Fashion Police

Seorang temanku, Bunga, memutuskan untuk berniqab setelah beberapa tahun. Itu terjadi setelah ia sering mengikuti acara keagamaan.

Di luar perubahan gayanya berbusana tidak ada yang berubah darinya. Tetap kocak, tetap hangat, dan cerdas dalam bidangnya.

Dia tidak banyak menceramahi atau menyebarkan fwd, fokus pada dirinya sendiri.

Oya, hanya ada satu perubahan, yaitu terlalu PD, bahwa kita langsung mengenalinya sebagai dirinya. Karena banyak yang berniqab sering kita tidak tahu ini yang salaman mbak yang mana. Hanya mencoba menebak-nebak.

“Masa nggak ingat sihh..” protes kecilnya setelah cipika cipiki dan mengguncang-guncangkan lenganku.

“Anu….” seriously bagaimana bisa mengenali dirimu bila yang aku mampu lihat hanya mata. Mohon dimaklumi ukhti..bukan apa-apa beneran aku bingung mendeteksi..Lebih baik memperkenalkan diri langsung.

Kenalanku yang lain, Mawar, senang bergaya busana barat. Dia sangat modis. Tidak ada yang berubah juga darinya dengan cirinya yang edgy. Terutama celetak-celetuknya yang kreatif serta gayanya yang selalu menjadi pusat “gravitasi”.

Di salah satu tempatku bergaul ada kawanku yang beda lagi, Melati. Gayanya sangat sulit dibedakan dengan pria. Tomboy. Menyukai hal-hal berbau outdoor.

Mereka pun punya…… fashion police-nya masing-masing.

Tidak sedikit orang yang menjaga jarak dengan Bunga setelah ia memutuskan berbusana demikian.

Banyak yang menasehati Mawar tentang bagaimana harusnya berbusana yang layak dan sopan di berbagai lingkungan

Bukan cuma satu orang yang meminta Melati agar berpenampilan selayaknya wanita. Bukan ala Tom Sawyer.

Dan aku sendiri suka ditanya-tanya, bila terlalu banyak berfoto dengan salah satu pihak yang berbusana “berbeda”, oleh pihak-pihak yang dominan dalam kelompok. Pertanyaan yang sifatnya curious, ingin menyelidiki kemana style dan pemikiranku condong…

Sambil melayani pertanyaan-pertanyaan itu, aku diam-diam menahan nafas dan berbisik dalam hati..

Don’t laugh..

..don’t laugh..

..don’t laugh…”

Padahal aku seringkali berbusana sesuai kondisi dan mood. Kalau lagi merasa ingin protektif, pilih baju berwarna gelap. Kalau lagi happy warna cerah.

Lagi butuh lari ngejar angkot, naik gunung, atau naik kuda ya pakai celana panjang.

Kalau ada fashion police mengkritisi…

Selama busana masih sesuai sikon dan ada dalam koridor norma-norma di sebuah kultur…

why bother?

Sebetulnya yang merasakan pengaruh psikis, bila seseorang harus berbusana tidak sesuai dengan dirinya siapa, ya?

Yang akan merasakan ketika kita jatuh nyungsep saat berlari-lari lalu keserimpet rok siapa, ya?

Setiap orang memiliki sejarah hidup sendiri-sendiri saat memutuskan tampil seperti apa. Sesuatu yang bila ditelusuri, merubahnya tidak pernah semudah membalik telapak tangan.

Are we a victim of our own style and our own perception about others?

Ketika kita tanpa sadar, semakin kemari, semakin menyeleksi satu sama lain…dan berusaha mencari persamaan yang melegakan jiwa.

Walaupun itu sifatnya lahiriah. Dan simbolis.

Bagaimana menurutmu?

6 Comments

  1. Huaaaa, suka banget sama tulisan ini, mba Phebie 😍

    Persoalan busana memang agak tricky, karena bisa membuat orang judge kita hanya dari apa yang kita kenakan. Bahkan kadang, judge-nya sampai ke karakter endeblabla πŸ˜‚ Padahal, bisa jadi, pakai baju itu karena memang menyesuaikan pada situasi dan kondisi lapangan 😁

    Saya pun tipe yang sama seperti mba Phebie, pakai baju tergantung kondisi dan mood, kadang ingin rapi anggun ya pakai dress, kadang ingin jalan santai ya pakai jeans, kadang gayanya bisa sangat Indonesia (pakai atasan lace, brokat, etc, dengan bawahan rok batik), namun ada masanya dimana gaya saya bisa berubah kekorea-koreaan, atau kebarat-baratan πŸ˜‚

    • Thank you. Toss.. mbak Eno.

      Herman memang..Yang nggak niat kemana-mana dicari musti kemana-mana…

      Hah pakai baju ke-korea-koreaan berarti pakai Hanbok juga dong mba πŸ˜€

      Soalnya fesyen Korea sendiri kayaknya kiblat ke Western…:D

  2. Gaya tulisanmu ini amat menarik, aku jadi suka, hehe…

    fashion police ya?
    karena menurutku fashion itu termasuk sebuah statement yang diungkapkan dalam bentuk visual baju yg kita kenakan, bisa dari warna, motif, outfit yg kita kenakan, mix n match atasan bawahan dll, jadi layaknya karya tulisan ataupun misalnya gaya fotografi, itu semua ga akan bisa memuaskan atau menyenangkan semua orang, dan kuyakin phebie juga tahu kalo berfokus pada apa kata orang itu ga akan ada habisnya malah bikin cape seringkali jadi terkungkung karena jadi serba salah, mendingan fokus kepada diri sendiri dan apa yang paling membuat kita nyaman dan senang. kalopun ada segelintir orang yg kebetulan suka, syukuri. pun kalo ada segelintir yang ga suka, dimengerti aja karena memang ga mungkin menyenangkan semua orang.

    So, gunakan apapun yg membuatmu nyaman, tapi ingat jg sama batasan dan norma yg berlaku disekitar, jangan sampe salah kostum, pake bikini di pasar tanah abang, bisa bikin pusing para pedagang priaa. hehe…

    Terimakasih phebie untuk tulisannya

    me, likey!

    • Trmksh apresiasinya mas Ady,

      Ya fashion police itu sebetulnya acara TV beken yg kerjanya mengomentari fesyen seleb..tapi bisa dipakai utk istilah pengkritisi busana..😊

      Saya mah santuy πŸ˜… …hanya saya perhatikan makin kemari perkembangan sosial yg terjadi tidak berhenti di komentar saja tapi juga pengucilan seseorang krn stigma busana. Simbol itu sepertinya smkn penting banget. 😡

  3. Aku juga cenderung berpakaian mengikuti mood dan rasa bodo amat aku terapkan begitu tinggi saat aku berpakaian wkwkwk. Aku keseringan pakai baju yang sama berulang-ulang jadi aku harus menerapkan rasa “bodo amat” terhadap omongan orang supaya nggak stress sendiri πŸ˜‚. Untungnya teman-teman dicircle-ku nggak ada yang peduli juga dengan cara berpakaian satu sama lain, akupun demikian, nggak pernah komentar aneh-aneh. Kalau bagus ya bilang bagus. Kenapa harus saling menjatuhkan sedangkan pakaian yang kita pakai bukan dibeliin oleh mereka yang berkomentar wkwkwk

Leave a reply