Bulan Puasa Sederhana

Bulan Puasa Sederhana

Ada sedikit perbedaan bulan puasa kali ini dengan bulan-bulan sebelumnya. Puasa kali ini berlangsung lebih sederhana

Karena kegiatan beribadah di masjid juga dibatasi. Memang masih ada yang datang ke sana cuma nggak banyak karena ada aturan-aturan dalam jumlah.

Makan juga sederhana ala kadarnya, karena nggak seperti tradisi di bulan-bulan lalu, H-1 bulan puasa yang namanya pasar swalayan dan pusat-pusat perbelanjaan ramainya seperti cendol. Tumpah ruah manusia yang memborong bahan kebutuhan pokok.

Sekarang? Orang mulai mengurangi belanja di luar. Banyak yang beralih belanja online. Namanya juga online, nggak bisa pesan dalam jumlah besar bahan makanan yang segar-segar.

Kalau dipikir-pikir sebetulnya lucu juga, sih. Logikanya kan bulan puasa = mengurangi makan dan minum. Tapi kenapa malah makan dan minumnya semakin banyak pas sahur dan buka? Hahaha. Ya’kan

Apalagi pas buka puasa biasanya minum yang manis-manis begitu. Berkembang biak secara kreatif dari sunnah Nabi yang awalnya cuma makan kurma.  Kurma=manis, jadi dianggap yang di pentingkan adalah yang manis-manis. Termasuk teh, cendol, dkk. #Tuing tuing

Tapi di kondisi sekarang, kita di Indonesia jadi dikondisikan berpikir jauh lebih sederhana.  Yang awalnya maksimalis, jadi minimalis. Sayang segala yang berlebih itu bisa dimanfaatkan buat hal lain. Misalnya kepada mereka yang tidak mampu. Apalagi keadaan sekarang lagi sulit buat semua orang.

Ternyata berpikir sederhana atau minimalis di bulan puasa itu nggak sulit. Saya  jadi bisa memikirkan apa yang lebih penting. Contohnya, tentang kualitas ibadah. Kalau selama ini pikiran yang liar ini suka berjalan kemana-mana, sekarang belajar mencoba untuk lebih mindfulness. Konsentrasi. Ya, perlu latihan sih.

Lalu  saat memutar otak untuk makanan berbuka puasa : rasanya yang penting memenuhi syarat kebutuhan gizi, karbohidrat, protein, mineral, vitamin, air, dsb. Nggak perlu di olah sampai yang ribet banget. Yang penting bumbunya enak dan variatif. Cemilan juga, kalau bisa nggak jangan bikin kenyang sehingga zat-zat utama malah nggak masuk. Perut keburu penuh. Duh.

Dalam beribadah, rasanya perlu mute dulu segala kebisingan akan atribut dan simbol-simbol, sehingga kelihatan sendiri mana  kewajiban yang esensial.

Misalnya, selama ini banyak “permintaan” harus begini dan begitu (biasanya oleh orang sekitar kalau di Indonesia). Akhirnya pusing sendiri dan yang harusnya dilakukan malah nggak dapat perhatian penuh. Hal-hal yang sederhana yang mengandung rasa cinta kasih, pemaafan, dan kedamaian hati malah dilupakan.  Padahal seseorang yang beriman saat akan wafat di sapa oleh malaikat “Wahai jiwa yang tenang…”

Bukankah itu salah satu tujuan akhir perjalanan semua manusia di dunia? Memiliki jiwa yang tenang.

Semoga kita semua bisa mencapainya, ya, dimulai di bulan Ramadhan ini. Salah satunya dengan memikirkan kembali mana yang penting dan mana yang bisa diabaikan atau ditunda dahulu.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.