Barang Koleksi

Aku sering mengikuti percakapan di komunitas fotografi. Topiknya tentu nggak jauh-jauh dari gear dan printilannya.

Waktu itu yang dibicarakan adalah kamera merk X yang harganya super mahal. Saking mahalnya hanya peminat serius dan tajir melintir yang bisa beli.

Sebutlah Bapak A dan Ibu B yang sanggup mengoleksi mereka. Kedua tokoh ini sering traveling dengan kamera kelas atas dan hasil jepretannya memang bagus. Koleksi kameranya bila dijejerkan bisa selebar meja bilyar.

Banyak yang jealous dan merasa demikian jelata, bila mengingat cicilan kamera belum lunas.

Aku sendiri menganggap semua orang punya level koleksinya sendiri-sendiri sesuai tingkat ekonomi.

Itu hanya segelintir cerita tentang kesenangan mengoleksi.

Pertanyaan yang tercetus di kepalaku……

Kenapa manusia bisa senang mengoleksi?

Kenikmatan saat berburu barang incaran, selain membawa aspek sosial dan kepuasan saat sharing dengan sesama kolektor, keasyikan menyusun dan siklus kembali berulang.

Keinginan koleksi sebetulnya mirip permainan game. Bisa menjadi hiburan sesaat atau jatuh jadi ketagihan.

Banyak kolektor terjerumus menjadi penumpuk barang (hoarder) dan dalam kasus gear kamera seperti diatas tidak sedikit yang terkena GAS alias “gear acquisition syndrome” (sindrom doyan ganti barang dengan yang lebih canggih).

Penjelasannya, kita sudah punya kamera yang cukup memadailah, eh, tiba-tiba keluar produk yang lebih canggih, maka dijual (atau ditinggalkan) kamera miliknya itu dalam beberapa bulan, untuk beli yang lebih baru, dst.

Masalahnya barang elektronik itu cepat banget berganti. Baru beli berapa tahun, sudah kuno. Akhirnya rugi dua kali, saat jual (selisih harga yang turun) dan saat beli baru (biasanya lebih mahal rugi hasil jual plus biaya tambahan).

Apalagi yang tidak dijual, ya. Bertumpuk. Yang girang jelas produsen hehehe..

Muncul pertanyaan berikutnya…

Bila koleksi kita banyak, mana barang yang benar-benar dipakai?

Koleksimu dan koleksiku mungkin levelnya tidak setinggi mereka yang kusebut diatas.

Tetap saja statusnya sama ya. Barang yang dibeli untuk dimiliki dan dipajang-pajang. Biasanya sih jarang banget dipakai.

Aku juga pernah punya koleksi, dari buku hingga perangko.

Ada pasti godaan mengoleksi barang lain cuma sekarang, tidak ah.

Apalagi pernah belajar soal hukum barang koleksi dalam agama aku dan…..zakatnya. Duh ternyata beraat. Barang investasi kalau setahun nganggur saja tetap kena biaya zakat yang cukup lumayan.

Intinya dalam Islam itu nggak boleh ada benda yang “nganggur” alias tidak dimanfaatkan.

Semakin banyak manusia mengoleksi anehnya manusia masih tetap merasa dahaga. Bahkan makin bertambah. Itu aneh. Padahal seharusnya kan sudah punya banyak pasti kenyang, ya?

Aku menyebut itu kutukan barang koleksi.

Barang-barang yang tidak termanfaatkan.

Terkadang bercampur dengan psikis, misal ada masalah pribadi yang belum terpecahkan akhirnya lari ke hobi koleksi.

Keinginan koleksi sekarang ini berusaha aku hindari banget (walaupun aroma buku dan keimutan stationery oh amatlah menggoda)πŸ˜«πŸ˜‚

Bila sudah terlanjur mengoleksi, harus aku manfaatkan semua, minimal diusahakan agar perasaan pada mereka (barang koleksi) tidak menguasaiku.

Masyarakat kita masih konsumtif dan peer pressure sosial tinggi. Tapi percaya, deh. Semakin kita banyak mengoleksi dan merasa terlalu dekat dengan barang koleksi itu, emosi kita juga makin mudah dimainkan. Karena kadung terasosiasi dengan apa yang kita miliki.

Misal, koleksi mobil kuning, ketika mobilnya dibilang kurang bagus warnanya, bisa dibawa sakit hati sampai ke ubun-ubun. Seolah dirinya yang tamvan dibilang kurang bagus.😑

Dan banyak lagi cerita-cerita yang tidak masuk akal terjadi hanya karena barang koleksi.

Kadang aku sekali waktu iseng menyebutkan ideku diatas dalam sebuah komunitas. Ingin tahu saja apa responnya. Hasilnya kalau nggak sunyi senyap pasti langsung ganti topik. Wkwkwk. Yang berhasil hanya di kelompok orang-orang yang fokusnya sudah bukan keduniaan, atau menganut paham macam minimalism, but thats another story.

Jadi, aku tidak bisa bercerita tentang barang koleksiku padamu. Tetap aku masih suka mendengarkan alasan kenapa orang senang sekali mengoleksi ini itu. Dan kadang melihatnya senang juga.

Mungkin barang koleksi sebaiknya dijadikan penghuni museum sekalian, ya. Siapa tahu ada unsur edukasi yang bisa ditempelkan. Dengan demikian bisa bermanfaat secara keseluruhan.

===

Punya pengalaman emosional dengan barang koleksimu ?

21 Comments

  1. Kutukan barang koleksi hahaha. Personally, aku nggak terlalu suka koleksi barang mba Phebie, hahaha, belum ke beli kayaknya. Palingan cuma buku, itu pun buku pelajaran haha, enggak ding, ada sih novel tapi nggak banyak.

    Ngomongin koleksi beginian menarik sih, soalnya aku punya beberapa teman yang suka hunting baju, alias belanja.

    Kalau ngomongin punya emosi sama barang sendiri, kayaknya aku ada deh mba, soalnya dulu kalau ngerjain skripsi ngga di laptop sendiri, otaknya nggak encer, nggak sreg aja gitu mba. Nggak tahu ini termasuk pembahasan emosi seperti topik mba di atas.

  2. Kalau bicara hukum agama, mengoleksi barang yg branded bisa jadi reminder ya mbak Phebie πŸ˜‚ apalagi harus bayar zakat juga.
    Buku, ini masih berat kulepas semua mbak. πŸ˜…

  3. Memang perkara koleksi bisa jadi alasan seseorang terus belanja πŸ˜‚ apalagi di-era sosmed sekarang, kita dengan mudah terpapar sesuatu dan jadi keikut ingin memilikinya. Ditambah ratjun influencer yang bertebaran di luar sana, klop sudah πŸ™ˆ Kitanya yang harus pintar tahan godaan hehehe.

    Kalau saya sekarang koleksinya cukup isi tabungan saja mba (nggak ribet urusnya cuma ribet mencarinya) dan entah kenapa kalau bertambah sedikit sedikit rasanya senang. Mungkin ini yang dirasakan para kolektor di luar sana πŸ˜† melihat apa yang disuka bertambah perlahan-lahan πŸ˜‚

    • Haha.Untungnya influencer hanya ada di sosmed. Kalau kita nggak log in nggak ketemu yah. 😁

      Hmm..nah…uang masuk koleksi nggak ya? πŸ˜€Soalnya org jaman skrg isinya kan di bank jd fisiknya fluid keluar masuk buat investasi. Mungkin kalau di celengan ayam masuk kali ya πŸ˜‚ #kaloada

      Tapi ada sih yg koleksi uang kertas dan logam..kl sdh jadi kuno langka..πŸ€”

  4. Koleksi saya apa yah.. hahaha..

    Soalnya di rumah tuh saya paling sering buang barang malahan.. sebisa mungkin kalau tidak dipakai dibuang. Daripada menuh-menuhin rumah saja.

    Pokoke yang tidak berfungsi ya buang dan akhirnya istri dan anak juga terbiasa.

    Koleksi yang tersisa cuma buku hahahahaha

  5. Aku tuh dr kecil memang suka mengoleksi berbagai macam benda. Tp bergantian ya. Jd klo udah bosen, barulah ganti koleksi. Mulai dr kertas surat, perangko yg mayoritas wajah Pak Harto dlm berbagai warna, kartu telp, kartu telp chip, kaset, dll

  6. Semakin kesini, aku semakin ga tertarik sbnrnya dengan koleksi2 ku. Dulu zaman sekolah koleksiku berupa perangko. Tp pindah ke Medan, itu album pun hilang nth kemana, sebagian aku bagi2in.

    Trus zaman kuliah Ampe kerja, aku koleksi sepatu. Itu juga hanya bertahan bbrp tahun, trus bosen dan akhirnya aku bagi2in lagi.

    Ganti koleksi tas. Dan inipun udh mulai aku bagi2in sejak tau ttg minimalism mba hihihi.. dipikir2 lemariku jd penuh cm Krn tas ga penting ini.

    Jadi, kalo mau diulik2 lagi, yg msh dengan senang hati aku simpen sbnrnya buku mba. Krn dari kecil aku pecinta buku. Jd kalo buatku, buku sih LBH ke edukasi dan sbnrnya sebagian buku2ku zaman kanak2, skr ini yg baca ya anakku trutama si Kaka yg udh bisa baca. Kalo buku, rasanya aku ga anggab ini koleksi, Krn toh sesekali aku msh baca ulang :D.

    Logam mulia ga dianggab koleksi lah yaa, itu investasi dan zakatnya pasti aku keluarin stiap tahunnya :D.

    • Berarti semakin kemari semakin berkurang ya mbak Fanny kegemaran mengolekai πŸ˜€.

      Saya juga begitu dulu prangko pun dikoleksi hahahaha….

      Dan sepertinya para bloggers punya dilema yang sama nih dengan buku…mungkin karena pada suka baca 🀣 kok berat ya melepas eh tapi itu saya sih…

      Ohya emas nggak masuk barang koleksi sih

Leave a reply (akan di moderasi dulu) πŸ˜‡