Familiar Maya

Kali ini aku ingin bahas tentang kedekatan semu dengan seseorang dari dunia maya (dunmay).

Jadi sudah berapa kali aku ada pengalaman saat jumpa teman-teman yang hanya berinteraksi di dunia maya entah forum, blog, atau grup WA. Biasanya dalam sebuah acara halal bihalal (kopi darat) umum, seminar atau training.

Beberapa diantara teman-teman ini langsung menyalami dan berbicara akrab seolah-olah sudah kenal denganku bertahun-tahun!

Sementara aku, walaupun setelan wajah dipasang ramah, sebetulnya hati mendadak membeku sejenak, karena prosesor di otak berputar tanpa henti,

“Wait…Ini siapa, kenal dimana?”

Akhirnya memang wajah tetap harus di setting seperti pengantin di panggung yang memang kudu menyalami sekian ratus orang.

Tapi memang tidak ada yang bisa disalahkan bila hal seperti ini terjadi. Terutama bila kita terkenal aktif berbicara. Diantara yang saling aktif menulis akan lebih banyak lagi mata-mata yang melihat. Dan walaupun nggak aktif kan tetap bisa baca ya. Terutama lurker yang jarang bicara.ย  Kalau kata salah satu kenalan admin di grup WA yang diikuti : golongan tukang intip. Iya dia memang sadis…hahaha..

Dan para lurker, mereka tahu segala informasi yang pernah dituliskan seseorang. Akhirnya timbulah sindrom “familiar maya” di dalam diri mereka (ini istilahku, sih)

Aku juga pernah merasakan itu. Terutama bila aku rajin mengikuti ucapan dan tulisan seseorang. Oh si A si suka jalan-jalan, si B yang doyan ngebanyol, si C yang si pinter, dsb. Semakin mereka banyak bercerita tentang kegiatan sehari-hari, semakin berasa familiar. Sepertinya aku sudah akrab dengan mereka.

Padahal mereka kenal aku saja, enggak.

Apalagi kalau aku cuma intip-intip doang, nggak aktif.

Bila tiba-tiba aku menyalami mereka atau berakrab-akrab bicara tentang kabar anak mereka, ngajak ketemuan dimana, tanpa introduksi dahulu. Brr. Brrr. It sounds creepy, Ya, nggak, sih?

Tapi baiqlah. Setidaknya aku mulai paham perasaan para artis.

Berhubung belakangan ini aku malas aktif bicara di manapun dan lebih banyak berlaku sebagai pengamat,ย  aku mulai mewaspadaiย  kena gejala familiar maya ini. Terutama saat kopi darat dengan mereka yang aktif di dunia maya.

Bagaimanapun ngefansnya aku pada tulisan atau karakter mereka, harus diingat, aku mungkin tahu banyak aspek tentang mereka. Tapi berapa yang mereka tahu tentangku, apalagi bila jarang sok akrab aktif ? Bisa jadi zero.

Ya kasusku masih mending sih. Ada yang merasa akrabnya lebih parah lagi, sampai kepingin mengajak nginep bareng.

Lagipula bagaimana bentuk familiar maya itu jatuhnya akan tergantung pada persepsi masing-masing kepala (introjeksi). Sejarah hidup dan kenangan seseorang atas apa yang dihadirkan, sangat berperan dalam membentuk persepsi.

Jadi ada saja orang yang menangkap tulisan secara apa adanya berdasarkan arti sesungguhnya, tapi ada juga yang persepsi dan imajinasinya sudah macam-macam. Nah, yang terakhir ini kita harus meyakinkan diri sendiri dulu, deh. Orang yang aku temui nanti beneran begitu atau lebih banyakan pikiran kita sendiri sudah bermain disana. Dengan bunga-bunganya. Ini berlaku buat lovers maupun haters.

Makanya jangan heran atau kecewa ketika suatu hari ketemu langsung alias kopi darat. kok rasanya beda.

Padahal selama ini kelihatan orangnya rame akrab ceria dan hangat. Tapi….

Itu artinya kita sudah kena cipratan sindrom familiar maya, yang artinya dua hal :

  • Orang tersebut masih butuh waktu mengenal kita,
  • Orang itu lebih lincah dan luwes saat menggunakan bahasa tulisan ketimbang berbicara langsung

Bukan berarti yang bersangkutan punya kepribadian ganda, tukang pura-pura, jaim, dan sejenisnya. Setiap orang menampilkan persona yang berbeda dalam setiap peran, semacam ego state yang otomatis bekerja. Namun, bagaimanapun juga, apa yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisan seseorang selama ini, tetaplah menjadi bagian dari personanya. Kecuali saat menulis dia benar-benar terputus dari ego state yang lain, ya.

Perbedaan yang sangat mencolokย  umumnya terjadi saat seseorang lebih banyak tidak diterima apa adanya, dalam lingkungan dunia nyata, tempat mereka hadir selama ini.

Tapi kalau kita beruntung, saat jumpa juga dengan seseorang, tidak banyak perbedaan yang berarti baik di dunia maya maupun nyata.

Bila kita memang terbuka tentang segala aspek kehidupan pribadi kita, mustahil dihindariย  seseorang tahu banyak segala detail dan hal-hal (dari yang bijak sampai super konyol) yang pernah kita ceritakan! Padahal kitanya sendiri sudah lupa!

Biasanya mereka bukan stalker, hanya pembaca biasa, dan kitalah yang perlu extra hati-hati pada apa yang sudah pernah dituliskan. Apalagi di jaman di mana semua perkataan bisa di screen-cap diberi penafsiran sendiri atau di pelintir-pelintir.

Tentu saja semua itu tidak berlaku bagi mereka yang menjaga anonimitas diri di dunia maya. Serta menghindari segala bentuk kumpul-kumpul kopi darat. Benar-benar memisahkan diri dari dua dunia. Mereka memilih ada di dunia maya selamanya.

Aku punya kawan yang begitu, perlakuannya pada kawan di dunia nyata dan maya beda. Awalnya aku hanya kenal dia di dunia maya saja. Tentu dia tak seekstrim yang kubicarakan diatas. Dia masih mau kumpul kopi darat tapi tidak terlalu terbuka. Saat tiba suatu takdir kami jumpa lagi dalam sebuah kerjaan dunia nyata, dimana harus senasib sepenanggungan, baru deh dia mulai akrab denganku. Saat kutanya

“Kenapa beda banget lo dibanding dulu?”

“Iyalah.” katanya. “Gueย  emang bedain banget teman yang gue kenal dari dunia maya dan dunia nyata.”

Setiap orang memang punya cara sendiri untuk menentukan bagian mana dalam kehidupan mereka yang bisa di share dan tidak.

Ohya satu catatan ekstra lagi bagi yang memiliki anak. Ini sharing kejadian lapangan saja, ya. Hati-hati, bila ingin berbicara hal-hal yang kurang baik tentang pasangan di dunia maya. Bagaimanapun marah dan mendendam.

Fakta. Kebanyakan dari kita, tidak benar-benar peduli pada tokoh-tokoh dalam sebuah drama rumah tangga di dunia maya. Karena yang diinginkan hanya menyaksikan sebuah cerita ala sinetron yang menarik. Apalagi bila itu kisah nyata, tahu kan kenapa reality show semacam Kardashian digemari?

Anak bagaimanapun akan menerima dampak langsung. Karena dia adalah perpaduan kedua orang tua.

Aku sendiri pernah tahu bagaimana jahatnya kasus bullying anak di masa online ini. Yang namanya informasi tentang target dicari sampai sekecil-kecilnya, entah dari sosial media mereka sendiri, sampai yang dibagikan secara gratis oleh orang tua.

Seseorang pernah bercerita padaku, bagaimana saat dia kecil, tengah bermain dengan kawannya, tiba-tiba kawannya diseret pulang sama emaknya sembari dinasehatin,

“Jangan main sama dia, sudah berapa kali ibu bilang. Bapaknya itu (begini dan begitu) ”

Butuh waktu bertahun-tahun agar bisa memaafkan apa yang telah orang tuanya itu lakukan.

===

Jadi apakah kamu pernah mengalami atau bertemu dengan orang yang terkena sindrom familiar maya? Bagaimana caramu berperilaku bila suatu hari bertemu di dunia nyata?

 

Gambar fitur diambil dari dokumentasi pribadi

31 Comments

  1. Berarti orang yang kena sindrom familiar maya itu maksudnya dia jadi punya imajinasi sendiri soal kita ya, mba Phebie? Imajinasinya terbentuk dari apa yang dia baca atau lihat? Mungkin semacam fans ke idolnya. Karena sering lihat, jadi punya imajinasi terus akhirnya kena sindrom familiar maya? eh apa saya salah tangkap yaaah? ๐Ÿ˜‚

    Kalau saya ketemu orang yang punya sindrom familiar maya, selama nggak menyakiti atau melukai, saya akan tetap hormati dia. Tapi kalau sampai ajak tidur bareng seperti yang mba Phebie bilang, atau ajakan aneh, dan dianya bersikap sok tau soal kita, mungkin kitanya better jaga jarak. Iya nggak mba? Menurut mba baiknya kita harus bagaimana jika ketemu orang yang demikian?

    As usual, topik yang menarik mba. Saya baru tau ada hal-hal seperti ini, tapi bisa paham karena banyak terjadi di kehidupan para public figure. Jadi bisa membayangkan seperti apa ๐Ÿ˜†

    Terima kasih untuk ilmu barunya mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

    • Iya kurang lebih seperti itu.ada rasa akrab spt kenal keseharian sama spt di dunia nyata. Cara spt itu sering digunakan oleh manajemen idol spt Korea. Dg rutin kasih update ttg kehidupan idol. Tingkatannya tergantung seberapa ngefans ๐Ÿ˜…

      Ya better sih disikapi dg hati2 aja, mbak. Jaga jarak ok. Kadang insting kita nggak bohong seringnya dijelasin dg cara apapun ybs tetap enggak terima ๐Ÿ˜…๐Ÿคฃ

      Benar public figure pasti alamin…resiko pekerjaan ๐Ÿ˜…

      Sama-sama mbak semoga bermanfaat.๐Ÿ™‚

      • Kalau begitu, aku terkena sindrom famiiar maya kepada idol >.< karena sering melihat mereka lalu-lalang di medsos dan TV serta reality show, aku jadi mempunya imajinasi sendiri mengenai sifat mereka, bahkan aku cenderung menerima mentah-mentah tentang bagaimana mereka bersikap di dunia nyata melalui reality show yang aku tonton. Tapi walaupun demikian, itu semua cuma seputar di kepalaku aja, aslinya kalau ketemu (kalauuuu), aku pasti akan mulai dari awal lagi untuk mengenal mereka. Nggak semata-mata langsung SKSD karena merasa familiar maya.
        Nah, kalau untuk kopi darat dengan teman-teman blogger, aku nggak tahu apakah nanti jika bertemu, jadi akan ngerasa familiar atau malah canggung wkwkw.

        Terima kasih atas insightnya, Kak Phebie! Aku baru tahu istilah familiar maya ini lho ๐Ÿ˜€

        • Terima kasih kembali…

          Mbak Lia, istilah familiar maya sebetulnya bikinan saya saja, siap-siap kena teguran pakar bahasa om Ivan Lanin nih XD

          Kita semua begitu, sih mbak. Can’t help it. Itu sudah otomatis, tinggal gimana sikap kita kalau beneran ketemu. Pernah ketemu orang terkenal dan mereka itu jauuh dari yang digambarkan di media. Marketingnya saja hebat…

          Hahaha kalau kopi darat kan biasanya rame-rame. Itu pinter-pinternya penyelenggara sih bikin suasana jadi ikrib. Kecuali kopi daratnya mandiri atas inisiatif individu2…:D

          • Aku puny bnyk temen Dunia maya, yg kebanyakan kenal dr blog . Ada bbrp yg pernah ketemuan, tapi aku ngerasa masih normal sih :D. Aku sendiri ga mau ngebayangin seperti apa orang yg aku kenal di dunmay ini. Ngerti banget soalnya, kalo orang itu suka beda di dunia nyata dan dunia Maya.

            Syukurnya selama ini pas ketemu Ama temen2 blogger di tempat nyata, mereka pada asik sih. Ga jauh beda saat ngobrol di dunmay. Eh adaaaa sih 1 org yg agak beda. Aslinya ga sekocak saat di blog hahahahaha. Tp tetep enak2 aja kenal dia. ๐Ÿ˜€

          • Bagus itu mbak Fanny kalau masih biasa-biasa…artinya tidak ada yang jomplang banget..

            Saya dulu sering kopi daratan dengan teman dunmay, jauh sebelum era medsos yang memang lebih “terbuka”. Rata-rata sih fun ya, ada yang pemalu sebelum malu-maluin hahaha…

  2. Sampai ngajak nginep bareng, hahaha. Aku belum pernah ada diposisi kayak gini mba, menarik sih pengalaman mba, sama ngeri juga dikit wkwk.

    Setuju sama yang mba bilang tadi tiap orang pasti punya personanya dalam menulis. Noted it mba, berarti bisa jadi boomerang juga buat keluarga sendiri kalau semuanya di tulis di social media ya.

    Nggak kebayang awkward-nya mba ketika ada yang bertingkah kayak kawan lama gitu tapi nggak kenal wkwk.

    • Oh ya mbak Sovia, itu yg ajak nginep creepy abiz. ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜… Mau dikata sesama jenis juga…

      Sebaiknya sih pilih2 yg dishare ya

      Haha..ngerti kan perasaan artis yang sampai dicubit-cubit penggemar? Berasa properti pribadi ๐Ÿคฃ

  3. Emang kopdar sama temen internet tuh ngeri-ngeri sedap, wkwk.
    Kalo aku sih paling susah rasanya mengakrabkan diri. Sekalipun banyaak banget postingannya yang udah aku baca, ttp rasanya seperti orang asing.
    Tapi kalo pas ngomong dia welcome, boom! Langsung deh aku berbagi gosip apa aja juga bisa hehehhh..

    Cuman ngajak nginep baru kali pertama ketemuan emang serem sih ๐Ÿ™

  4. Biasanya sih klo udah ngajakin kopdar kan berati emg udah lumayan sering interaksi di dunia maya. Jd begitu ketemu ya ngobrol aja biasa. Eh aku udah sering kopdar sama temen blog lho (yg mana orang2nya skrg udah quit blogging). Dan jarang sekali yg diem2 salting klo ketemuan. Percakapan ya ngalir aja

  5. Saya punya teman di dunia nyata yang karena iseng-iseng jadi liburan ke Jepang bareng dengan teman dari dunia mayanya dong mba… ^^”

    Untungnya dua2nya asik-asik aja. Kalau ga salah tetap ada drama, tapi smp sekarang sih kayaknya kadang2 masih kontak2an.

    Dan mengenai ego state, kalau di pikir-pikir, jangankan dengan yang beda dunia (dunia nyata dan dunia maya, belum dunia gaib :)) ), dengan dunia nyata yang lingkungannya agak berbeda aja, kadang kita jadi persona yang berbeda. Di satu sisi bisa jadi karena bermuka dua (atau banyaak :)) ), tapi di sisi lain IMO bisa jadi karena memang karakter yang keluar bergantung lingkungan.

    • Woohoo…dapet teman traveling ya. Itu asyik banget ๐Ÿ˜€

      (( belum dunia gaib))๐Ÿ˜ฐ

      Haiya jangan sampek degh mba Hicha. Ini dunmay saja sdh ribets..๐Ÿคฃ

      Saya kira mustahil kita berwajah sama ke semua orang. I mean cara bicara dan berlaku kita sama sesepuh saja tentu beda dg sama anak-anak apalagi sama atasan!๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

      Asal jangan terlalu banyak dan jomplang bedanya…๐Ÿ™„

  6. Hmm.. aku kayaknya seperti temen phebie yg jarang kopdar, jadi jarang juga mengalami hal ini, biasanya teman di dunia maya tetap di dunia maya, teman real life selalu ada di real life dan bisa juga jadi teman bersosial di dunia maya.

    Tapi aku termasuk orang yg sangat berhati-hati kalo ketemu orang baru, ga mau terkesan SKSD dan caper, malah saking berhati-hatinya, ampe ga bisa nyapa duluan kalo ga disapa duluan, yes… aku ga supel dalam pergaulan bahkan sering gagap bersosialisasi.

    Tapi sekalinya disapa, i am very open for a good conversation.
    parah ya aku, payah ya?

  7. Seperti yang kak Phebie bilang familiar maya ini tergantung persepsi orang. Kalau saya melihatnya ini tergantung cara orang bersikap. Ada yang merasa sok kenal sok akrab saat bertemu karena begitulah dirinya. Tapi kemungkinan ada juga yang mba Phebie bilang, familiar maya. Kalau memang dirinya begitu, saya rasa tergantung intensitasnya saja. Seperti yang kak Eno bilang, selama tidak menganggu saya tetap menghormati itu sebagai cara dia berkomunikasi

  8. Kebetulan waktu saya masih kuliah dulu Kaskus lagi ramai-ramainya. Komunitas regional menjamur dan ngadain kopdar rutin mingguan. Tapi, mungkin karena sebagian besar kawan-kawan forum waktu itu adalah digital immigrant, yang barangkali mengerti bahwa tak semua yang tampak di dunia maya mencerminkan kenyataan, kami maklum-maklum saja jika ada gap antara realitas dan dunia maya yang kami lihat di antara kawan-kawan komunitas. Saya pribadi kadang bikin konstruk dalam diri soal persona virtual teman-teman, tapi juga mengerti bahwa saya tak bisa berharap mereka akan “seheboh” atau “sehening” itu waktu ketemu di dunia nyata.

  9. Menarik sekali istilahnya Mbak Phebie โ€œfamiliar mayaโ€ ๐Ÿคฉ wah jangan-jangan ke depannya istilah ini bisa populer ๐Ÿ˜€

  10. sepertinya saya pernah merasakan ni mbak. sudah akrab banget sama teman, eh dia curhat ttg cowoknya. nah baru beberapa bulan kemarin itu kita kopi darat. alih-alih biar nggak canggung, saya mencoba akrabin. saya baru tahu donk kalo dia anak tersohor dan panggilannya tuh ning, sementara saya kebiasaan manggil nama aja. Kayaknya emang familiar maya ni juga baiknya dikurangi yaa

    • Wuah itu pengalaman yang sangat unik sebetulnya, mbak Gina. Mungkin ybs butuh berteman yg melihatnya apa adanya tanpa embel-embel anak tersohor..๐Ÿ˜€ Kitanya saja yg suka kaget setelah tahu dan ambil jarak..pernah alamin juga soalnya..

  11. Hm, selama ini juga belum pernah ketemu langsung sama kenalan-kenalan aku. Tapi sebisa mungkin di awal aku selalu menegaskan ke diri aku untuk nggak percaya seratus persen tentang semua yang ada di dumay. Ya, pastinya gampang banget bias.

    Ngomongin masalah public figur, itu juga sih hal yang mungkin terjadi perihal ekspetasi yang suka dibikin-bikin oleh isi kepala netizen. Netizen suka menganggap artis-artis itu punya kehidupan yang sempurna, baik sifatnya and bla bla bla. Giliran si artis kena skandal, penggemar kecewa lebih ekstrem lagi malah ngjudge aja. Padahal kan ya, hm. Manusia biasa, semua punya kesalahan dan kekurangannya masing-masing.

    Terimakasih atas sharingnya Kak Phebie

    • Sekali-sekali coba kopi darat, mbak. It’s quite fun. Dengan catatan untuk pertama kopi darat sebaiknya sih rame-rame, ya. Untuk menghindari hal-hal yang tdk diinginkan.

      Ya, kadang management (atau artisnya sendiri) juga sengaja membentuk image artis-artis itu sesuai dengan bayangan penggemar. Jadi tidak selalu salah netizen/fans. Bila artisnya di IG suka pakai tas branded atau keluar dari pesawat jet, kira-kira apa yang dibayangkan orang? ๐Ÿ˜€ Nggak mungkin kan seseorang yang bisa diajak makan di warung. Jadi ada bayaran kehidupan yang mereka pilih. Tinggal kita saja yang pandai-pandai menyikapi..

      Sama-sama mbak…

Leave a reply (akan di moderasi dulu) ๐Ÿ˜‡