Berteman Dengan Lawan Jenis?

Berteman Dengan Lawan Jenis?

Rencananya setiap malam minggu aku mau bikin topik tentang cewek-cowok dan dinamika hubungannya. Moga-moga banyak yang tertarik,

Saat jomblo single, selain sobat cewek, aku ada genks sobat-sobat cowok. Cowok-cowok itu, mereka rada-rada hiperaktif, enggak bisa diem. Selalu hepi, jarang jatuh melow. Bahkan kalau curhat, suka susah sendiri, karena ujung-ujungnya tahu bakal di-bully sesama genks hahaha.

Memang demikian budayanya mereka cowok-cowok itu, yang aku lihat. Biar tetap kelihatan strong. Curhat dibungkus sedemikian rupa sehingga kesannya seperti konsultasi teknis. Ada melankoli dikit, suka di kata-katain. Budaya yang terlalu laki begitu sebetulnya menular. Sisi bagusnya aku jadi belajar nggak dikit-dikit curhat atau baper. Sisi jeleknya aku jadi nggak sensitif.

Pernah kejadian, ada anggota genks yang sangat cowok itu nyoba-nyoba curcol ke aku. Tapi dasar cowok nggak biasa bicara perasaan, nggak keliatan kayak orang curcol. Apalagi kita tuh biasa saling cela-celaan.

Jadinya malah aku dengarkan sambil lalu, ujung-ujungnya orangnya belum selesai curhat aku TINGGAL PERGI, dong.

Parah nggak tuh aku. Iya. Parah bener. Ya, aku dimaki-maki,sih setelah itu,

“@#$$&&! Lo! Jadi dari tadi gue ngomong sendirian??”

Ngamuk-ngamuk.

“Eh tapi kan lo dah dapat jawabannya?”

“Iya, sih..”

Selamat deh aku. Itu hal menarik soal curhat, kadang yang dibutuhin cuma semacam monolog kok, supaya solusinya ketemu (ini cari alasan nyelip-nyelipin ilmu terapi). Eh, asal bukan kasus ingin bunuh diri. Nanti kalau kesimpulan di monolognya yuk bunuh diri nah repot.

Enaknya cowok-cowok itu nggak baper (kecuali yang “beda”). Kesel bentar, besok-besoknya sudah main lagi sama aku dan genks.

Banyak yang bertanya gimana sih caranya punya sahabat campur sari begitu.

Berdasarkan pengamatanku, awetnya sebuah persahabatan/pertemanan cowok-cewek ada syarat ketatnya :

1.Masing-masing Nggak Boleh Ada Modus!

Ini sih rule buat awet sahabatan. Kalau salah satu modus ya bisa berakhir dengan jadian atau salah satu pihak menjauh. Bagaimana mendeteksi apakah modus atau gampang baper ada pada teman cowok atau cewek kita?

Coba perhatikan, apakah dia jarang punya teman lawan jenis selain kita, atau dia kurang luwes bergaul dengan lawan jenis?

Apakah dia terkenal sebagai playboy, ladies man, atau playgirl?

Kategori pertama, harus kasih batasan yang jelas, bahasa kekiniannya jelaskan FRIENDZONE-mu.

Kategori kedua langsung ancem aja dengan nada bercanda (tapi serius!) : Awas lo jangan macem-macem ya sama gue! Kalau bandel, ya better ati-ati deh.

2. Bicara Apa Adanya

Ini ditujukan buat cewek ya, biasanya yang merasa bermasalah disini selalu cewek sebagai makhluk bahasa dan komunikasi. Cowok cuma dapat bagian bingungnya saja.

Jadi cewek-cewek, kalau kita kepengin apa dan bagaimana perasaannya apa, harus BILANG. Jangan silent quiz dan berharap cowok bisa telepati atau baca bahasa tubuh dan ekspresi. Penjelasan teknis kenapa cowok kurang bisa seperti itu bisa satu bab sendiri.

Intinya umumnya mereka nggak bisa aja.

3. Jangan Berharap Diri Istimewa

Cewek, jangan mentang-mentang kita cewek inginnya selalu dianggap Princess. Kemudian jangan suka memonopoli. Lama-lama teman cowok akan nganggep kamu ngerepotin.

Kecuali mereka yang pada naksir. But that’s another story. Kalau naksir sih apa aja dijalanin , ya. Beda teman dan gebetan.

Untuk cowok juga jangan langsung baper ketika cewek selalu minta tolong atau kasih sedikit perhatian. Siapa tahu memang karena cuma kamu saja yang ada atau faktor lain (misal mirip adik/kakaknya).

4. Respek Pada Pasangan Sahabat

Misal salah satu sahabat punya pasangan. Jangan sering-sering telpon sahabat kamu, kecuali kepepet. Kalau ingin ketemuan buat tsurhat, seret satu orang lagi untuk nemenin kita. Atau salah satu bawa pasangan. Berlaku juga kalau kita yang punya pasangan.

5. Selalu Baca Gelagat

Yang namanya perasaan gampang berubah, walaupun awalnya nggak modus. Ada pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino. Kalau salah satu udah ada yang merasa demikian, mending jujur aja. Lalu putuskan ke depan mau ngapain. Biasanya yang terjadi kalau perasaan salah satu nggak berbalas, ya sampai disini saja persahabatannya.

Mau dipaksain?

Kayaknya enak punya sahabatan tapi statusnya salah satu punya harapan terselubung. Mereka biasanya gampang di suruh ini itu atau diminta tolong. Kalau menurutku sih, sebaiknya nggak ya. Selain bikin seseorang jadi susah move on. Sanggup nggak lihat yang disukai nanti jadian sama orang lain?

6. Kasus Khusus Masalah Mood

Khusus cewek : Sangat penting untuk low profile. Cowok kalau ada perasaan “kalah” sama cewe, mengembalikan moodnya jauh lebih susah. Didepan, cowok-cowok itu bisa bersikap sportif, tapi dalam hati….paiiittt. Akhirnya malah menjauh dan bikin kesalahan-kesalahan. Kalau mau awet pertemanan, cobalah lebih sensitif di hal harga diri ini. Kalau sobat cowok lagi pengin ngilang, biarin aja. Nanti juga muncul lagi.

Eh, kecuali kalau keluarganya ikutan bilang dia juga hilang tanpa kabar, ya (jaman Tinder gini).
Khusus cowok : cewek ada masa-masa bertarung dengan hormon. Dan ketika itu terjadi, dia bisa moody atau bicaranya muter-muter, itu artinya otaknya sedang mencari apa sebetulnya masalah utama. Jadi jangan langsung kasih solusi. Dengerin aja dia ngoceh, nanti dia yang akan nemu sendiri jawabannya.

7. Resiko Terselubung

Bukan resiko aneh-aneh yang membahayakan, tapi resiko terlalu nyaman bersahabat dengan lawan jenis akan membuat seseorang cenderung jadi jomblo terus. Tidak ada yang berani dekat-dekat karena ada asumsi-asumsi dari orang luar bahwa “mereka saling suka”. Kemudian ia juga akan merasa kurang butuh terikat dengan lawan jenis. Kenapa? Ya karena merasa kebutuhan akan itu sudah terlengkapi disini.

8. Masalah Jaman Internet

Lihat teman lawan jenis kita ada ciri-ciri kecanduan nonton p0rn nggak. Kalau iya, mendingan jaga jarak. Atau jauhin sekalian. Yang ini memang sulit terdeteksi tapi bisa. Kapan-kapan bahas kasus ini,ya.

9. Persahabatan Bisa Berakhir atau Berlanjut…

….ketika sudah pada nikah. Tergantung masing-masing pasangan, yang jelas nggak mungkin bisa seakrab saat masih jomblo, ya. Kalau mau enak, bikin pasangan akrab dengan sahabat dan kita akrab juga dengan pasangan sahabat. Lalu berkegiatan bareng sekeluarga.

Intinya, tetap ingat, bagaimanapun sobat kita adalah lawan jenis . Walau statusnya gimana, mari kita ingat-ingat kata nenek, untuk pandai menjaga diri dimanapun.

Sekarang silahkan dianalisa sanggup nggak berteman dengan lawan jenis?

Ada yang bisa, ada yang nggak. You decide.

Bagaimana menurut kalian? Mungkin ada yang kurang atau perlu diperbaiki dari pengamatan diatas?