2 tercapai harapannya punya 35mm. Atau 18mm sekalian ! 😁

      • aamiiin… 18mm blm kepikiran soalnya ga terlalu landscaper jg. 35mm tertarik karena kayaknya lebih versatile, ga sesempit 50mm tp ga selebar 28mm, pas kyknya kalo buat foto lifestyle atau foto sehari-hari jg.
        tapi ga ada yg murah, manual lens sekalipun.

        hiks, baru bisa sewa aja.

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡