Digital Decluttering : Menyederhanakan Media Sosial

Semakin kemari aku mulai meminimalisir penggunaan sosial media.

Rencananya aku akan fokus di dua medsos saja, yaitu Twitter dan Instagram. Facebook hanya sambil lalu untuk tujuan promosi di grup.

Dahulu aku memiliki akun di setiap platform medsos baru. Tujuannya supaya kebagian nama doank hahaha…

Maklum makin telat daftar nama yang umum dipilih makin habis!

Sekarang baru kepikiran ngapain juga begitu, ya? Kasian kan yang benar-benar niat mau pakai dengan nama itu jadi nggak kebagian..

Facebook saja sebagai platform medsos yang pemain lama, terus terang aku belum merasa membutuhkannya secara profesional alias aku hanya membukanya untuk membaca berbagai berita menarik di grup yang aku ikuti serta sesekali promosi.

Yang membuatku kehilangan minat adalah karena jelang pemilu kemarin Facebook adalah salah satu medsos yang aku lihat penuh dengan muatan yang kurang nyaman seperti SARA dan hoax. Sulit dibendung bila di pos oleh friends!

Hal ini berbeda dengan Twitter dan Instagram yang menggunakan metode bila difollow tidak otomatis memfollow. Sehingga tidak ada kesilapan accept akun palsu yang membuat pikiran kita tambah berkunang-kunang.

Intinya aku cenderung lebih memanfaatkan dua medsos saja, yang nyaman dipakai.

Dasar pemilihan utama medsosku selama ini :

  1. Apakah merasa nyaman disana?

  2. Seberapa sering login?

  3. Apa selama ini manfaatnya?

Itu saja, sih.

Selanjutnya fungsi notifikasi kumatikan. Selalu log in dari web bukan aplikasi, kalau pun terpaksa harus pakai aplikasi bila sudah selesai selalu log out.

Karena percaya nggak percaya, wahai kawanku, memang beginilah faktanya…🀣

(meme bikin 🀣 yang beredar di Twitter)

Bila ternyata tidak nyaman ada di sebuah medsos, aku jarang login. Saat sudah tidak merasakan manfaat, aku cenderung melakukan deactive akun agar tidak tergoda untuk buka kembali.

Dan bila suatu saat butuh untuk tujuan profesional, mungkin aku tetap akan berinteraksi menggunakan dua medsos. Simpel dan fokus. Bedalah yaw kalau artis atau seleb kan sudah ada yang mengelola.🀣

Bagaimana dengan berselancar di medsos? Itu adalah hal yang aku hindari, kecuali memang butuh informasi di tema-tema tertentu.

Menurut Fumio Sasaki (Goodbye, things), salah satu yang membuat kita menginginkan sesuatu lagi dan lagi adalah karena paparan dari berbagai media. Terutama gambar, ya. Entah berita, lifestyle orang lain, iklan, influencer, dsb. Membuat orang membandingkan kehidupannya, ingin memiliki apa yang orang lain miliki.

Akhirnya orang jadi fear of missing out (fomo), atau aku menyebutnya sakaw informasi πŸ€ͺ

Mengenai berapa seharusnya pengikut medsosku, nggak ada target tertentu. Organik saja bermodal sabar, walau untuk ukuran platform yang sudah berdiri lama, jumlah pengikutku ini terlihat fakir..hihihi..

Jangan salah, aku pernah ada di posisi menjadikan media sosial sebagai bagian dari bisnis saat masih ada di Facebook. Dan dengan terkuaknya skandal Cambridge Analytica, semakin membuatku yakin untuk mengabaikan Facebook. Mendelete akun lamaku dan membuat yang baru yang fungsinya lebih mirip IG dan Twitter : hanya bisa saling follow. Tentu saja aku punya jurus tersendiri bagaimana caranya melakukan itu.😎

Sisi positifnya dari cara bersikap begitu, aku jadi merasa lebih santuy dan woles dalam bermedia sosial.

Nggak ada desakan untuk harus mencapai target tertentu.

Di dunia nyata begitu juga kan kalau mau bergaul?

Apakah ada target hari ini kita harus kenalan sama sekian orang, memamerkan sesuatu sekian banyak, serta butuh berapa jumlah tepuk tangan – agar merasa lebih baik tentang diri sendiri dan layak diterima oleh orang lain…Sebuah definisi baru dari media sosial tentang cara bergaul…

Agaknya aku ingin mencoba mengalami kembali perasaan yang sudah kulupakan bertahun-tahun, saat menempatkan media sosial sesuai fungsinya…..bukan sebagai alat yang membuat orang lain dan diri sendiri menjadi tidak bahagia.

Berapa medsos yang kamu punya dan bagaimana menggunakannya?

23 Comments

  1. Baca ini jadi geli,,, dulu aku juga begitu. Ada medsos baru pasti buat akun. Tapi sekarang tinggal Fb dan Ig yang aku gunakan. Fb karena kebanyakan yg kukenal didunia nyata menggunakannya. Ig karena kadang aku butuh memandang yang indah2. Tapi keduanya pun tdk konsisten lagi aku buka dan notif pun sdh dinon aktifkan.
    Ada memang saatnya, kita ingin vakum entah karena jenuh atau merasa tak ada faedah. Dan beberapa tahun ini aku berada di fase itu.

    • Iya kenapa kita begitu ya, mbak Sondang.. Mentang-mentang gratisan πŸ˜…πŸ˜…

      Oh akhirnya dua juga ya…tapi tergantung kebutuhan. Mungkin jenuh mungkin memang sudah tahu nyamannya berapa yang dibutuhkan ☺

  2. Punya Facebook, Instagram, Twitter.. Facebook sudah hampir tidak pernah diupdate lagi. Biasanya sekedar untuk melihat kabar kawan-kawan lama saja. Twitter, juga cuma untuk follow dan dapat berita.

    Yang masih agak aktif Insta, karena sering iseng posting hasil hunting atau berkomunikasi dengan kawan sesama fotografer.

    Pada intinya, yah memang saya mah tidak aktif di medsos.. hahahaha…

  3. Saat ini aku hanya memiliki 2 medsos, twitter dan IG. Namun, IG sedang deactive. Sedangkan FB sudah lama aku tutup. Salah satunya karena arus informasi hoax dan SARA yang sangat mengganggu. Sebetulnya IG sangat bagus dan kuat dengan informasi/obrolan yang ada di grup.

    kalau IG buat share hasil foto. Kebetulan suka dengan fotografi dan cerita singkat dalam foto tersebut. Tapi akhirnya merasa jenuh, bosan, merasa perlu menjauh dari IG. merasa terdistraksi juga ketika buka IG. Akhirnya aku deactive sementar IG ku.hehehhee
    Kalau twitter untuk hiburan. Banyak hiburan yang ada di twitter. Mulai dari receh, hingga keributan…hahahahaa.

    Dulu aku sering promosi blog lewat fb dan twitter. Pernah pake bot agar twitter bisa posting link secara otomatis. Hingga dikira temanku seperti spam link. Akhirnya sadar jika itu tidak efektif….hahahhaha
    Sekarang lebih sering lewat blogwalking πŸ˜€

    • Wah cukup panjang juga cerita bermedsosnya ya, mas Rivai…tapi setuju, memang kita akan ada di titik jenuh suatu waktu. Lalu latar belakang kondisi sosial politik juga bisa membuat hilang minat pada medsos tertentu.πŸ˜…

      Oh betulan di deactivate ya mas IG nya? πŸ˜†Kalau saya cuma ditinggal saja haha fakir postingan sekian lama…sekalinya muncul kadang utk kasih jempol doank 🀣

      Hahaha iya kalau lewat twitter kyknya memang utk formalitas saja saya share link..disana kurang efektif..😫

      Blogwalking memang yg terbaik asal kita fokus ya πŸ˜„

      • Dulu pernah punya friendster juga *ketahuan kalau orang lama..hahhahaa πŸ˜€
        beneran deactive. Sudah 2/3 minggu. Kalau ada, itu IG lama yang sudah lupa passwordnya. Kalau mau lihat foto2ku juga boleh..hahhahaha

        Twitter untuk update informasi juga. apa yang lagi ramai di dunia berisik dan penuh keributan…wkkwkwkkwk

  4. Kayaknya masa yang paling indah buat saya dulu waktu masih pakai Friendster dan Facebook masa-masa awal yang masih sepi. Cuma, kayaknya dulu kategorinya bukan media sosial, tapi jejaring sosial. Belum ada iklan dan saling follow nggak sampai bikin saya jengah. Abis itu saya sempat pakai Plurk dan Twitter, tapi lewat komputer desktop, soalnya ponsel masih Nokia symbian. Lucunya, pas sudah punya ponsel pintar, saya malah kehilangan minat buat ngetwit. Pernah coba bikin Instagram tapi sebentar saja sudah merasa tak nyaman. Akhirnya, sekitar tiga-empat tahun lalu, saya kehilangan minat sama media sosial. πŸ˜€

    Buat cari informasi, saya kayaknya old fashioned banget. Saya lebih pilih browsing di Google ketimbang cari review di media sosial. Paling banter, kalau sedang membandingkan produk saya buka YouTube dan lihat review-review di sana.

    • Wah sudah lama sekali ya mas Morishige di dunia per-medsos-an. Atau dunia jejaring sosial lebih tepatnya :D.

      Saat awal-awal ada sesuatu rasanya masih eksklusif, ya. Setelah sejuta umat masuk, sama seperti kita traveling ke suatu obyek wisata yang tumpah ruah seperti cendol, jadi enggak nyaman…XD

      Saya juga masih sering browsing di Google, walaupun kadang yang pejwan medsos lagi medsos lagi hahaha…Soal trending paling cepat saya searchnya di Twitter….cuma memang kudu dipilih-pilih…

      Hmm…iya, YouTube itu masuk medsos nggak ya?

      • Sampai sekarang saya menganggap YouTube itu platform buat mengunggah konten audiovisual, soalnya beda sekali konsepnya dari Friendster, Facebook, atau Path. Tapi mungkin pandangan saya saja yang old fashioned. πŸ˜€

  5. Saya hanya blog saja mba Phebie hehehe. Awalnya ada IG tapi deactive. Ini blog masuk medsos bukan, yah? πŸ˜‚

    Eniho, saya termasuk yang jarang coba-coba medsos, mba. Dari jaman ada dulu ada banyak jenis, seperti Path, Snapchat, TikTok, Youtube, dll. Saya nggak join jadi cuma tau saja dari baca berita or sharingan teman sebab saya nggak tau kalau join mau diisi apa sosmednya πŸ™ˆ

    • Blog kayaknya bukan medsos, mbak Eno…^^;
      Kalau yang sedikit mirip medsos itu model yang jadul kayak Multiply…

      Menarik. Biasanya orang Indonesia senang medsos, salah satu pengguna terbesar malah. Saya juga coba-coba cuma ngetek nama doang sih..hahaha, terus kalau ditanya teman kasih gitu aja. Sama alasan kita setelah itu bingung diisi apa (kecuali IG ya) hihihi…

  6. Kalau saat ini, aku hanya punya Facebook untuk join komunitas blogger tapi jarang dibuka. Dan, ada 1 akun IG juga buat usaha tapi jarang update juga πŸ˜‚.
    Dulu, aku termasuk yang coba-coba di tiap platform. Path, snapchat, 17, tumblr, apalagi ya πŸ˜‚. Tahun lalu, aku hapus semua akun medsos aku dan hanya menyisahkan 2 akun di atas. Sekarang, buka medsos kalau terlalu lama, kepala rasanya pusing kak karena too much information πŸ˜…. Terus aku juga nggak main tiktok sih, sekarang kalau mau join medsos, lebih memikirkan kegunaannya. Apakah berguna buat aku atau nggak πŸ˜‚

    Benar juga kalau ada medsos, daya beli jadi tinggi. Ini yang aku rasakan saat aktif IG, haduhhh gampang ngiler deh lihat produk-produk unyu cantik yang bersliweran πŸ˜‚

    • Ehlho kok kita samaan, jarang buka facebook….Haha coba-coba memang asyik ya tapi kok kita lama-lama jadi puyeng sendiri hihihi…

      Saya juga nggak main TikTok heuheu…belajar dari dulu dikit-dikit daftar akhirnya terabaikan…

      Memang IG bikin lapar mata XD XD

  7. dulu waktu awal awal muncul foursquare aku udah punya, padahal inti dari daftar disana ya cuman begitu begitu aja, jaman bahula dulu juga jarang yang ngeh, jadi ga ada friends atau komen apa apa. bisa dibilang dulu aku update semua info, mungkin karena sering baca majalah juga. jadi tau perkembangan teknologi
    kemudian ada multiply, friendster, punya semua ini haha, intinya aku kok kemaruk yak πŸ˜€
    tapi itupun ya cuman saat itu dulu aja

    makin berkembang sudah ada FB, path, tetep punya akun juga disana
    untuk sekarang yang masih cukup sering digunakan palingan twitter, fb, ig, blog.
    twitter karena kalau update berita udah paling gercep disana, segala info ada
    fb malah kadang kadang aku buka dulu, bahkan beberapa tahun kebelakang jarang ditengok, trus karena joint komunitas hanya sesekali dibuka.
    saat pandemi ini, kantorku mewajibkan semua karyawannya buat posting sosmed produk kantor di sosmed masing-masing, mau ga mau timeline fb isinya iklan kantor semua, padahal jarang aktif hahaha

Leave a reply