Catatan Akhir Tahun Pandemi 2020

Dalam setahun ini sedikit sekali saya menulis tentang pandemi. Padahal kita setiap hari berhubungan dengan itu.

Mungkin karena jenuh saja dengan berita atau ingin posting yang positif-positif saja supaya semua semangat.

Tetap, saya nggak hidup di dunia unicorn (bukan unicorn start up yah πŸ˜…). Jadi sekali-kali perlu saya seimbangkan, deh.

Liburan Natal dan Tahun Baru, orang-orang nggak bisa dicegah untuk mudik. Beda dengan Idul Fitri kemarin. Banyak yang jenuh dan stress, terutama mereka yang ngekos dan nggak bisa kemana-mana. So..

Boleh mudik dengan syarat ketat yaitu pulang wajib tes PCR. Dan sebisa mungkin tesnya bukan saat di terminal atau bandara. Kebayang misalnya kamu dalam kondisi sehat, ikut tes PCR yang antri blas. Di tesnya saat itu negatif, selang berapa hari malah gejala karena ketularannya justru pas ngantrinya! 😬Gimana coba.

Akhir tahun semua pusing, karena banyak yang positif Covid 19, satu persatu orang yang saya kenal disana disini dan di luaran.

Yang ajaib, di sebuah perumahan yang menerapkan WFH dan warganya jaga jarak sadar diri, malah pada kena secara bergantian seperti dapat arisan saja. Kok bisa? Kan nggak ketemuan?

Diselidik-selidik, orang tuanya mungkin ayem di rumah, tapi anak-anak mereka bebas main di luar ketemu satu sama lain, lalu pulang ke rumah masing-masing dan berinteraksi dengan orang dewasa. Besar kemungkinan “super spreader- super spreader” kecil itu yang berperan. Yep.Kita memang sering meremehkan kemampuan anak-anak.

Sampai di sebuah kesimpulan, bahwa mungkin banyak diantara kita yang sebenarnya sudah “terpapar virus” tapi dosisnya tidak besar hingga bisa menularkannya ke orang lain atau bisa dites positif (ambang batas).

Ditambah hadirnya super spreader kecil yang tidak diperhitungkan, bukan tidak mungkin setelah libur, hingga saat sekolah diijinkan masuk, lonjakan kasus akan besar.

Masalahnya apakah nakes dan RS sebanding dengan jumlah pasien?

Lagipula tidak semua daerah ketat soal kumpul-kumpul. Bahkan ada yang membebaskan. Sampai di sumpahin sama warganya semoga tahun baru hujan besar sekalian di sini biar bubar tuh kerumunan!

Bagaimana dengan sekolah? Hmm, satu-satunya yang bisa dilakukan, selama masih punya alternatif, better tahan dulu, lihat perkembangannya nanti 1-2 bulan bagaimana.

Saya sendiri sudah beberapa kali menolak tawaran acara kumpul dan tahun baru di luar. Melihat trend nya nggak bagus. Kami sendiri support kawan-kawan yang terkena dan harus isolasi mandiri dengan gotong royong di lingkar pertemanan, saling memantau kondisi, kirim-kirim obat yang dibutuhkan. Jangan sampai kondisi si teman memburuk dan harus rawat hari gini. Repot sekali, apalagi mereka yang punya keluarga.

Sebelum jalan-jalan dan ngumpul bebas, mungkin ada yang mikir karena sehat dan muda, paling sakitnya nggak lama. Tapi ribet yang mengitari sekiling kita ampun deh. Satu kena saja satu lantai harus PCR lagi. Harus ditrace. Yang ketemu satu orang itu kudu di PCR juga. Kalau positif bererot nyambung lagi ke kontak lain. Hiyaaa! Ribet!

Ibaratnya satu orang yang slebor satu kampung ikutan susah.

Padahal kita tinggal beberapa langkah ke depan lagi untuk vaksin. Apa tidak bisa sedikit bersabar? Agar bulan-bulan yang pernah dialami tidak sia-sia.

So stay safe ya teman-teman jelang 2021.

Kamu ada cerita juga?

14 Comments

  1. Ya hampir setahun ini pandemi melanda sudah hampir bosan rasanya mendekam di dalam rumah mau keluar dan pergi tapi masih was-was semoga tahun 2021 pandemi ini sirna.

  2. Saya selama 10 bulan ini ke luar cuma 5x ke supermarket mba, itu saja was-wasnya kayak apa tau, harus pergi pagi saat baru buka~lah, terus pulangnya langsung mandi, semua baju langsung laundry, hape tas masuk UV box, pokoknya parno. Dan akhir tahun ini nggak ada rencana mau party-party hahaha (biasanya juga nggak pernah) πŸ˜‚

    Sekarang Bali rameeee banget, bahkan di beberapa area tuh macet saya baca di berita harian Bali. Tambah nggak mau ke luar saya hehehehe. Memang iya, kadang kitanya yang sudah susah payah berusaha sehat, bisa tetap tertular kalau orang sekitar kita nggak waspada. Jadi besar harapan saya, semoga kita bisa lebih aware lagi sama si Coro menyebalkan ini hilang πŸ˜† hehehe. Nggak mau banget sia-sia sudah jaga kesehatan 10 bulan πŸ™ˆ

    • Ohya mbak Eno punya UV Box ya. Saya pengin beli tapi masih maju mundur. Akhirnya jemur aja deh barangnya di matahari wkwk…

      Iya Bali saya baca tetap ramai ya, mbak. Padahal sudah ada pengetatan. Turis asing juga sepertinya sudah ada slogan, nggak apa-apa lockdown asal di Bali…

      Nggak serta merta hilang, tapi setidaknya berkurang bila sudah ada vaksin ya…

  3. Haloo mba, bener sih libur akhir tahun saat ini yaa banyak yg mudik. Beda dengan saat lebaran kemarin, namanya akhir tahun, yang sekolah atau yg kerja udah pada bosan….
    Wll, udah sekitar 10 bulan jg yaa corona ni. Semoga segera berlalu, dan 2021 menjadi lebih baik

  4. di pertengahan bulan desember, aku malah disuruh berangkat ke kalimantan nyusul teman-teman yang sedang di lapangan. Pas berangkat memang agak waswas karena akan bertemu dengan banyak orang selama perjalanan. Apalagi saat itu penerbangan dari jakarta-pontianak sangat ramai. Jadi semakin parno. Selama dua minggu berada di sini semuanya masih baik-baik saja. Akhirnya menikmati malam pergantian tahun baru di sini, jauh dari keramaian dan kerumunan orang-orang.

    Kemarin tetangga di rumah ada yang meninggal (istri-suami). Setelah itu anggota keluarga lainnya di test rapid hasilnya reaktif. Saat ini seluruh anggota keluarga sedang isolasi mandiri.

    Semoga yang memilih liburan akhir tahun kondisinya tetap baik-baik saja πŸ™‚

    • Wah, tapi disuruh travelnya kan karena pekerjaan ya mas. Deg-degan pasti. Eh, saya baca sih katanya Kalimantan Barat termasuk ketat banget ya dalam menerima pendatang sekarang. Sampai ada pesawat maskapai besar dilarang masuk.

      Ikut prihatin tetangganya mas. Nah, repot banget pasti kalau sudah ada yang kena, ya.

      Iya, stay safe dan semoga semua membaik..

  5. Hmm…Aku termasuk yang meskipun ga ada pandemi, tetep jarang keluar *kasian ya
    trus kalopun keluar misalnya mau hunting foto, enaknya sendiri jg, jd udah terbiasa *kasian lagi yaa

    pokoknya yg penting masker selalu dipake dan jaga jarak kalo misalnya kepaksa harus keluar misalnya nganter istri ke pasar atau ke supermarket.

    semoga pandemi ini cepet berakhir

    2021, better!

    • Lho kenapa musti kasihan.πŸ˜… Kalau memang itu pilihan yg membuat nyaman…so be it. Nggak semua orang suka ngelayap kok mas Adi..apalagi membayangkan tempat yg tumpah ruah manusia πŸ€ͺ

      Amin semoga 2021 better ya

Leave a reply